Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.
Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.
Tidak ada pesta.
Tidak ada cinta.
Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.
Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.
Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Berlalu
Pintu rumah akhirnya tertutup setelah kepergian keluarga Ibra.
Namun, bukannya merasa lega, Naya justru semakin tidak tahu harus melakukan apa. Ia masih berdiri di dekat sofa, menatap pintu yang baru saja ditutup Ayahnya. Rasanya seperti baru saja melewati malam yang panjang, padahal waktu bahkan belum terlalu larut.
"Naya."
Panggilan Bunda membuatnya menoleh.
Wanita itu sudah berdiri dari duduknya, kemudian berjalan mendekat. Wajahnya masih pucat, matanya pun sembap. Naya tahu Bunda pasti masih terkejut. Siapa yang tidak? Anak perempuan yang selama ini mereka jaga, yang bahkan selalu mereka khawatirkan ketika pulang terlambat, tiba-tiba datang dengan kabar bahwa dirinya mengandung seorang anak.
Dan ayah dari anak itu adalah pria yang baru saja mereka temui malam ini.
"Bun..." Naya menggigit bibir bawahnya. "Maafin Naya."
Bunda berhenti tepat di hadapannya. "Kenapa?"
Naya menunduk. "Karena Naya bikin Bunda sama Ayah kecewa."
Bunda tidak langsung menjawab. Tangannya terangkat, merapikan rambut Naya yang sedikit berantakan sebelum akhirnya mengusap pipi putrinya.
"Bunda masih kaget, Bunda butuh waktu. Bunda belum bisa mencerna semuanya." Suaranya terdengar bergetar, air matanya kembali mengalir. "Tapi, jangan berpikir Bunda langsung berhenti menyayangi kamu."
Air mata Naya kembali menggenang.
Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tenggorokannya terasa tercekat. Sejak tadi terlalu banyak hal yang ingin ia jelaskan, tetapi setiap kali mencoba menyusunnya, semuanya justru terasa semakin rumit.
Bunda menarik Naya ke dalam pelukannya.
Naya langsung membenamkan wajah di bahu wanita itu. Tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah lagi. Bahunya bergetar, sementara kedua tangannya mencengkeram pakaian Bunda seolah takut wanita itu akan menjauh darinya.
"Bunda... jangan marah sama Naya..."
"Enggak, Naya," bisik Bunda sambil mengusap punggungnya. "Sudah, istirahat dulu."
Naya? Bunda bahkan menyebut dirinya dengan nama saja, bukan 'Sayang' seperti biasanya. Naya makin menangis dibuatnya.
Ayah hanya memperhatikan keduanya, rasanya bercampur aduk. Pria itu mengembuskan napas panjang sebelum duduk kembali di sofa. Kedua tangannya bertumpu pada lutut, pandangannya kosong mengarah ke lantai. Amarahnya belum benar-benar hilang. Bahkan ketika mengingat wajah Ibra tadi, rahangnya kembali mengeras.
Namun, setiap kali melihat Naya menangis, ada sesuatu yang membuatnya tidak sanggup mempertahankan kemarahan itu sepenuhnya.
Bagaimanapun juga, sekarang putrinya sedang ketakutan. Namun, kekecewaan jelas menerjangnya, membuat hatinya mencelos.
"Yah..." panggil Naya pelan setelah tangisnya mulai mereda.
Ayah mengangkat wajah.
Naya melepaskan pelukannya dari Bunda, lalu berjalan mendekat. Ia berlutut di depan Ayah dengan kepala tertunduk, kedua tangannya menyatu di depan dada, memohon.
"Maafin Naya, Yah."
Ayah terdiam sebentar. "Jangan minta maaf terus."
Naya mengangkat wajah, sedikit terkejut mendengar jawaban itu.
Ayah mengusap wajahnya. "Ayah marah, jelas. Ayah juga masih belum tahu harus bagaimana menghadapi semua ini." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah. "Tapi sekarang, Ayah cuma ingin kamu baik-baik saja."
Naya kembali menunduk, tangannya meluruh di pangangkuan.
"Besok kita pikirkan langkah berikutnya. Malam ini kamu istirahat dulu."
"Tapi, Yah..."
"Apa?"
Naya menggeleng pelan, nada suara ayahnya sangat berbeda, dingin dan cuek. "Enggak jadi."
Ayah menatapnya beberapa detik, kemudian menghela napas. Ia meraih tangan Naya yang sejak tadi saling meremas, menggenggamnya dengan erat. "Kalau ada yang mau kamu bilang, bilang aja. Ayah mungkin masih marah, tapi bukan berarti kamu harus takut bicara sama Ayah."
Kalimat itu membuat mata Naya kembali panas. Ia mengangguk kecil, belum sanggup menjawab.
