Indonesia
NovelToon NovelToon
TEROR!

TEROR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:28k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sinopsis

Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.

Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.

Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kau harus mati!

LIMA TAHUN KEMUDIAN.....

"Wuhu....!"

Teriakan riuh itu memecah dentuman musik bass yang menghentak keras di seluruh sudut diskotik megah di pusat kota.

Lampu-lampu laser warna-warni memotong kegelapan malam, memantul di atas gelas-gelas kristal dan pakaian bermerek yang melekat di tubuh para pengunjung VIP.

Meskipun lima tahun telah berlalu sejak masa-masa perkuliahan mereka usai, dunia gemerlap tidak pernah benar-benar meninggalkan mereka.

Kehidupan malam, pesta pora tanpa henti, dan botol-botol minuman mahal masih menjadi tempat pelarian favorit bagi Julian, Fano, Adrian, dan Rian.

Kini, kehidupan mereka tampak makin tak tersentuh. Masing-masing dari mereka sudah berada di posisi puncak teratas jajaran manajemen di perusahaan konglomerat raksasa, posisi bergengsi yang mereka dapatkan dengan begitu mudah dan cepat berkat campur tangan serta koneksi orang tua mereka yang berpengaruh.

Uang, kekuasaan, dan status sosial membuat mereka merasa memegang kendali penuh atas dunia.

Seperti malam ini, di tengah riuhnya lantai dansa eksklusif, mereka berempat menari mengikuti irama musik yang membakar semangat.

Julian mengangkat gelas tingginya ke udara seraya tertawa lepas bersama Adrian dan Rian, menikmati perhatian dan tatapan kagum dari orang-orang di sekeliling mereka.

Senyum percaya diri menghiasi wajah Julian, bayangan pias tentang masa lalu.

"Tetap di puncak, Bro!" seru Adrian setengah berteriak menembus dentuman musik, menepuk bahu Julian dan Rian.

Mereka saling mengadu gelas, menenggak cairan beralkohol itu sampai habis dalam sekali teguk.

Bagi mereka berempat, masa lalu hanyalah cerita lama yang sudah basi. Tidak ada tempat untuk penyesalan.

Di bawah naungan nama besar keluarga dan gelimang harta, mereka merasa terlindungi dari segala bentuk konsekuensi.

Malam makin larut, namun energi mereka seolah tak pernah habis untuk terus menari, menenggelamkan diri dalam euforia kesuksesan yang melena.

Pesta akhirnya usai saat jarum jam menunjuk ke angka tiga pagi. Satu per satu pengunjung mulai meninggalkan lantai dansa yang riuh, menyisakan bau alkohol, asap tipis, dan lantai yang lengket.

Julian, Rian, dan Adrian sudah melangkah keluar lebih dulu dari area VIP. Dengan tawa yang masih tersisa dan langkah yang sedikit terhuyung, ketiganya berjalan menuju area parkir valet, lalu memacu mobil mewah masing-masing membelah keheningan jalanan kota yang dingin.

Sementara itu, Fano keluar belakangan. Pria itu tertahan di dalam karena terlalu asyik bercumbu dengan seorang wanita malam di sudut bilik remang-remang.

Setelah menyelipkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke dalam tas wanita itu dan berjanji akan menghubungi lagi nanti, Fano menyisir rambutnya yang berantakan dengan jemari, lalu berjalan melangkah keluar menembus pintu kaca tebal diskotik.

Angin malam yang membeku langsung menyergap wajah Fano, sedikit mengikis rasa kantuk dan pengaruh alkohol di kepalanya.

Area parkir yang tadi dipenuhi mobil-mobil mewah kini mulai tampak lengang. Suasana di luar terasa begitu sunyi, berbanding terbalik dengan kebisingan musik di dalam barusan.

Fano merogoh saku jas mewahnya untuk mengambi kunci mobil, seraya menghembuskan napas panjang.

Namun, saat ia melangkah sendirian menyusuri lorong parkiran yang temaram, perasaan tak enak mendadak merayap di tengkuknya.

Suasana malam yang sunyi itu tiba-tiba terasa begitu berat, seolah-olah ada pasang mata yang sedang memperhatikannya dari balik kegelapan.

Dengan napas yang sedikit tersengal, Fano berjalan makin cepat menuju mobil sport mewahnya yang terparkir di sudut remang-remang.

Rasa was-was yang tiba-tiba menyerang membuat jantungnya berdegup tak beraturan. Beberapa kali ia menggelengkan kepalanya yang terasa berat dan pening, berusaha mengusir pengaruh alkohol sekaligus sensasi aneh yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Bip-bip.

Suara kunci otomatis bergema di area parkir yang sepi. Fano buru-buru membuka pintu mobil, menerobos masuk ke dalam kabin, lalu membanting pintunya rapat-rapat.

Suara dentam pintu kendaraan itu seketika memotong kesunyian malam di luar, menggantikannya dengan kedapnya interior mobil beraroma kulit mahal.

Ia langsung mengunci seluruh pintu dari dalam. Fano menyandarkan punggungnya pada jok, memejamkan mata rapat-rapat sambil menetralkan napasnya yang memburu.

Namun, rasa aman berada di dalam mobil mewahnya tak bertahan lama.

Saat Fano perlahan membuka mata dan melirik ke arah kaca spion tengah untuk membetulkan posisi duduknya, dadanya seketika membeku.

Di balik kegelapan kaca belakang, dari balik sandaran jok penumpang yang kosong, samar-samar terlihat siluet kepala seorang wanita menunduk dalam-dalam dengan rambut panjang hitam yang terurai menutupi seluruh wajahnya.

