Hai, namaku Adresia Michael Polliton.
Hiduku awalnya biasa biasa saja, hingga aku dipindahkan ke kantor pusat dan bekerja sebagai sekretaris dari bos lucknut.
Keano Adrana Shagufta. Pria bengis. Berhati dingin. Si Perfeksionis yang minta di di kunyah dengan gerigi besi. Hancur sudah ketenangan hidupku. Porak poranda lagi. Kenapa aku di pertemukan kembali dengan dengan pria kejam, berhati dingin seperti Lucifer ini. Keano Shagufta, teman SMA-ku yang kerjaannya selalu marah marah, marah marah, dan marah marah.
Laki laki yang selalu bercokol dihatiku, berakar dengan kuat, tak mau hilang. Laki laki egois yang suka PHP-in peremupuan. Laki laki yang bakal aku celurit pertama kali kalau hukum dan dosa di tiadakan.
Laki laki yang menumbuhkan kembali rasa bersalahku. Karena kejadian dimasa lalu.
Disaat aku binggung bagaimana cara menghadapinya.
Pria bengis itu berubah. Menjadi lebih baik. Sikapnya yang hangat, mulutnya yang penuh dengan madu, dan senyum menggoda iman yang selalu mencuri detak jantungku.
Lalu bagaimana aku harus menyikapi keadaan sekarang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chochomellow26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30: Single Terhormat
“Menikah?" ulangku. Kata-kata itu menggema sedari tadi ditelingaku. Tapi aku masih belum bisa memastikan apakah tadi bos setan ini baru saja mengatakan menikahiku.
Apa dia mabuk? Atau jangan-jangan dia kerasukan sesuatu?
"Siapa anda? Dimana pak Kean?" tanyaku. Takut jika yang aku ajak berdebat dari tadi adalah setan mesum penunggu apartemenku.
"Apa maksudmu?" tanya setan didepanku dengan raut wajah bingung. Aku langsung menarik tanganku yang sedari tadi digenggam setan terkutuk ini.
"Saya tanya siapa anda?" Kean hanya mengerjapkan matanya tak mengerti dengan pertanyaanku.
"Wahai setan terkutuk, aku mohon. Kembalilah keasalmu, jangan ganggu Pak Kean. Meskipun dia itu kurang waras dan sering marah-marah, bahkan aku sering ragu dia itu raja setan atau manusia. Tapi dia tetap anak yang baik. Jadi kumohon menyingkirlah sekarang. Aku sedang bicara serius dengannya. Jadi jangan mengganggu kami." Kataku panjang lebar, lalu tanganku bergerak keatas kepalanya. Saat aku bersiap untuk membaca yasin dan do'a lainnya setan didepanku malah tertawa.
"Oh! Kurasa dia benar-benar kerasukan. Apa karena dia mabuk jadi mudah dimasuki setan?" gumamku khawatir. Aku kembali fokus membacakan do'a untuk Kean. Tapi dia melepaskan tanganku yang tersangkut diatas kepalanya. Lalu dia tertawa lagi.
"Oh, bagaimana ini?" dengan wajah khawatir bercampur ngeri. Aku bergerak membuka pintu mobil berencana memanggil bantuan.
Namun, begitu aku membuka pintu tangan Kean langsung menarikku.
"Micha, ini aku," katanya. Aku menoleh kearah Kean yang sedang kerasukan. Wah! Dia tersenyum.
Senyum menggoda itu? Bagaimana bisa setan ini menirukan senyum menggoda Kean?
"Ini aku, Kean." Ucapnya sekali lagi. Aku menatapnya lamat-lamat, mencoba mencari tahu apakah ini benar-benar Kean atau bukan.
Aku akui untuk seseorang yang dirasuki, dia benar-benar mirip Kean.
"Benar, Kean?" tanyaku.
"Benar, ini aku. Kean. Kenapa kamu mengira aku kerasukan segala?" tanya Kean ketika aku sudah mulai bertindak normal didepannya.
"Kamu tiba-tiba mengatakan akan menikahiku seperti kerasukan. Jadi aku mengira mungkin kamu sedang mabuk atau kerasukan sesuatu." Jawabku apa adanya.
Kean terkekeh. Dia menatapku dan memperbaiki posisi duduknya.
"Itu karena aku ingin meyakinkanmu, kalau aku ini serius. Makanya aku mengatakannya agar kamu yakin. Aku bahkan siap untuk menikahimu jika kamu mau." Kean menatapku. Merasa diperhatikan seperti itu, aku bergerak gelisah di kursi panas ciptaan Kean.
"Tunggu. Aku mengatakan akan menikah itu sebagai perumpamaan. Bukan menginginkan kamu benar-benar menikahiku," tuturku. Lalu menatap Kean.
"Oke, baiklah. Jadi jika aku berhasil meyakinkanmu. Apa kamu akan menerima tawaran itu?"
