Zara terkenal sebagai siswi paling populer di sekolahnya. Selain cantik dan pintar, dia juga merupakan anak tiri dari seorang pria kaya raya yang cukup disegani. Namun, sayangnya semua nikmat itu menjadikan Zara gadis yang sombong dan selalu menganggap dirinya adalah yang terbaik.
Suatu ketika Zara mengalami kejadian tak terduga yang melibatkan dirinya dengan seorang guru muda nan tampan bernama Aditya. Karena kejadian tersebutlah mereka harus dinikahkan secara paksa.
Seketika kehidupan Zara berubah 180 derajat. Dia yang terbiasa hidup dalam kemewahan, kini harus tinggal bersama Aditya yang kondisi perekonomiannya menengah ke bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Charlotte Sun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Suci
Suasana menjadi lebih tenang dari sebelumnya.
Zara yang tadi sempat tak enak hati, kini merasa lega. Dia bersyukur karena para sahabatnya sudah mengetahui tentang pernikahan yang selama ini ia sembunyikan. Lebih bersyukur lagi saat tahu kalau ternyata mereka tidak marah dengan kejujurannya.
"Eh, ngomong-ngomong Pak Aditya ke mana?" tanya Dona.
"Sedang ikut kerja bakti," jawab Zara.
Ya, memang benar Aditya sedang melaksanakan kerja bakti bersama para warga sekitar. Namun alasan lain pria itu pergi tentu saja agar tidak kena ocehan dari istri kecilnya. Terlebih karena Aditya tahu pasti Zara akan menghabisinya setelah kebodohan yang ia perbuat tadi.
Dona pun mengangguk paham mendengar jawaban tersebut.
"Ih ... jangan dekat-dekat ah." Tiba-tiba saja Kanaya menjauhkan dirinya dari Zara dan mengibaskan tangan seolah menyuruh Zara untuk menyingkir. Sementara yang bersangkutan hanya mengernyitkan kening. Merasa heran dengan perubahan sikap sahabatnya yang menjadi aneh.
"Kenapa?" tanya Zara sambil memicingkan mata.
"Aku tidak mau dekat-dekat dengan wanita yang sudah tidak suci lagi," balas Kanaya. Tentu saja dia hanya sedang bercanda demi mencairkan suasana sekaligus meledak sahabatnya.
Zara membuang napas kasar. Ia pikir Kanaya menyuruhnya menjauh karena alasan lain.
"Ya ampun, gini-gini aku masih suci kali."
Pufftt!!
Dona yang sedang menikmati secangkir teh, tak sengaja menyemburkan teh tersebut karena kaget. Dalam sekejap kedua gadis itu langsung menatap Zara dengan sepasang bola mata melebar.
"Biasa aja kali," cetus Zara yang merasa tak nyaman dengan tatapan para sahabatnya.
"Ra, are you kidding?" tanya Kanaya, mencoba memastikan.
"Tidak. Untuk apa aku bercanda?"
"Jadi kamu benar-benar masih suci? Belum pernah melakukan anu sama sekali?" sambar Dona.
"Ya belum lah, ngaco!"
"Ta-tapi kamu dan Pak Aditya kan sudah menikah, Ra. Bukankah seharusnya kalian telah melakukannya sejak awal? Bagaimana dengan malam pertama kalian?"
Zara mengedikan bahu sambil mengerucutkan bibir.
"Astaga ... benar-benar tidak masuk akal. Kok bisa kalian melewatkan hubungan penting dalam ikatan suami-istri?" Kanaya tersenyum getir. Merasa sangat heran dengan fakta yang ia terima.
"Ya mau gimana lagi. Awalnya kita menikah juga karena terpaksa kok. Saat itu juga aku belum mencintainya. Tidak mungkin kan aku melakukan hubungan dengan orang yang bahkan tidak aku cintai?"
"Lalu bagaimana dengan sekarang?"
"Apanya?" balas Zara dengan polos. Membuat Dona yang bertanya langsung membuang napas gusar.
"Ya perasaan kamu lah, Zara!!! Bagaimana perasaan kamu sekarang ke Pak Aditya?"
Zara terdiam. Mendadak saja lidahnya menjadi kelu. Sungguh dia tak tahu harus menjawab apa. Mengenai perasaan, dia sendiri bahkan tidak mengetahuinya. Zara sama sekali tak mengerti dengan perasaannya saat ini.
"Zara!!" teriak Dona. Gadis itu kesal karena Zara malah melamun dan mengabaikan pertanyaannya.
"A-aku ... aku tidak tahu." Zara menjawab tanpa berani menatap Kanaya dan Dona.
"Ih, masa tidak tahu sih. Ayo dong, jujur. Tidak usah malu-malu sama kita mah." Kanaya mengguncang-guncangkan lengan Zara sebagai upaya pembujukannya.
"Oke, aku akui dulu aku memang membencinya. Setiap melihat Pak Aditya, aku merasa ingin sekali melenyapkan orang itu. Bagiku dunia yang indah seakan menjadi buruk setiap melihat dirinya. Setelah menikah pun juga begitu. Aku masih sering merasa kesal setiap dekat dengan dia. Tapi seiring berjalannya waktu, semua berubah."
