Kehidupan Mary terporak porandakan oleh kehadiran William, pria tampan yang selalu mencoba mengendalikan dirinya dengan ego yang tinggi, William selalu berkata, itulah cinta. padahal seingat Mary cinta sama sekali tak menyakiti , cinta William sangat berbeda dengan definisi cinta yang selama ini ia bayangkan. kegilaan serta ketidak mampuan William dalam mengendalikan dirinya membuat Mary bertanya tanya, apakah William sungguh mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rica Ricu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah baru
Nick menelan ludahnya susah payah, tenggorokannya terasa tercekat ketika mendengar ucapan dari William baru saja.
"Jika Anne tau kau membunuh seseorang, bagaimana reaksinya?" Tanya William lagi.
"Aku sama sekali tak ingin itu terjadi, dia akan marah dan meninggalkanku nanti" Jawab Nick.
William tersenyum lebar seolah puas dengan jawaban yang di berikan oleh Nick, "Itulah hal yang harus kau pahami Nick, kau harus mampu menjaga batasanmu dan tidak mencoba mencampuri urusanku" Ancam William.
"Aku mengerti, itulah kenapa aku meminta anda untuk melupakan segalanya, aku tidak akan mengganggumu dan Mary, aku hanya ingin hubunganku dengan Anne baik baik saja"
William mengangguk sebagai respon setuju atas ujaran nick barusan.
"Aku bisa menghancurkanmu hanya dalam satu kali langkah, jadi jangan macam macam" William menepuk pundak Nick singkat dan berbalik masuk ke toko bunga milik kekasihnya.
"William? Mimpi buruk apa ini?" Gumam Nick.
...****************...
Kepulan asap rokok berhembus dan mengapung di udara sore hari ini, seorang pria muda yang sedang bertelanjang dada kini tengah mengotak Atik mesin mobil dengan rokok di kedua apitan belah bibirnya.
"Kau dengar tidak?!" Sungut salah satunya kesal.
Sekali lagi asap berhembus ke udara, pria tampan dengan badan yang terbentuk sempurna itu memandang ke arah seseorang yang baru saja mengajaknya berbicara.
"Lalu apa hubungannya denganku Nick, Anne itu pacarmu, jika kalian berpisah aku tidak akan mati kan?" Sarkasnya.
"Sialan! Ini adalah perbuatan kita, ini adalah idemu dulu!" Sungut Nick tak terima.
"Tapi kau juga membutuhkan uangnya kan?" Pemuda tinggi itu melempar puntung rokoknya sembarang arah .
"Tolong beri saran apa yang harus aku lakukan?"
"Biarkan saja, lagipula ini bukan urusanku, lagipula pria kaya itu tidak mungkin membuka tabiat aslinya didepan pacarnya kan? pacarnya mungkin langsung akan meninggalkannya Nick, berfikirlah secara logika, dimana ada orang yang menyukai pembunuh" ucapnya remeh.
Nick terdiam mendengar ucapan temannya, benar juga pikirnya, tetapi ia juga melihat bagaimana William bersikap sangat santai ketika menghadapinya.
"Suasana hatiku buruk, aku ingin tidur siang saja" Katanya sembari menjauhi Nick.
"Hei! Bagaimana mobilnya Christ?!" Teriak Nick.
"Kita libur saja hari ini!" Balas pria bernama Christ tersebut.
"Ck sialan!"
...****************...
Mary menatap sekeliling perumahan elit yang ia masuki beberapa saat yang lalu bersama dengan William, ia sebenarnya sangat bingung kenapa kekasihnya ini membawanya kemari tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Sebenarnya kita mau kemana?" Tanya Mary.
"Aku ingin memberi kejutan" Balas William, pria itu meraih sebelah tangan mary dan menciumnya singkat.
"Kejutan? Disini?" Tanya Mary tak percaya.
"Ya disini"
"Apa kita akan kerumahmu sekarang? Setahuku kau tidak tinggal di sini?" Bingung mary.
"Sayang? Ikuti saja aku" Kata William.
Mary mengangguk patuh, menurutnya William adalah tipe orang yang penuh dengan kejutan tak terduga, pria ini terlihat romantis dan juga sangat menyukainya.
"Sudah sampai, ayo turun!" Ajak William.
Mary mengangguk dan mulai mengikuti perintah William untuk turun, ia mengamati sekitar dimana banyak berjajar rumah mewah berlantai dua, dan sekarang ia tengah berdiri didepan salah satu bangunannya.
"Rumah siapa?"
"Rumah kita" Katanya.
Mary yang tadinya tersenyum lebar kini mulai melunturkan senyumnya perlahan, ia harus memastikan lagi apakah yang di dengarnya barusan adalah benar atau tidak.
