Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Penghancur Rantai Takdir

Sang Penghancur Rantai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: * z *

Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.

Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.

Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.

Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32_Awal dari bencana

[Setelah Pembicaraan Itu]

Setelah pembicaraan itu kami memutuskan untuk melakukan rapat strategi untuk mengalahkan gereja dan penguasa kota. Tapi sebelum itu, aku meminta mereka untuk memperkenalkan diri lagi secara formal di rapat nanti.

Walaupun sempat ada kejadian yang membuat rapat menjadi tegang, untungnya masing-masing perwakilan ras mampu mengatasinya tanpa perlu bantuanku.

[1 Minggu setelahnya]

Setelah rapat strategi sudah selesai, masing-masing dari kami mulai melakukan tugasnya.

Aku sendiri beberapa kali keluar masuk kota untuk mengumpulkan informasi dan mencari uang dengan bekerja sebagai kuli angkut di beberapa tempat.

*BRUK.*

Aku menaruh karung terakhir lalu menghela napas.

"Huhh... benar-benar melelahkan."

Aku melirik cincin di jariku. Cincin kamuflase yang kudapat dari Mira.

_Benar-benar hebat. Tidak kusangka adiknya Roth bisa membuat benda seperti ini, walaupun hanya tahan 3 jam sehari._

Seorang pria paruh baya memanggilku sambil mengeluarkan kantung koin. Dia tersenyum ramah.

"Hei nak, kalau kau mau, aku bisa memasukkanmu ke akademi ksatria suci di ibukota."

Aku langsung membungkuk cepat dan berlari dari tempat itu.

"Terima kasih, tapi tidak perlu!"

Setelah itu aku berjalan menyusuri kota.

Semakin lama aku berjalan, semakin jelas aku melihat keburukan pemerintahan kekaisaran. Para bangsawan selalu bertambah kaya karena kekuasaan, sementara penduduk selalu bertambah miskin karena dampaknya.

_Benar-benar merepotkan._

Saat aku berjalan, aku tidak sengaja melintasi sebuah pabrik yang memproduksi tongkat sihir dan senjata. Tempat itu sangat besar. Cerobong asapnya mengepul hitam.

*DUM! DUM! DUM!*

Suara dentuman palu terdengar bahkan dari luar pagar.

"Ouh iya, aku menyuruh Dio untuk mengumpulkan beberapa bahan dari tempat ini."

Saat aku sedang mengamati bangunan itu, tiba-tiba ada suara yang tidak asing memanggilku dari belakang.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Sora?"

Aku menoleh ke belakang dan sedikit tersentak. Mataku menyipit.

"Apa yang kau lakukan dengan penutup wajah aneh itu? Dio."

Dio langsung menunjuk penutup wajahnya yang kebesaran.

"Ahh.. ini? Mira bilang kain ini bisa untuk mengubah penampilan kami. Dia sudah menunjukkan buktinya juga waktu itu."

Aku langsung membuang muka.

_Ahh.. aku mengerti. Mira sengaja membuat mereka percaya bahwa dia bisa membuat alat sihir yang dapat merubah penampilan seseorang._

Aku menghela napas dan menatap mereka.

"Jadi, apa kalian ke sini untuk mengumpulkan bahan-bahan yang kuminta?"

Dio mengangguk dan menoleh ke belakang.

"Seperti yang kau lihat, kami sedang mengumpulkan minyak aether bekas dan beberapa batu sihir dari berbagai elemen yang tidak terpakai. Ouh iya, aku menemukan batu ini di antara bebatuan sihir itu."

Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah batu berwarna merah cerah yang berdenyut pelan.

*WUNG...*

Aku yang melihat batu itu langsung tersentak. Mataku membelalak, bahuku meninggi.

"Tidak mungkin... rune!?"

Aku langsung mengambil batu rune itu dan menatapnya dengan dahi mengerut.

_Rune adalah batu yang sangat sulit didapat karena hanya muncul di dalam tubuh monster tingkat S, itupun peluangnya sangat kecil. Kenapa benda seharga 1000 keping emas ini bisa ada di tempat seperti ini?_

[Ingatan Masa Lalu]

Dia mengusap-usap salib batu merah itu ke pipinya. Menjilatnya. Menggosokkannya ke bibirnya dengan penuh cinta. Matanya sayu dan kosong.

[Akhir Ingatan masa lalu]

Mataku melotot. Tanganku langsung mengepal erat batu itu.

"Ouh iya... orang itu juga memiliki batu seperti ini..."

Dio menatap wajahku dan mengerutkan dahinya.

"Anu.. Sora, apa ada yang salah dengan batu itu?"

Tubuhku tiba-tiba bergetar. Merinding menjalar dari tengkuk sampai punggung.

Aku langsung menatap ke arahnya dan menepuk wajahku sendiri.

*PLAK!*

"Oke, tetap tenang, fokus..."

Aku langsung berbalik dan berlari.

"Dio! Tolong percepat proses penyiapan bahannya, aku mohon!"

Dio yang melihatku berlari langsung mengerutkan alisnya, menatap punggungku tajam.