"Berubah gimana tuh maksudnya?"
"Ya pokoknya berubah. Kebencian yang aku miliki seakan menghilang entah ke mana. Wajah yang biasanya selalu membuatku emosi setiap kali melihatnya, sekarang malah membuatku tidak bisa beralih. Dan lebih anehnya lagi, kini aku malah menjadi sensitif jika melihat dia dengan wanita lain."
"Cemburu gitu maksudnya?" tanya Dona dan Zara pun mengangguk.
"Fix, itu berarti kamu sudah mulai ada perasaan pada Pak Aditya. Apa lagi kalau bukan C-I-N-T-A. Cinta!"
Zara terkekeh dibuatnya. "Apa sih, Don. Cemburu doang mah belum tentu cinta kali."
"Yehh ... dibilangin ngeyel. Terus kalau bukan cinta, apa dong namanya?"
"Tau nih. Pintarnya dalam pelajaran doang. Soal beginian mah lemot," sambar Kanaya dengan cibiran pedasnya.
Kali ini Zara kembali membisu. Dia berpikir sejenak, mencari kata yang lebih tepat untuk mewakilkan perasannya. Tapi sayang ia tak dapat menemukannya.
Zara bertanya-tanya apakah benar rasa cemburu tersebut merupakan tanda cintanya terhadap Aditya? Jika memang benar begitu, mungkinkah cinta Aditya akan segera terbalaskan?
"Ra, kalau seandainya Pak Aditya direbut sama cewek lain gimana?" tanya Kanaya secara tiba-tiba. Membuat Zara langsung menggelengkan kepala dengan gesit.
"No! Tidak boleh ada yang memilikinya selain aku. Dia suamiku, dan hanya milikku." Zara menjawab tanpa memikirkan apa yang ia katakan barusan. Semua kalimat itu terlontarkan dengan spontan dari mulutnya.
"Tuh kan, fix ini mah kamu beneran sudah ada perasaan dengan Pak Aditya. Buktinya kamu tidak sudi jika dia direbut wanita lain," sambar Dona.
"Eumm ... kalau ternyata aku beneran cinta sama dia, terus aku harus apa?" tanya Zara. Seketika ia merasa menjadi gadis paling bodoh di dunia. Dalam hal percintaan seperti ini, Zara bukanlah ahlinya. Bahkan kisah percintaannya dengan Gallen saja terkesan sangat memprihatinkan.
"Segeralah mengakuinya pada Pak Aditya, supaya dia tahu perasaanmu untuknya. Kalau kamu tidak segera mengakui perasaanmu, kita khawatir Pak Aditya akan mencari wanita lain yang bisa membalas cintanya."
Sontak Zara bergidik ngeri membayangkan hal tersebut.
"Apa jangan-jangan selama ini dia selalu keluar malam karena mencari pelampiasan dengan wanita lain?" tanya Zara pada diri sendiri dengan suara kecilnya.
Kanaya dan Dona yang tidak sengaja mendengar, refleks langsung tercengang. Mereka saling bertukar pandang satu sama lain. Pikiran keduanya menjadi satu arah. Ya, mereka sama-sama memikirkan ucapan Kanaya beberapa hari lalu yang mengatakan bahwa ia tak sengaja melihat pria yang mirip dengan Aditya di sebuah night club.
Tetapi meskipun begitu, tak ada di antara mereka yang berani angkat bicara mengenai hal ini. Kanaya dan Dona sama-sama berharap bahwa kebiasaan Aditya keluar malam dengan pria di night club itu tidak ada hubungannya sama sekali. Namun, tetap mereka harus waspada. Bagaimana pun juga mereka harus menghasut Zara untuk segera menguasai Aditya agar pria itu tak jatuh ke tangan wanita lain.
"Ra, please deh. Sebaik-baiknya Pak Aditya, dia juga pria normal yang punya nafsu dan butuh tempat pelampiasan. Kalau kamu tidak pernah melakukan tugas sebagai seorang istri, bagaimana jika ternyata dia tak bisa menahan diri dan malah melampiaskannya ke wanita lain di luar sana?"
"Iya, benar apa yang Dona bilang. Aku khawatir jika suatu saat nanti Pak Aditya merasa kamu tidak ada gunanya sebagai seorang istri. Terlebih karena kamu tidak pernah melakukan tugas wajibmu untuknya," imbuh Kanaya.
jelas Zara yang melakukan kesalahan fatal dan kebodohan tapi aditya kalian buat menderita, mengemis maaf dan kayak lelaki tida punya harga diri yang memohon2 kayak pengemis, dan kalian buat aditya kayak patung yang tidak punya perasaan yang harus Terima saja diperlakukan semaunya oleh Zara
tgor jika Tuhan memberi mu karma dan kau di kehidupan nyata kau ditempat kan diposisi aditya, baru kau sadar betapa egoisnya kau jadi novelis wanita
amin