Udara di dalam kabin mobil yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi sedingin es.

Jantung Fano serasa melompat keluar dari dadanya. Dengan napas yang tertahan di tenggorokan, ia memutar tubuhnya dan menoleh ke belakang secara mendadak.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa di jok penumpang. Hanya ada jaket jas mewahnya yang tergeletak rapi di atas kulit jok hitam yang dingin.

Suasana di dalam kabin kembali hening, meninggalkan Fano yang membeku dengan mata membelalak lebar dan pelipis yang dibasahi keringat dingin.

"Anjing... halusinasi gue," bisik Fano gemetar. Ia mengusap mukanya kasar, menyalahkan alkohol yang tadi diminumnya terlalu banyak.

Ia berbalik lagi ke depan, buru-buru menekan tombol menghidupkan mesin.

Mesin mobil menderum halus, menyorotkan lampu depan yang terang benderang menembus kegelapan area parkir.

Dengan jemari yang masih bergetar hebat, Fano memindahkan tuas transmisi dan memacu mobilnya keluar dari diskotik, ingin secepatnya sampai di penthouse tempat tinggalnya.

Mobil sport mewah itu melaju membelah keheningan jalanan kota yang sepi. Deru mesin terdengar meraung keras di bawah temaram lampu jalan yang berseliweran cepat.

Namun, di tengah laju mobilnya, udara di dalam kabin mendadak runtuh menjadi sangat membeku.

Dari balik jok belakang yang seharusnya kosong, dua lengan berkulit pucat pasi dengan jemari dingin sekeras besi melingkar mendadak di leher Fano. Cengkeraman itu mencekik tenggorokannya dengan amat kuat.

"Ugh... Akh!"

Fano tersentak hebat. Napasnya langsung terputus seketika. Sensasi dingin yang menusuk dari jemari misterius itu mengunci jalur udaranya, membuat pasokan oksigen menyusut drastis. Mata Fano membelalak lebar, memerah karena tekanan hebat di kepalanya.

Panik luar biasa menguasai tubuhnya. Dengan refleks yang liar, tangan kiri Fano melepas cengkeraman pada kemudi dan berusaha membongkar jemari dingin yang melilit lehernya.

Namun, pegangan itu terlalu kuat, seolah-olah tangan sosok di belakangnya dibuat dari baja yang tak bergeming sedikit pun.

"Le... lepashh...!" Ucap Fano terbatuk-batuk, suaranya keluar bagai bisikan yang serak dan memilu.

Mobil mewah yang kehilangan kendali penuh itu mulai oleng, memotong jalur dengan sangat liar dan zigzag di atas aspal.

Ban mobil memekik keras, menimbulkan jejak gesekan yang tajam saat membentur pembatas jalan.

"Kau harus mati.... " Bisik suara itu tepat di telinga Fano.

"Kau harus mati..." Bisik suara itu tepat di telinga Fano.

​Suara parau yang sarat akan kebencian mendalam itu bergema langsung di dalam tempurung kepalanya, menghentikan seluruh detak jantungnya.

Sensasi dingin yang merayap di tengkuknya terasa makin menggigit, memutus sisa-sisa pasokan udara yang tersisa di paru-parunya.

​Penglihatan Fano kian mengabur. Kesadarannya mulai menggelap saat bintik-bintik hitam memenuhi pandangannya.

Di depan sana, sorot lampu mobil menyapu permukaan dinding beton pembatas jalan yang semakin mendekat dalam hitungan detik.

Fano tak lagi sanggup berteriak, tak lagi sanggup memegang kemudi.

​BRAAKK!

1
Siti Yatmi
jauh dilubuk hati nya julian mah ketar ketir ..wk2....tunggu aja nt tiba saat lu ngerasain...
thor semangat yah up nya
Riska Salahudin
sudah lama tidak jumpa thor
Siti Yatmi
tunggu giliran kamu julian...sabar yah..nunggu antrian....pasti kamu kebagian, dan kamu yg spesial hukuman nya....
Nurr Tika
lanjut
Siti Yatmi
thorrrr lanjuttt
Siti Yatmi
tumben ga up....bolak balik buka??
Siti Yatmi
jgn bunuh dulu sab...trus teror..biar ilang tuh kewarasan nya
Siti Yatmi
syukurin luh...biarin..siapa suruh jahat
Siti Yatmi
setannya pengen nonton tv kali ....kan dikuburan ga ada tv
Siti Yatmi
sama ortu nya mah pada takut..taoi kelakuan kaya setan...
Siti Yatmi
sebentar lagi lo game over ..bye2 juliannnnnn
Siti Yatmi
mampus lu adrian...
Siti Yatmi
jiahhhh..katanya berkuasa...ayo dong lawan tuh setan,,,laporin ke polisi tuh setan
Siti Yatmi
nah..kan..adrian..nikmatilah...rasakanlah....
Siti Yatmi
lu pada sinting
Siti Yatmi
jadi menitikan air mata....
Siti Yatmi
hidup itu 2 pilihan, bodoh atau pintar,,sayang sabrina pilih bodoh....akhir nya, udh pasti tdk berdaya...
Siti Yatmi
pasti..itu video yg sabrina diperkosa sm 2 preman ..hadehhh
Siti Yatmi
owlah...pantes temen2 nya di teror and dimatiin....wajar sih...mending dihukum setan ketibang polisi ..💪sabrina
Siti Yatmi
ya Allah sabbb...melas banget sm nasib mu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!