Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Unggahan Postingan
Sinar matahari pagi yang hangat menyeruak menembus celah-celah kaca depan biro. Rhea berdiri di depan pintu utama, jemarinya yang agak gemetaran merogoh kunci dari dalam tasnya.
Matanya tampak sembab, dikelilingi lingkaran hitam tipis. Rasa lelah yang menyelimuti seluruh tubuhnya, seolah-olah energinya terkuras habis sepanjang malam.
"Hoammm...,"
Rhea menguap lebar seraya mengusap sudut matanya yang berair. Begitu pintu berhasil dibuka, alih-alih melangkah menuju meja kerjanya di ruang dalam.
Rhea justru menyeret kakinya yang berat menuju sofa empuk di ruang tamu biro. Ia menjatuhkan tubuhnya disana, memejamkan matanya rapat-rapat, dan menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa.
Belum sampai lima belas menit Rhea memejamkan mata, denting bel di atas pintu mendadak berdenting nyaring.
Zora melangkah masuk dengan gaya seperti biasa segelas kopi dingin di tangan kanan dan tas bahu di tangan kiri. Namun, langkah Zora terhenti seketika saat matanya menangkap Rhea yang tergeletak lemas di atas sofa ruang tamu.
Zora menyeringai, lalu perlahan mendekat dan...
"DORR! Woi, Rhe! begadang lagi lu ya?" seru Zora mengagetkan seraya menepuk bahu Rhea cukup keras.
Rhea terlonjak kaget, matanya terbelalak dengan napas memburu.
"Aduh, Zora. Kaget tahu," keluh Rhea seraya memegangi dadanya.
"Lagian lu, pagi-pagi udah nempel aja di sofa kaya gelandangan. Lu mikirin kasusnya Bu Mira?" Zora tertawa geli sambil bertanya, seraya mendaratkan bokongnya di sofa samping Rhea.
"Enggak Zor. Gue sama sekali nggak begadang. Justru itu masalahnya," Rhea menggelengkan kepalanya pelan.
"Maksudnya gimana?" Zora berkedip heran, menghentikan seruputan kopinya.
"Tadi malam, aku rasanya baru memejamkan mata sebentar. Baru merasa tidur beberapa jam, tapi tahu-tahu saat bangun matahari udah terang aja," ujar Rhea pelan.
"Ya itu emang karena lu tidurnya nyenyak aja jadi gak kerasa," sahut Zora.
"Nggak, sepanjang waktu tidur gue mimpi," nada suara Rhea berubah serius.
Zora mendekatkan posisinya. "Mimpi apa?"
Rhea menelan ludahnya yang terasa kesat, memandangi jemarinya yang saling bertaut di atas paha.
"Gue mimpi berasa si perempatan jalan yang sepi. Ada seorang nenek tua yang terus jalan, lalu tiba-tiba ada mobil yang menabrak nenek itu sampai darahnya menciprat ke muka gue. Habis itu, nenek itu menghilang, tapi ada bisikan yang kayak marah gitu terus bergema di kepala. Dia terus mengulang kata, 'tolong sampaikan surat ini kepada anakku,"
Zora membelalak kaget, buku kuduk di lengannya mendadak berdiri.
"Apa... apa mungkin sosok nenek di dalam mimpi lu itu Bu Mira, Rhe?" tebak Zora.
"Mungkin. Tapi sosok yang hadir di mimpi gue itu benar-benar menyeramkan, Zor. Bahkan saat gue kaget bangun di kamar, sosok itu berdiri tempat di samping kasur gue, sambil membisikkan kata-kata yang sama tepat di wajah gue sebelum akhirnya menghilang," Rhea menatap Zora dengan cemas.
Zora menatap Rhea dari atas ke bawah dengan raut wajah yang berubah penuh keheranan sekaligus ketakutan.
"Rhe..." bisik Zora pelan, matanya menyipit penuh selidik. "Sebenarnya gue mau nanya sesuatu sama lo? Lu sebenarnya indigo yah? Lu bisa ngeliat mereka?"
"Entahlah, Zor. Gue sendiri nggak tahu apa yang terjadi pada diri gue. Semenjak kecelakaan itu dan bangun di rumah sakit, gue sering banget merasakan dan melihat hal-hal aneh yang nggak bisa dijelaskan dengan logika," Rhea menghela napas panjang.
