Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Kenneth menatap layar pelacak di ruang kendali penthouse dengan pelipis yang membasah oleh keringat dingin. Laporan dari tim intelijen bawah tanah baru saja masuk: sinyal ponsel Eliana sempat aktif selama tiga detik di sebuah kawasan pergudangan tua di pinggiran kota.
Kenneth melirik ke arah pintu kamar utama. Di dalam sana, Lucien sedang meluapkan murkanya, menghancurkan perabotan demi perabotan karena kekhawatiran yang membakar dadanya.
"Jika aku memberitahu Yang Mulia sekarang dalam kondisi emosinya yang tidak stabil, beliau pasti akan mendatangi lokasi itu sendirian dan memicu pertumpahan darah baru," batin Kenneth penuh pertimbangan. "Skandal penangkapan Oberon di pesta tadi malam sudah cukup membuat istana bergolak. Kerajaan tidak boleh gempar lagi oleh berita Pangeran Mahkota menyerbu markas pemberontak secara gegabah."
Mengambil keputusan cepat, Kenneth memilih menyembunyikan informasi tersebut dari Lucien untuk sementara waktu. Ia mengarahkan sepuluh prajurit elit kepercayaan yang bergerak dalam diam tanpa seragam resmi.
"Ikut aku. Tanpa suara, tanpa keributan," perintah Kenneth dingin, mengokang senjatanya lalu meluncur menuju lokasi penyekapan.
Penyergapan di gubuk tua itu berlangsung cepat dan mematikan. Prajurit elit pimpinan Kenneth melumpuhkan seluruh pengawal Oberon dalam hitungan menit sebelum musuh sempat menyadari serangan balik tersebut.
Saat pintu kayu gubuk didobrak, jantung Kenneth seakan berhenti berdetak. Eliana terkulai tak berdaya di atas kursi dengan pakaian yang sudah basah kuyup oleh darah segar.
"Eliana!" Kenneth melompat cepat, memotong rantai besi yang mengikat tubuh gadis itu dan menyanggah kepalanya yang terkulai pasrah. "Bertahanlah! Bawa mobil medis rahasia sekarang!"
Tanpa membuang waktu, Kenneth membawa tubuh lemas Eliana ke Rumah Sakit Khusus Militer Kerajaan yang dijaga ketat. Eliana langsung dilarikan ke ruang operasi darurat di bawah penanganan tim dokter bedah terbaik untuk menghentikan pendarahan hebat akibat tusukan belati di perutnya.
Sementara tubuh fisiknya terbaring kaku di bawah lampu operasi, kesadaran Eliana tersedot ke dalam sebuah ruang hampa yang amat gelap dan tak bertepi.
Di tengah kegelapan yang pekat itu, sebuah layar holografik berwarna biru terang mendadak menyala di hadapannya, memancarkan bunyi pendar bzzzt yang nyaring.
[SELAMAT DATANG DI RUANG KESADARAN SISTEM]
Eliana, yang dadanya masih terasa sesak oleh sisa rasa sakit tusukan belati, seketika membelalakkan mata. Emosi ketakutan, rasa sakit, dan penderitaannya selama beberapa hari terakhir mendadak meledak menjadi kemarahan liar.
"ANJING YA ELEH! SISTEM SIALAN!" jerit Eliana histeris, menunjuk layar biru itu dengan wajah merah padam. "Kenapa gue harus masuk ke dalam novel dakwah gila ini?! Gue cuma mahasiswa biasa yang cuma mau hidup tenang, bukan pahlawan keselamatan kerajaan! Kenapa gue harus disiksa, diseret-seret, sampai hampir mati ditusuk gini?! Kenapa harus GUE?!"
Layar biru itu berkedip-kedip pelan, menampilkan teks balasan dengan nada mekanis yang santai.
[Harap tenang, Tuan Putri/Pengguna. Anda terpilih untuk menjalankan Misi Utama: 'Membimbing Pangeran Mahkota Lucien menuju Akhir yang Bahagia (Happy Ending) dan Menghancurkan Alur Tragis Valdoria'.]
"Tenang mata lo picek?!" amuk Eliana lagi, menepuk dada manusianya yang imajiner. "Musuh Lucien itu gak ngotak! Oberon, Seraphina, Rosalie, belum lagi konspirasi takhta sama raja yang muka dua! Musuhnya banyak banget dan gue cuma pelayan kroco yang gak punya kekuatan sihir atau pasukan! Gue kagak bisa, bangsat! Cari orang lain aja!"
Layar holografik itu mendadak berganti warna menjadi keemasan, memperlihatkan papan hadiah yang berkilau-kilau fantastis.
[PENWARAN KHUSUS:]
[Jika Anda berhasil menyelesaikan Misi Utama dan membawa Lucien naik takhta dengan selamat, Anda akan dikembalikan ke dunia nyata Anda...]
[BONUS KELULUSAN: Uang tunai sebesar Rp 100.000.000.000 (100 Miliar Rupiah) cair langsung ke rekening pribadi Anda tanpa potongan pajak.]
Tulisan '100 MILIAR RUPIAH' terpampang dalam ukuran font raksasa yang menyilaukan mata.
Seketika itu juga, kemarahan Eliana terhenti total. Amarahnya menguap begitu saja di udara. Matanya mendadak berubah bentuk menjadi simbol mata uang, dan napasnya tertahan.
"T-Tunggu..." Eliana menelan ludahnya yang terasa keras. "Seratus... miliar? Beneran seratus miliar tunai rupiah di dunia asli gue?!"
[Benar. Bebas pajak dan langsung bisa digunakan untuk membeli rumah mewah, mobil sport, serta rebahan seumur hidup.]
Eliana melipat kedua tangannya di dada, berpura-pura menimbang keputusan meski di dalam hatinya pesta kembang api sudah meledak meriah.
"Ehem..." Eliana berdehem sok jual mahal, lalu menunjuk layar tersebut dengan senyum lebar yang tak bisa ditahan. "Oke! Deal! Karena gue orangnya penuh kasih sayang dan suka membantu pangeran tampan yang teraniaya... gue terima misinya! Awas ya kalau bohong!"
[Proses Sinkronisasi Misi Selesai. Mengembalikan Kesadaran Pengguna...]
Cahaya keemasan menyapu pandangan Eliana, menarik kesadarannya kembali menembus rasa sakit di tubuh fisiknya.