Indonesia
NovelToon NovelToon
Mantan Narapidana Jadi Istri Ceo

Mantan Narapidana Jadi Istri Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Romansa Fantasi
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.

Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.

Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ide Gila Vivian

Universitas Hua Qing.

Vivian baru saja memasuki kelas. Ia menghampiri mejanya, duduk, lalu meletakkan buku di atas meja.

Namun, ketika tangannya masuk ke dalam laci, tiba-tiba ia terdiam dan membelalakkan mata.

Ada sesuatu yang bergerak di dalamnya!

Vivian segera menarik tangannya sambil menggenggam benda tersebut. Ketika melihat benda yang ada di tangannya, ia menyadari bahwa itu adalah seekor ular.

“Ahhh!”

Teriakan Vivian mengejutkan seluruh penghuni kelas. Beberapa mahasiswa yang melihat ular di tangannya langsung berteriak ketakutan dan berlarian ke sudut ruangan.

“Ahhh! Ular!”

Vivian menatap ular yang menggeliat di tangannya dengan wajah kesal.

“Kenapa ular jelek ini ada di sini?”

Plak! Plak!

Vivian menepuk kepala ular itu dengan kesal, lalu mengangkatnya di hadapan teman-teman sekelasnya.

“Kalian cepat katakan, siapa yang memasukkan ular ini ke dalam laci mejaku?”

“Ahhh! Jauhkan ular itu!” teriak beberapa mahasiswa serempak.

Vivian justru menghampiri mereka sambil mengangkat ular tersebut.

“Katakan, atau kulempar ular ini ke arah kalian!”

“Jangan mendekat!” seru salah seorang mahasiswa laki-laki sambil mundur ketakutan.

“Berani berbuat, tetapi tidak berani mengaku. Pengecut!” ejek Vivian.

Ia langsung menarik salah seorang mahasiswa laki-laki ke hadapannya.

“Jangan! Menjijikkan sekali!” jerit mahasiswa itu sambil berusaha melepaskan diri.

“Katakan siapa pelakunya, maka aku akan melepaskanmu,” ujar Vivian mengancam.

“Di... dia yang memasukkan ular itu ke dalam laci mejamu!” jawab mahasiswa tersebut sambil menunjuk temannya yang lain.

“Hei, jangan asal menuduh!” bantah mahasiswa yang ditunjuknya.

Vivian langsung menghampirinya dan mencengkeram kerah bajunya.

“Wilson, jangan bermain-main denganku! Kalau tidak, jangan salahkan aku kalau kau harus menelan ular ini hidup-hidup!”

Wilson langsung pucat pasi.

“Bukan salahku! Vivi yang menyuruhku! Dia mengancam akan membuat keluarganya membatalkan kerja sama dengan perusahaan papaku kalau aku tidak menuruti perintahnya!” ungkap Wilson ketakutan.

Vivian mendengus jijik.

“Dasar bodoh! Sejak kapan Vivi Wei berhak menentukan keputusan bisnis? Dia bahkan tidak mengerti apa pun tentang bisnis!”

Setelah mengatakan itu, Vivian melepaskan Wilson dan berjalan keluar kelas sambil tetap memegang ular tersebut.

Tatapan gadis itu berubah dingin.

“Vivi Wei, kau ingin menakutiku? Jangan salahkan aku kalau kali ini aku bertindak lebih kejam!” gumam Vivian.

Ponsel Vivian tiba-tiba bergetar. Saat mengeluarkan ponselnya dari saku, ia melihat nama Mike Wei, ayahnya, tertera di layar.

Vivian mengangkat panggilan itu dengan wajah kesal.

“Halo, ada apa lagi?” tanyanya ketus.

“Pulang sekarang juga! Nenek ingin bertemu denganmu!” jawab Mike dari seberang sana.

“Nenek? Sejak kapan aku punya nenek?” balas Vivian sinis.

“Jangan bicara sembarangan! Cepat pulang sekarang juga!” bentak Mike.

Vivian mendengus.

“Dia adalah neneknya Tom dan Vivi, bukan nenekku. Dan jangan suka memerintahku! Aku bukan orang yang bisa kalian suruh sesuka hati.”

Vivian berhenti sejenak, lalu tersenyum sinis.

“Tapi tenang saja, aku akan pulang. Sekalian membawa kado besar untuk kalian!”

Setelah mengatakan itu, Vivian langsung memutuskan panggilan tanpa menunggu jawaban Mike.

Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku, lalu melirik ular yang masih di tangannya.

“Jangan salahkan aku, karena dia telah mengirimmu untuk menakutiku. Jadi aku akan mengembalikan mu padanya dalam keadaan berbeda,” gumam Vivian sebelum melanjutkan langkahnya.

Vivian kemudian menemui Mark Yang yang sedang berbaring di bangku panjang di halaman Hua Qing.

"Mark Yang!" seru Vivian sambil menghampiri pria itu.

"Vivian, kau sudah bisa pulang? Aku sedang menunggumu," sahut Mark yang langsung bangkit dari duduknya.

"Carikan aku dapur. Aku mau memasak sesuatu," kata Vivian.

"Dapur? Kenapa tidak pulang dan memasak di rumahmu saja?" tanya Mark heran.

"Terlalu jauh dari keluarga Wei. Aku butuh dapur secepatnya," jawab Vivian sambil mengangkat ular yang dibawanya ke hadapan Mark.

Mark terdiam sejenak. Kedua matanya langsung membulat saat melihat ular tersebut.

"Aahh!"

Mark menjerit dan langsung berlari secepat mungkin.