Zora menutupi mulutnya dengan sebelah tangan, matanya kian melebar.
"Jadi... lu beneran bisa ngelihat mereka? Demi apa, Rhe. Pantesan selama ini lu sering tiba-tiba melamun atau ngomongin firasat aneh pas kita lagi nanganin kasus," kata Zora.
"Gue gak bermaksud menyembunyikannya, Zor. Gue cuma bingung gimana cara menjelaskannya ke lu atau Rayven tanpa bikin kalian menganggap gue aneh," Rhea tersenyum tipis.
"Gila, sahabat gue ternyata punya indra keenam," gumam Zora masih terpukau.
Namun, wajah terkejut Zora mendadak surut, berganti menjadi sebuah ide yang melintas cepat di dalam benaknya.
"Rhe, gue punya ide," kata Zora pelan.
Rhea mendongak menatap sahabatnya dengan kening berkerut. "Ide apa?"
"Kita minta bantuan," Zora tersenyum tipis.
"Minta bantuan sama siapa? Rayven aja bilang polisi belum bisa melacak taksi itu dari cctv," sahut Rhea.
"Kita nggak minta bantuan dari polisi, Rhe. Kita minta bantuan dari netizen," Zora tersenyum makin lebar dan jemarinya mengetuk-ngetuk meja.
"Netizen?" tanya Rhea bingung.
"Iya. Akun media sosial dan channel youtube biro kita lagi naik daun banget gara-gara kasus Bima kemarin," seru Zora antusias.
"Gimana kalau kita unggah foto itu dan cerita singkat soal pencarian ini ke media sosial? Siapa tahu ada yang mengenali mereka atau bahkan Amara sendiri yang mengenali foto itu," lanjut Zora menerangkannya.
"Tapi, Zor apa itu aman? Bagaimana kalau ada orang yang berniat jahat ngaku-ngaku jadi Amara?" Rhea sempat ragu sejenak.
"Tenang aja, kita kan pengacara," potong Zora cepat.
"Yaudah, kita coba aja dulu, Zor," Rhea akhirnya mengangguk setuju.
Dengan jemari yang menari lincah di atas papan ketik, Zora menyusun kalimat unggahan di akun resmi milik biro hukum mereka. Ia memindai foto tua berwarna kusam milik Bu Mira, foto yang memperlihatkan seorang ibu muda sedang memeluk anak perempuan berumur sepuluh tahun lalu mencantumkannya di kolom utama unggahan.
"Mencari Jejak yang Hilang: Sebuah pesan dan amanah terakhir dari seorang ibu untuk putrinya bernama Amara. Bagi siapapun yang mengenali foto masa kecil ini atau memiliki informasi mengenai Amara, mohon hubungi Biro Bantuan Hukum kami..."
Zora menekan tombol publish. Unggahan itu resmi meluncur di dunia maya.
Hari berganti sore. Unggahan dan video di youtube tersebut mendadak dibanjiri oleh ribuan views, like dan ratusan komentar dari netizen yang terbaru sekaligus penasaran dengan kisah pencarian tersebut. Banyak netizen yang membantu melakukan share dan menandai akun-akun besar lainnya.
Rhea dan Zora duduk berdampingan di hadapan layar monitor komputernya, bergantian membaca barusan komentar yang terus mengalir deras.
Rhea menghela napas pelan, matanya menatap layar monitor. "Semoga aja ada satu kabar di antara sekian banyak komentar ini."
Detik berikutnya jemari Zora membeku di atas mouse. Matanya membelalak lebar, membaca sebuah komentar baru.
"Rhe, coba lu baca ini," bisik Zora.
Rhea membungkuk mendekatkan wajahnya ke layar. Di sana, sebuah akun dengan nama pengguna abstrak baru saja menuliskan barisan kalimat yang sangat singkat.
@user-883932
"Saya kenal nenek di foto itu. Nenek itu Bu Mira. Saya tahu di mana Bu Mira."
Rhea dan Zora seketika membelalak kaget, saling berpandangan di tengah keheningan biro yang mendadak terasa amat mencekam.