Diana adalah wanita dengan trauma di masa lalu yang membuat dia tak mau menjalin komitmen.
Suatu hari, adik Diana bernama Tiara ingin menikah dengan kekasihnya. Tapi Suryo, sang kakek, tidak merestui pernikahan Tiara sebelum Diana memiliki suami.
Hingga akhirnya, demi sang adik bisa menikah, Diana memutuskan menikah kontrak dengan Darell, pria yang juga memiliki masa lalu yang kelam dan diam-diam memiliki genophobia atau ketakutan akan hubungan intim.
"Ini hanya sebatas pernikahan kontrak. Setelah tiga bulan adikku menikah, kita cerai. Bagaimana? Kamu setuju?"
Darel menjawab, "Aku setuju."
Akankah pernikahan mereka berakhir seperti rencana semula? Ataukah menjadi kisah awal Darell dan Diana untuk saling menyembuhkan luka ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tria Sulistia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 Diana Hamil
Axe berjalan di lorong gelap dengan bibir yang merekahkan senyuman. Lalu dia berhenti tepat di pintu bernomorkan 13.
Hanya sekali ketuk, pintu itu berderik terbuka. Membuat Axe semakin melebarkan senyuman.
Di depan Axe telah berdiri seorang wanita memakai gaun merah menyala yang segera menarik Axe untuk masuk ke dalam.
Axe menutup pintu di belakang punggungnya. Lalu maju ke depan memeluk dan mencium wanita itu.
"Kamu sudah buat mereka berpisah?"tanya si wanita.
Alis Axe terangkat dengan kepala yang mengangguk.
"Dan sekarang aku ingin menagih janjimu. Kamu bukan wanita yang suka ingkar janji, bukan?"
"Tentu."
Tangan wanita itu bergerak dengan cekatan melepas kancing kemeja Axe satu per satu hingga ke bawah. Lalu menghempaskan kemeja itu ke sembarang arah.
Axe yang sudah tak dapat menahan gairah, langsung membungkam bibir seksi wanita itu serta melumaatnya. Tangan Axe pun melucuti pakaian wanita itu dengan tidak sabar.
Sampai akhirnya mereka melepas ciuman karena kehabisan nafas dan menyadari bahwa tak ada lagi kain yang menutupi tubuh polos mereka.
"Kau sangat seksi, Sayang," goda Axe yang membuat wanita itu tersenyum tipis.
"Sayangnya tubuhku ini tidak dapat memikat Darel," keluh si wanita.
"Dia memang pria yang bodoh."
Raut wajah wanita itu mendadak berubah marah. Lantas dia pun mendorong tubuh Axe untuk menjauh.
"Bagaimana pun juga dia seperti itu karena perbuatan ibumu di masa lalu," ucap si wanita bernada marah.
Axe berdecak kesal. Dia tak mau gairahnya hilang karena membahas tentang Darel.
Dan milik Axe yang sudah mengeras menuntut untuk dipuaskan, membuat Axe menarik kembali tubuh wanita itu dan melemparkannya ke atas ranjang.
Kali ini dia mencium dan meremaas dua gundukan tanpa memberi ampun.
Meski si wanita merintih, tapi Axe tak menghentikan perbuatannya. Dia malah semakin menggila dengan menghentakan miliknya masuk ke dalam milik wanita itu yang sudah tidak perawan lagi.
Detik berikutnya, suara derit ranjang yang beradu dengan desahaan dan juga rintihan memenuhi ruangan itu.
"Setelah ini aku tak mau lagi berurusan denganmu," ucap si wanita di sela-sela pergulatan panas mereka. "Kita berjalan dengan tujuan kita masing-masing."
"Tidak masalah. Tapi selama tujuan kita sama, aku akan tetap membantumu memisahkan Darel dengan Diana."
Axe semakin mempercepat pergerakan pinggangnya yang naik turun. Menghujam tubuh si wanita hingga membuatnya mendesaah penuh kenikamatan.
Si wanita menjambak rambut pria yang menindihinya sambil merintih, "Axe."
"Katia."
*
*
*
"Fantastik. Benar-benar sesuai dengan keinginanku," ucap Robert kala memandang takjub gaun hasil rancangan Diana.
Namun, Diana yang berada di samping Robert hanya bisa tersenyum tipis.
