Seorang gadis selalu berjuang dan mengorbankan diri demi kedua adiknya. menghabiskan waktu, tenaga, materi, bahkan jiwa raga bila perlu.
Dipertemukan dengan pria kaya, hampir dewasa. Pria yang selalu mementingkan keluarga di atas segalanya.
Sebuah kisah klasik, bila dicerna garis lurusnya. Akan tetapi bumbu-bumbu kehidupan didalamnya yang kan mampu membuat indah sebuah kisah.
Berjalan seperti apa kehidupan mereka, dan akankah pengorbanan dan kepentingan yang mereka lakukan berbuah bahagia?
Penasaran?
Ikuti ceritanya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona_Happy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembelaan Kennand
Menunggu sang dady pulang dari tugas kenegaraanya, Kennand pun menjatuhkan tubuh di ranjang kamarnya.
"Apa yang mereka lakukan di Indonesia? Apa opa menemui wanita itu lagi? Dasar wanita sia*an!"
Kennand meraih telepon genggam di sakunya, menghubungi asisten sang kake tetapi tak diangkat. Berfikir sejenak akhirnya ia putuskan untuk menghubungi orang tua sang kekasih.
Dari percakapan mereka, dapat di simpulkan hingga saat ini sang kekasih belum juga sadarkan diri. Dan Kennand meminta maaf atas sikapnya memberi tahu media tentang keadaan Carolina.
Akan tetapi Kennand kembali menenangkan, bahwa konfresi pers yang ia lakukan tak akan berpengaruh pada karir ataupun ajang kecantikan yang diikuti Carolina.
Bahkan dengan pengaruh nama besarnya, Kennand dapat dengan mudah memundurkan waktu penyelenggaraan ajang bergengsi itu demi sang kekasih dapat berpartisipasi.
Begitu mendengar apa yang dikatakan Kennand, orang tua itupun lega dan tak lagi marah.
Kini di sebuah meja makan indah tampak dua orang pria tampan beda usia.
Sang dedy membuka pembicaraan
"Putuskan wanitamu"
"Apa maksud dady?"
"Kau hanya bermain denganya, sekarang putuskan dia. Terlalu lama dia bersamamu"
"Apa hak dedy memutuskan hubunganku? Aku mencintainya dan aku ingin menikah dengannya" jelas Kennand
"Dia bukan wanita yang baik"
"Dari mana dady tau? Bahkan dedy belum mengenalnya"
"Tak perlu kau kenalkan, dedy sudah dapat melihat wanita seperti apa dia. Dia bukanlah wanita baik-baik" terang dady
"Hanya karna mereka keluarga model, kemudian dady menjudge mereka semua bukan wanita baik-baik?" Kini suaranya naik satu oktaf
"Iya. Itu penilaian dady. Kamu mau apa!? Kamu selalu dikelilingi perempuan mura*an, jadi kau tidak dapat melihat berlian" dady mulai meninggikan suaranya
"Dad, kalau tak suka dengan Carol dady tak perlu menghinanya. Dia baik padaku, dia sangat mencintaiku" terangnya
"Buka matamu! baik apa? Memperontonkan tubuh di depan orang banyak. Sombong! seolah dia wanita paling cantik di dunia ini"
"Aku tak akan meninggalkannya. Jangan coba-coba dady sentuh wanitaku. Jika tidak, aku akan tinggalkan keluarga ini"
"Silakan. Tinggalkan saja keluarga ini. Semoga, jika kau tak punya apa-apa dia masih mau bersamamu"
"Dady salah besar menilai Carol. Dia akan selalu bersamaku, bagaimanapun keadaanku"
"Kau belum mencobanya. Coba kau buktikan, sehebat apa wanitamu. Jika terbukti ucapan dady benar, kau harus mau menikah dengan wanita pilihan dady" tekan dady
"Baik, aku akan buktikan! Dady selalu berfikir negatif terhadap Carolku dan teman-temanku"
"Aku akan buktikan apa yang dady katakan adalah salah. Aku tidak mau seperti dady yang tidak punya teman. Selalu sendiri, dan menyendiri"
"Terserah. Temuilah Carolmu itu. Cepat tanyakan padanya, apa ia mau menerimamu jika kau tidak punya apa-apa" ucap dady berdiri meningglakan meja makan.
"Kau terlalu payah. Semua orang kau curigai, tetapi duri dalam dagingmu sendiri tak kau sadari"
Kennand masih kesal dengan sikap dadynya. Ia pun memutuskan untuk langsung menemui sang kekasih.
Di tempat berbeda Gia dan kedua adiknya kini berada di semuah penthouse mewah. Kini mereka sedang bermain-main dengan pikiran masing-masing.
Melihat sekeliling, tempat tinggal yang begitu mewah. Lantai marmer indah, atap menjulang tinggi, perabotan mahal mengkilap, furniture-furniture moderen yang galmor, dan merupakan bangunan yang mengesankan bagi mereka.
"Opa, ini tempat apa? Mirip surga" ucap Sita polos
"Kamu lucu. Ini rumah cucu opa" terang opa
"Oma, ini namanya penthouse?" Giliran Satria tanya polos
"Iya, ini penthouse punya cucu oma" terang oma
"Bagus banget oma. Kaya hotel"
"Abang! Kita belum pernah ke hotel! Kenapa bisa bilang kaya hotel" komplain Sita
"Liat di IG dee..." saut Satria
"Kalian, jangan jujur-jujur banget juga kalee... malu" Giliran Gia keberatan
"Maaf ka.. " Saut Satria
"Ga apa Gi.. opa malah suka sikap mereka. Apa adanya"
"Kalian bisa ngemil-ngemil atau bermain games di kamar atas. Jika butuh sesuatu kalian bisa minta tolong mba Yani atau mba Lisna, ga perlu malu" terang opa
"Opa pinjam kaka kamu dulu yah. Boleh kan?"
"Boleh opaaa..." Jawab si kembar
Kini Gia pun terduduk di ruang keluarga, bersama ketiga orang dewasa yang sedari tadi ga sabar ingin mendengar kabar hasil akhir.