Serangkaian konflik, cinta, sisi gelap, konfrontasi, ego dan di bumbui dengan beberapa misteri yang pelan tapi pasti terkelupas perlahan dengan balutan horor kejawen (jawa kuno) yang cukup kental. semua berpadu dalam satu mahakarya.
Sinopsis :
Di suatu desa..hiduplah seorang nenek tua yang cukup kaya raya. Ia mempunyai 6 orang anak. Anak yang di besarkan olehnya seorang diri sebagai seorang janda. Enam orang anak yang di besarkan olehnya dengan penuh kasih sayang. Enam anak itulah yang juga memulai konflik antara sesama saudaranya sendiri. Puncaknya adalah ketika sang nenek tiba-tiba meninggal dunia.
Disini semua tragedi itu berawal. Teror kasat mata dan yang tak kasat mata mulai menghantui semua yang sedang tinggal di rumah peninggalannya. Satu...persatu.... Mereka semua punya satu tujuan yang sama! 6 orang iblis bertopeng manusia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mufid Kurniawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat
"ada apa dengan tubuh saya dok? Saya sakit apa ya?" Tanya pak iman yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit terkemuka di kota itu. Ia sedang memeriksakan kondisi tubuhnya yang terus menerus mengeluarkan bau yang tidak sedap.
"Saya tidak menemukan masalah apapun di tubuh bapak. Tapi saya sarankan bapak agar lebih sering menggunakan deodoran atau minyak wangi itu saja pak. Dan untuk makanan saya hanya bisa menyarankan agar hindari dulu daging dan ikan serta makanan dengan lemak jenuh yang tinggi. Karena juga bisa jadi dalam beberapa kondisi ada pasien yang memang mengalami gangguan pada kelenjar keringatnya karena makanan tertentu yang di konsumsi. Nanti akan saya berikan beberapa resep multivitamin saja." Terang dokter itu setelah memeriksa kondisi pak iman.
"Oh..begitu ya dok. Kalau begitu makasih ya dok." Ujar pak iman segera keluar dan membayar admistrasi.
Tak berapa lama, ia segera menyetir kembali mobilnya untuk pulang ke rumah. Ia sedikit merasa lega dengan apa yang di katakan dokter baru saja. Kendati bau yang ia rasakan semakin menjadi-jadi. Sesampainya di rumah ia kemudian duduk di depan terasnya yang sudah selesai di renovasi. Ia duduk sembari mengawang apa yang sebenarnya terjadi padanya tempo lalu. Iman benar-benar tak mampu mengingat semuanya dengan baik. Hingga ekor matanya tak sengaja menangkap sosok putri yang sedang berboncengan dengan seorang wanita paruh baya. Aneh baginya karena seingatnya ia pergi bersama suaminya. Lalu kenapa sekarang pulang hanya sendirian saja? Iman pun berusaha abai dengan rasa penasarannya sendiri.
Sore pun kembali datang dengan semburat kuning di ufuk barat. Situasi pun sudah mulai tak seramai tadi siang. Hanya segelintir orang saja yang berlalu lalang di desa ini. Mereka kebanyakan sudah masuk ke dalam rumah apabila petang sudah mulai turun menyelimuti. Namun, iman saat itu malah tengah berjalan-jalan sendirian. Ia rupanya merasa bosan jika harus mengurung diri terus di dalam rumah. Dengan minyak wangi yang sudah seperti di buat mandi olehnya, ia berjalan dengan lumayan percaya diri. Ia yakin itu bisa sedikit menutupi bau kulitnya yang terus menguar. Saat ia tengah berjalan menyusuri desa yang sudah mulai sunyi, matanya tak sengaja melihat putri yang tengah menyapu teras depan rumah sederhana miliknya. Tubuh mulusnya hanya di balut daster bunga-bunga tipis yang melambai tersapu angin. Iman terbelalak melihat pemandangan itu. Senyuman liciknya mengembang seketika.
"Ehemm... kamu..Sudah pulang nduk?" Sapa iman yang tak henti-hentinya menatap tubuh molek putri. Sapuan lembut angin membuat daster pendek yang ia kenakan tersibak sedikit. Sontak putri langsung bergegas membetulkannya kembali.
"Oh iya pakdhe, emmm...lagi jalan-jalan santai ya pakdhe." Pungkas putri tersenyum ramah menutupi risau hatinya. Ada rasa sedikit kaget melihat kehadiran pakdhenya yang tiba-tiba.
"Iya nduk. Pakdhe lihat-lihat kamu kok sendirian? Suamimu mana? Yang tadi itu siapa nduk yang boncengin kamu?" Ucap iman mulai mendekati putri yang sejenak menghentikan aktivitasnya.