"Rumah kita? Apa aku tak salah dengar? kenapa rumah mahal ini jadi rumah kita?" Tanya Mary Kebingungan.
"Karena aku mencintaimu dan sekarang kita adalah pasangan, bukankah seharusnya pasangan akan tinggal bersama?"
Mary mencerna ucapan Wiliam, yang ia ketahui di sini adalah William membeli sebuah rumah dengan harga mahal untuknya, untuk mereka berdua, dan ini di lakukan tanpa persetujuannya, itu terdengar egois.
"Will? Kita tidak pernah membahas ini sebelumnya, lagipula bukankah ini terlalu cepat? maksudku kita baru saja berkencan selama 5 hari" Kata Mary.
"Apa yang terlalu cepat sayang? Aku sudah sangat mengenalmu, aku mencintaimu dan siap melakukan apapun untukmu, apa ini kurang?"
"Tapi aku tidak mengenalmu, bahkan aku baru tau ibumu sebenarnya sudah meninggal belakangan ini, kau sama sekali tidak terbuka padaku" Kata Mary.
William menatap wanita cantik didepannya ini tanpa ekspresi, ia tak suka akan penolakan yang dilakukan oleh Mary.
"Mary, aku tidak suka kau menolakku sayang" Ucapnya sembari memengan kedua pundak Mary.
"Aku juga tidak suka kau membuat keputusan tanpa sepengetahuanku, aku juga punya tempat tinggal dan kehidupan di sana" Balasnya.
"Aku tidak suka kau menjawabku" kata William lagi.
Mary terdiam kaku, ia merasa sangat kecewa pada William karena tak diberikan hak untuk mengutarakan pendapatnya, William hanya akan peduli dengan apa yang di korbankan nya.
"Masuklah, aku membeli ini dengan harga mahal"
Mary menggeleng tak setuju,"Aku akan pulang" Pamitnya sembari berbalik akan pergi.
"Mary? Kau sangat tidak menghargai ku, setidaknya masuklah!" William menghalangi mary dan mencekal pergelangan tangannya.
"Aku tidak suka ini, kau terlihat egois" Ucap Mary lirih.
"Masuklah sayang, kita akan pulang setelah ini"
Mary terpaksa menyetujui ajakan William dan mengikuti langkah kaki pria itu untuk masuk ke dalam rumahnya.
Harum pewangi kesukaannya tercium semerbak begitu ia membuka pintu utama, Mary tertegun, apakah William juga tau wewangian kesukaannya.
"Aku menyiapkan ini semua, untukmu" Katanya sembari menarik Mary semakin masuk ke dalam rumah
Perabotan yang tertata sangat rapi, hiasan dinding serta lukisan abstrak yang terlihat sangat menawan, William juga memberi warna dinding sesuai dengan warna yang paling ia sukai, yaitu merah muda.
"Mau ke kamar? Atau ke dapur?" Tawarnya.
Mary hanya menjawab dengan anggukan bersamaan dengan William yang kembali menuntunnya ke area dapur, disepanjang sudut ruangan juga terpajang bunga segar favoritnya, William juga menyiapkan ini untuknya?
"Bagaimana? Kau suka?" Tanyanya.
"Kau menyiapkan ini semua?"
"Tentu, ini untukmu" Katanya, William memeluk Mary dari belakang, membenamkan wajahnya pada bahu sempit sang kekasih, napasnya terasa menderu ketika ia berhasil menjadi sedekat ini dengan sang pujaan hati, ini adalah impiannya sejak lama.
"Kau mengetahui segalanya, warna kesukaanku, bahkan pengharum ruangan milikku" Ujar Mary.
William mendengar pertanyaan Mary, namun ia terus menghirup harum bahu Mary hingga perasaannya menjadi sangat tidak tenang, bisakah ia langsung meniduri wanita ini sekarang juga?
"Hmmm, aku hanya tau sedikit, itu karena aku sangat mencintaimu sayang"
Mary tertunduk dalam, William sudah melakukan banyak hal untuknya, dan ini pasti dilakukannya agar membuatnya bahagia, pasti William akan merasa sangat kecewa jika ia menolaknya.
"Kita akan tinggal di sini, selamanya, bersama sama, karena kau milikku, hanya milikku" Ucapnya dengan napas yang tersenggal.
"A-aku"
"Mary! Aku bisa menahan semua hal di dunia ini, tapi aku tidak bisa menahan hal hal yang berkaitan denganmu, tolong turuti aku sayang" Pintanya.
Mary terdiam beberapa saat sebelum ia mengangguk kaku untuk menjawabnya.
"Bagus"