Setiap wanita selalu mendambakan hal yang sama yaitu bisa menikah dengan lelaki pujaannya, lelaki yang di cintainya, lelaki yang bisa membuat jantungnya berdebar kencang saat bersama dengan lelaki itu.
Cora Dianthe, wanita cantik berusia tiga puluh tahun, wanita karir yang sukses dalam karirnya, ia termasuk wanita yang sukses dalam pekerjaannya tetapi gagal dalam kehidupan percintaan. Ia adalah wanita yang berharap dapat menemukan cinta sejati diusianya yang sudah tidak muda lagi.
Apa ia akan bahagia jika harus menikah di saat ia belum menemukan cinta sejati, apakah cinta sejati harus selalu dicari?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oliv23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Melepaskanmu
Cora tengah tertawa geli saat mendengarkan cerita Jhon tentang liburan mereka di Paris saat pertemuan pertama mereka. Jhon bercerita kalau ia harus tercebur kedalam sebuah kolam air mancur karena mengejar seorang wanita Paris yang sangat cantik.
"Ting. . .tong. . ."
Suara bel apartemen Jhon membuat mereka berdua berhenti tertawa. Jhon segera beranjak dari tempat duduknya dan menuju kearah pintu apartemennya.
"Duk. . ."
Jhon yang baru saja membuka pintu itu langsung menerima sebuah tinjuan tepat di wajahnya. Jhon tersungkur kelantai berkat tinjuan dari Tony itu. Cora yang terkejut mendengarkan suara berisik pada pintu langsung datang menghampiri kedua pria itu. Tony melebarkan matanya, ia mengeraskan rahangnya saat melihat Cora yang berada didalam apartemen Jhon. Ia tidak percaya istrinya saat ini berada dirumah sahabatnya.
"Kamu nggak pa-pa, Jhon?" Cora berjalan ke arah Jhon.
"Jadi ini yang kamu lakukan selama ini Cora?" Tony tersenyum sinis, "Ini alasan yang membuatmu mau mengendarai mobil sendiri? aku tidak menyangka kamu wanita yang sangat murah, Cora. Kamu mempermainkan hatiku selama ini. Kamu telah mengkhianati cintaku, kamu mencintai sahabatku sendiri?" Tony menarik tubuh Cora yang tengah berlutut untuk mengusap darah yang keluar dari sudut bibir Jhon. Ia menyudutkan tubuh Cora pada tembok disebelahnya.
"Apa yang kamu lakukan Tony? ada apa denganmu? mengapa kamu memukul Jhon?" Cora menatap Tony dengan tatapan penuh tanya.
"Jangan bersandiwara Cora, aku sudah muak dengan wajah sok polosmu itu!" Tony menggenggam lengan Cora dengan kuat dan mengeraskan rahangnya.
"Sakit tony, apa maksudmu? aku tidak pernah bersandiwara?" Cora menepis tangan Tony dengan kasar. Ia meringis kesakitan akibat genggaman Tony.
"Ha-ha-ha. . ." Tony tertawa sinis, "Kamu seharusnya memenangkan artis terbaik tahun ini karena aku bisa tertipu dengan wajah busukmu itu, lihat ini!" Tony melemparkan foto yang sedari tadi berada ditangannya. Foto itu tampak berantakan, terlihat jelas bekas remasan di foto itu. Cora mengambil foto yang sudah terletak dilantai itu dan membulatkan kedua matanya. Cora menutup mulutnya dengan tangannya. Jhon berdiri disamping Cora dan melihat foto yang tengah dipegangi Cora itu. Lelaki itu tampak sama terkejut dengan Cora saat melihat foto yang berada di dalam tangan Cora itu.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan Tony, foto ini. . ." mata Cora berkaca-kaca, suaranya terdengar bergetar.
"Hentikan sandiwaramu, aku tidak mau mendengarkan apapun dari mulutmu itu Cora, aku sudah muak denganmu, muak dengan perasaan ini!" Tony berteriak dan memotong perkataan Cora.
"Tony, dengarkan Cora. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Jhon berdiri dihadapan Tony dan menggenggam dengan kuat kedua lengan sahabatnya itu.
"Kamu munafik, sama seperti wanita ini. Kamu bilang kalau kamu sudah merelakan hubungan kami. Tapi apa yang kamu lakukan padaku? kamu merebutnya dariku. Sudah cukup aku melihat wajah menjijikkan kalian berdua." Tony mendorong tubuh Jhon dengan kasar dan membuat sahabtnya itu terjatuh, Cora mendekati Jhon dan membantu lelaki itu untuk berdiri. Cora menatap Tony dengan sendu, sedangkan Tony tersenyum sinis kepada wanita itu. Ia meninggalkan mereka yang tampak terpaku dan menatap kosong punggung Tony yang secara perlahan menghilang dari pandangan mereka.
