Indonesia
NovelToon NovelToon
Penyesalan Suami: Istriku Ternyata Seorang Konglomerat

Penyesalan Suami: Istriku Ternyata Seorang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.

Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 — Pertengkaran Hebat

Ada jeda panjang di antara mereka. Marissa berdiri mematung, tak sepenuhnya mengerti apa yang dikatakan pria itu. Sementara Rashid terlihat membuang muka, menarik napas panjang dan memijat pelipisnya pelan. 

"Kau sudah tahu bagaimana hubungan kita sejak awal," katanya akhirnya. "Jangan berpura-pura menjadi korban sekarang."

Marissa tertegun. "Korban?" ulangnya lirih. "Kau menyebutku berpura-pura menjadi korban?"

"Kau mendapatkan apa yang kau inginkan, bukan? Kau ingin bersamaku, dan sekarang kau mendapatkannya. Jadi, berhentilah bersikap seolah aku berhutang kebahagiaan kepadamu!"

Wajah Marissa memucat. "Aku tidak pernah meminta kau mengorbankan segalanya untukku. Aku hanya ingin kau memperlakukanku sebagai seseorang yang berarti dalam hidupmu."

"Dan aku sudah memberimu tempat di rumah ini! Aku bahkan sudah memenuhi semua keinginanmu itu! Lalu apalagi sekarang? Kau benar-benar wanita yang serakah, Marissa!” maki Rashid, ia tak tahan lagi dengan semua ini. 

"Aku? Wanita yang serakah?" Marissa menunjuk koper di sampingnya. "Kau pikir yang sudah kau beri kepadaku itu sudah  cukup? Kau pikir dengan memberiku rumah dan uang, kau bisa membuatku terus bertahan meskipun kau sendiri tidak pernah benar-benar hadir untukku?"

Rashid mengepalkan tangan, muak dengan sikap Marissa yang membuatnya seperti pihak yang salah. "Kau benar-benar tidak pernah puas!"

"Karena aku selalu merasa harus bersaing dengan bayangan Kinara!" seru Marissa. Air matanya kembali jatuh. "Aku sudah melakukan semuanya untuk membuatmu melihatku, tetapi kau bahkan tidak bisa berhenti membandingkan hidupmu sekarang dengan kehidupan yang kau miliki bersamanya!"

"Aku tidak pernah membandingkanmu dengannya!"

"Kau melakukannya setiap hari!" Suara Marissa menggema di ruang keluarga yang luas.

Ia mengusap air matanya dengan kasar, lalu kembali menarik kopernya. "Aku sudah lelah, Rashid. Aku tidak ingin lagi menghabiskan hidupku dengan seseorang yang bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan. Aku juga tidak ingin anakku tumbuh dalam rumah yang setiap hari dipenuhi pertengkaran seperti ini."

Mendengar kalimat terakhir itu, Rashid merasakan sesuatu mencengkeram dadanya. Untuk sesaat, ia teringat bahwa Marissa sedang mengandung anaknya. Kenyataan yang selama ini seharusnya menjadi alasan baginya untuk bersikap lebih tenang justru terasa seperti beban baru yang tidak sanggup ia pahami.

Namun, alih-alih menenangkan diri, pikirannya kembali dipenuhi bayangan Kinara yang berdiri anggun di samping keluarganya semalam. Perempuan yang pernah menghabiskan bertahun-tahun mendukungnya kini telah kembali ke kehidupan yang jauh lebih baik, sementara dirinya justru semakin kehilangan kendali atas segala sesuatu yang dimilikinya.

Ia tidak sanggup menerima kenyataan itu dan melihat Marissa bersiap meninggalkannya hanya membuatnya merasa bahwa sekali lagi, dirinya menjadi orang yang ditinggalkan.

"Kau tidak boleh pergi," katanya tegas, menghalangi langkah Marissa. “Kau tidak bisa pergi dari rumah ini begitu saja, Marissa.

Marissa mengangkat wajahnya. "Minggir, Rashid. Kenapa kau masih menghalangiku? AKu tidk sanggup! Aku mau pergi!” 

"Aku bilang, kau tidak boleh pergi!" Rashid tetap bersikeras. 

"Atas dasar apa kau melarangku?" Marissa menatapnya dengan tatapan muak dan lelah. 

"Karena kau mengandung anakku!" Tatapan rashid jatuh pada perut Marissa. 

Marissa tertawa pahit. "Anakmu, ya? Kau begitu menginginkan anak ini? Kau lihat saja, jika kau terus menghalangiku, kau tidak akan pernah bisa melihat anakmu lahir ke dunia ini!”

"Marissa! Jaga bicaramu! Jangan memancing emosiku!" Dada Rashid naik turun menahan marah. 

"Aku tidak peduli lagi dengan emosimu, Rashid!"

Perempuan itu menarik kopernya kembali dan berusaha melewati Rashid. Namun, pria itu kembali bergerak menghalangi jalannya.

"Singkirkan kopermu dan kembali ke kamar!"

“Aku tidak mau! Au tidak bisa memperlakukan aku seperti ini, Rashid!”

"Marissa!" bentak Rashid kencang, tangannya mencekal lengan Marissa kuat. 

