Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.
Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.
Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Pantai, begitu menakjubkan untuk di datangi.
Ditengah serunya bermain air yang dingin dan angin kencang menerpa wajahnya. Hawa memejamkan matanya menghirup udara sedalam yang ia bisa malam ini di pantai. Ia tersenyum lebar sembari membuka tangannya seperti burung yang akan terbang bebas.
Hasby selalu mengarahkan kamera gawainya kepada istri kecilnya itu. Senyum kecil terukir indah di bibirnya. Rasa ingin untuk memeluk begitu besar di pikiran Hasby.
Tanpa sadar langkahnya mendekati Hawa, tangannya terulur dan memeluk Hawa dari belakang. Kepalanya di taruh di salah satu pundak Hawa.
Hawa tersentak dan matanya membola, tidak percaya kalau suaminya akan memeluknya lagi. Tidak ingin merusak moment romantis itu, Hawa memejamkan mata menikmati pelukan hangat suaminya.
Mereka berdiam diri di bibir pantai memandang ke depan, ke laut yang berwarna hitam, bunyi deburan ombak yang menenangkan, sesekali matanya memejam. Seakan merekam moment indah di pantai malam ini.
Setelah puas bermain air dan pasir. Hawa merasa badannya dingin menggigil. Hasby segera mengajaknya ke mobil. Ketika hendak masuk Hawa melihat plastik hitam di bangku depan, tempat duduknya tadi. Menatap bingung dan melihat Hasby.
"Kak, ini bungkusan apa?"
"Baju ganti, maaf di sini hanya ada itu,"
Hawa lantas membuka bungkusan tersebut dan menemukan daster pantai panjang, celana pantai panjang, beserta dalamannya dan lengkap kerudungnya.
Hawa melongo di buatnya, kok bisa suaminya kepikiran membelikannya baju ganti sampai dalamannya juga.
wajahnya memerah, menundukkan kepalanya sembari tersenyum kecil.
"Kapan kakak belinya? Tapi makasih ya kak," Hawa segera memasukkan bajunya kembali kedalam plastik lagi.
"Tadi waktu kamu bermain air, yuk ganti!" Hasby juga membawa plastik berisi baju dan celana gantinya.
Mereka selesai berganti baju dan kembali beranjak ke mobil.
Hasby melirik Hawa sekilas, tersenyum tipis, pas ternyata batinnya. Baru hendak melajukan mobilnya, tiba-tiba perut Hawa berbunyi kencang.
Kruuccuk
Mereka saling pandang lantas tertawa bersama, wajah Hawa memerah seketika.
"Mau makan apa mmm," Hasby bertanya sembari mengemudikan mobil kembali ke jalan raya.
"Terserah kakak," Hawa memandang keluar jendela. Ia masih malu kalau harus melihat Hasby.
" Jangan terserah, kamu pingin makan apa?" Hasby sebenarnya bingung kalau perempuan sudah menjawab Terserah, karena tidak sesederhana itu.
"Yang kuah boleh kak?" akhirnya Hawa memutuskan.
"Kuah apa?" desak Hasby lagi.
"Seblak," putusnya singkat.
"Ok, seketemunya aja ya?" Hasby mengiyakan.
"Iya kak, makasih kak," senyum hangat mengembang di bibir merah muda milik Hawa.
Melihat warung seblak yang lumayan besar dan ramai pembeli, Hasby memutuskan memasuki pelataran parkir seblak itu. Mata Hawa berbinar ketika melihat tulisan seblak dower di papan pinggir jalan itu.
Antusiasnya menular ke Hasby, dia penasaran apa enaknya seblak yang sangat di gandrungi mayoritas perempuan itu.
Mereka memesan dan menuju meja yang terletak di luar, karena angin malam yang dingin akan pas ketika menikmati makanan berkuah yang panas.
Selama menunggu Hawa membuka gawainya dan Hasby berkutat dengan laptopnya. Karena ada pekerjaan yang tidak bisa di tundanya.
Hawa berselancar di dunia maya, awalnya seru tapi lama-lama bosan. Untung saja seblak sudah matang dan tersaji menggoda di depannya.
"Kak, makan dulu! selamat makan," Hawa sangat antusias sekali, ia menyendok kuahnya dan mulai mencicipinya. Matanya memejam dan bibirnya tersenyum. Sangat pas dengan seleranya.
Hasby tersenyum kecil melihat tingkah Hawa. Dia juga memulai makan. Hmm lumayan batinnya.
