Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
"Mama..." panggil Alisya pelan di dalam dekapan ibunya.
"Iya, Sayang?"
"Alisya bahagia cuma ada Mama di sini," bisik Alisya polos sambil melingkarkan lengan mungilnya di leher Alya.
Alya memejamkan mata, mengecup pucuk kepala putrinya. "Maka Mama akan memastikan, tidak akan ada satu orang pun yang bisa merenggut kebahagiaan ini dari kita, Alisya."
Alisya hanya diam memeluk ibunya, menyandarkan kepala mungilnya di bahu Alya dengan rasa aman yang utuh.
Alya melirik jam dinding tua di sudut kamar. Usai merapikan seragam TK Alisya dan memastikan tas ransel merahnya terpasang rapi, ia menepuk pelan punggung sang putri.
"Sudah, ayo Sayang, saatnya berangkat sekolah," kata Alya lembut.
"Iya, Ma," angguk Alisya dengan senyum kecil yang kembali mengembang.
Mereka pun keluar dari rumah. Namun, karena pertengkaran hebat antara Alya dan Andi tadi pagi, beberapa tetangga yang berdiri di lorong gang tampak memperhatikan kepergian mereka dengan tatapan sinis.
Begitu Alya dan Alisya melangkah agak jauh, para tetangga itu pun mulai berbisik-bisik dan menggosipinya.
"Lihatlah janda itu, entah dosa apa yang telah dia perbuat sehingga mantan suaminya meminta kembali uang yang pernah diberikan," kata seorang ibu bersanggul longgar sambil bersedekap dada.
"Iya, ya! Malu-maluin banget didengar satu gang!" sahut tetangga lain dengan nada mencibir. "Wanita seperti itu emang pantas digituin. Aku udah bilang sama ibu kontrakan buat usir dia dari sini, tapi ibu kontrakan bilang kasihan."
"Halah, kasihan dari mananya? Palingan cuma nyusahin! Udah miskin, bawa masalah lagi!" cetus wanita pertama makin menjadi-jadi.
Alya sebenarnya mendengar setiap kata, nada hinaan, dan bisikan tajam dari warga sekitar.
Langkah kakinya sempat tertahan sepersekian detik. Pendengarannya yang sangat terlatih sebagai mantan pimpinan dunia bawah tanah membuat suara pelan sekalipun terdengar sangat jelas di telinganya.
Namun, Alya memilih untuk menahan diri. Ia menggenggam jemari Alisya lebih erat, tak ingin putri kecilnya terkontaminasi oleh racun kata-kata dari orang-orang yang tidak tahu apa-apa.
"Mama... Tante-tante itu ngomongin kita ya?" tanya Alisya polos mendongak menatap ibunya.
Alya berlutut sebentar di samping Alisya, mengusap lembut pipi mungil sang anak dan memberikan senyuman paling hangat.
"Nggak kok, Sayang. Mereka cuma lagi ngobrol biasa," bisik Alya menenangkan. "Alisya fokus sama sekolah hari ini ya? Nanti kalau Alisya dapat bintang lagi dari Bu Guru, Mama belikan es krim favorit Alisya. Mau?"
Mata Alisya langsung berbinar-binar. "Mau, Ma! Alisya mau dapat bintang banyak hari ini!"
"Pintar," kata Alya. "Ayo, jalan lagi."
Mereka kembali melanjutkan langkah menuju sekolah TK Bintang Kecil.
Sepanjang perjalanan, Alya memastikan pandangan Alisya hanya tertuju pada hal-hal yang menyenangkan, meski di dalam kepalanya, roda pembalasan dan perlindungan untuk masa depan anaknya terus berputar.
Di Depan Gerbang TK Bintang Kecil
Setibanya di depan sekolah, suasana ramai anak-anak dan orang tua murid menyambut mereka.
Alisya langsung melambaikan tangan saat melihat teman sekelasnya dari kejauhan.
"Mama, Alisya masuk dulu ya!" pamit Alisya riang.
"Iya, Sayang. Hati-hati ya, jangan lari-lari," pesan Alya sambil mencium dahi Alisya.
"Dah, Mama!"
Alisya berlari kecil menembus gerbang sekolah.
Alya tetap berdiri di tepi jalan, memperhatikan sosok mungil itu hingga hilang di balik pintu kelas.
Begitu Alisya tak lagi terlihat, kehangatan di wajah Alya mendadak menguap. Wajahnya kembali dingin dan tegas. Ia merogoh ponsel terenkripsinya dari balik jaket.
Sebuah pesan masuk baru saja diterima dari Leon:
[Madam, Ibu Kontrakan tempat Anda tinggal baru saja didatangi oleh beberapa orang suruhan yang mengaku menerima bayaran dari pihak keluarga Ranti untuk membuat Anda tidak nyaman dan mengusir Anda.]
Alya menatap layar ponsel itu dengan mata menyipit tajam. Senyuman dingin yang mengerikan terukir di bibirnya.
"Bahkan setelah bangkrut pun, sisa-sisa benalu itu masih berusaha mengganggu hidupku," desis Alya pelan.
Ia segera mengetikkan perintah balasan untuk Leon:
[Beli seluruh tanah dan bangunan kontrakan di daerah tempat tinggalku hari ini juga atas nama yayasan Alisya. Buat para tetangga yang suka bergosip dan orang-orang suruhan itu tahu... siapa pemilik sebenarnya dari tempat yang mereka pijak.]
Leon menjawab dengan sangat cepat:
[Laksanakan, Madam Alya. Dalam dua jam, seluruh sertifikat kepemilikan akan ada di tangan Anda.]
Alya menyimpan ponselnya kembali. Ia memutar badannya dan berjalan tenang menyusuri jalanan, siap membereskan setiap pengganggu yang berani menghalangi kebahagiaan putri kecilnya.