Indonesia
NovelToon NovelToon
Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO

Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'

Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.

Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!

Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!

Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!

Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Dobrakan Pintu dan Suara Misterius di Telepon

Gue harus sadar diri, batin Sella perih.

Ada rasa panas yang menjalar di matanya. Meskipun secara hukum status gue adalah istrinya, di mata dia gue cuma mahasiswi pengganggu yang merusak tatanan hidupnya. Percuma kalau gue masuk dan bikin keributan. Gue bahkan nggak yakin soal malam itu... apa gue beneran sudah 'habis' atau darah di seprai itu cuma darah haid yang telat .

Sella berdiri mematung di sana, terjebak di antara rasa cemburu yang tidak berhak ia miliki dan kenyataan bahwa suaminya baru saja mengaku masih memiliki perasaan pada wanita lain.

Apa yang lo harapin sih, Sella? Sadar diri! batin Sella, merutuki dadanya yang mendadak terasa sesak dan panas.

Bagus, kan, kalau dia masih suka sama wanita lain? Itu artinya sebentar lagi dia bakal ceraikan gue. Kuliah gue bakal aman, damai, tenang, sentosa tanpa bayang-bayang Om Kaku itu! Gue bisa raih mimpi jadi desainer ternama... bukannya itu niat awal gue ke Paris?

Sella menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa perih yang entah dari mana asalnya. Alih-alih masuk dengan diam-diam, egonya yang terluka justru menuntut perhatian.

BRAKKK!

Dengan sengaja, Sella membanting seluruh tumpukan paper bag belanjaannya ke lantai marmer hingga suaranya menggema ke seluruh penjuru penthouse. Kotak sepatu terpental, dan tas belanjaan berhamburan tak beraturan.

"Sella?!"

Suara Adit terdengar panik dari balik pintu ruang kerja. Tanpa menunggu pintu itu terbuka, Sella langsung berbalik arah. Ia berlari sekencang mungkin menuju pintu keluar, mengabaikan teriakan Adit yang memanggil namanya. Air mata yang sejak tadi ditahan mulai merembes di sudut matanya, memasahi pipi yang memerah karena angin dingin dan emosi.

Sella tidak butuh drakula kaku itu. Ia masih punya kunci apartemen pribadi yang sudah dibelikan orang tuanya jauh-jauh hari sebagai hadiah kuliah—tempat yang seharusnya menjadi pelariannya sejak awal. Sambil terus berlari menuju lift, Sella menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan.

Gue mau lihat... apa lo bakal nyariin gue sebagai suami? Atau pernikahan ini emang cuma formalitas basi demi martabat perusahaan di depan Papa?!

Ia masuk ke dalam lift yang kebetulan terbuka, menekan tombol lobi dengan gerakan brutal. Begitu pintu lift tertutup, Sella bersandar pada dinding kaca, napasnya memburu.

Di atas sana, di dalam penthouse mewah itu, Adit mungkin sedang kebingungan—atau mungkin, dia justru merasa lega karena pengganggunya sudah pergi dan dia bisa lanjut bernostalgia dengan Jasmine Clarissa.

"Dasar drakula nggak punya hati!" maki Sella pelan, sementara lift membawanya turun meninggalkan kemewahan yang terasa mencekik itu.

****

"Adit, kamu mau ke mana?"

Jasmine bergerak cepat, menahan lengan Adit dengan cengkeraman yang cukup kuat untuk menunjukkan keberatannya.

Adit tidak langsung menyentak, namun ia melepaskan tangan Jasmine perlahan, sebuah gestur penolakan halus yang terasa sangat dingin.

"Maaf, Jasmine. Aku ada urusan mendesak," ucap Adit singkat. Matanya sudah tertuju ke arah pintu keluar, mengabaikan kehadiran Jasmine yang berdiri mematung.

Jasmine bersedekap, dagunya terangkat sedikit angkuh, menatap Adit dengan tatapan menyelidik yang tajam.

"Siapa Sella? Tadi aku sempat dengar kamu memanggil nama itu. Apa suara bantingan barang barusan berasal dari dia? Dan sekarang... kamu mau mengejarnya?"

Langkah Adit terhenti tepat di depan pintu. Bahunya menegang.

"Sekarang ini aku tahu alasan kamu menolakku, Adit. Pasti semua karena mahasiswi baru itu, kan?" sambung Jasmine, suaranya mengandung nada kecemburuan yang tak lagi ia sembunyikan.

Adit menoleh perlahan, wajahnya kembali menjadi topeng CEO yang kaku dan datar. "Dia bukan siapa-siapa. Kamu tidak perlu mencampuri urusan pribadiku, Jasmine."

Jasmine terkekeh sinis, menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya yang lentur. "Oh, begitu? 'Bukan siapa-siapa' tapi membuat seorang Raditama Abraham lari tunggang-langgang seperti kebakaran jenggot?"

