Octavio Kevin Hermawan dokter yang berusia dua puluh sembilan tahun yang sangat dingin dan irit bicara. Putra pengusaha besar dan terjebak dalam perjodohan.
Pertemuan dengan suster pindahan dari cabang rumah sakit Kevin bekerja yang merupakan wanita yang pernah membuat hidupnya selalu sial.
Kevin beranggapan bahwa Citra adalah gadis pembawa sial dari dahulu sampai sekarang yang terus menghantuinya di mana mana.
Bagaimana kehidupan antara Dokter Kevin, wanita perjodohan papinya dan suster Citra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedek Bongsor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah
Oh No menikah dengan dokter berhati kutub? bukan impian aku menikah dengan dia.
Pria yang berusia dua puluh delapan tahun ini berpawakan atletis iya sih okeh tapi tapi tidak pada karakternya buat aku berputar tujuh keliling jika harus menikah dengannya pria es ini.
Mungkin ibunya saat mengandungnya kebanyakan makan es krim atau dia lahiran di gudang penyimpanan lemari es yang biasa di pakai membekukan daging di lestoran gitu.
Impianku menikah dengan kim namjoon, park ji min, atau kim tae hyung aku si tak masalah tapi ini dokter berhati dingin yang akan menikahi aku. Tak aku bayangkan menikah di tahun ini
"Keviiin" Panggil Gea yang tiba saja datang di rumah Risma dengan melihat aku dan dokter Kevin dalam keadaan menenangkan aku
"Ziva kamu kenapa?" tanya dokter Gea yang juga ikut memeluk aku
Sekarang aku tak tahu harus berkata apa lagi mau aku jawab sebenarnya takut salah dan mau nggak jawab di kira nggak hormati nanti di kata Citra budeg dan tuli serba salah aku ini.
Ini namanya maju kena mundur kena atau kanan kiri jurang yang pantas untuk aku katakan.
Aku harus bagaimana ini?
"Saya mau ke kamar dulu" Pamitku pada semuanya yang ada di rumah ini
Dengan tergesa gesa aku masuk ke kamar menggendong Rey yang menangis tapi harus aku kembali ke dapur mengambil stok asi yang ada di kulkas dengan menggendong Rey
Segera mungkin aku naik ke atas mengenggang enggongkan si Rey dengan melantunkan sholawat agar cepat tidur sebenarnya hatiku sedih harus menikah dengannya apakah hati dokter Gea akan baik baik saja nanti?
Seketika pak Damar dan ibu Risma menghampiriku mengambil si Rey yang aku berusaha tidurkan.
"Citra sekarang hubungi keluarga kamu" kata pak Damar merebut Rey dari ku
"Tapi pak..."
"Udah biar saya yang telfon saja kamu pasti tidak sanggup memberi tahu mereka" Risma membela aku tahu apa isi hati ku yang belum kuat untuk memberitahu ibuk dan mas Adam
Beberapa saat ibu Risma dengan menelfon dengan ponselku. "Citra ibuk kamu katanya tidak bisa datang begitupun kakak kamu tapi mereka memasrahkan pada saya sebagai wali kamu" Tutur ibu Risma "Papah mau kan menikahkan Citra?" tanya ibu Risma pada pak Damar
"Lebih baik pak penghulu saja kan papah bukan keluarga dari Citra. Udah ya jangan nangis terus kamu itu seperti adik saya seperti Kevin" Jawab Pak Damar dengan merangkul aku begitupun ibu Risma
"Iya kamu harus kuat jangan fikirkan apa apa ya biarkan orang mau bilang apa tentang kamu nantinya sekarang kamu cuci muka dan saya rias sedikit pakai baju yang cantik" Ucap ibu Risma
...***...
Kini aku telah di poles sedemikian cantik hati ini masih belum siap menerima pria itu menjadi suami ku yang dalam hitungan menit lagi akan menikah dengannya.
Aku mendengar semua orang yang tadi berkumpul masih berdebat tentang aku dan dokter Kevin aku tak henti menahan tangis ku. Entah ini tangis bahagia atau sedih atau tangis ketakutan ya aku tak tahu yang jelas sekarang sangat berdebar debar.
"Ayo udah waktunya saya di chat penghulunya" Kata ibu Risma
"Saya mau kencing dulu bu" pamitku beralibi
Aku di dalam kamar mandi menatap cermin dengan duduk di kloset menatap wajahku yang bingung dengan ini. Bingung yang sangat bingung hati ini menentukan dan kaki ini melangkah.
