Indonesia
NovelToon NovelToon
Sedetik Saja Mencintaimu

Sedetik Saja Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cintapertama / Konflik etika
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Nur5317

Kehidupan rumah tangga tak luput dari segala ujian dan cobaan. Bisa kepada siapa saja, bahkan kini tengah terjadi pada kehidupan keluarga Kaisya Maharani, seorang guru swasta yang telah menikah dan memiliki seorang putra ternyata bisa kembali jatuh cinta pada orang tua siswa anak didiknya.

Kaisya yang diamanahi Wali Kelas mengadakan pertemuan dengan orang tua siswa. Tak disangka bertemu dengan cinta pertamanya sewaktu masih sekolah menengah atas, Gian. Dari pertemuan tersebut terjalin ikatan kembali diantara mereka meskipun keduanya sudah memiliki kehidupan keluarga masing-masing. Meskipun ikatan tersebut hanya sebatas Wali Siswa dan Wali Kelas. Namun Kaisya ternyata masih memiliki rasa pada Gian.

Akankah kisah tersebut bisa menghancurkan masing-masing rumah tangga Kaisya dan Gian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur5317, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Bayangan Masa Lalu

Setelah lama menunggu Gian tetap tak bisa menelepon Kaisya. Perempuan tersebut justru memberi pesan bahwa ia sedang tidak ingin menerima panggilan telepon. Rasa kecewa menyeruak dalam hatinya. Tapi bagaimanapun juga harus bisa menerima.

"Baiklah kalau kamu sedang tidak ingin angkat telepon ku. Tapi tolong jawab dengan sejujurnya tentang kejadian yang Mikayla alami di sekolah. Sebab perasaanku sedikit gak enak", pesan Gian.

"Kamu boleh tanyakan saja pada Mikayla apa yang sebenarnya. Karena aku sendiri juga tidak terlalu mengetahui kejadian tersebut. Maaf, Gian. Putra lagi merengek sepertinya sedikit kurang sehat. Sekali lagi aku minta maaf."

Ya, pesan itu yang berkali-kali Gian baca. Mungkin sepertinya perempuan yang menjadi wali kelas anaknya tengah berada dalam situasi yang tak mengenakkan.

Hembusan nafas berat keluar dari mulutnya. Tubuhnya ia sandarkan pada kursi di ruangan kerja. Sungguh kali ini Gian sedikit tidak bisa mengendalikan hati. Perasaannya berkecamuk mengingat sosok Kaisya. Tapi kejadian yang menimpa sang putri tercinta lebih membuatnya semakin sakit.

"Andaikan saja aku gak bersikap ceroboh pasti gak akan ada kejadian seperti ini. Keegoisanku membuat dua perempuan yang ku sayangi menderita. Aku mencintaimu Kaisya. Sangat-sangat mencintaimu. Ayah juga menyayangimu sayang, anak cantik. Sekarang apa yang harus ku lakukan?"

Gian menatapi kedua foto yang ada di tangan. Dua sosok penting dalam hidupnya. Sekarang semua angannya berkutat pada bayangan semu. "Bertahan sendiri mencintaimu, apakah aku akan sanggup seperti ini?"

Dengan tatapan sayu, lelaki itu akhirnya bersandar pada kursi kerjanya. Matanya terpejam sesaat karena tiba-tiba saja ada yang menelepon. Ia mengangkatnya hingga percakapan dengan seberang telepon berhenti. Hembusan berat keluar dari mulutnya. Rasanya sangat letih.

"Ayah..."

Suara kecil membuat Gian tersentak lalu melihat ke arah pintu. Gadis berusia tiga belas tahun sudah nampak berdiri dengan mata bengkaknya akibat terlalu banyak menangis.

"Sayang. Sini masuk," ajak Gian pada sang anak.

Mikayla berjalan lantas duduk disamping sang ayah. Hembusan kecil terdengar dari mulut gadis manis tersebut. Kemudian mengambil foto yang berada diatas meja.

"Ayah menyukai bu Kaisya bukan sekedar suka biasa. Kay tahu itu. Gak perlu berbohong soal perasaan ayah. Kay, memang masih kecil tapi gak bisa dibohongi," ucap Mikayla.

"Kay, sayang..."

"Kay, tahu ayah gak seperti yang orang-orang bilang. Merebut bu Kaisya dari suaminya. Meskipun waktu itu Kay melihatnya sendiri kalau ayah sengaja membuat suami bu Kaisya terjebak," kata Mikayla.

Gian terdiam mendengar penuturan Mikayla. Ia sadar akan hal itu. Bahkan ingin sekali membuat Ridho terpuruk karena memperlakukan Kaisya dengan sangat buruk menurutnya.

"Kay gak mau ayah terluka," ucap Mikayla.

"Sayang. Ayah gak apa-apa. Justru ayah khawatir dengan Kay. Gimana sekarang udah gak marah-marah lagi kan? Kalau udah baikan kita jalan-jalan ke tempat yang Kay suka," tanya Gian mencoba mengalihkan pembicaraan.

