Sebagai anak dari selir rendahan, Xiu Ying Nona Ke-9 dari Kediaman Utama selalu hidup tertindas, pasrah, dan dianggap sebagai "sampah" oleh ayah serta saudara-saudaranya. Namun, sebuah insiden di kolam teratai mengubah segalanya. Xiu Ying yang terperosok ke dalam air dingin bangkit sebagai sosok yang sama sekali baru: dingin, cerdik, dan tak lagi sudi diinjak-injak.
Guna menyingkirkan Xiu Ying yang mulai sulit dikendalikan dan demi menyelamatkan putri-putri kesayangannya dari pernikahan politik yang merugikan, sang ayah dengan tega menikahkan Xiu Ying dengan Zhen Yu—Pangeran Ke-7 yang dituduh "idiot" dan kerap dijadikan bahan tertawaan di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 2
Sinar matahari pagi menusuk masuk melalui celah-celah dinding kayu Halaman Barat yang rapuh. Udara masih terasa membekukan, namun di dalam ruangan, Xiu Ying sudah duduk tegak di atas ranjang usang. Sepanjang malam ia tidak tidur; jiwanya yang ditempa sebagai wanita bisnis berdarah dingin di dunia modern telah memetakan seluruh denah kekuatan di Kediaman Utama Keluarga Xiu berdasarkan ingatan pemilik tubuh sebelumnya.
Susu masuk dengan terburu-buru, membawa sehelai kain basah dan baskom kayu retak berisi air dingin. Tangannya gemetar hebat.
"N-Nona... Nona harus bersembunyi!" bisik Susu dengan wajah pucat pasi. "Nona Ketiga dan Nona Keenam... mereka sedang berjalan menuju Halaman Barat bersama para pelayan senior!"
Xiu Ying tidak panik. Ia hanya mengangkat sebelah alisnya, mengusap wajahnya dengan kain basah yang dibawa Susu, lalu tersenyum tipis sebuah senyuman dingin yang sanggup membuat siapapun merinding.
"Bersembunyi? Di kamar busuk milikku sendiri?" Xiu Ying tertawa pelan, suaranya sangat tenang. "Justru aku sudah menunggu kedatangan mereka, Susu. Rapikan rambutku."
Sebelum Susu sempat menyisir rambut majikannya, pintu kamar yang rapuh didobrak kasar dari luar hingga hampir terlepas dari engselnya. BRAK!
"Lihat siapa yang ternyata masih bernapas!" suara lengking bernada hinaan memecah keheningan.
Nona Ketiga, Xiu Mei, melangkah masuk dengan gaun sutra berwarna merah menyala yang mewah, dilapisi mantel bulu mahal. Di sampingnya, Nona Keenam, Xiu Lian, mengekor sambil mengibaskan sapu tangan sutranya dengan ekspresi jijik, seolah-olah udara di Halaman Barat dapat mengotori paru-parunya. Di belakang mereka, empat orang pelayan berbadan tegap berdiri memasang wajah garang.
"Ck, benarkan dugaanku, Kakak Ketiga?" cemooh Xiu Lian sambil menutup hidungnya. "Tikus kelaparan ini ternyata punya nyawa yang sangat liat! Sudah dimasukkan ke dalam kolam es selama itu, dia masih belum mati juga."
Xiu Mei melangkah maju, menatap Xiu Ying dari atas ke bawah dengan pandangan menghina. "Awalnya aku datang ke sini untuk menyiapkan kain kafan murah untukmu, Xiu Ying. Tapi melihatmu duduk di sana... sungguh merusak pemandanganku pagi ini."
Jika itu adalah Xiu Ying yang dulu, gadis itu pasti sudah gemetar ketakutan, berlutut di lantai yang dingin sambil menangis memohon ampun. Namun detik ini, Xiu Ying hanya duduk santai di atas pembaringan. Tangannya terlipat anggun di atas pangkuan, tatapan matanya tajam dan lurus mengunci manik mata Xiu Mei.
Keheningan melingkupi ruangan itu. Tidak ada tangisan, tidak ada jeritan ketakutan. Tatapan Xiu Ying yang begitu dingin dan intimidatif perlahan membuat Xiu Mei merasa tidak nyaman.
"Mengapa kamu menatapku seperti itu, Sampah?!" bentak Xiu Mei yang merasa martabatnya terancam oleh keheningan Xiu Ying.
Xiu Ying memiringkan kepalanya sedikit, lalu berbicara dengan nada yang sangat datar namun menusuk. "Kakak Ketiga, Kakak Keenam... apakah ibu kalian tidak pernah mengajari tata krama? Memasuki kamar saudara tanpa izin, mendobrak pintu seperti bandit, dan berteriak seperti wanita pasar. Apakah begini standar keagungan putri dari istri sah Keluarga Xiu?"
Xiu Mei dan Xiu Lian terbelalak kaget. Para pelayan di belakang mereka pun menahan napas.
"A-Apa katamu?!" pekik Xiu Lian tidak percaya. "Kau... si dungu penakut ini berani mengajari kami tata krama?!"
"Aku tidak mengajari, aku hanya mempertanyakan," balasa Xiu Ying tenang. "Lagipula, bukankah sangat menyedihkan? Dua orang putri bertubuh sehat harus membawa empat pelayan berbadan tegap hanya untuk menemui seorang 'sampah' yang baru saja bangun dari sakit?"
Wajah Xiu Mei memerah padam karena malu dan murka. Ia merasa dihina di hadapan para pelayannya sendiri. Melampiaskan kemarahannya, matanya tertuju pada Susu yang berdiri gemetar di samping tempat tidur.
