....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Truth or dare
Malam itu, di tepi pantai terasa hangat. Api unggun baru saja dinyalakan. Nyala apinya memantul di pasir, menari-nari diterpa angin laut.
Suasana ramai. Sebagian mahasiswa duduk melingkar di dekat api unggun sambil bernyanyi dan bermain gitar. Sebagian lain memilih nongkrong di teras villa. Ada juga yang masih di dalam.
Di tepi pantai, anggota perempuan sibuk mengurus makanan. Anggota laki-laki ada yang ikut membantu, ada juga yang duduk santai sambil memetik gitar.
Di depan alat panggangan, Lisa dan Cheyrin duduk bersila. Mereka membakar sosis, memotong jagung, dan menyiapkan bumbu lainnya.
Walaupun di antara mereka masih ada sedikit rasa kecanggungan karena masalah yang lalu, keduanya berusaha untuk kembali akrab seperti biasa.
Tiba-tiba Steven datang menghampiri.
"Butuh bantuan gak?"
Lisa langsung menoleh dan tersenyum. "Boleh, tolong kipasin ya"
Cheyrin terus memotong sosis. Lisa menata tusukan. Sementara Dara di samping mereka sibuk meracik saus di dalam mangkok kecil.
Dari arah api unggun, Jayden yang semula duduk bersama anggota laki-laki lain sambil bermain gitar, melirik ke arah kelompok perempuan.
Begitu melihat ada Steven di sana, ia langsung bangkit dan berjalan mendekat.
"Gue mau bantuin juga" ucapnya tiba-tiba.
Semua orang menoleh.
Mereka saling pandang, mencari-cari pekerjaan apa yang bisa diberikan pada Jayden.
Dara yang pertama angkat suara. Ia tersenyum. "Jay sini coba cicipin ini saus nya. Udah pas belom?"
Jayden menghampiri Dara. Dara lalu menyuapkan saus di ujung sendok teh ke mulut Jayden.
Cheyrin hanya menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada pisaunya di atas talenan.
"udah, kurang garem dikit" kata Jayden setelah mencicipi.
Dara tersenyum senang. "oh gitu, okey deh"
Jayden kembali berdiri di dekat Cheyrin dan Lisa. Asap dari panggangan berhembus ke arahnya.
"Eh, lo kalau ngipasin jangan ke arah sini dong, asepnya kena mereka nih" ucapnya pada Steven.
"Apaan, orang gue ngipasnya pelan doang" jawab Steven.
"Lo liat dong asepnya kena gue nih, sesak napas gue" balas Jayden sambil terbatuk-batuk.
Steven mengangkat bahu. "Ya lo ga usah di situ, sana pergi aja"
Cheyrin dan Lisa saling melirik.
Jayden melangkah maju. "Enak aja, mending awas deh biar gue aja yang ngipas"
"Gak, ni tugas gue" tolak Steven sambil menyembunyikan kipas ke belakang tubuhnya.
"sini kipasnya" pinta Jayden.
"Apaan si lo, udah sana deh, rusuh banget"
Desahan frustasi lolos dari bibir Cheyrin.
Brak
Ia menepuk talenan di atas meja dengan cukup keras.
"Stop! mending kalian berdua sana ke api unggun aja, biar kita yang ngurus semua ini"
Keduanya terdiam dan saling pandang.
Cheyrin merebut kipas dari tangan Steven, lalu mendorong pelan punggung mereka berdua agar menjauh dari area masak.
Akhirnya Jayden dan Steven kembali ke arah api unggun dengan wajah sama-sama kesal.
Begitu sampai, Juno langsung tertawa.
"wooo pertarungan kipas vs cemburu dimenangkan oleh Cheyrin 1-0"
Tawa cowok-cowok lain pecah. Jayden hanya duduk dan melempar kerikil ke dalam api. Steven pura-pura fokus memetik gitar.
Dari kejauhan, Cheyrin menghela napas. "Ribut mulu" gumamnya pada Lisa.
Lisa menahan tawa sambil ngebalik sosis. "tau tu."
---
Setelah semua orang selesai makan, mereka membuat lingkaran besar di sekitar api unggun. Pasir masih terasa hangat. Cahaya api memantul ke wajah masing-masing.
Game dimulai.
Aturannya simpel: sebuah botol air mineral diputar bergiliran sambil semua orang bernyanyi. Saat lagu berhenti, botol berhenti ke siapa, dialah yang kena.
Harus pilih Truth or Dare.
Pertanyaannya diambil dari kotak yang sudah diisi macam-macam.
