Indonesia
NovelToon NovelToon
Karang Hitam 2 ( Senja Temaram )

Karang Hitam 2 ( Senja Temaram )

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan Tentara
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bojone_Batman

Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.

Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Ujian ( 1 )

Toilet itu tertutup hanya sebatas setengah jari, asalkan cukup memberi celah bagi Bang Dante untuk mendengar setiap gerak-gerik Bian di dalam sana, tanpa sedikitpun melirik nya.

Jantung Bian di dalam ruang toilet berpacu kencang, pipinya merah padam bukan hanya karena malu, tapi karena panggilan yang baru saja terucap pelan dari bibirnya. 'Bang', ia baru saja memanggil pria tersebut dengan sapaan yang terasa asing di telinganya.

Di luar, Bang Dante berdiri tegak, punggungnya menghadap pintu, tangan memegang gagang pintu untuk berjaga. Hatinya berdebar tak kalah hebat. Panggilan itu begitu sederhana, begitu polos, tapi terdengar begitu adem di telinganya. Ia menggeleng pelan, berusaha menepis rasa hangat yang merambat ke wajahnya hingga tak kalah memerah padahal ia sendiri yang memulai.

'Jangan aneh-aneh. Dia hanya tak punya pilihan lain. Lagipula kau yang mengajarinya.'

"Sudah selesai?" tanyanya, suaranya berusaha terdengar tegas, padahal nada itu sedikit melunak, ia tidak ingin terlihat gelisah dI depan gadis itu.

"Belum... tunggu sebentar, Bang." jawab Bian pelan, terdengar canggung tapi ia berusaha menyembunyikan segalanya.

Beberapa menit berlalu. Bian memanggilnya pelan. "Bang, sudah."

Bang Dante sedikit membuka pintu, tak berani sembarang melirik. Ia mengulurkan tangan, membiarkan Bian mencengkeram lengan bajunya. Dengan hati-hati, ia mengangkat tubuh gadis itu.

Langkah Bang Dante pelan kembali ke ranjang. Bian melingkarkan kedua lengan di belakang tengkuk Bang Dante namun gadis itu buru-buru menunduk, sementara Dante pura-pura hanya fokus pada langkah kakinya, padahal jantungnya nyaris meledak.

"Terima kasih, Bang..." bisik Bian saat sudah kembali berbaBang di ranjangnya.

Bang Dante berdehem, menghilangkan perasaan canggungnya. Ia lalu merapikan selimut Bian tanpa menatap mata gadis itu. "Sama-sama. Istirahatlah, jangan banyak bergerak." Lalu ia berbalik, duduk kembali di sofabed, membuka buku informasi kesehatan yang sebenarnya sama sekali tidak ia baca. Matanya menatap halaman demi halaman, tapi isinya tak satu pun masuk di kepala. Yang ia ingat hanyalah satu kata yang membuatnya tersenyum sendiri tanpa sadar.. 'Bang'.

***

Bang Dante membuka pintu kamar rawat Bian. Saat itu, ia melihat Bang Sabrang sedang menyuapi Bian. Seketika keningnya berkerut, dadanya terasa panas terbakar tanpa alasan.

"Darimana kau, bro?? Kasihan nih Bian sudah lapar?" Tegur Bang Sabrang.

"Ada kau juga, kan?? Sudah kenyang juga tuh si Bian." Jawab Bang Dante seakan malas berurusan dengan sahabatnya.

"Idiih, ngambek. Mens lu???" Ejek Bang Dante.

Bang Sabrang menyimpan senyummya, ternyata benar apa kata Ibu Riegan, sepertinya letting sekaligus sahabatnya itu sedang memendam rasa pada seorang wanita. Dan, cara terbaik untuk mengetahuinya adalah mendekati wanita yang mungkin sedang menjadi target khusus Letnan Dante.

"Om Sab.. Ceritakan lagi donk, soal pengalaman om naik gunung. Aku suka sekali dengarnya."

