Indonesia
NovelToon NovelToon
PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.

Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".

Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah

"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Aroma Gorengan Tatapan Bapak, dan Lembaran Baru di Rumah Panggung

Sinar matahari sore perlahan meredup, menyisakan bias warna jingga keemasan yang memantul di atas genting-genting rumah warga desa Sidoarjo. Angin sore berhembus sejuk, membawa aroma masakan rumahan yang bercampur dengan bau khas tanah basah setelah tersiram hujan gerimis sesaat tadi siang. Di dalam dapur rumah panggung keluarga Dika Pratama, kesibukan hangat kembali terasa begitu hidup dan menyenangkan.

Vanesha — yang kini sudah benar-benar menanggalkan seluruh atribut kemewahannya sebagai mantan CEO Vanesha Group — tampak berdiri di samping Emak Sarni Sari. Mengenakan apron kain kusam milik sang Emak dan celana training hitam, wanita berambut sebahu itu sedang telaten membantu mengiris bumbu bawang putih dan cabai merah di atas talenan kayu. Sesekali, ia menyeka pelipisnya dengan punggung tangan, meninggalkan sedikit noda tepung tipis di pipinya yang putih bersih.

"Gimana, Nduk? Kakinya masih pegal nggak habis duduk lama di pinggir kali tadi siang?" tanya Emak Sarni Sari penuh perhatian, sambil membalik tahu isi yang digorengnya di atas wajan tanah liat.

Vanesha menghentikan kegiatannya sejenak, lalu tersenyum tulus kepada wanita paruh baya yang telah memperlakukannya seperti anak kandung sendiri. "Udah nggak apa-apa kok, Mak. Malah seru banget tadi. Baru seumur hidup aku tahu rasanya mancing pakai joran bambu sambil diliatin ratusan penonton siaran langsung YouTube," jawab Vanesha, diiringi tawa kecil yang renyah.

Emak Sarni Sari ikut tersenyum lebar, merasa senang melihat perubahan drastis pada diri Vanesha. Dahulu, saat pertama kali mengenal nama Vanesha dari cerita Dika, yang terbayang di benak Emak adalah sosok bos galak yang kejam dan arogan. Namun kenyataan hari ini membuktikan bahwa di balik ketegasan sikapnya, Vanesha adalah wanita berhati tulus yang sanggup merendahkan harga dirinya demi memperjuangkan cinta dan kehidupannya bersama sang anak bujang.

Tidak lama kemudian, tirai pintu dapur tersingkap. Dika melangkah masuk sambil membawa ember plastik berisi ikan nila hasil tangkapan mereka di sungai tadi sore. Di belakangnya, Dinda Ayu Lestari mengekor sambil membawa tripod dan ponsel pintar yang baterainya hampir habis.

"Mak, ini ikannya mau langsung dibikin mangut atau digoreng kering buat makan malam?" tanya Dika sambil meletakkan ember di dekat gentong air.

"Dibikin mangut pedas aja, Mas! Biar mantap jiwa!" sahut Dinda langsung nyosor tanpa dosa, lalu mengambil sepotong mentimun mentah dari piring cuci dan langsung menggigitnya.

"Ih, kebiasaan banget suka comot bahan masakan sebelum matang!" protes Vanesha dengan nada pura-pura galak, menatap Dinda dengan sebelah alis terangkat — mempertunjukkan sedikit sisa-sisa gaya kepemimpinannya di kantor dulu.

Dinda nyengir lebar tanpa merasa bersalah sama sekali. "Hehe, biar diuji dulu, Mbak Vanesha! Siapa tahu masakannya kurang garam atau kurang cinta," goda Dinda, membuat Vanesha spontan melemparkan gulungan tisu dapur ke arah adiknya itu, sementara Dika tertawa terbahak-bahak melihat tingkah keduanya.