"Pelayan tak berguna! Ini pasti karena ajaran burukmu!" teriak Xiu Mei. Tangannya terangkat tinggi, hendak melayangkan tamparan keras ke wajah Susu. "Akan kuberikan pelajaran pada mulut kurang ajarmu melalui pelayanmu ini!"
Tangan Xiu Mei melayang cepat di udara. Namun, sebelum telapak tangannya menyentuh pipi Susu, sebuah gerakan kilat terjadi.
Greb!
Xiu Ying telah berdiri dari pembaringan dan mencengkeram pergelangan tangan Xiu Mei di udara dengan cengkeraman yang sangat kuat. Meskipun tubuh Xiu Ying kurus, ia menggunakan teknik penguncian sendi sederhana yang ia pelajari dari latihan bela diri di kehidupan modernnya.
"Aaghh! Lepaskan! Tanganku!" jerit Xiu Mei kesakitan saat sendi pergelangan tangannya dipuntir sedikit oleh Xiu Ying.
"Nona!" para pelayan panik dan hendak maju, tetapi Xiu Ying memberikan tatapan membunuh yang membuat langkah mereka terhenti seketika.
"Siapapun yang melangkah satu senti lagi, aku akan mematahkan pergelangan tangan Nona Ketiga kalian detik ini juga," ancam Xiu Ying dengan suara bernada rendah yang teramat dingin.
Xiu Lian mundur dua langkah karena ketakutan. "Xiu Ying! Kau sudah gila?! Dia Kakak Ketigamu! Lepaskan dia!"
Xiu Ying mendekatkan wajahnya ke telinga Xiu Mei yang sedang meringis kesakitan. Ia berbisik dengan nada manis yang mengerikan. "Kakak Ketiga... kau ingat kolam teratai itu? Hari itu, kau tertawa saat melihatku tenggelam. Tapi tahukah kau? Saat seseorang hampir mati, mereka melihat banyak hal. Aku melihat iblis... dan iblis itu berbisik padaku bahwa nyawamu ada di tanganku."
Xiu Mei merinding diserang rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Mata Xiu Ying tampak begitu pekat, seolah tak memiliki jiwa manusia lagi di dalamnya.
"Kau... kau bukan Xiu Ying..." bisik Xiu Mei dengan bibir gemetar.
"Aku adalah Xiu Ying yang baru," jawabnya tajam. Xiu Ying lalu menghempaskan tangan Xiu Mei dengan kasar hingga wanita bertopeng sutra itu tersungkur ke lantai kayu yang kotor.
"Kakak Ketiga!" Xiu Lian bergegas membantunya berdiri.
Xiu Mei memegang pergelangan tangannya yang memar merah, matanya menatap Xiu Ying dengan campuran rasa benci dan ketakutan yang mendalam. "Kau... kau akan menerima pembalasan atas ini! Aku akan mengadukan ini pada Ayah! Ayah akan menguliti kulitmu hidup-hidup!"
Xiu Ying kembali duduk di pembaringannya dengan santai, merapikan lengan bajunya yang sedikit kusut. "Silakan adakan perjumpaan dengan Ayah. Katakan padanya bahwa putri kesembilannya yang hampir mati tenggelam karena ulah kalian, kini masih hidup dan menunggu keadilan. Mari kita lihat, apakah Ayah lebih peduli pada nama baik keluarga atau pada putri-putrinya yang bertindak seperti pembunuh."
Xiu Mei tidak sanggup berkata-kata lagi. Dengan tubuh gemetar dan rasa malu yang membakar, ia berteriak pada para pelayannya, "Pergi! Kita pergi dari tempat terkutuk ini sekarang!"
Rombongan itu melarikan diri dari Halaman Barat dengan terburu-buru, meninggalkan pintu kayu yang terkulai rusak.
Susu jatuh terduduk di lantai, napasnya naik turun karena syok. "N-Nona... Anda... Anda benar-benar memukul Nona Ketiga? Apa yang akan terjadi sekarang? Tuan Besar pasti akan sangat marah!"
Xiu Ying memandang ke luar pintu yang terbuka, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan taktik. "Biarkan dia marah, Susu. Justru itu yang aku inginkan. Jika aku tetap diam di sudut ini, aku hanya akan menunggu waktu sampai mereka membunuhku lagi. Tapi jika aku membuat kekacauan... Tuan Besar Xiu harus melihatku."
Sesuai dugaan, kabar tentang peristiwa di Halaman Barat menyebar seperti api menyambar jerami kering ke seluruh sudut Kediaman Utama Keluarga Xiu. Para pelayan, kasim, hingga para selir saling berbisik heran.
"Apakah kamu sudah mendengar? Nona Kesembilan mengamuk dan mematahkan tangan Nona Ketiga!"
"Mana mungkin? Bukankah Nona Kesembilan itu sangat penakut dan bisu?"
"Ini sungguh terjadi! Nona Ketiga kembali sambil menangis ketakutan!"
Berita tentang perubahan drastis dan keberanian abnormal dari Nona Kesembilan yang biasanya dianggap "sampah" itu akhirnya sampai ke telinga penguasa kediaman—Tuan Besar Xiu.
Di dalam Aula Utama yang megah, Tuan Besar Xiu mendengarkan laporan dari Xiu Mei yang terisak-isak sambil memegang tangannya yang terbalut kain. Matanya yang tajam dan dipenuhi ambisi menyipit rumit.
"Dia bertindak seperti itu setelah bangun dari tenggelam?" gumam Tuan Besar Xiu pelan. Bukannya langsung marah besar seperti yang diharapkan Xiu Mei, sang ayah justru terdiam dan memikirkan sesuatu yang jauh lebih besar.
(Bersambung)