"Oh.. itu budhenya mas Ikhwan. Tadi dia cuma nganterin putri saja. Kalauas Ikhwan belum bisa pulang soalnya masih ada urusan." Ujar putri menutupi. Ia merasa sedikit kurang nyaman dengan tatapan pakdhenya yang seakan menelanjangi dirinya bulat-bulat.
Sudah bukan rahasia umum lagi jika iman sedari remaja memang laki-laki yang sangat suka 'jajan' dengan wanita-wanita penghibur. Meskipun ia sering melakukan ziarah, pengajian dan ibadahnya yang cukup rutin, nampaknya itu tak juga membuat sifatnya lantas berubah. Ia masih tetap saja iman yang dulu. Semua ibadahnya seakan hanya menjadi topeng untuk menutupi kebusukan hatinya. Nauzubillah min dzalik!
"Tak ada kayu, rotan 'pun jadi! rezeki di sore hari! Hehehehe." Batin iman licik.
"Emm... putri masuk dulu ya pakdhe. Mau masak buat Nisa." Pamit putri beralasan agar bisa segera keluar dari situasi tersebut.
"Eh..eh..boleh pakdhe mampir sebentar nduk? Pakdhe juga sudah lama nih nggak lihat anakmu." Ujar iman tersenyum merekah.
"Bo-boleh pakdhe, silahkan.." tukas putri agak merasa canggung.
"Hehehe.. terimakasih nduk." Jawab iman.
Keduanya pun masuk ke dalam rumah.
Krieeetttt..
(Pintu di tutup)
...****************...
Di tempat lain..
Uhukkk...uhukk...uhukk..
"Pelan-pelan nang minumnya." Ucap wanita itu mengambil kembali gelas yang baru saja ia sodorkan ke mulut Ikhwan.
"Dimana putri sama nisa bulek?" Ujar Ikhwan yang baru saja keluar dan menyelesaikan puasa Pati Geni-nya. Tubuhnya terlihat lunglai dan tidak bertenaga.
"Nggak tau nang, tapi katanya sudah di antar sama budhemu pulang. Semoga perjuanganmu tidak sia-sia nang. Jika tidak, kamu harus merelakan anak dan istrimu untuk menebusnya." Balas wanita paruh baya itu menjawab dengan masih menyeka keringat dingin Ikhwan.
Ada sedikit guratan lega dari wajah Ikhwan. Ia sejenak menutup matanya yang nampak sudah cembung dan berair. Ia tahu betul bagaimana perangai budhenya. Hanya mereka berdua saja yang masih bisa berpikiran normal di tengah masyarakat yang sedang di permainkan oleh setan yang menyesatkan. Ia yakin budhenya takkan menyakiti anak dan istrinya.
"Apa setelah ini kutukan itu sudah hilang wan?" Tanya seorang laki-laki mengejutkan Ikhwan yang kembali membuka matanya.
"Kita serahkan saja semua sama yang kuasa paklek. Kita semua harus menghentikan acara persembahan-persembahan lagi paklek dan kembali ke jalan yang di ridhoi Allah. Insyaallah dengan segala kekuasaan yang Allah miliki kita akan terbebas dari belenggu yang selama ini terus menerus mengekang leher kita semua." Ujar Ikhwan dengan suara parau. Ia sudah merasa sangat kelelahan.
"Heleh mblegedes! Malah ceramah! Ini semua kan juga karena kelakuan kakek buyutmu yang bersekutu dengan mereka! Jadi kita semua ikut-ikutan kena imbasnya." Gerutu paklek dengan nada nyinyir.
"Bukan hanya salah keluargaku dahulu paklek, tapi kalian semua juga salah karena juga ikut dalam persekutuan itu. Toh, kalian juga menikmati hasilnya bukan? Sudahlah paklek jangan berdebat lagi. Aku hanya ingin kita semua kembali ke jalan yang benar dan meminta tolong hanya kepada Allah!" Tegas Ikhwan mulai bangkit meskipun tubuhnya masih terasa sempoyongan.
"Kenapa hatiku merasakan ada hal yang buruk ya. Ada apa sebenarnya? Putri, Nisa, kalian kenapa? Ya Allah, lindungilah anak dan istriku ya Allah." Batin Ikhwan merasa dadanya sesak dan berdebar-debar dengan tak berirama. ia tau dan yakin jika ada sesuatu yang tidak baik yang sedang terjadi.
"bulek bisa antarkan aku ke rumah budhe partiyah secepatnya nggak? aku harus buru-buru pulang ke rumah." Ucap Ikhwan memohon.
"emangnya kenapa nang? kamu ndak mau istirahat dulu? kamu masih belum seger lho. lagipula ini sudah mau Maghrib nang." balas bulek.
"tapi, Firasatku.." batin Ikhwan
gmana penampakan rumah nenek nyaa, huhuhu.
lnjut dong thorrrr
lnjut thor .. bnyak yg nggu nih
ttp semangattt💪💪💪