[Season 1]
Di dunia yang penuh dengan sihir, magis, dan misteri ini masih ada saja yang direndahkan.
[Like, Comment, Vote] + [⭐⭐⭐⭐⭐]
Manusia, ras yang paling rendah di antara ras Elf, Demon, Witch, dan God, dan terakhir manusia. Di dalam lingkup itu pun, manusia juga tak lepas dari penindasan antar sesama manusia.
Rendy Winter Frost, anak SMA yang sering menjadi sasaran bully oleh teman-temannya. Ia dibully karena rambutnya yang putih.
Ia juga sering menjadi bahan olok-olokan. Walau begitu dia tetap diam dan tidak membalas.
Rendy tidak tahu kedua orang tuanya dimana. Yang ia tahu, ia tinggal di panti asuhan. Lalu ia tinggal seorang diri di sebuah rumah kecil yang dibelikan oleh orang misterius yang ia temui saat masih kecil.
Namun, siapa sangka bahwa dia adalah salah satu Demi-God. Ia adalah salah satu Rare Human, yang merupakan manusia pilihan.
Bagaimana kehidupannya dari terbuang menjadi pahlawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luvena Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
「Pʀoмιsᴇ (Pᴀʀт 2)」
“Ceritanya panjang sekali, tapi ayahmu yang sialan dengan muka tampang pas-pasan itu … dengan liciknya menarik perhatianku …” jelas Anadriel malu-malu. Rendy menatap datar Ratu Elf itu.
“Kau akhirnya juga jatuh cinta dengan lelaki muka pas-pasan … tapi masih ingin berkelok, dasar ...” gumam Rendy.
“Simple aja, pokoknya ayahmu itu melakukan perjanjian dengan ibuku. Lalu menjodohkanku dengan lelaki brengsek itu—”
“Kau tentu senang bukan?” potong Rendy dengan tatapan menggoda. Anadriel terdiam, dengan wajah setengah merah.
“Ish! Ratu lagi bicara dengarkan dong! Jangan menyela! Kau mau kuhukum gantung, hah!?” omel Anadiel kesal.
“Lanjutkan saja kalau mau,” timpal Rendy menyeruput tehnya.
...***...
“Apa!? Ibu mau menikahkanku dengan lelaki jelek ini?”
“Driel, yakin kau bilang pemuda ini jelek?” tanya Ratu, yang adalah ibu Anadriel. Pemuda di depan hadapan Ratu itu hanya tersenyum. Matanya tertutup rapat dengan poninya yang putih.
Anadriel memerah padam melihat senyuman geli pemuda di depannya.
“Ter-terserah Ibu sih! Ta-tapi … umurku kan berbanding berat dengannya!”
“Yang Mulia Ratu, bagaimana kalau tunggu sampai saya berumur dua puluh lima. Baru saya akan kembali kemari untuk menuntaskan janji saya?” usul pemuda itu tersenyum hangat lagi.
“Baik Nereus, mengingat Ibumu juga ada hubungan dengan kami. Aku tentu bisa memercayaimu … aku berikan benda yang kau inginkan itu..”
“Tunggu! Ibu yakin dengan tampang … Mencurigakan Nereus begitu saja?!” Ratu mengangguk santai.
“Uh!” Anadriel berlari keluar dari ruang singgasana.
Ia mengomel sepanjang langkah kakinya menuju kamarnya.
Wush!
“Mengapa Tuan Putri Driel marah?” Rupanya Nereus sudah melesat ke depan Anadriel dengan senyum khasnya.
“Kau kenapa membuntutiku, hah!?” bentak Driel.
“Aku? Tentu saja pencitraan …”
“Dasar playboy busuk! Untung tampan! Kau hanya merebut posisi raja kan?”
“Hm? Kau khawatir kau tidak bisa memerintah negerimu sendiri ya? Tenang, seusai menikah aku tidak akan melakukan apapun padamu, aku hanya menuntaskan janjiku dengan Ratu, lalu aku akan menjauh darimu. Tapi jangan cariku aku. Bye!”
Pyur!
Seketika Nereus menghilang meninggalkan percikan air.
...***...
“Ayahku cukup misterius, ya. Apa itu adalah ciri khasnya?”