Suasana dapur mendadak riuh oleh gelak tawa. Di ruang tengah, Bapak Joko Pratama yang sedang duduk bersila di atas amben bambu sambil menikmati secangkir kopi hitam dan lintingan kretek Gajah Barunya ikut tersenyum tipis mendengar keributan di dalam. Lelaki paruh baya itu menghembuskan asap rokoknya perlahan, meresapi kedamaian yang sudah lama tidak dirasakan keluarganya. Bagi Bapak, kehadiran Vanesha di rumah sederhana itu bukan lagi sebuah ancaman atau beban sosial, melainkan bagian dari takdir yang membawa warna baru dalam silsilah keluarga Pratama.

Menjelang waktu magrib tiba, seluruh masakan selesai dihidangkan di atas meja kayu panjang. Tidak ada menu mewah berbahan daging impor atau makanan restoran bintang lima seperti yang biasa disantap Vanesha di Surabaya. Yang ada hanyalah sepiring besar nasi putih hangat, mangut ikan nila kuah kuning beraroma kemangi yang harum menggugah selera, serta tahu isi buatan Emak yang renyah di luar dan lembut di dalam.

Mereka berempat duduk melingkar bersila di atas tikar pandan. Sebelum mulai makan, Bapak Joko Pratama mengangkat tangan kanannya, memimpin doa malam dengan khusyuk. Suasana mendadak hening dan penuh khidmat.

Selesai berdoa, Bapak Joko Pratama membuka matanya, lalu menatap lurus ke arah Vanesha yang duduk di samping Dika.

"Vanesha," panggil Bapak dengan suara baritonnya yang tenang.

Vanesha yang hendak menyendok nasi seketika menghentikan gerakannya. Ia menegakkan punggungnya, menatap sang calon mertua dengan tatapan penuh rasa hormat. "Iya, Pak?"

"Makanlah yang banyak," ucap Bapak Joko Pratama singkat namun penuh makna, sambil mendorong piring berisi lauk ikan nila ke hadapan Vanesha. "Mulai hari ini, rumah ini rumahmu juga. Jangan pernah merasa asing atau sungkan lagi. Kalau ada yang bikin kamu menangis atau tersinggung di kampung ini, bilang sama Bapak... biar Bapak hadapin pakai arit pusaka Mbah buyut."

Mendengar kalimat itu, mata Vanesha langsung terasa panas. Tenggorokannya mendadak tercekat. Selama puluhan tahun hidup di bawah didikan orang tua kandungnya yang kaya raya namun dingin, ia tidak pernah mendapatkan pengakuan dan perlindungan sehangat itu. Air matanya menetes pelan membasahi pipinya, namun senyuman paling tulus terkembang di bibirnya.

"Terima kasih, Pak... Terima kasih banyak, Mak," jawab Vanesha lirih dengan suara bergetar menahan haru.

Dika yang duduk di sebelah Vanesha terdiam menatap wanita itu. Tanpa berkata apa-apa, Dika mengulurkan tangan kanannya, meremas pelan jemari Vanesha di balik meja — sebuah gestur sederhana yang memberikan kekuatan dan keyakinan bahwa mereka akan melewati badai apa pun bersama-sama.

"Udah, jangan pada sedih malam-malam gini! Nanti ikannya keburu dingin dan keburu dihabisin sama Dinda lho!" seru Dinda mencairkan suasana dengan nada cerianya, membuat semua orang di ruangan itu kembali tertawa lepas.

Malam itu, di bawah temaram lampu bolam yang menggantung di langit-langit rumah panggung Sidoarjo, lembaran baru kehidupan Vanesha resmi dimulai. Tanpa fasilitas mewah, tanpa kartu kredit berlimpah, dan tanpa bayang-bayang status sosial keluarga konglomerat. Yang ada hanyalah kesederhanaan, kehangatan keluarga, dan cinta sejati yang tumbuh subur di antara aroma gorengan serta aliran sungai desa yang tenang.

Dan di luar sana, bintang-bintang bertebaran di langit malam Sidoarjo, menjadi saksi bisu atas babak baru perjuangan seorang prajurit sengklek dan sang mantan CEO galak yang kini siap menaklukkan dunia dengan cara mereka sendiri.

1
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!