"Okeee.. Om lanjut lagi........"

"Saya bawakan dimsum dan bubur kepiting. Kamu mau atau tidak?? Kenapa langsung makan nasi pecel." Bang Dante menyela di tengah percakapan mereka.

"Nanti." Jawab Bian. "Lanjut lagi, Om..!!" Imbuhnya lebih antusias pada Bang Sabrang.

"Siaap, dek ku.. Jadi.. Disaat naik gunung, hal yang perlu kita perhatikan baik-baik adalah............"

...

Entah sudah berapa lama kedua orang itu bicara. Saat Bang Dante terbangun dari tidurnya, mereka masih bercerita, masih tertawa seakan dirinya tidak ada.

"Astaghfirullah.. Apa saja sih yang kalian bicarakan??????" Tegur Bang Dante geram. "Eeh Sabrang, kau pulang sekarang..!!! Bian butuh istirahat." Usir Bang Dante.

"Jangan begitu, Bian senang ada saya disini." Kata Bang Sabrang.

Entah kenapa ubun-ubun Bang Dante serasa terbakar. Melihat tampang seorang Sabrang rasanya membuatnya ingin menelannya bulat-bulat.

"Saya tidak akan mengulang ucapan saya sampai dua kali..!!"

Mendengar ucapan sahabatnya itu, Bang Sabrang paham dan tidak lagi ingin berdebat. Sebenarnya ada rasa geli dalam hatinya, tapi kali ini bukan waktu yang tepat untuk melawan seorang Dante.

"Saya pulang dulu ya, Bian. Nanti saya pasti cerita lagi soal serunya pendakian."

"Yaa.. Kalau Om pulang jadi sepi, lho. Cerita Om Sabrang, seru banget. Aku sampai lupa rasa sakitku." Jawab Bian.

Mendengar itu, Bang Sabrang memilih pamit. Di luar dugaan, Bian langsung merebahkan diri dan memalingkan wajahnya.

"Benar juga sih, sekalian saya sholat dhuhur dan kembali ke Batalyon. Cepat sembuh kau ya, Bian. Cepat kau tanam pohon lagi, hutan atas belum kau tanami pohon cabe." Kata Bang Sabrang setengah meledek.

"Aahh.. Om Sabrang bisa aja. Bian mau tanam pohon tomat." Bian tersenyum tapi hanya pada Bang Sabrang karena ia sedang jengkel pada pria yang satu lagi karena sudah 'mengusir' pria yang sejak pagi menghiburnya dan menemani kesepiannya di tanah asing.

"Sekalian pohon terong, buat sambal kau disana." Sambar Bang Dante.

"Naaahh.. Betul tuh, Bian. Tanam pohon terong." Sengaja Bang Sabrang semakin memanasi situasi disana.

"Terongmu ku tanam..!! Jangan sembarang ngomong aneh-aneh di depan gadis. Keluar kau, Sabrang..!!!!!!!" Omel Bang Dante.

...

"Bagaimana?? Menurutmu Dante suka sama Bian atau tidak??" Tanya Mama Phia.

Pak Riegan diam tapi ikut memasang telinganya, sungguh sebenarnya beliau tidak bisa menebak rencana apa dalam akal istrinya.

"Siap, benar kata Ibu.. Dante itu gengsinya sundul langit. Dia suka tapi susah untuk bilang. Saya rasa Dante terhalang ketakutan masa lalunya." Jawab Bang Sabrang.

"Ayah seperti pernah dengar, Ma. Kalau Cherry dan Sea belum menikah, Dante tidak akan menikah dulu. Dia ingin melihat adik-adiknya bahagia." Sambar Pak Riegan.

"Kok gitu, Yah. Kalau begitu cara pikirnya. Anak lettingnya sudah kerja, dia masih gandeng balita untuk posyandu."

Pak Riegan mengendikan bahunya, seolah tak ada kata lagi dari kebingungannya sebagai orang tua saat ini.