“Ya lelaki busuk itu bahkan terlambat menghadiri acara pernikahan. Lalu saat usai menikah dia menghilang lagi … Aku …”
“Lalu, bagaimana dengan tahtamu? Kau tentu butuh pewaris kan? Aku tidak bermaksud ingin mewarisi.”
“Hm, aku setelah bertemu denganmu. Beride kau akan kujadikan penerus. Tapi tentu saja sebelumnya aku sudah memilikinya. Walau anak angkat,” jelas Anadriel.
“Hm ... kenapa saat ini dia tidak terlihat? Apa anak itu memang suka keluar?” canda Rendy. Namun raut wajah Driel seketika menjadi sedih.
“Hey, apa yang terjadi? Ma-maaf jika aku salah kata …”
“Tidak. Ini bukan salahmu, sebenarnya anak itu telah diculik.”
“Hah!? Bagaimana bisa? Siapa?”
“Demon. Aku sendiri tidak tahu alasan mengapa dia diculik. Aku ingin menyelamatkannya, namun mengingat jika negeriku terancam oleh pihak penculik itu … jadi aku relakan saja dia. Tenang saja, aku akan mencari penerus lain atau mungkin kau Rendy,” jelas Anadriel tersenyum berat.
Rendy mengepalkan tangannya, ia merasa bahwa ini bukan perlakuan seorang ibu. Walau ia selama ini tidak tahu bagaimana rasanya memiliki ibu.
“Kau bilang kau mengangkatnya sebagai anak kan? Lalu inikah yang Namanya seorang ibu!? Aku akan ke rns Demon!”
“Tunggu! Tidak perlu Rendy! Sudah kubilang, aku bisa mengangkat anak lain!”
“Aku mencarinya bukan untuk menjadikannya penerusmu! Aku hanya mencarinya karena dia juga berhak diselamatkan. Kau tidak memikirkan perasaannya? Menunggu-nunggu penyelamat dari Ibunya yang bahkan tidak ada usaha sedikitpun?” Anadriel menunduk malu, ia menyesal dua kali lipat.
“Beritahu aku siapa yang menculik? Tidak, beritahukan saja apapun yang kau tahu.”
“Pengawal Rannel, anakku itu yang selamat mengatakan bahwa penculik itu mengarah ke Pegunungan Himalaya. Para penculiknya diduga Nanaue …” jelas Driel serius. Rendy mengerutkan alisnya.
“Baiklah, berjanji padaku. Berikan apa yang kuinginkan setelah aku kembali dari sana!” tutup Rendy lalu pergi menemui Irine.
...***...
Begitu membuka pintu ruang teh, Rendy dikejutkan Irine yang sudah menunggu di sana. Ia menyandarkan tubuhnya ke tembok dan terpejam.
“Aku sudah mendengar semuanya. Kau yakin? Kita hanya akan membuang waktu! Mungkin saja kita malah sudah mati duluan sebelum selesai ujian! Kau gila, hah!?”
“Pertama aku masih waras. Kedua, aku tidak akan mati. Bagaimana?” Irine menggertakan giginya.
“Aku akan ikut. Toh aku kan rekanmu dalam ujian kali ini!” Rendy tersenyum lebar.
“Terima kasih …”
“Ish! Apa sih?! Gak usah sok imut!” Irine merona.
“Maaf …” Rendy dan Irine menoleh ke arah suara.
Ada lelaki dengan rambut coklat muda, ia menatap Rendy serius. Rendy segera paham jika remaja yang terlihat sebaya itu ingin ikut dengan dirinya dalam misi penyelamatan.
“Ya? Ada perlu apa?” tanya Rendy ramah.
“Izinkan saya ikut anda, tuan.” ucapnya sedikit menundukkan kepala ragu.
“He—” Irine hendak protes namun Rendy menahan Irine.
“Boleh saja, siapa namamu?”
“Luca Avery Corvinal,” jawab pemuda Elf itu.
“Tiga nama? Corvinal? Kau keluarga bangsawan?” terka Rendy
“Eh? Iya, saya putra kedua Acke Bernhard Corvinal. Sa-saya teman kecil Putri Rannel, saya ingin ikut menyelamatkan teman kecil saya.”
“Yakin hanya teman kecil? Tidak lebih dari itu?” Rendy tersenyum kecil. Luca seketika memerah. Telinga panjangnya tertarik ke belakang.
“Te-tentu saja!” jawabnya mantap. Irine langsung terkekeh geli.
