Menceritakan seorang Alena dan putranya, cerita fantasi dengan dunia modern.
Di negara Amerika ini, Alena bekerja sebagai sekretaris bosnya. Wanita itu memiliki seorang anak yang baru berusia 7 tahun. Semenjak kedatangan putra sulung dari Alexander, yang tak lain adalah bosnya sendiri. Kehidupan Alena tidak begitu normal, setiap melihat pria itu, Alena akan merasakan rasa pusingnya.
Di balik itu semua, terdapat kenangan masa indah mereka.
Hari demi hari penuh tantangan bagi mereka, Alena yang memiliki seorang putra yang begitu jenius, di perebutkan oleh para orang kaya.
Kabir sendiri memiliki paman yang melatihnya menggunakan kekuatan bela dirinya, di dampingi dengan seorang wanita yang memiliki kekuatan dari leluhurnya, semua orang akan takut saat mendengar namanya.
Feng yin salah satu orang yang ingin merebut Lucas dari Alena. Lucas adalah Kabir, Feng yin dengan segala kekuatan dan kekayaannya mampu melakukan segala cara untuk merebut Kabir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LorenzaMug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yaitu Kebersamaan Keluarga 31
***
Feng Yin dan Li Jia Ling, mereka bertemu secara pribadi. Suami Li Jia tidak ada, membuatnya leluasa untuk pergi kemana pun tanpa di ikuti oleh suaminya.
Feng yin membicarakan rencana yang besar, mengatakan pada Li Jia untuk berkerjasama dengannya.
"Kau yakin ingin membayar ku?" Tanya Li Jia menatap pria di depannya dengan sinis. Melirik ke arah sejumlah uang yang berada di dalam koper begitu banyak. Li Jia berdecih saat pria di hadapannya ingin meminta bantuannya.
"Uang ini, cukup besar. Jika masih kurang, saya bisa menambahkannya." Ucap Feng Yin. Li Jia terkekeh geli. Dirinya pikir Feng yin akan merencanakan pembunuhan terhadap Kabir, ternyata tidak, pria itu ingin Kabir menjadi budaknya.
"Lucas tidak ada di sini, kamu seharusnya tahu hal itu, kan?" Ujar Li Jia. Feng Yin tertawa kecil, merapikan jasnya kemudian menatap Li Jia dengan tatapan serius.
"Saya tahu, tapi, melihat kamu adalah bibinya, seharusnya tahu caranya untuk melakukan hal yang saya ingin." Balas Feng Yin.
"Kamu benar-benar licik, aku menginginkan nyawa Kabir, bukan malah ingin menyerahkan dia pada kamu!" Li Jia mendengus kesal. Feng Yin tetap tersenyum, meskipun hatinya dongkol.
"Pikirkan baik-baik, semuanya bisa di atur kembali." Bujuk Feng Yin. Tidak ingin menyia-nyiakan orang yang bisa membawa Lucas ke hadapannya.
"Kamu ingin putramu sebagai penerus keluarga Ling, bukan? Maka... bukankan lebih bagus jika Lucas tidak ada di antara keluarga mu?" Lanjut Feng Yin.
"Tentu saja itu yang aku harapkan, namun, bisa saja Lucas membuat rencana besar setelah beranjak dewasa nanti! Bukankah membasmi lebih bagus dari pada membiarkannya berkeliaran seperti hama?" Jawab Li Jia dengan menampilkan senyum sinisnya.
"Ya, tapi saya bisa menjanjikan jika setelah Lucas berada di genggaman saya, maka tidak ada yang bisa merebut kekuasan keluarga Ling nantinya." Ujar Feng Yin memberikan persyaratan. Li Jia tidak bodoh, dirinya tidak mau jika penyakit di keluarganya terus berkeliaran dengan bebas, Li Jia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Sayang sekali aku tidak tertarik, seandainya putraku tidak menyayangi Lucas, maka aku akan dengan senang hati membiarkan Lucas hidup. Tapi, otak putraku sudah di cuci oleh Lucas, bahkan putraku sendiri bisa membangkang padaku!" Ujar Li Jia.
Feng Yin menampilkan wajah sedihnya, bersedih atas ucapan Li Jia. "Sayang sekali jika begitu..." gumam Feng Yin. Li Jia, wanita itu tersenyum sinis saat mendengar lirihan pria tua itu.
"Tidak ada yang akan kita bahas lagi sekarang, sudah waktunya aku untuk pulang." Ujar Li Jia dengan berdiri. Feng Yin ikut berdiri, masih enggan untuk membiarkan wanita itu pergi sebelum menyepakati kesepakatan mereka.
"Nyonya Li Jia, tolong pikirkan baik-baik." Pinta Feng Yin sedikit berteriak. Li Jia berhenti sesaat, menoleh dan menggeleng tidak mau.
Setelah wanita itu pergi, pria tua itu segera membanting barang-barang yang ada di sana. Feng Yin mengepalkan tangannya kuat, "Percuma saja aku bertemu dengan wanita itu! Dia sama sekali tidak berguna untuk hal kecil ini!" Teriak Feng Yin marah.
"Arrrghhh!" Teriak Feng Yin seperti kesetanan.