Aku memegang kacang ku "Tempat ini akan pecah dan membuat aku medudung" Kata Citra monolog
"Yang aku jaga kesucianku "
Toook
Toookk
"Citra jangan lama lama" kata ibu Risma dari luar
Aku segera keluar karena tak enak. Aku turun dari kamar ini yang di gandeng ibu Risma sampai di depan ruang tamu melihat pria berdiri dengan satu tongkat menatap ku begitu tersenyum lebar bagaikan aku melihat kebahagiaannya tapi aku melihat dokter Gea yang terus menunduk dengan ayahnya yang memiliki wajah kekecewaan dan kesalnya.
"Nikahkan sekarang! ini hukuman kamu Kevin!!" Bentak om Irfan yang mungkin benar tidak suka dengan calon suamiku ini
"Iya om"
"Tapi dok?" tanya ku menggantung melihat kode dari dokter Kevin untuk menuruti kemauan omnya
Aku pun duduk di sebelah dokter Kevin yang mengenakan kemeja merah begitupun dengan aku yang pakai dress merah.
"Bagaimana sudah siap?" tanya pria yang di kata penghulu
"Bismillah ya Vin" Kata om Irfan memotong
"Siap pak"
Tangannya mulai menggemggam tangan penghulu.
"Betul atas nama anindita citra ninda?" Tanya penghulu menatap ku
"Iya pak betul"
"Atas nama octavio kevin hermawan?" Penghulu menatap dokter Kevin
"Saya pak"
Kevin menghembuskan nafas dengan gugup ternyata tak hanya aku saja yang deg degan ternyata dia juga aku menepuk pahanya dengan lirikan dan senyumannya merupakan kode bagi kita dia menjawab dengan anggukan lalu menatap penghulu lagi.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara/ananda (octavio kevin hermawan) bin (Satria Hermawan) dengan anak saya yang bernama (anindita citra ninda) dengan maskawinnya berupa (mahar/mas kawin), tunai.”
"Saya terima nikahnya dan kawinnya (anindita citra ninda) binti (Doni Darmawan) dengan mahar tersebut, tunai.”
"Bagaimana saksi?"tanya penghulu
"Saaaah"
Aku dan pria di sampingku yang sudah sah menjadi sepasang suami istri ini hanya ikut mengaminkan saat penghulu membacakan do'a do'a layaknya untuk membina rumah tangga begitu hitmat tak lama aku mendengar mobil keluar dari rumah ini saat aku lihat dokter Gea sudah pergi
Tuh kan dokter Gea marah dan sakit hati padaku
Kepala ku ikat di tolehkan olehnya layaknya anak kecil yang menoleh saat khusuknya dan si emak atau bapaknya menarik untuk tetap duduk begitulah aku saat ini saat bersama dokter Kevin eeh suami ku ini.
Harus apa yang harus aku jawab jika dokter Gea bertanya pokoknya aku nggak suka ini. Aku hanya duduk di ruang tamu di tempat yang sama begitupun suamiku ini yang duduk di kursi dengan meluruskan kakinya yang sudah pegal mungkin.
"Citra" Suara pak Damar memaanggi aku . Aku mendongaknya
"Kamu mulai besok bisa meninggalkan rumah ini dan tinggal di rumah Kevin sekarang kamu panggi saya jangan bapak ibu lagi tapi kakak seperti Kevin memanggil kita" tutur Damar menatap mantap Kevin
"Akhirnya keponakan ku nikah juga. Lagian om nggak suka dengan dokter kutukupret itu" Kata om Irfan dengan lembut menghampiri Kevin
"Maksud om?"
"Iya om nggak klop dengan dokter kutukupret itu. Nggak usah banyak tanya intinya hari ini om senang kamu sudah menikah meskipun cara om salah. Om sadar itu sesuai nazar om adalah memasukan Citra ke rumah sakit kamu karena Susi itu teman om. Bilang aja kalau dia kurang ajar ada berapa persen om tanam saham di sana. Kamu berhak menggunakannya itu rumah sakit kita juga" Tutur om Irfan seraya memeluk Kevin
"Ciee yang akur" Ledek Damar
Bluush
Sebuah bantal di lempar oleh Kevin malah mengenai wajah ku sampai bedaknya menempel di bantal hitam. Yang ada hanya menjadi lawakan semuanya.
Aku kesal memilih pergi ke kamar di atas itu yang membuat aku aman dari siapa pun di sini