"Woi, kau mau ke mana? Cepat carikan dapur untukku!" teriak Vivian sambil mengejar Mark.

"Jangan mendekat!" teriak Mark ketakutan.

Mark berlari meninggalkan halaman Hua Qing, bahkan sampai berlarian ke berbagai sudut kampus karena ketakutan. Sementara itu, Vivian terus mengejarnya tanpa henti.

"Jangan lari!" teriak Vivian.

"Jangan mengejarku! Buang ular itu!" teriak Mark yang akhirnya memanjat sebuah pohon.

Vivian berhenti di bawah pohon, lalu mendongak menatap Mark.

"Beritahu aku di mana ada dapur yang bisa kugunakan sementara!"

"Vivian Wei, kau membawa ular menjijikkan itu dan ingin meminjam dapur? Siapa yang sudi meminjamkan dapur untukmu? Jangan aneh-aneh!" jawab Mark sambil memeluk batang pohon dengan erat.

"Bagaimana kalau aku memasak di rumahmu?" tanya Vivian sambil tetap menatap ke atas.

"Tidak bisa! Aku bisa dibunuh oleh kakekku! Cepat buang ular itu!" teriak Mark panik.

Vivian mengerutkan keningnya.

"Cepat turun sekarang juga! Aku ini bibimu, kau harus mendengarkan perintahku!" katanya dengan nada tegas.

"Aku baru ingat, kau sudah menikah dengan pamanku!" seru Mark sambil mengeluarkan ponselnya.

Tanpa membuang waktu, Mark segera menghubungi Delvin.

"Halo!" terdengar suara Delvin dari seberang telepon. Saat itu, pria tersebut sedang berada di perusahaannya.

"Paman, cepat tolong aku! Bawa pergi istrimu!" jerit Mark dengan suara panik.

Delvin yang mendengar teriakan keponakannya itu langsung mengernyitkan kening.

"Ada apa dengan kalian?"

"Paman, istrimu terus mengejarku! Kalau kau tidak datang sekarang juga, kau akan kehilangan keponakanmu!" jawab Mark panik.

"Mark Yang, cepat turun! Aku butuh bantuanmu!" Suara Vivian terdengar jelas hingga ke seberang telepon.

Delvin yang mendengar suara istrinya langsung bangkit dari kursinya dengan raut wajah suram.

"Sediakan mobil!" perintahnya tegas.

"Direktur, sepuluh menit lagi ada rapat," kata Jo mengingatkan.

"Istriku sedang mengejar pria lain. Kalau aku tidak segera pergi, aku bisa kehilangan istriku!" jawab Delvin sambil melangkah pergi dengan kesal.

Jo terdiam melihat atasannya meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa.

"Padahal yang dikejar adalah Tuan Muda Mark. Mana mungkin dia bisa hilang?" gumam Jo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Jo menggelengkan kepala, lalu buru-buru mengikuti Delvin.

Sementara itu, Delvin terus melangkah dengan wajah masam.

"Sudah menikah, masih saja suka mengejar pria lain!" gerutunya kesal.

***

Sementara itu, Mark yang masih ketakutan tetap berada di atas pohon sambil memeluk batang pohon itu erat-erat. Wajahnya tampak tegang, seolah-olah takut turun dan menghadapi sesuatu yang mengerikan di bawah sana.

Vivian mendongak menatap Mark yang belum juga turun dari pohon. Bukannya merasa kasihan, gadis itu justru teringat sesuatu yang ingin ditanyakannya.

"Mark, apakah kau tahu di mana ada peternak ular?" tanya Vivian.

Mark menunduk menatap Vivian dengan ekspresi bingung.

"Untuk apa kau mencari peternak ular?" tanya Mark.

"Aku ingin beli seratus ekor ular, sebagai kado untuk keluargaku," jawab Vivian santai.

"Ha? Vivian Wei, aku mulai curiga bagaimana bisa kau menjadi peringkat satu? Jadikan ular sebagai kado?" ucap Mark dengan mata membelalak.

"Jangan banyak bicara, berikan alamatnya, aku ingin mengirim untuk mereka," kata Vivian.

1
MataPanda?_
bagus hajar terus.. 😄😄
semangat trus kak 💪💪
erviana erastus
🤣🤣🤣🤣 kocak
💝F&N💝
thor Linda, ayo up lagi
erviana erastus
stlh habis supx muntah semua 🤣🤣😏
💝F&N💝
ayo up lagi.
sudah di tunggu nih
erviana erastus
drama dimulai 🤣🤣🤣
erviana erastus
kasihanx si ular kena tampar 🤣
Permata_tanty
🤣🤣🤣
💝F&N💝
aku sudah vote ya

ayo lanjut lagi.
lucu dan menegangkan
Maria Mariati
Tak ampun, baru buka buku udah sakit perut ku /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Kinara Widya
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
erviana erastus
sudah sepuh malah bodohx minta ampun gtu dah kalo dibutakan sama rasa benci eh nek kamu berani ngelawan delvin trs kalo kamu tau kebenaran apa tindakanmu ckckck
erviana erastus
pemenang nya delvin yang 🤣
aku
yaelah bilang aja cemburu gitu vin 🤣🤣
aku
hayoloh si gunung es udah meleleh, smpe bkin mleyot yg baca 🤣🤣
aku
udah vi jngan nego lagi. drpd kluarga dajjal gangguin mulu nnti, jd nyonya besar aja udah. 😁😁
aku
mau kabur dia pagi2 🤣🤣
aku
jandanya tor, bukan jandamu 🤣🤣🤣
aku
pepet trosss jan kasih kendor nnti kabur 🤣🤣
aku
assem vivian to the point amat 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!