***
Sore sudah berganti malam, kini mereka sudah bersiap untuk merayakan ulang tahun Kabir bersama. Alena memakai gaun berwarna putih, menampilkan kecantikan yang lebih menonjol, dengan lekukan tubuhnya yang begitu indah dan cantik.
"Tiup lilinnya Kabir!" sorak mereka secara bersamaan. Kabir segera meniupnya, satu-persatu mencium pipi Kabir dengan gemas.
"Selamat ulang tahun, Kabir. Cepatlah tumbuh lebih tinggi, oke." ucap Santi memberikan kecupan di pipi Kabir.
"Selamat ulang tahun, Son. Kau sudah begitu dewasa, baru kemarin kau berumur satu tahun, sekarang sudah berumur tujuh tahun." Ujar Steven tersenyum lebar.
"Terima kasih, tuan Steven." ucap Kabir membalas.
"Giliran potong kuenya, lalu suapi orang yang ingin kau suapi." Titah Alena kini. Kabir mengangguk, setelah memotong kuenya, anak kecil itu menatap Aryan dengan tersenyum lebar. Alena mengalihkan pandangannya ke arah Kabir yang saat ini memandang ke depan.
"Kabir, berikan suapan pertama mu." Ucap Alisa. Kabir berjalan mendekat, Alena tersenyum, untuk sesaat senyumannya pudar kembali saat melihat putranya melangkah ke arah Aryan.
Kabir mendongak menatap ayahnya dengan senyuman manisnya. "Ini, kue untuk mu, tuan Aryan." anak kecil itu memberikan piring kecil yang berisi kue. Beralih ke arah Alena yang sedang menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
Seolah mengerti dengan tatapan itu, Kabir segera mendekat dan mengambil kue yang sudah berada di piringnya. "Suapan pertama untuk mommy." Kabir tersenyum senang, menyodorkan sendok ke arah ibunya. Alena membuka mulutnya, menerima suapan pertamanya dari putra tampannya. Alena kemudian menyuapi Kabir, semua orang melihat mereka berdua tiba-tiba menjadi haru.
"Ini tidak adil, harusnya paman Benni yang mendapatkan suapan pertama!" celetuk Benni dengan menghapus air matanya yang sudah keluar.
"Benar-benar anak kecil!" cibir Alena. Mereka tertawa melihat Benni seperti itu.
"Paman Benni, jangan khawatir kue ku akan habis, jika kuenya sudah habis paman Benni bisa mengambil balon ku supaya paman tidak menangis lagi." Balas Kabir.
"Hahaha! Ben, Kabir ingin memberikan mu balon? Bukankah kalian harusnya tertukar?" celetuk Santi dengan tertawa kencang. Wanita itu memegang perutnya yang sakit akibat menertawakan Benni.
"Sudahlah, Kabir, suapi anak kecil itu. Tidak akan pernah diam jika belum di suapi olehmu." Titah Alena. Kabir segera mengangguk, dengan cekatan menyuapi Benni sepotong kue.
"Grandma juga ingin di suapi oleh mu." Ucap nyonya Elly. Kabir tersenyum geli, kemudian menurutinya, menyuapi nyonya Elly dengan hati-hati.
"Waktunya untuk makan tumpeng?" tanya Alisa pada Alena.
"Iya, kita makan di lantai seperti biasa saja, jika di meja makan tidak akan cukup." jawab Alena.
"Baiklah."
"Alena, aku akan menyiapkan makanannya." ujar Anna bergegas pergi ke dapur, Alisa dan Santi pun ikut membantu Anna menyiapkannya.
Setelah semuanya siap, kini Kabir mulai memotong nasi yang memang sudah di buat seperti makanan Indonesia. Alena ingin putranya tidak lupa dimana dirinya berasal.
"Selamat makan!!!" seru mereka bersamaan. Kabir membaca doa terlebih dahulu sebelum memulai makan.
"Eumm... masakan Anna tidak pernah gagal!" puji Alisa. Santi mengangguk membenarkan.
"Kau benar, sudah berminggu-minggu kita tidak makan-makanan negara kita, sekarang aku merasa saat ini berada di Indonesia. Sungguh aku merindukan kampung halaman ku." timpal Santi kini.
"Iya, jika ada waktu, pulang lah untuk menemui keluarga kalian yang ada di sana." ucap Alexander pada mereka. Alisa dan Santi saling tertawa kecil.
"Tidak akan saya tolak, tuan." kekeh Benni yang menimpalinya.
"Tidak di duga, malah kau yang menyahut, Benni." sindir nyonya Elly dengan tertawa.
"Nyonya, anak ini jika di biarkan maka akan semakin melunjak, sebelum itu jangan biarkan Benni cuti selama dua tahun." Cibir Rendi membuka suaranya. Alexander dan Elly tertawa riang.
Suasana di sana menjadi riang begitu saja, semuanya berbicara ketika sedang makan. Saat ini, Aryan sangat mengerti dan menghargai arti dari sebuah keluarga, pantas saja ibunya selalu bahagia saat dirinya mengatakan akan pulang. Ternyata ini lah yang di inginkan ayah dan ibunya, yaitu kebersamaan keluarga.