"Aku tidak akan kembali ke kamar itu hanya untuk mendengarkanmu menyebut-nyebut nama Kinara lagi!" balas Marissa tak kalah keras seraya menepis kuat cekalan tangan pria itu. 

Nama itu kembali terlontar di antara mereka, menyulut kemarahan Rashid yang sejak tadi berusaha ia kendalikan.

"Berhenti menyebut namanya di hadapanku!" Gertaknya dengan gigi yang bergemeletuk. 

"Kenapa? Karena kau tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa dia sudah tidak menginginkanmu? Bukan begitu?" 

Rashid membeku sementara Marissa menatapnya dengan air mata yang terus mengalir.

"Kinara sudah pergi, Rashid. Dia tidak menginginkanmu lagi. Dia bahkan tidak menoleh kepadamu ketika melihatmu di pesta semalam. Kau tahu kenapa? Karena dia sudah tidak peduli!"

"Diam!"

"Dan sekarang kau masih berdiri di sini, mencoba menahanku, seolah aku harus ikut menanggung kehancuranmu!"

"Sudah kubilang diam!"

Rashid kehilangan kendali, ketika Marissa kembali berusaha melewatinya, ia meraih lengan perempuan itu untuk menghentikannya. Marissa berusaha melepaskan diri, membuat keduanya terlibat dorong-mendorong singkat di dekat kaki tangga.

"Jangan sentuh aku!" teriak Marissa.

"Lalu apa yang harus kulakukan? Membiarkanmu pergi begitu saja setelah semua yang terjadi?"

"Ya! Biarkan aku pergi!"

Dalam luapan amarah yang tak lagi mampu dikendalikannya, Rashid mendorong tubuh Marissa menjauh. Gerakannya terjadi begitu cepat hingga Marissa kehilangan keseimbangan. Kakinya tersandung ujung karpet sebelum tubuhnya jatuh ke lantai di sisi tangga.

Suara benturan itu membuat Rashid terdiam. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri mematung, seolah otaknya membutuhkan waktu untuk memahami apa yang baru saja terjadi.

Sedangkan Marissa mengerang kesakitan. Satu tangannya mencengkeram lantai, sementara tangan lainnya refleks memegangi bagian bawah perutnya. Wajahnya seketika pucat, dan napasnya berubah tidak teratur.

"Ma-Marissa? Kau … kau baik-baik saja, kan?" Rashid melangkah mendekat dengan gemetar. 

Perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya meringis sambil berusaha mengubah posisi tubuhnya, tetapi gerakan kecil itu justru membuatnya mengerang lebih keras.

"Argh! Sa-sakit ...."

Nada suaranya yang melemah membuat jantung Rashid berdegup kencang. "Ma-Marissa! K-kau kenapa? Jangan membuatku takut, Marissa. Bangunlah!" panggilnya dengan panik. 

Ia berlutut di samping perempuan itu, mencoba menopang bahunya. Namun, ketika Marissa bergerak sedikit, wajahnya langsung berkerut menahan sakit.

"Ja-jangan ... jangan sentuh aku."

Rashid terdiam, tetapi kemudian matanya menangkap sesuatu di lantai.

Noda merah mulai terlihat pada pakaian Marissa, merembes dari area pangkal pahanya dan perlahan meninggalkan bercak di lantai.

Wajah Rashid seketika kehilangan warna. "Marissa!"

Ia menatap perempuan itu dengan panik. Kedua tangannya gemetar ketika berusaha memastikan keadaan Marissa tanpa berani menggerakkannya terlalu banyak.

"Hei, lihat aku! Marissa, lihat aku!"

Marissa membuka mata dengan susah payah. Air mata mengalir di pipinya, sementara napasnya terdengar semakin berat. 

Melihat semua itu dengan matanya sendiri membuat Rashid merasa seolah seluruh suara di sekelilingnya mendadak menghilang.

"Jangan bicara dulu," katanya terburu-buru, berusaha mempertahankan ketenangan meskipun suaranya bergetar. "Aku akan membawamu ke rumah sakit. Kau dengar aku? Kita akan pergi ke rumah sakit sekarang."

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
semoga mereka selamat 😣
Dini Anggraini
ini pasti do'a Kirana dan air mata Kirana yang telah jatuh terlalu banyak mangkanya rumah tangga pelakor dan rasyid gak berkah ada saja cobaannya kak. 🥰
Dini Anggraini: kinara kak salah ketik saya 🙏
total 1 replies
Lee Mba Young
laki tukang selingkuh itu kl bikin Salah dng jalang nya selalu minta maaf.
tp kl bikin Salah dng istri sah gk pernh minta maaf.

gedek banget semoga karma nya makin menyakit kan buat Rasyid Dan Marisa
Lee Mba Young
gk seru jalang gk keguguran. hrse keguguran trus gk bisa hamil lagi 🔥 biar nnti Rasyid selingkuh 🤣.

cm gitu tok gk seru banget.
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Cerita yg sangat menyentuh 👍🏻👍🏻👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kau tidak bisa
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
tidak akan bisa 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasakan 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
🥺🥺🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
itu kesalahanmu sendiri 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
baru sadar ya 🤣🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mengacak rambutnya
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sembarangan, bertemu ortu lah 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasain 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kinara
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Lihat sendiri kan kelakuannya 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kau hanya akan mendapat malu 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!