Karya ini menceritakan tentang kehidupan seorang manusia yang sulit bahkan hampir tidak mau berbaur dengan sesama. Bahkan selama hidupnya, hanya ia habiskan untuk keluarganya saja. Kehidupan dengan tetangga dan sekitar tak ia pedulikan. Bahkan untuk menyapa pun sangat enggan dilakukan. Hingga akhirnya ia di temukan telah mati membusuk dirumahnya. Tak ada seorang pun yang mengetahui akhir hayatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endah puji astuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Suasana Di Kampung
Kematian Bu Nuri memang merubah segalanya. Kehidupan kampung yang dulunya adem, ayem dan ramai, kini tampak suram dan sepi. Jangankan untuk berkumpul-kumpul bercanda gurau seperti dulu. Kini setiap orang akan langsung masuk ke rumah masing-masing setelah selesai dengan pekerjaan mereka. Mungkin hanya rumah kami yang selalu terbuka dan ramai saat siang. Namun akan sama seperti yang lainnya saat petang sudah datang.
Aku dan Mira masih sering bermain di teras rumah. Ibu juga sering menyiangi sayuran sambil melihat tanaman bunganya di teras. Bahkan Mira masih sering membawa teman-temannya bermain di rumah kami. Meskipun kebanyakan berasal dari sebelah Utara rumah kami, namun ada Siti yang rumahnya harus melewati sebelah rumah Bu Nuri setiap datang ke rumah kami. Hanya Siti dan Mira, dua anak kecil yang tanpa rasa takut mondar-mandir melewati rumah berhantu itu setiap hari. Dimana kebanyakan orang dewasa akan memilih jalan yang memutar sedikit lebih jauh, atau menerobos kebun jati yang rumputnya sudah setinggi dada ketimbang harus melewati rumah Bu Nuri selepas waktu ashar.
"Sepi, ya, Bu." ucapku sambil melihat ke jalanan. Mataku tak sengaja menatap rumah megah di ujung jalan pertigaan yang hanya berjarak sekitar sepuluh meter dari rumah kami.
"Iya, Nduk. Lagi pada istirahat siang-siang begini." ujar Ibu sambil mengupas bawang.
"Ini sudah jam dua, Bu. Biasanya jam segini Pakdhe Yoso pergi ke ladang untuk mencari rumput. Di tambah, banyak anak kecil yang bersepeda lewat jalan ini untuk menghabiskan waktu bermain bersama." celotehku mengenang masa-masa itu. Jujur aku sangat rindu keadaan kembali seperti semula. Ibu terdiam, tangannya tetap melanjutkan mengupas bawang. Meskipun matanya kadang kala menoleh ke jalanan. Aku yakin Ibu pun merasakan hal yang sama denganku.
"Oh, ya, Mir. Pakdhe Mitro bagaimana kabarnya?" Ibu mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan kabar Pakdhe Mitro pada Mira.
"Sudah baikan, Bu. Sudah mau beraktifitas di rumah, hanya saja untuk menjajakan baksonya sepertinya beliau belum mau." ucap Mira. Adikku itu bisa tahu segala informasi di kampung, meskipun dia masih kecil, namun entah mengapa info seputar kejadian di kampung dia selalu tahu lebih dulu.
"Syukurlah kalau sudah sembuh, Ibu belum sempat menengoknya lagi." ujar Ibu.
"Kalau begitu sekalian sama Bu Tuti juga, Bu." putus Mira.
"Bu Tuti siapa?" Ibu kembali bertanya.
"Istrinya Pak Sugeng. Dia juga sawan karena tidur memeluk hantu Bu Nuri." ujar Mira membuatku terperanjat.
"Jangan menyebar cerita yang tidak-tidak, Nduk. Ndak baik." potong Ibu saat Mira ingin melanjutkan ucapannya.
"Mira nggak mengada-ada, Bu. Memang seperti itu kabarnya." bantah Mira.
"Memangnya bagaimana ceritanya, Mir?" kini aku ikut penasaran.
"Katanya kemarin malam Bu Tuti lagi nonton televisi, terus ketiduran. Sampai tengah malam dia tidak pindah ke kamar karena Pak Sugeng rupanya sudah tidur duluan di kamar. Bu Tuti pikir bakal di bangunin Pak Sugeng kalau dia ketiduran saat nonton televisi. Nggak tahu bagaimana cerita pastinya, tapi katanya Bu Tuti tiba-tiba memeluk tubuh manusia, dingin sekali dan bau juga." cerita Mira membuatku bergidik ngeri. Seketika aku mengingat sosok yang ku peluk di kamar. Teringat dengan bau busuk yang menyengat, bahkan benar-benar membuatku sakit kepala dan mual selama berhari-hari.