"Nggak bisa, nggak bisa." Mama Phia mondar-mandir di dalam ruang kerja suaminya. Elang sudah buat kita jantungan karena tiba-tiba mau kasih kita cucu. Mama nggak mau Dante juga mendadak kasih kita cucu. Mereka itu sekarang seperti stop kontak dan colokan yang korslet."

"Itu juga kamu yang buat kan, Ma." Kata Pak Riegan.

"Ini hal terakhir yang Mama tanyakan sebelum Mama ambil keputusan selanjutnya. Menurut Ayah, seberapa kuat iman nya Dante." Tanya Mama Phia memastikan.

"Kuat-kuat aja, Ma. Sewajarnya laki-laki. Tapi Ayah pesan betul, kau juga jangan buat hal yang melewati batas. Laki-laki tetap punya titik lemahnya menghadapi perempuan. Ingat itu, Ma..!! Karena saat kau buat rencana, hanya bagian luarnya saja yang kau pantau, selebihnya adalah urusan pribadi mereka berdua, sebagai orang tua.. Kita tidak berhak ikut campur. Mereka anak kita, tapi ada urusan lain yang kita di larang keras untuk masuk." Pesan Pak Riegan mengingatkan.

"Iyaaa.. Duuh, Ayah.. Mama juga tauuu."

Bang Sabrang diam, menunduk paham tinggal menunggu arahan.

"Oke, Sabrang.. Kita landai dulu saja. Kasihan mereka kalau harus di uji terus." Ujar Pak Riegan memutuskan.

.

.

.

.

1
Tanti
sabar dan tenangkan hatimu Bian... smua pasti akan berlalu... yakinlah klo Bang Dante mampu mengatasinya....

lanjut mba Nara
Tanti
siippp Bang Dante, lindungi marwah istrimu👍👍
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
Maysuri
siiippp lah mbak nara,....👍🏻👍🏻👍🏻
Tanti
Aman mba Nara....ditunggu cerita lanjutnya mba👍👍🥰
Tanti
baca sambil ngebayangin adegannyaaa..bikin merinding ngeriii...

lanjut mba nara👍
Tanti: asssiyaappp mba Nara🤭
total 4 replies
Maysuri
kau bangunkan macan yg lg tidur y vivian...awas kau....🤣🤣🤣🤣
Bojone_Batman: tinggal tunggu saja hasil dari karyanya.
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
cari masalah aja vivian
Bojone_Batman: Tapi watak manusia emang ada yang gitu sih.
total 1 replies
Tanti
sedih bacanya🥺😭😭
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹

huaaa...ga rela klo pada pisah😭
Tanti
tabir masa lalu akhirnya terbuka, smuanya sdh jelas...tinggal masing² menata hati dan pikiran
lanjut mba Nara🥰
dyah EkaPratiwi
bener2 ya vivian 😭
dyah EkaPratiwi
bener2 ya vivian
Maysuri
ohhhh gitu toh kejadiannya....semangat mbak nara 💪💪
Tanti
aduh... ini tau- tau datang lg ibu² bikin rusuh rmh org...bikin gedegg ae....
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki

lanjut mba nara
Ayu FazRina Satiasari
pasti ulah vivian ini sang provokator
dyah EkaPratiwi
ada aja cobaannya
dyah EkaPratiwi
😄 Alhamdulillah sudah bisa mengungkapkan
Maysuri
patmu ini ibu kandungnya bang sante kah....
Tanti
Bang...mbok yoo diajak kluar dr toilet dl...mosok ngomong kyk gitu didlm toilet🤭
Tanti: Bang Dante emang lain drpd yg lain😂
total 2 replies
dyah EkaPratiwi
semangat bian
Bojone_Batman: Semangaaat
total 1 replies
Maysuri
y sallam.....ya enggak kuatlah kalau dekatam istri y bang,pasti lah curi " kesempatan😁😁semangat 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!