Setelah menyegel Bangsa Yao, bangsa pembawa kerusakan dan kehancuran. Dunia memulai lembaran dari nol kembali. Lambat laun kisah-kisah menjadi sejarah. Sejarah menjadi legenda. Hingga akhirnya dilupakan...
Tentang perjalanan seorang pemuda menuju tahta tertinggi.
***
Pak Tua Shi menangis. Ini adalah air suci. Air yang mampu membuat siapapun mengubah gubuk reyot menjadi halaman immortal.
Airnya mengalir dan meresap ke tanah, terbuang sia-sia.
Ini sangat langka dan ternilai harganya.
Ini tidak ada di dunia ini.
Ini akan menjadi rebutan para bigshot di seluruh dunia.
Ini akan membuat sekte ampas menjadi penguasa semesta.
Untuk mandi .... Hanya untuk mandi ...
Pak Tua Shi pingsan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mumi
Li Hua berjalan di sebuah gang sepi. Seseorang menghadangnya.
"Mana suratnya? Cepat berikan padaku!" tanya Shen Mubai tergesa-gesa.
"Surat? Untuk Sekte Mutiara Terbit? Bukan aku yang membawanya, Tuan tidak memberiku surat pagi ini," jawab Li Hua.
"Lalu?" Shen Mubai mencoba menggali informasi.
"Sepertinya surat itu dikirim oleh Zhao Ren. Tadi pagi, kulihat anak itu berlari keluar dari paviliun," Li Hua mengingat.
Mao Yu sudah menduga ini. Ia memanggil Zhao Ren dan memberinya surat untuk dikirim ke Guild Makelar, yang isinya permintaan tebusan untuk penerus utama Sekte Mutiara Terbit. Zhao Ren yang patuh segera menuntaskan misinya.
Shen Mubai merenung, lututnya lemas.
"Kita berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa," gumamnya.
Siang hari di taman tengah paviliun. Li Hua mendorong kursi roda, di mana duduk seorang pesakitan yang seluruh tubuhnya diperban, hanya menyisakan celah untuk kedua matanya.
"Li Hua, aku memintamu untuk belanja, kenapa kamu malah beli mumi?" Mao Yu mengerutkan keningnya.
"Demi Langit, itu Chen Dewei!" Li Hua menyahut kesal.
"Mphhh... Mphhh..." Chen Dewei ingin membalas, tapi mulutnya tersumpal perban.
"Oh, jadi dia..." Mao Yu mengangguk santai.
Para pelayan yang melihat Chen Dewei merasa lega. Akhirnya mereka melihat mumi dalam wujud nyata, bukan lagi dari cerita horor.
"Aku ingin menyampaikan hal penting. Kurasa aku harus menyingkirkan Chen Dewei dulu," usul Li Hua.
"Tidak perlu, biarkan dia di sini. Mungkin dia bisa memberikan kita masukan berharga," Mao Yu mengabaikan saran Li Hua.
"Lihat, betapa mengagumkannya saran seorang murid utama. Kata-katanya adalah emas. Inilah yang disebut kecerdasan calon penerus sekte," kata Mao Yu, licik.
Li Hua: "..."
Chen Dewei hanya bisa melotot, tubuhnya lumpuh.
"Saya khawatir dalam waktu dekat banyak kekuatan besar akan tiba di kota kekaisaran. Informasi tambang kristal giok Klan Mo sepertinya sudah menyebar," Li Hua memaparkan.
"Bahkan ada kekuatan dari luar benua yang mulai bergerak kemari."
"Mata-mata? Termasuk yang bersama kita sekarang," Mao Yu menoleh ke Chen Dewei.
Chen Dewei membalas dengan tatapan sengit.
"Biarkan mereka datang sesukanya. Tugas kita sebagai tuan rumah adalah memberi mereka sambutan yang adil dan meriah," kata Mao Yu.
Mereka bertiga berjalan ke pelataran samping, melihat Zhao Ren sedang berlatih mengangkat beban berat dengan tubuh kecilnya.
"Aku harus bisa mengangkat dan menghunus pedangku," kata-kata itu terus terngiang di kepalanya.
"Ah, Tuan Muda! Salam!" Zhao Ren menyapa.
"Lanjutkan, kami hanya lewat," kata Mao Yu. "Dengan pedang besarmu, nanti kamu akan berada di barisan depan, mengoyak musuh saat Tuan Mudamu menyerbu surga."
Li Hua dan Chen Dewei merasakan getaran teror dari ucapan itu. Namun, itu hanya sesaat.
"Hahaha, lupakan. Tuan Mudamu sedang bercanda," Mao Yu mengacak-acak rambut Zhao Ren.
Mereka bertiga melanjutkan langkah, meninggalkan Zhao Ren yang masih linglung.
"Menyerbu surga?" gumam Zhao Ren.
Di halaman belakang, mereka melihat Zhao Yan dan Bibi Zhou sedang berlatih duel dengan tongkat kayu. Chen Dewei melihat ada sesuatu yang unik dari gerakan mereka. Langkah mereka sangat ringan, tapi pukulan mereka mematikan.
"Gerakan apa itu?" gumam Chen Dewei.
"Tak bisakah kau melihat? Mereka sedang menari tarian bangau berjinjit," Mao Yu seolah mengerti apa yang dikatakan Chen Dewei.
Chen Dewei mau tak mau mengakui tarian anak-anak itu ternyata memiliki implikasi tempur yang sangat efisien. Gerakan itu adalah 12 Variasi Bangau Mahayana, jurus pamungkas Pengadilan Danau Permata di Tanah Suci, yang pernah digunakan Ibu Bangsa saat mengalahkan banyak musuh.
Melihat Zhao Yan, semua orang sepakat. Ia adalah perwujudan keindahan bangau dari surga, langkahnya harmonis, ayunan tombaknya seperti kibasan sayap, dan serangannya mematikan.
Namun, saat melihat Bibi Zhou, semua orang setuju bahwa ia lebih mirip burung pelikan tua yang sedang menari.
Kirain MC sedang ngigau...🤣🤣😄😄😃😃🤭🤭🤭🤭🤭
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
koneksi dr 1 plot ke yg lain sangat anu...
lanjouts.
pejalanan mencari kitab suci..?
lanjouts..