"Tawaran apa? Menikahimu? Apa kamu gila? Kamu bahkan belum mengenalku. Dan kamu mengatakan akan menikahiku. Apa menikah seperti tawar menawar di pasar loak sekarang?" kataku emosi.
"Kamu mengajukan syarat tak ada sikap posesif berlebihan, tak ada intrik perebutan kekuasaan, tak ada drama karena gosip murahan. Jadi jika aku menyanggupinya tak ada lagi alasan untukmu menolakku, Micha." Kata Kean.
"Kean, ini tak sesederhana itu. Masih ada mama, papa dan kakekmu yang harus kita taklukkan. Masih ada dewan direksi yang harus kita jinakkan. Jadi jangan membawa harapan tinggi untuk itu."
"Tenang saja, tak akan ada drama karena orang tuaku tidak akan menentang kita. Aku jamin tak ada drama kakek akan menyiram air dan melemparkan uang padamu." Jelas Kean dengan percaya diri. Aku terheran-heran dari mana sikap percaya dirinya ini berasal?
"Hah, bahkan jika kakek menyiramiku dengan segelas air dan melemparkan uang. Aku hanya akan menghindari gelas itu dan menerima uangnya dengan akurasi yang tepat," kataku menjawab dengan tegas, "Tapi bukan itu poin nya, karena kakek bahkan bisa berbuat lebih dari itu," kataku menjawab dengan lelah.
"Tepat, sekali. Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri Micha. Dan mengenai kakek. Kamu tenang saja. Kamu sudah menjinakkannya jauh-jauh hari." Kata Kean. Membuatku bingung.
"Siapa yang menjinakan siapa?" tanyaku.
"Apa kamu tak sadar, kamu sudah menjinakkan kakek sejak kamu menyerahkanku padanya malam itu," balas Kean. Aku terpana dengan kata-kata ajaib yang keluar dari mulut Kean.
"Kamu jangan bercanda Kean. Ini benar-benar nggak lucu sama sekali. Mana mungkin kakek yang berada dipuncak rantai makanan bisa jinak oleh gadis kecil sepertiku?" kataku melebih lebihkan keadaan.
"Jadi menurutmu siapa yang merekomendasikanmu sebagai sekeretarisku?" ucap Kean.
"Tentu saja Pak Ardi. Bukankah kita sama-sama mendengarnya hari itu."
"Dan Pak Ardi melakukannya atas perintah kakek. Kamu hanya belum menyadari itu," tutur Kean. Membuatku berkedip bodoh mendengar perkataannya. Aku sama sekali tak menyangka. Bukan. Ini bahkan diluar imajinasi seseorang sepertiku.
"Kamu nggak bercanda kan?"
"Aku serius. Aku juga baru tahu tiga bulan yang lalu. Jadi untuk masalah kakek, kamu tak perlu khawati lagi. Dan aku pastikan kamu akan mengatakan ya, lain kali." Ucap Kean dengan yakin.
Kean tersenyum percaya diri. Tak berhenti disitu saja, dia dengan berani menarikku dan mengecup bibirku dengan cepat. Tubuhku kaku karena ulah Kean. Sementara aku sibuk memahami situasi, Kean kembali mengecup ringan bibirku.
"Stop," kataku saat dia ingin melakukannya untuk kesekian kalinya. Laki-laki ini selalu mengambil kesempatan saat aku terbengong karena tindakannya.
"Kenapa? Apa kamu mengira aku kerasukan lagi?" tanya Kean.
"Bapak selalu mengambil kesempatan saat saya syok." Tandasku sebal.
"Kenapa bapak lagi..." geram Kean.
"Tadi kita sepakat untuk tak bersikap formal karena situasinya. Sekarang situasi aneh itu sudah lewat, jadi anda kembali menjadi atasan saya." Jelasku, lalu memungut tasku yang sempat jatuh karena perang konyol kami beberapa saat yang lalu.
"Kamu bisa panggil saya Muru, atau kamu juga bisa panggil nama saya. Kenapa bapak lagi. Ayolah Micha, sekarang hanya ada kita berdua," tawar Kean. Aku hanya menggelengkan kepala tak terpengaruh dengan wajah polosnya.
"Kamu benar-benar keras kepala," katanya, "Tapi aku suka." Lanjutnya. Lalu terkekeh geli karena perkataannya sendiri.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan di jendela mobil mengalihkanku. Ketika aku menoleh, wajah Raka yang masih menggunakan helm terlihat dari gelapnya kaca mobil.
"Sepertinya saya harus pulang pak. Kalau begitu hati-hati dijalan." Kataku pamit, lalu keluar dari mobil Kean.
Kean memenurunkan kaca jendela dan melambai kearah aku dan Raka yang masih berdiri tak jauh dari sana. Lalu mobilnya menghilang diujung jalan. Disisi lain, Raka masih menatapku curiga.
"Jadi... apa yang terjadi?" tanyanya.