“Baiklah, aku tidak keberatan kau ikut. Toh kau bisa jadi informan,” ujar Irine. Rendy mengajak keduanya untuk pergi makan terlebih dahulu. Sebab sejak pagi, perutnya hanya terisi satu tegukan teh saja.
...***...
“Hm ... saya biasanya memanggil tuan putri dengan nona Rannel. Itu pun karena memang nona yang memaksa,” jelas Luca.
“Bagaimana ciri-ciri fisiknya?” tanya Rendy lalu menyuap makanannya.
“Nona memiliki rambut pirang yang indah seperti emas, matanya indah bagai berlian. Kulitnya putih dan halus bagaikan sutra. Senyumnya, seperti senja dan hangat seperti fajar pagi hari—”
“Wah, wah, begini ya Elf remaja yang jatuh cinta?” seloroh Irine memainkan garpunya ke kanan dan kiri.
“Jadi, kalau kau ikut dengan kami … kau tentu saja tidak akan menjadi beban kan? Apa kelebihanmu?” sela Rendy.
“Em … saya bisa pe-pedang …”
“Oh ya? Ayo kita keluar!” ajak Rendy keluar ruangan.
“Kemana, tuan?”
“Jangan panggil tuan, panggil Rendy saja. Kita ke tempat kosong untuk menguji kemampuanmu. Kalau boleh, tunjukkan kami tempat biasa kau berlatih, bagaimana?”
“Hm, baik!” Luca segera berjalan menuntun Rendy dan Irine ke sebuah koloseum kecil yang terlihat sudah kuno. Bangunan itu terlihat beberapa sudah runtuh termakan usia. Bahkan tempatnya terpencil dan cukup jauh dari perkotaan.
“Di sini kami berlatih.”
Luca menunjuk koloseum itu. Ada beberapa Elf saling beradu pedang, ada yang belajar memanah.
Bletak!
“A-auw!” Tiba-tiba satu pukulan mendarat ke kepala Luca.
“Kau membolos latihan, hah!? Luca, kau mau dimarahi ayah lagi ya?!” omel wanita yang memukul Luca tadi.
“Aku kan sudah izin tadi …”
“Siapa mereka ini?” tanya wanita itu menatap curiga ke Rendy dan Irine.
“Mereka adalah kenalan Yang Mulia Ratu, tuan Rendy dan nona Irine …”
“Manusia? Kenalan Yang Mulia? Apa kau ada kaitannya dengan raja yang hilang itu?”
“Wah, wah, wah kakak satu ini pandai juga menganalisanya … apa tidak sebaiknya memperkenalkan dulu nama sendiri?” ketus Rendy.
“Cih! Benar ada kaitannya, ya? Dasar manusia tidak beretika, sudah membuat perjanjian malah kabur. Memalukan! Tidak ada sopan santun!” omel wanita itu melipat lengannya dan membuang muka.
“Ini kakakku, Thrylicca Ohlson Corvinal,” ujar Luca.
“Apa yang kalian lakukan kemari?” tanya Thrylicca dingin.
“Aku hanya datang berkunjung, mengetes adikmu ini.” Rendy menatap tak suka Thrylicca.
“Mengetes adikku? Kau mau cari masalah dengan keluarga Corvinal? Apakah mencari masalah dengan keluarga bangsawan inti belum cukup untukmu?” jawab Thrylicca sinis.
“Maaf nona, tapi justru di sini yang terlihat tidak ada tata krama bukannya Anda? Saya kemari sebagai tamu kenalan Yang Mulia Ratu. Dan inikah perlakuan yang diajarkan keluarga Corvinal?”
Thrylicca seketika merasa dirinya terpojokkan. Ia menatap kesal, amarahnya memuncak. Tapi mengingat nama keluarganya juga dipertaruhkan. Akhirnya memilih untuk diam.
“Cih, baiklah! Lakukan saja sesukamu!” tutup Thrylicca lalu pergi. Ia berjalan sambil mengayunkan pedangnya dengan kesal.
“Baiklah, ambil pedangmu. Aku akan mencoba bertarung denganmu,” ucap Rendy tersenyum lebar. Seusai Luca pergi, Rendy menutupkan tudungnya dan berjalan ke tengah untuk bertarung.
ceritanya seru loh. udah kasih hadiah ya Thor..
semangat 🔥🔥