Bukan dia tidak senang, tapi Diana merasa pusing dan entah kenapa badannya terasa lesu. Padahal dia tak melewatkan sarapan pagi.
Sontak Diana membengkap mulutnya saat tiba-tiba dorongan dari dalam perutnya memaksa keluar.
Dan gelagat Diana itu ditangkap oleh Almira yang langsung menyipitkan mata penuh selidik. Lantas dia pun mendekati Diana dan berbisik di depan daun telinga.
"Diana, kamu baik-baik saja? Kamu pucat sekali tahu," ucap Almira cemas.
"Aku mual, Al. Aku pergi ke toilet dulu. Tolong kamu layani keperluan Tuan Robert ya?"
Diana segera berjalan dengan langkah terburu-buru sampai dia tak sengaja menabrak asisten Robert yang bernama Jonathan ketika berada di ambang pintu.
Diana menundukkan kepala meminta maaf dan kembali melanjutkan ayunan kaki menuju toilet.
Sedangkan Jonathan tampak mengernyit bingung. Pasalnya dia seperti pernah melihat wanita yang menabraknya barusan.
Selang beberapa detik, Jonathan membelalakan mata kala menyadari suatu hal.
"Wanita itu bukankah istri Tuan Muda?"
Di dalam toilet, Diana mengeluarkan semua sarapan yang sudah dia makan. Kepala Diana sangat terasa berat. Ingin sekali dia merebahkan diri.
Tak sanggup untuk berdiri, Diana pun duduk di closet sambil mengurut keningnya.
Tak lama pintu toilet terbuka dengan Almira yang memandang Diana penuh kecemasan. Segera dia bersimpuh di depan Diana sambil meneliti penampian Dian yang kusut.
"Almira, Tuan Robert sudah pergi?" tanya Diana.
"Sudah," jawab Almira singkat. "Kita ke dokter yuk. Aku tidak tega lihat kamu seperti ini."
Diana menggelengkan kepala. "Aku tidak apa-apa kok. Aku hanya perlu minum obat."
"Diana, sebaiknya kamu pergi saja ke dokter. Sepertinya dugaan aku bener deh kalau kamu itu hamil."
Diana diam sejenak dan tangannya mengusap perut. Dari gejala yang dialami memang dia seperti ibu hamil pada umumnya tapi sekeras mungkin Diana menampik bahwa dirinya tengah berbadan dua.
"Tidak mungkin, Al. Aku tidak mungkin hamil."
"Ya terserah kamu deh. Tapi kita ke dokter sekarang juga. Mau kamu hamil atau tidak. Aku tidak tega lihat wajah kamu pucat persis mayat hidup."
Atas paksaan dari Almira, Diana pun menurut saja.
Setengah jam kemudian, mereka sudah berada di ruangan dokter.
Seorang dokter wanita memeriksa Diana. Hanya beberapa menit saja, dokter itu kembali duduk untuk menulis resep obat.
"Jadi bagaimana, Dok?" tanya Almira dengan tidak sabar. Dia melirik pada Diana yang kini duduk di sampingnya.
"Nyonya Diana tidak apa-apa."
"Tuh kan aku bilang juga apa. Aku baik-baik saja," bisik Diana pada Almira.
Tapi Almira tidak puas akan penjelasan dokter yang mengatakan Diana baik-baik saja. Dia berdecak dan memukul meja dengan tidak sabar.
"Dok, katakan! Diana hamil kan, Dok?"
Dokter itu mengerut heran melihat tingkah Almira karena biasanya para suami yang tampak gelisah mendengar kabar kehamilan sang istri.
Kenapa yang heboh malah temannya? Batin si dokter.
Sedangkan Diana menyikut Almira dengan wajah mengiris malu. Lalu dia menoleh pada dokter.
"Maafkan teman saya, Dok."
Sang dokter mengangguk memaklumi. Kembali dokter itu mengalihkan perhatian ke catatannya.
"Saya sudah resepkan vitamin dan dimohon Nyonya Diana untuk banyak beristirahat. Jangan terlalu banyak pikiran karena itu bisa mengganggu kandungan Anda!"
Kening Diana mengerut. "Kandungan?"
Kini giliran Almira yang berbisik di telinga Diana. "Tuh kan, aku bilang juga apa. Kamu hamil."
Diana memandang dokter yang tersenyum ramah dan menganggukan kepala.
"Selamat, Nyonya. Kandungan Anda memasuki minggu ke empat."