"Gimana kak? Enakan??" Hawa melihat Hasby lekat, menantikan jawaban suaminya tentang salah satu makanan kesukaannya itu.
"Lumayan," ucapnya datar. Padahal di dalam hati ia gemas dengan istrinya itu.
"Lumayan apa kak?" Hawa bertanya dengan tidak sabarnya.
"Enak, udah makan dulu!" putus Hasby.
Mereka menikmati seblak malam itu setelah bermain ke pantai, apa bisa di katakan kencan. Kencan Halal pastinya. Hasby bersyukur karena bisa membuat momen indah berdua dengan Hawa.
●●●
Mobil memasuki rumah mewah itu hampir tengah malam. Padahal mereka tadi niatnya setelah makan seblak ingin langsung pulang, tapi di tengah Hawa meminta makan es krim. Jadinya mereka berhenti dan membelinya.
"Alhamdulillah," Hawa mengucap syukur ketika sampai di rumah, ia beranjak keluar dan segera masuk ke rumah. Hasby mengikuti dari belakang.
Hawa langsung pergi ke dapur dan mengambil sebotol air dingin lantas menaiki tangga. Hasby hanya melihatnya dan berjalan di belakang istrinya.
Sesampainya di depan pintu kamarnya, Hawa menoleh dan melihat Hasby hendak masuk ke kamarnya.
"Kak, Makasih untuk hari ini, semuanya, makasih ya?" Hawa berucap lirih.
"Iya sama-sama,, met tidur," Hasby segera masuk setelah Hawa masuk kamar.
Mereka segera mandi dan berganti baju tidur. merebahkan badan lelahnya di kasur besar miliknya. Hembusan angin ac yang membuat mata memejam rapat, mereka terlelap hingga adzan subuh berkumandang.
Walaupun masih mengantuk, mereka tetap terbangun dan melaksanakan kewajiban mereka.
Hawa menyeret langkahnya menuruni tangga menuju dapur untuk membuat susu hangat untuk dirinya sendiri, Karena merasa lapar.
Sesampainya di tangga paling bawah ia melihat seseorang yang sangat dirindukannya. Seseorang yang duduk di bangku meja makan, tengah mengobrol dengan Bik Im.
Suara yang di rindukannya memenuhi ruang makan pagi ini. Mata Hawa memanas dan berembun.
Hawa melihat Bik Im mengkode kalau Hawa tengah memperhatikan mereka, seseorang itu lantas menoleh dan tersenyum hangat.
"Mama," bisik Hawa mengambil langkah panjang dan memeluk Mama mertuanya itu.
Pelukan yang sangat erat itu membuat air matanya mengalir bebas, ia begitu merindukan sosok mertuanya itu.
Mama juga merasakan bahu Hawa bergetar, mama ikut menitikkan air matanya. Mama sangat menyayangi Hawa.
"Gimana kabarnya nak?" tanya Mama lembut sembari mengelus punggung Hawa.
"Mama, kok nggak ngabarin kalau pulang sekarang. Kan bisa di jemput kak Hasby," Hawa malah protes pada ibu mertuanya itu.
"Maaf, mama dan papa ingin ngasih surprise pada kalian," Mama terkekeh mengusap air mata menantu kecilnya itu.
Hawa melepas pelukannya itu, tanpa ia sadari ternyata Hasby dan Papa melihatnya dari dapur.
"Ya allah semoga kami selalu saling menyayangi dan seperti ini terus. Jagalah mereka yang hamba sayangi," bathin Hasby memejamkan matanya.
"Ehem,sama Papa nggak kangen ya nak?" Papa melangkahkan kaki mendekati istri dan anak mantunya itu.
Hawa menoleh cepat dan tersenyum malu, lantas berdiri dan menyalami Papa.
"Maaf Pah," ucapnya pelan.
"Iya Wa, oiya Papa sama Mama bawa oleh-oleh buat kalian. Nanti setelah sarapan kita ngumpul di ruang tv," tegas Papa "ya udah Papa mau mandi dulu," Papa melangkah ke kamar bersama Mama.
Hawa lantas beranjak dari duduknya dan melangkah ke dapur untuk membantu Bik Im memasak sarapan. Hasby juga membantu memotong sayur dan mencicipi masakan.
Suasana dapur pagi ini lumayan ramai dengan tambahan personel,Hasby.
Bibik tidak berhenti tersenyum, terkadang tertawa karena lelucon yang diucapkan pasutri dini itu.
Membuat pagi ini penuh semangat yang hangat.
Matahari memancarkan sinarnya menembus tirai-tirai yang belum terbuka sepenuhnya.