"Lalu sekarang Bu Tuti bagaimana kabarnya?" Ibu rupanya juga penasaran dengan kondisi istri Pak Sugeng itu.
Mira menggeleng. "Nggak tahu, Bu. Mira belum dengar kabar Bu Tuti lagi. Lagi pula Mira kan dari kemarin libur sekolah, jadi nggak bisa dengar cerita dari Siti." ujar Mira, Ibu hanya mengangguk-angguk saja mendengar jawaban Mira.
"La Siti kemana? Tumben dari kemarin dia nggak kelihatan. Biasanya dari pagi sudah main disini." Tanyaku.
"Ke rumah Simbahnya di Sragen." jawab Mira singkat.
Sore hari, tiba-tiba Budhe Narti geger. Sambil mengomel beliau datang kerumah dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
"Ada apa, Budhe?" tanyaku melihat Budhe Narti emosi. Tak biasanya beliau marah-marah sampai seperti itu. Tak mungkin juga jika Budhe Narti bertengkar dengan Pakdhe Narto. Selama ini keluarga mereka selalu baik-baik saja.
"Itu, Nduk. Demit sialan. Aku lagi buru-buru mau ke kamar mandi masa di kunciin pintu. Apa ndak kurang ajar itu namanya." wajah Budhe Narti tampak memerah, sepertinya beliau sangat emosi.
"Di kunciin bagaimana, Budhe?" tanyaku.
"Pintunya nggak bisa di buka. Mana Budhe tadi lagi kebelet, sampai hilang rasanya selera Budhe untuk buang hajat." ucap Budhe membuatku mengernyitkan dahi.
"Lalu sekarang?" tanyaku lagi.
"Sudah bisa di buka, di dobrak sama Pakdhe mu. La bagaimana bisa coba pintu kamar mandi kok di gerendel dari dalam. Sedangkan di dalam kamar mandi tidak ada siapa-siapa. Nggak mungkin kan gerendel pintu kamar mandi bisa nyelot sendiri?" Budhe Narti tampak sangat kesal.
"Jadi Budhe sekarang masih nahan sakit perut?" tanyaku.
"Ya, ndak sakit. Cuma sekarang perut Budhe jadi begah rasanya." keluhnya sambil memegangi perutnya yang sedikit membuncit.
"Kalau begitu, Budhe numpang kamar mandi disini saja." saranku. Budhe mengangguk.
"Iya, Nduk. Memang Budhe mau numpang disini dulu, pintu kamar mandinya lagi di benerin sama Pakdhe mu." ujar Budhe Narti yang kemudian sudah menghilang di balik pintu.
Aku berdiri di tepi jalan. Menatap ke arah Selatan, dimana rumah megah itu juga berada di sana. Sekilas rumah itu tampak biasa saja, seperti rumah pada umumnya. Namun hawa seram dan singup tak bisa di pungkiri. Mataku menangkap sesosok wanita sedang menyapu di lantai dua. Rambutnya yang panjang tergerai menutupi wajahnya. Aku memperhatikan wanita itu, mirip sekali dengan Citra, keponakan Bu Nuri yang waktu itu kesurupan saat datang kemari.
"Kapan mereka datang?" aku menggumam sendirian. Dari kejauhan terus ku amati perempuan yang sedang menyapu itu. Gerakannya pelan sekali.
"Keturunan orang kaya mungkin seperti itu. Tak pernah memegang sapu, makanya menyapu saja harus se pelan itu."gumamku lirih.
Pandanganku masih saja tertuju pada Citra yang tak berpindah tempat juga saat menyapu, hingga panggilan Budhe Narti menyadarkanku.
"Nduk, masuk. Sudah mau maghrib." panggil Budhe Narti yang rupanya hendak pulang ke rumahnya.
"Oh iya, Budhe." Jawabku singkat. Namun saat aku menoleh kembali ke rumah Bu Nuri, sosok Citra sudah tak ada.
"Secepat itukah dia pergi? Atau mungkin dia sudah turun? Seharusnya tak secepat itu." gunamku sendirian. Aku menggigil, memegangi tengkuk leher yang terasa meremang. Saat aku hendak masuk ke dalam rumah, tampak sosok perempuan mirip Citra itu sudah berdiri di depan pintu pagar Bu Nuri. Aku terkejut melihatnya. Bagaimana mungkin tak terdengar suara pintu gerbang di buka sebelum Citra muncul di depan gerbang. Sedangkan pintu gerbang Bu Nuri sangat berisik saat di buka karena harus menimbulkan suara yang cukup kencang.
by the way ,cerita ini tamat kah krn kampung nya sudh jadi kampung mati.Mira dan Ayu pun sudah dewasa dan berkeluarga...😗
maghrib maghrib udh keluyuran 👻👻👻