"Maafkan aku Cora." Jhon berkata dengan lirih.
"Nggak pa-pa Jhon, nggak usah kamu pikirkan." Cora tersenyum tipis.
"Tony jadi salah paham akibat perbuatanku, maafkan aku, Cora. Aku tidak ingin melihatmu terluka, tetapi sekarang akulah yang membuatmu terluka." Jhon mengusap air mata yang menetes dari sudut mata Cora, air mata yang tanpa Cora sadari sudah jatuh membasahi pipinya. Cora tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Aku bisa meminjamkanmu bahuku." Jhon menepuk-nepuk bahunya. Cora mendekatkan kepalanya pada bahu Jhon, ia terisak dibahu Jhon, punggungnya terlihat bergetar dengan hebatnya.
"Kamu bisa menangis sepuas kamu." Jhon membelai rambut ikal Cora dengan lembut. Tangisan Cora semakin kencang, ia tidak dapat menahan tangisnya lagi.
Dadanya terasa begitu sesak, perih dan sangat menyakitkan. Ia tidak mengerti mengapa ia selalu tersakiti disaat ia sudah mulai jatuh cinta.
Apakah perasaan bernama cinta ini selalu terasa sangat menyakitkan? jika cinta hanya bisa membuat hatiku terasa sakit, mengapa aku harus mengenal perasaan yang bernama cinta ini? jika aku bisa memilih, aku tidak ingin jatuh cinta, rasanya sangat menyakitkan dan menyesakkan dada.
...***...
Tony merasa kepalanya akan pecah saat ini. Hati perih dan dadanya terasa begitu sesak sehingga ia merasa tidak dapat bernafas saat ini. Oksigen yang dibutuhkannya tidak ada didunia ini, ia kesulitan bernafas karena rasa sesak yang menyiksa. Tony terkulai lemas di atas tangga darurat yang berada di apartemen yang ditinggalkannya penuh amarah tadi.
Ia tidak menyangka jika suatu hari nanti ia benar-benar akan kehilangan Cora, istri dan wanita yang dicintainya. Tidak pernah terbayangkan olehnya, cinta mereka yang begitu kuat akan berakhir karena Cora tidak mencintainya lagi. Tony merasa sakit yang luar biasa saat menyadari hati Cora telah dimiliki oleh Jhon, sahabatnya sendiri. Tidak akan ada ruang lagi buat cintanya dihati wanita itu. Seberapa kuat Tony mencoba untuk membuat Cora jatuh cinta kepadanya, tetapi segala usahanya itu seakan sia-sia. Cora tidak pernah mengatakan ia mencintai Tony, Cora tidak terlihat seperti Cora yang dulu, Cora yang sangat mencintainya.
Waktu dan ingatan dapat merubah hati seseorang, itulah yang ada dibenak Tony saat ini. Tony memeluk lututnya dan menarik rambutnya dengan frustasi.
Pengkhianatan yang diterimanya terasa begitu menyakitkan. Jika ia tidak bisa membuat Cora mencintainya, ia harus merelakan wanita itu untuk pergi dari hidupnya. Ia harus merelakan wanita itu memilih cintanya, walaupun ia tidak bisa hidup tanpa Cora, ia tidak bisa terus menyiksa perasaannya sendiri dengan memiliki raga tanpa hati. Ia tidak ingin memiliki Cora yang bagaikan sebuah boneka tanpa hati. Ia memiliki tubuh Cora, tetapi tidak cintanya. Lebih baik ia yang mengalah dan membiarkan wanita itu pergi dari hidupnya. Membiarkan wanita itu mendapatkan kebahagian yang diinginkannya, bersama dengan Tony hanya membuat wanita itu tersakiti, jika meninggalkan Tony bisa membuat wanita itu mendapatkan kebahagiaannya, Tony akan melepaskan cintanya itu.
Dunianya menggelap dalam seketika, dunianya seakan runtuh dan hatinya seakan hampa. Cinta bisa terasa indah dan sakit secara bersamaan. Ia tidak tahu bahwa cinta bisa terasa begitu menyiksa dan seakan membunuhnya. Rasa sakit itu menyiksanya, rasa sakit itu menghancurkannya dan rasa sakit itu membunuhnya.
Aku mungkin membuat keputusan yang salah karena aku terlalu mencintaimu sehingga aku tidak bisa hidup tanpamu, tapi satu hal yang jelas bagiku. Aku mencintaimu, perasaan cintaku ini tulus dan nyata. Tetapi jika cintaku ini hanya membuatmu tersakiti, aku akan memberikan kebebasan yang kamu perlukan.
.
...***...
🌷🌷🌷
.