Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku, Kamu Dan Dia

Aku, Kamu Dan Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pernikahan Kilat / Dijodohkan Orang Tua / Kehidupan di Kantor / Janda / Anak Kembar
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Munaa

Perjodohan yang sudah dilakukan orangtuanya sejak kecil.

Akan tetapi saat ini pengantin pria sudah memiliki kekasih pilihannya sendiri. Dan mereka mau tidak mau menerima perjodohan dari kedua orangtuanya. Mereka menikah kemudian berniat akan bercerai.

Bagaimana kelanjutannya.

Ikuti terus ceritanya dalam novel ini , jangan lupa untuk like komennya kakak🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Munaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32

Pukul 08.00 malam. Sean belum pulang dari tadi karena masih ingin melihat Shania. Baginya moment seperti ini jarang sekali di dapat karena bisa lama sekali ngobrol bersama dengan Shania.

"Kak udah malem nih. Kakak mau sampai kapan disininya". Ucap Airin kemudian melangkah pergi menuju toilet tamu.

"Emm di usir nih. Ya sudah saya balik ya Shania". Ucap Sean hendak bangun dari sofa.

"Iya pak silahkan". Sahut Shania sambil tersenyum.

"Kalau Airin merepotkan telfon saya. Biar saya jemput dia". Ucap Sean kemudian hendak melangkah pergi.

"Saya malah senang dia mau menemani saya pak". Sahut Shania tersenyum.

"Aaaa.. kak Shania ada kecoa". Teriak Airin yang tengah berlari dari toilet.

"Kecoa? Selama ini saya ga nemu kecoa deh. Kok bisa tiba tiba ada kecoa". Gumam Shania kemudian mencoba berjalan ke toilet tamu diikuti oleh Sean dan Airin.

Saat hendak membuka pintu toilet. Shania mendapati dua kecoa itu sedang berjalan dengan cepat.

"Haduh gimana ini Airin. Kakak juga ga berani sama kecoa". Ucap Shania kemudian menutup pintu kamar mandinya lagi.

"Yah kak Shania juga takut kecoa ya". Gumam Airin cemas.

"Kakak ga takut sih. Cuma geli aja apalagi pas kecoanya terbang ke arah kita". Sahut Shania merasa cemas.

"Iya sama aja itu mah namanya takut. Haduh gimana dong kak, siapa yang akan mengusir kecoa kecoa itu". Gumam Airin yang merasa cemas. Mereka lupa kalau Sean memperhatikan mereka.

"Kalian berdua takut kecoa". Sahut Sean yang tersenyum melihat mereka yang sedang cemas.

"Nah lupa kalau Kak Sean masih ada disini. Kak Sean bisakah kakak mengusir kecoa kecoa menjijikkan itu?". Pinta Airin.

"Itu mah mudah. Serahkan ke kakak". Ucap Sean kemudian memasukkannya kedalam plastik dan mengikatnya.

"Dia ga gigit loh padahal". Gumam Sean mendekatkan kantong plastik itu ke mereka berdua.

"Aaa,, jangan dekat dekat". Shania kaget, ia reflek menepis kantong plastik itu hingga terpental agak jauh.

"Maaf saya reflek tadi pak Sean". Ucap Shania melihat kantong plastik itu terbang. Hal ini membuat Sean tersenyum kemudian memungut kembali kantong plastik itu.

"Ekhem, sepertinya kak Sean ga usah pulang deh". Gumam Airin memasang wajah melas.

"Kenapa?". Tanya Sean sambil mengerutkan dahinya.

"Ya kakak liat sendiri kami takut kecoa. Gimana kalau induk kecoa itu datang untuk mencari kecoa kecoa itu". Jawab Airin.

"Iya setuju saya Airin. Pak Sean ga keberatan kan?". Tanya Shania membujuk Sean. Melihat wajah Shania yang seperti itu membuat Sean menyetujuinya.

"Bukannya kamu tadi mengusir kakak ya?". Sean menatap Airin, ia teringat perkataan Airin sebelumnya.

"Kak.. ". Suara Airin memohon. Saat ini ia memasang wajah melasnya.

"Emm jadi saya ga jadi di usir nih". Gumam Sean sambil tersenyum menatap Shania dan Airin bergantian.

"Melihat wajah kalian seperti itu rasanya ga tega kalau saya meninggalkan kalian. Oke, saya akan menginap disini malam ini". Ucap Sean membuat Shania dan Airin tersenyum lebar.

"Lalu saya akan tidur dimana?". Tanya Sean.

"Pak Sean akan tidur di samping kamar saya. Eem maksud saya ada ruangan kamar tamu di samping kamar saya". Sahut Shania menatap Sean.

"Lalu Airin akan tidur dimana nanti?". Tanya Sean.

"Dia akan tidur di kamar saya". Sahut Shania sambil melihat Airin.

"Aghr kecoa itu besok harus di basmi kak. Nanti mereka beranak jadi banyak loh". Gumam Airin msih memikirkan kecoa tadi.

"Iya harusnya begitu. Nanti besok akan kakak basmi mereka. Kalian tenang aja". Sahut Sean.