"Sepertinya dugaan Roth benar, anak itu sedang menyembunyikan sesuatu dari kami."

 

Aku terus berlari di jalanan kota. Napas ku mulai tidak teratur, keringat bercucuran membasahi pelipis.

_Sial... kemunculan rune itu bukan kebetulan. Dia memancingku. Dia tahu aku akan mengenali batu itu._

Saat aku berlari ke arah alun-alun kota, aku tidak sengaja berpapasan dengan seorang wanita tua yang berjalan dengan tongkatnya.

*TOK... TOK...*

Wanita itu berhenti tepat di depanku. Kepalanya menunduk.

"Nampaknya kau sudah tahu rencanaku!?"

Mataku membelalak. Aku melirik ke arahnya dan seketika—

*SUT!*

Sebuah bilah belati menancap tepat di mataku.

"AHH... MATAKU! MATAKU!"

*BRUK!*

Aku terjatuh dan berguling di tanah, berteriak. Aku mencabut belati itu. Bola mataku ikut tercabut. Darah mengucur deras membasahi jalanan.

"KYAAAA!"

Penduduk yang melihat langsung panik dan berlarian.

Wanita tua itu berjalan pelan ke arahku, lalu tersenyum lebar. Kulitnya retak.

*KRETAK... KRETAK...*

Tubuhnya berubah kembali ke wujud semula. Seorang pria jangkung dengan salib merah di dada.

Dia mencekikku dan mengangkat tubuhku tinggi. Luka di mataku mulai beregenerasi, tapi rasa sakitnya menjalar ke seluruh saraf.

"Chh... padahal kau sudah diberi tubuh yang begitu indah, tapi kau malah menyia-nyiakannya. Lebih parahnya lagi kau malah membuang asal kekuatan terbesarmu!"

*BRAKK!*

Dia membantingku ke bawah. Jalanan alun-alun langsung retak. Debu berterbangan.

"Asal kau tahu saja, aku benar-benar sangat iri kepadamu, tapi kau malah—"

Dia tersentak. Matanya melotot.

Yang dibantingnya hanya sepotong lengan kiriku yang sudah hancur berkeping-keping.

"Mustahil!"

Aku muncul dari balik debu. Lenganku beregenerasi dengan sangat cepat.

*KREK... KREK...*

_Legacy Creation Mana._

Aku menciptakan rantai hitam yang mengikat tubuhnya, lalu menebaskan pedang mana ke arahnya.

"Matilah!"

*CLANG! CLANG! CLANG!*

Dia menghancurkan pedang dan rantaiku dengan beberapa tebasan pedang mythril.

_Gawat! Ini benar-benar gawat!_

*SLASH!*

Dia menebas tubuhku menjadi dua. Organ dalam dan darahku berceceran di mana-mana. Tubuhku terasa sangat dingin. Pandanganku mulai kabur.

"Apa... aku... akan... mati?"

*Dug... dug...*

Tubuhku mulai beregenerasi lagi. Dimulai dari organ dalam, lalu organ luar tumbuh dengan sangat cepat.

Dia memandangku sambil menggigit bibirnya sampai berdarah, dahinya mengerut dalam.

"Kau tidak layak memiliki tubuh ini."

Dia duduk di hadapanku dan menempelkan salib merahnya di kepalaku.

"Umumnya aku harus membunuh seseorang untuk mendapatkan tubuhnya, itu aturan Dominis Fallen. Tapi aturan itu tidak berlaku untuk tubuh abadi sepertimu. Karena kau tidak bisa mati, jadi apa boleh buat..."

Batu rune di salibnya mulai bersinar terang.

*WUUNGG!!!*

Tubuhnya perlahan menjadi debu dari ujung kaki. Dia melihat tangannya sendiri yang mulai hancur.

Matanya yang tadinya penuh iri, untuk sepersekian detik terlihat kosong dan sayu. Seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.

"Ah..."

Dia tersenyum kecut, alisnya terangkat menahan sesuatu yang mirip sesal.

"Dasar, kau benar-benar membuatku kerepotan seperti ini."

*HEMBUS...*

Tubuhnya hancur total menjadi debu hitam pekat. Rune di salibnya ikut menghilang menjadi partikel cahaya merah.

Angin sore bertiup dari arah gerbang kota.

*WUSSSHH...*

Debu itu tidak langsung hilang. Debu itu tertiup angin, berputar-putar pelan di udara, melintas di depan wajahku yang masih tergeletak, sebelum akhirnya terbawa angin dan menghilang di antara udara yang ada

Di kejauhan, suara langkah ksatria mulai terdengar.

*DRAP! DRAP! DRAP!*

Kesadaranku sudah hilang sepenuhnya. Tubuhku terasa terus berguncang. Aku bisa mendengar suara seseorang yang tidak asing di dekat telingaku.

"SORA! SORA! BANGUN! HEI, SORA!" Suara Stella. Teriakannya pecah, panik dan serak. Dia mengguncang tubuhku dengan sangat keras.

"Sora! Jangan mati! Tolong jangan mati!"

_Ahh... suara itu... benar-benar menenangkan..._

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!