Wanita itu melangkah mendekat, menatap Adit tepat di mata. "Sepertinya kamu punya hubungan yang sangat... khusus dengan gadis berusia sembilan belas tahun bernama Sella itu. Apa Oma dan Opa sudah tahu soal ini, Adit? Bagaimana reaksi mereka kalau tahu cucu kebanggaannya punya simpanan di Paris?"

Rahang Adit mengeras. Sorot matanya berubah gelap. "Apa maksudmu sebenarnya?"

Jasmine hanya mengangkat bahu dengan gaya elegan yang menyebalkan. Ia meraih tas mewahnya di atas meja seolah tidak ada ketegangan apa pun.

"Ah, lupakan saja. Sebaiknya lanjutkan saja urusan mendesakmu itu. Aku juga masih sibuk, ada urusan lain yang jauh lebih penting. Bye, Adit."

Jasmine melenggang pergi meninggalkan apartemen dengan senyum misterius, sementara Adit terpaku sejenak. Pikirannya terbelah antara ancaman terselubung Jasmine dan bayangan Sella yang mungkin sekarang sedang menangis di jalanan Paris. Tanpa membuang waktu lagi, Adit menyambar kunci mobil Tesla-nya dan berlari keluar.

"Sialan! Sella, jangan sampai lo kenapa-napa!"

****

Sella membanting pintu apartemen pribadinya, lalu merosot bersandar di balik daun pintu yang dingin. Ruangan itu masih berbau furnitur baru—mewah, tapi terasa sunyi mencekam.

"Cengeng banget sih lo, Sella! Harusnya lo seneng bisa lepas dari drakula itu!" maki Sella pada dirinya sendiri.

Tangannya menghapus kasar air mata yang keras kepala jatuh ke pipi. Efek mood yang berantakan karena hormon bulanan ditambah pengakuan Adit pada Jasmine membuat dadanya sesak luar biasa. Ia butuh pegangan, sesuatu yang nyata dari dunianya yang dulu.

Dengan langkah gontai ia duduk di sofa ruang tengah. Dengan jemari gemetar, ia menekan ikon video call pada kontak bernama "Erlangga ❤️".

Hanya butuh tiga nada sambung sampai wajah tampan Erlangga muncul di layar. Wajah dengan garis rahang tegas dan tatapan lembut ala idola Korea itu seketika membuat pertahanan Sella runtuh.

"Sella? Hei, Sayang, kamu kenapa?!"

Erlangga tampak terlonjak di seberang sana. Ia memajukan wajahnya ke arah kamera, raut kekhawatiran terpahat jelas.

"Kok mukanya sembab gitu? Kamu nangis?"

"L-Lang... hiks... gue... gue kangen banget sama lo," isak Sella.

Ia menutupi mulutnya dengan sebelah tangan, berusaha meredam tangisnya agar tidak terdengar terlalu histeris.

"Kangen Papa, kangen Mama juga... Gue rasanya pengen pulang ke Jakarta sekarang."

"Cup, cup... jangan nangis gitu dong. Paris emang jauh, tapi kan kita bisa call tiap hari. Kamu di sana buat kuliah, kan? Fokus sama mimpi kamu jadi desainer, Sella," ucap Erlangga dengan suara rendah yang menenangkan.

Sella menatap layar ponselnya dengan intens. Baginya, meski Adit memiliki visual tajam yang mengintimidasi, Erlangga tetap juara satu karena kehangatannya. Adit itu cuma robot perusahaan yang kaku kayak kanebo kering.

"Lang, lo jangan pernah berubah ya? Tetap sayang sama gue," gumam Sella sambil memeluk lututnya erat.

"Pasti, Sella. Aku bakal selalu nunggu kamu pulang. Ada masalah di sana? Apa apartemen barunya nggak nyaman?" tanya Erlangga polos, sama sekali tidak tahu bahwa gadisnya sudah menyandang status istri orang.

Sella terdiam sejenak. Ia ingin teriak, ingin mengadu kalau dia baru saja dipaksa menikah. Tapi ia tidak sanggup. "Ngak apa-apa, Lang. Cuma... lingkungan di sini dingin banget."

Tepat saat itu, terdengar bunyi BRAKK! yang sangat keras dari arah pintu depan. Seolah-olah pintu itu baru saja didobrak paksa dari luar.

"SELLA! KELUAR LO SEKARANG! JANGAN MAIN PETAK UMPET SAMA GUE!"

Suara bariton Adit yang menggelegar itu membuat Sella melonjak kaget hingga ponselnya nyaris terlepas. Jantungnya serasa mau copot.

"Sella? Itu suara siapa? Kok ada cowok teriak-teriak di tempat kamu?!"

1
Wien Ibunya Fathur
lanjut
Wien Ibunya Fathur
ceritanya lumayan seru
Soobin Chan: makasih/Smile/
total 1 replies
meimei
lanjut😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!