"Saya juga heran, padahal selama ini ga pernah muncul kecoa. Kok tiba tiba hari ini ada dua". Gumam Shania masih keheranan.

"Sudahlah, yang penting saat ini kecoanya sudah ga ada. Dan toiletnya sudah aman bisa kalian pakai ". Ucap Sean.

"Kalau gitu Saya permisi dulu mau siapkan kamar untuk pak Sean". Ucap Shania kemudian melangkah pergi.

"Akhirnya kamar ini berguna juga. Ga sia sia beli spring bed pakai uang gajian pertama". Gumam Shania yang sedang memasangkan seprai dan sarung bantalnya.

"Oh jadi kamar ini". Suara berat Sean yang berdiri di pintu.

"Apa Leon pernah minap di rumah ini Shania?". Tanya Sean penasaran.

"Pernah sekali". Jawab Shania.

"Lalu dia tidur dimana? Apa di kamar ini juga". Tanya Sean.

"Dia tidur di kamar saya". Jawab Shania yang masih sibuk memasangkan sarung bantal.

"La-lalu kamu tidur dimana. Apa kalian tidur bersama?". Sean terperangah kaget mendengar jawaban Shani.

"Tidak. Saya tidur di sofa ruang tengah. Kan saat itu saya cuma punya kamar untuk tidur satu. Nah pak Leon ini ga bisa tidur di sofa jadi saya mengalah". Shania menjelaskan. Mendengar penjelasan Shania, Sean merasa lega.

"Baik sekali hati kamu Shania. Saya jadi makin suka sama kamu". Gumam Sean dengan suara kecil.

"Kenapa pak Sean? Saya tidak mendengarnya". Sahut Shania.

"Kamu baik sekali Shania, entah kenapa saya ingin sekali memilikimu. Melamar dan kemudian memasangkan cincin di jari manismu. Kamu tau, kamu itu seperti bunga mawar di tebing. Susah sekali di gapainya". Ucap Sean sambil menatap Shania.

"Saya akan menunggu kamu Shania. Dan ketika waktu itu datang saya akan mendatangi orang tuamu. Melamarmu dan mempersuntingmu". Ucap Sean dengan serius.

"Anu,, sa-sayaa...". Ucapan Shania berhenti sesaat karena begitu gugup.

"Ayolah Shania kendalikan rasa gugupmu. Kenapa kamu susah sekali menolaknya. Kamu sudah memberikan harapan palsu saat ada pak Roland masa iya kamu ga bisa mengatakannya dengan jujur kali ini. Ayolah kamu harus jujur kalau ga bisa menerima ajakannya". Gumam Shania dalam hatinya.

"Sa. Saya.. Ga bisa menikah dengan pak Sean". Jawab Shania sambil tersenyum menampilkan gigi gingsulnya.

"Kenapa? Apa kamu sudah memiliki calon sendiri Shania?". Tanya Sean.

"Bu-bukan seperti itu pak Sean. Emm pak Sean harus menghapus perasaan itu dan segera mencari yang lain. Karena sejatinya kita ga tau kedepannya gimana. Bagaimana jika pada akhirnya kita tidak bisa disatukan, pak Sean hanya akan buang buang waktu jika menunggu saya siap bertahun tahun lamanya nantinya". Ucap Shania dengan gugup sambil menatap mata Sean.

"Mencari yang lain? Apa kamu bercanda Shania. Saya telah menyukaimu hampir 5 tahun. Dan kamu meminta saya untuk mencari yang lain. Jika perasaan ini bisa saya atur udah dari lama saya menikah dengan perempuan lain Shania". Ucap Sean sambil menatap mata Shania dengan serius.

"Kamarnya sudah bisa dipakai. Kalau gitu saya akan ke kamar saya". Ucap Shania mencoba kabur.

"Tunggu Shania, saya belum selesai,,". Ucap Sean membuat Shania berhenti melangkah.

"Maaf saya sudah mengantuk pak". Ucap Shania.

"Shania, Akan saya buktikan kalau saya serius dengan ucapan saya. Dan saya akan mencoba terus untuk mendapatkanmu. Saya akan berhenti setelah kamu menagatakan “Iya saya mau menikah denganmu Sean”. Maaf kalau itu terdengar memaksamu". Ucap Sean.

"Kamu sudah bisa pergi. Tidurlah, selamat malam". Ucap Sean. Kemudian Shania melangkah pergi meninggalkan Sean.

Shania menuju kamarnya. Ia berjalan mondar mandir yang tengah memikirkan ucapan Sean tadi.

"Jantung saya kenapa ini?".

"Apa saya mulai jatuh hati padanya? Apa saya sudah mulai menyukai pak Sean".

"Oh tidak, jangan Shania. Kamu ga boleh menyukainya".

"Dia bos kamu Shania. Kamu harus sadar diri".

"Ayolah Shania, kamu hanya orang yang cuma lulusan SMA. Kalau kamu mau menikah dengannya kamu harus setara dengan dia".

Gumaman Shania terhenti saat bunyi ketokan pintu.

"Tok, tok, tok". Suara ketukan pintu.