Mikayla menghembuskan nafas pelan. "Kay lagi gak mau kemana-mana,"

"Masa sih anak ayah yang cantik ini gak mau main. Padahal besok kan libur tuh. Jadi, kita bisa main sepuasnya," kata Gian.

"Memangnya ayah besok gak kerja?" tanya Mikayla.

"Kerja. Tapi, kalau capek ya libur dulu," ujar Gian seraya tersenyum. "Jadi, gimana mau pergi jalan-jalan?"

"Kay ngantuk," jawaban sang putri membuat Gian menghembuskan nafas berat. Ia sudah sangat bingung membuat Mikayla melupakan masalahnya.

"Masa jam segini sudah ngantuk. Biasanya juga kalau besoknya libur suka malem banget bobonya," ucap Gian.

"Ayah beneran mau ngajak Kay jalan-jalan?" tanya Mikayla. Gian mengangguk sebagai jawaban. "Besok Mikayla mau ke suatu tempat."

"Besok?" tanya Gian. "Kemana?"

"Ke Taman Safari," ucap Mikayla.

"Bogor?" tanya Gian dibalas anggukkan kepala anaknya. "Baiklah. Sekarang Kay siap-siap ya terus cepat bobo biar besok kita berangkatnya pagi."

"Ayah juga jangan begadang. Kay, ke kamar dulu," ucap sang gadis lantas berlalu keluar dari kamar Gian.

Setelah perginya sang anak. Gian ternyata masih saja tak bisa berhenti memikirkan istri orang lain. Siapa lagi jika bukan Kaisya. Bayangan masa lalu kembali terukir saat Mikayla mengucapkan suatu tempat yang ingin dikunjungi.

Ya, lelaki itu teringat ketika tengah berlibur bersama keluarga. Ia melihat Kaisya juga dengan kedua orang tua serta adiknya. Hingga mereka saling memandang satu sama lain dengan tatapan sulit diartikan. Gian selalu memperhatikan tingkah lucu dari perempuan tersebut. Dan terjadilah percakapan dari keduanya.

"Hai," sapa Gian pada gadis disebelahnya.

"Hai," balas Kaisya tampak malu-malu.

"Sedang liburan sama keluarga ya?" tanya Gian.

"Iya," jawab gadis itu.

"Kebetulan sekali ya kita ketemu disini. Aku juga sama lagi liburan sama keluarga," kata Gian. Kaisya hanya tersenyum sebagai jawaban yang justru membuat jantung lelaki itu tak aman.

"Kak, ini siapa?" tanya seorang gadis dimana usianya mungkin tak jauh dari Kaisya.

"Teman SMA Kakak," jawab Kaisya namun ia sama sekali tak memperkenalkan.

"Ini sama adiknya Kaisya ya?" tanya Gian basa-basi. Tujuannya ingin lebih mendekatkan diri.

"Iya, Kak. Saya adiknya Kak Kaisya," ucap gadis tersebut.

"Begitu ya," ujar Gian sambil tersenyum ramah.

Ia menoleh lagi pada Kaisya, lalu kembali pada adiknya, "Wah, mirip banget sama Kakaknya. Kalau jalan bareng pasti dikira kembar."

Adik Kaisya tertawa kecil, "Ah, nggak juga, Kak. Kakak lebih cantik."

Kaisya segera menunduk, wajahnya memerah. "Terlalu berlebihan," ujarnya cepat.

Gian tersenyum semakin lebar, merasa suasana mencair. "Eh, kalian habis keliling bagian mana? Aku sama keluargaku baru aja dari area burung. Seru banget lihat burung merak pamer ekornya."

Kaisya akhirnya menatapnya sebentar, "Kami tadi dari sana juga. Indah banget, ya."

"Berarti kita hampir ketemu dari tadi dong," kata Gian sambil tertawa kecil. Ia kemudian memberanikan diri menambahkan, "Kalau gitu... boleh nggak aku ikut bareng kalian keliling sebentar? Biar ramean."

Adik Kaisya langsung antusias, "Boleh, Kak! Biar tambah seru."

Kaisya terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan, "Ya... boleh."

Senyum Gian pun mengembang lebar, seolah ada bunga yang mekar di dadanya.

Sungguh terlalu manis pertemuan itu dan akan selalu jadi kenangan indah dalam hidupnya.

****

1
Hasbi Yasin
lebih baik pisah aja lah dri pada saling menyakiti lagian orangtuanya si ridho gk setuju tertekan kesya di marahin terus
Syantika
Ini kurang tanda petik 😅
Desta
Ada yang typo tapi keseluruhan cerita oke. /Casual/
Oma yeni*🦋
Karya yang bagus 👍 Jangan lupa mampir di novel perdanaku y 🤗
IG: faustinretta
lanjut thor
Nur5317: terima kasih kak 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!