Malam itu, mereka tidak membicarakan Ibra lagi.
Setidaknya, tidak sampai Naya akhirnya masuk ke kamar dan berbaring dengan pikiran yang masih berantakan.
***
Di rumah keluarga Daneswara, Ibra duduk di ruang tengah dengan punggung bersandar pada sofa. Kemeja yang dikenakannya sejak sore sudah sangat kusut. Ia bahkan belum sempat mengganti pakaian, tetapi pikirannya terlalu penuh untuk memedulikan hal semacam itu.
Mama duduk di seberangnya, sementara Papa berdiri tidak jauh dari pigura keluarga. Pratama sendiri masih berada di kursi favoritnya, mengetukkan ujung tongkat sesekali ke lantai.
"Kamu akan kembali besok?" tanya Kakek.
"Iya, Kek."
"Bagus, lanjutkan."
Ibra hanya mengangguk.
Pratama mengamati cucunya beberapa saat. "Bawa semua perlengkapanmu."
Ibra mengernyit. "Maksud Kakek?"
"Jangan membuatku mengulang perkataanku." Pratama mendengus. "Kalau kamu berniat bertanggung jawab, persiapkan dirimu. Yakinkan mereka lalu beri maharmu."
Ibra terdiam. Ia tahu Kakek sedang membicarakan banyak hal sekaligus, termasuk pernikahan yang sejak tadi terus menghantuinya.
Namun, sebelum sempat menjawab, Mama lebih dahulu bersuara. "Ayah, jangan semuanya dibicarakan sekaligus malam ini. Ibra juga perlu memikirkan keadaan Naya."
Pratama melirik menantunya. "Aku tahu Liana. Ck, atur sajalah anak kalian itu, aku mau istirahat."
"Iya Ayah, maksudku biarkan dia menyelesaikan persoalan ini dengan benar. Bukan sekadar mengikuti keinginan kita."
Kakek tidak menjawab. Ia hanya mengetukkan tongkatnya sekali sebelum berdiri dan meninggalkan ruang tengah.
Ibra memperhatikan kepergian Kakeknya, lalu mengembuskan napas pelan.
"Ma," panggilnya.
Mama menoleh. "Ya?"
"Menurut Mama, Naya bakal teruma Ibra besok?"
Mama tidak langsung menjawab. Ia tahu putranya sedang memikirkan banyak kemungkinan, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa memastikan bagaimana perasaan Naya esok hari.
"Mama enggak tahu, Nak," jawabnya jujur. "Kamu sudah datang dan menyampaikan niatmu. Kamu sudah menyelesaikan bagianmu, sekarang biarkan dia menyelesaikan bagiannya."
Ibra mengangguk pelan.
"Kalau kamu sungguh-sungguh ingin memperbaiki keadaan, kamu juga harus siap menghadapi kenyataan bahwa dia mungkin menolak lebih keras."
Kalimat itu membuat Ibra terdiam cukup lama. Ia tahu Mama benar. Lalu Mama menghampirinya, memeluknya, seperti ketika dulu Ibra jatuh dari sepeda.
Malam ini, Naya bahkan hampir tidak sanggup mengangkat wajah ketika semua orang membicarakan masa depannya. Ibra tidak bisa meminta gadis itu percaya begitu saja, terlebih setelah kejadian yang telah mengubah hidup mereka.
"Kalau begitu, istirahat. Besok kamu harus bekerja keras lagi."
***
Pagi berikutnya, Naya terbangun dengan perasaan yang tidak jauh berbeda dari malam sebelumnya.
Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar, mencoba mengumpulkan kesadaran sebelum ingatannya kembali pada semua yang terjadi. Ia kemudian duduk perlahan di tepi ranjang.
Hari ini Ibra akan datang lagi.
Entah kenapa, mengingat hal itu membuat perutnya terasa tidak nyaman. Ia belum tahu apa yang akan dibicarakan mereka nanti, apalagi bagaimana harus bersikap ketika berhadapan dengan pria itu.
Tapi biarkanlah, semua akan berlalu, dan ia harus tetap pergi bekerja hari ini. Dan bertepatan ketika Naya sudah bersiap-siap, Naya kebingungan karena orangtuanya tidak ada di rumah, juga mereka tidak meninggalkan pesan apapun.
Panik, Naya meneguk ludahnya susah payah dan mengecek di dalam kamar, keduanya tak ada. Ia pikir mereka sengaja pergi sebelum ia bangun, sebab marah dan kecewa. Naya menggigit bibirnya, hampir menangis.
Menutup pintu rumah dengan perasaan tidak nyaman, Naya menoleh ketika suara klakson terdengar.
"Naya, ayo ikut aku."
Makasih thor lanjut up ya