"Dari yang gue lihat, tadi itu adegan melodrama." Lanjut Raka. Aku melangkah kedalam sedangkan Raka masih mengekoriku sambil mengajukan pertanyaan untuk memuaskan rasa penasarannya.
"Melodrama apaan. Yang ada adegan action." Ucapku, lalu menekan tombol di lift.
"Seriusan? Tadi gue lihatnya adegan melodrama. Suasana romantisnya juga mendukung. Remang-remang gitu," aku menjitak kepalanya yang masih memakai helm. Membuatnya tertawa geli.
"Apa seharusnya tadi adegan action?" kata Raka.
"Lo nggak liat aja. Tadi itu gue memeranin drama cinta dan peperangan," jawabku acuh, "Lo tumben malam begini pulang." Kataku, lalu melangkah keluar dan membuka pintu unit apartement ku.
"Gue ganti sift sama Karin. Jadi kak Kean udah nembak lo?" tanya Raka. Raka yang sedang sibuk melepaskan sepatu menoleh kearahku.
"Kalau gue ditembak sama dia, gue nggak ada disini, Ka. Yang ada lo panik nyari gue dirumah sakit. Ada-ada aja deh. Tapi dari mana lo tahu dia menyatakan perasaannya ke gue hari ini?" tanya ku curiga.
"Dia kan emang udah ngomong ke gue dan mama." Kata Raka dengan nada santai, se-santai saat dia menanyakan 'lo mau makan siang apa hari ini?'. Yang membuatku bertanya-tanya apa hanya aku yang menganggap serius keadaan ini.
"Ka, sini deh. Gue pengen ngomong sama lo." Kataku, lalu menyeret Raka duduk di sofa.
"Menurut lo gimana Kean?" tanyaku saat Raka sudah mendaratkan bokongnya di sofa.
"Baik, anaknya juga sopan. Dan yang lebih penting dia itu sayang banget sama lo. Gue perhatiin dia itu selalu mementingkan lo. Gue suka gayanya." Jawab Raka, lalu menyandarkan tubuh tingginya dan tersenyum kearahku.
"Lo yakin. Maksud gue, dengan latar belakang dia yang kayak gitu. Gue nggak yakin dengan Kean." Kataku mengutarakan apa yang membuatku enggan menerima Kean.
"Gue udah duga bakalan kayak gini. Sikap waspada lo pasti buat lo ragu buat terima dia. Dengar ya mbak. Lo itu nggak usah mikirin yang udah berlalu. Kalau lo emang suka ya udah jalanin aja. Siapa yang peduli dengan latar belakang lo yang nggak seimbang dengan kak Kean." Jawab Raka.
Aku terdiam untuk sesaat.
"Tapi dia akan tersakiti jika dia tahu siapa kita, Ka. Belum lagi direksi yang masih menggonggong meminta dia untuk turun dari jabatannya jika mereka tahu siapa gue," ucapku, "kalau lo jadi gue apa yang bakal lo lakuin?" tanyaku, lalu memutar posisi duduku menghadap Raka.
"Siapa yang peduli apa yang orang lain pikirkan. Hati lo yang lebih penting. Tak ada orang lain disini yang akan menjalani kehidupan lo untuk lo, mbak. Lo yang harus menjalaninya sendiri. Jika memang itu yang terjadi, hadapi saja. Itulah kesulitan dari apa yang lo pilih. Tapi pastikan lo dapetin apa yang hati lo mau, anggap aja konsekuensi itu sebagai kompensasi atas apa yang lo pilih. Se-simple itu mbak. Jadi jangan ragu-ragu. Mama sama gue tetap dukung lo apapun yang terjadi." Katanya dan menepuk pundakku penuh semangat hingga derakan dari bahuku terasa.
"Ah, dan satu lagi. Gue dan mama juga udah kasih tahu Kak Kean gambaran kemungkinan kayak gini bakal terjadi. Jadi lo nggak usah khawatir dia bakal tersinggung. Makanya, lo terima aja dia. Udah jomblo menahun juga, mikir itu jangan kelamaan." Lanjut Raka, lalu melepaskan jeket kulitnya dan menaruhnya disandaran sofa.
"Eh, gini-gini gue jomblo bahagia ya. Biarpun single, tapi gue single terhormat. Gue memegang teguh yang namanya janji setia tak pernah mendua. Nggak kayak lo, tiap tikungan ada. Kalau gue ketemu beberapa gebetan lo lagi, itu bakal genap jadi 100 orang. Makanya, berhenti main-main." Tandasku, lalu memukulnya dengan batal sofa. Dan kemudian melangkah kearah kamar.
Sedangkan Raka hanya menggerutu di ruang tamu. Lalu terdengar suara televisi. Saat aku keluar setelah mandi. Raka sudah terkapar diatas sofa, lengkap dengan pakaiannya yang masih utuh.
***
mampir juga ya kak
novel T O H
itu kucing micka bukan cheetah....
author bisa aja, melembutkan bahasa