"Kak Shania ada di dalam? saya masuk ya". Suara Airin dari balik pintu, kemudian ia membuka pintunya.

"Masuklah Airin". Sahut Shani.

"Wajah kakak kok berkeringat gitu. Perasaan cuacanya ga panas deh". Gumam Airin melihat keringat di wajah Shania.

"Iya kakak belum mandi Airin. Kakak mandi dulu ya. Kamu kalau mau tidur, tidurlah". Ucap Shania tersenyum kemudian masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.

Setelah beberapa menit akhirnya Shania selesai mandi.

"Hanya ada Airin, saya ga perlu memakai jilbab kalau gitu". Gumam Shania melihat Airin membelakangi Shania sambil bermain ponselnya.

"Kenapa kak?". Tanya Airin berbalik.

"Aaaa astagfirullah bikin kaget aja masker kamu itu Airin". Teriak Shania kaget melihat muka Airin berwarna putih.

"He he maaf kak". Ucap Airin sambil menyengir.

"Kak Shania cantik sekali. Pantas aja kak Sean menyukai kakak". Gumam Airin yang tadinya menatap layar ponselnya sekarang menatap Shania yang tidak memakai jilbab.

"Bikin jantung copot aja kamu Airin". Gumam Shania duduk di pinggir kasur.

"He he maaf kak. Ngomong ngomong Kak Shania pakai skin care apa? Bisa bagus kulitnya". Gumam Airin.

"Cuma pakai bedak dan lipstik dari Sean Beauty aja Airin". Jawab Shania yang kemudian ikut berbaring di kasur

"Kakak perawatan dimana?". Tanya Airin melihat wajah Shania lebih dekat.

"Bahkan pori porinya ga ada". Gumam Airin.

"Bukannya kamu juga ga ada pori pori ya Airin". Sahut Shania memperhatikan pori pori di wajah Airin.

"Iya sih, tapi kak Shania lebih perfect". Ucap Airin tersenyum.

"Shania, Airin kenapa teriak tadi. Apa ada sesuatu di dalam". Suara Sean dari balik pintu.

"Tidak ada apa apa pak Sean kami baik baik aja". Sahut Shania.

"Iya kak kami hanya sedang bermain". Sahut Airin sambil menyengir.

"Sudah malam. Kamu tidurlah Airin. Dan jangan mengganggu Shania ya". Perintah Sean.

"Iya kakakku". Sahut Airin kemudian menarik selimut untuk tidur.

☘️☘️☘️

Jam menunjukkan pukul 7 pagi. Shania sudah menyiapkan makanan dan mereka pun sarapan. Shania dari tadi tidak mengeluarkan suara, matanya kevin. Sedangkan Sean dan Airin terus berdebat seperti biasanya.

TING. notif pesan.

DRRTT,, Ponsel Shania bergetar terus menerus. Namun Shania tidak mendengarnya karena melamun.

"Hp mu terus bergetar Shania. Kamu mikirin apa sih dari tadi melamun terus". Ucap Sean membuat Shania terbangun dari lamunannya.

"Maaf, apa sejak tadi ponsel saya berbunyi". Sahut Shania mengambil ponselnya. Kemudian ia menaruh kembali ponselnya.

"Kenapa di abaikan kak?". Tanya Airin.

"Karena ga penting". Jawab Shania kembali makan.

"Em penasaran, saya liat ya kak". Ucap Airin mengambil ponsel Shania.

"Notif pesan baru dari nomor asing. Katanya saya tau kamu sedang mengabaikan saya karena kamu malu kan saya bilang gitu kemarin di supermarket. Kamu dimana saat ini? Bisakah kita ngobrol Shania". Airin membaca pesan dari Caesar.

"Supermarket? Berarti orang ini kak caesar itu dong". Gumam Airin membola matanya. Mendengar pesan yang dibacakan, Sean menggenggam kuat sendok di tangannya.

"Harus berapa banyak saingan saya. Kenapa nambah terus laki laki di sekitarmu Shania". Batin Sean.

"Sudah jangan di hiraukan. Biarkan saja Airin". Ucap Shania sambil tersenyum.

"Airin kita harus pulang setelah ini kamu harus menyiapkan segala keperluanmu saat pergi ke korea esok lusa". Ucap Sean.

"Iya kak". Jawab Airin.

1
Lilis Ilham
bahagiakan Thor
girlsss
udah sampe sini aja?
myoungsoo: Maaf karena pas sebelumnya ga ke save pas nulis jadi mengharuskan update segitu aja. Tapi sekarang sudah saya tambahkan kak🙏🤗
total 1 replies
Gamar Abdul Aziz
pke hijab masak keliatan kalungnya ..wedeh
myoungsoo: Karena saya buat ceritanya dia memakai jilbab yang di cekek lilit kebelakang seperti trend jilbab sekarang, bukan yg syar'i🤗🙏
total 1 replies
creamylatte
semangattt🥰
myoungsoo: Terima kasih kak😍🙏. Baca karyaku yang lainnya berjudul my lovely kak.
total 1 replies
myoungsoo
Jika suka, Jangan lupa untuk kasih bintangnya ya teman teman🤗🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!