Kalau nolak, hukumannya makan papper chips paling pedas.
Sebelum mulai, Juno berdiri dan menepuk tangan.
"perhatian! game ini demi keharmonisan. Yang bohong sumpah bibirnya ketarik, yang nolak harus antri kamar mandi dari sekarang, karena harus makan chips pedas tapi nagih. Jadi jujur aja ya guys"
Semua orang langsung tertawa.
Cheyrin dan Jayden duduk berjauhan. Cheyrin berkumpul dengan kelompok perempuan. Jayden di sisi sebelah kirinya bagian laki-laki.
Putaran pertama.
Botol diputar. Semua bernyanyi. Lagu berhenti.
Botol berhenti tepat di depan Juno.
Juno langsung mengangkat tangan. "lah kok gue sih, curang nih"
Ketua tim tersenyum. "Truth or Dare?"
"Truth lah, gue anak jujur" jawab Juno pede.
Ketua mengambil kertas dari kotak dan membacakan.
"siapa dosen yang paling lo gak suka"
Tawa semua orang langsung pecah.
Juno langsung pasrah, mukanya melas. "anjir pertanyaan jebakan"
Dia terdiam untuk berfikir 3 detik, lalu menyerah. "yaudah gue makan chips aja"
Juno mengambil papper chips dan mengunyah sekali.
Wajahnya langsung memerah padam. Matanya memejam.
"anjir pedas banget woi"
Semua orang tertawa. Jayden ikut melempar candaan. "makanya jangan sok jagoan Jun"
Juno buru-buru minum air sampai setengah botol untuk menetralisir pedasnya.
Game berlanjut.
Putaran berikutnya. Botol berhenti di Dara.
"Truth or Dare?" tanya ketua.
"Truth" jawab Dara pelan sambil tersipu.
Ketua membuka kertas. "siapa mantan terindah lo"
Cheyrin diam. Ia menatap ke arah Jayden lalu ke api unggun.
Jayden di seberang juga menoleh, tapi arahnya ke Cheyrin.
Dara tersipu, lalu menjawab dengan suara ceria seakan memberi kejutan.
"Jayden"
Sorakan langsung meledak. Ada yang tepuk tangan, ada yang mengejek sambil menyenggol-nyenggol Dara.
Anak perempuan di sebelah berseru. "wah jadi Jayden itu mantan nya dara, baru tau gue"
Lisa langsung menoleh ke arah Cheyrin yang masih menunduk.
Dara menutup wajahnya dengan kedua tangan, malu tapi senang.
Jayden sama sekali tidak menanggapi hal itu. Wajahnya datar. Matanya masih ke arah api.
Game terus berjalan.
Hingga akhirnya botol berhenti di Jayden.
"Truth or Dare?"
"Truth" jawab Jayden singkat.
Ketua membaca kertasnya.
"siapa cewek tercantik di sini"
Semua langsung bersorak.
Juno ikut nimbrung. "wah kalau gue sih udah tau jawabannya Jayden"
Jayden menegakkan kepalanya. Pandangannya lurus ke depan api unggun.
"Cheyrin" jawabnya.
Sorakan makin pecah.
Cheyrin menoleh cepat ke arah Jayden. Pipinya langsung merah. Ia buru-buru menunduk lagi.
Steven yang duduk di sebelah Juno ikut menoleh. Tatapannya sinis ke arah Jayden.
Dara yang tadinya sumringah kini diam membisu. Senyumnya hilang.
Juno bertepuk tangan. "tuh kan dah ketebak"
Permainan kembali berjalan.
Beberapa putaran kemudian, botol berhenti di Cheyrin.
Jantungnya berdegup.
"Truth or Dare?"
Cheyrin menggigit bibir. "Dare"
Ia memilih dare. Karena merasa kalau truth, pertanyaannya bisa membongkar rahasia yang tidak ingin ia katakan.
Ketua mengambil kertas dan membacakan.
"cium orang di depan lo"
Semua orang langsung saling menoleh dan terkejut.
Cheyrin mengerutkan kening. Orang yang tepat di depannya, terhalang api unggun, adalah Steven.
Juno langsung menyeletuk "Wah bahaya, pacar orang itu"
Sementara Lisa ikut menoleh sinis ke arah Cheyrin.
Cheyrin langsung bersuara. "kak, masak gitu, emang gak ada yang lain?"
Ketua mengangkat bahu. "ya emang tertulis di kertas itu"
Cheyrin menahan napas. Lalu tanpa sadar, matanya melirik cepat ke arah Jayden yang duduk di sebelah kirinya.