Putus cinta membuat seorang gadis bernama Emeery menerima perjodohannya dengan seorang duda beranak dua. Namun, sikapnya yang tengil membuat sang duda pusing tujuh keliling, akankah Emeery mampu menaklukkan dinding es suaminya, yang bahkan belum move on dari sang mantan?
Kalau ada, sembilan duda ~
Mau duitnya saja, semuanya ~
Ini dada, isinya duit semua ~
Penasaran dengan kisah mereka? Ikuti ceritanya di sini🤗
Jangan lupa follow
Ig @nitamelia05
fb @Nita Amelia
TT @twins✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Bingung
Akhirnya setelah dilakukan rapat dan negosiasi dengan orang-orang yang bersangkutan, Emeery sepakat memaafkan, tetapi Sisil dan Anjas tetap mendapat hukuman berupa skorsing selama satu semester.
Kini Sisil hanya bisa gigit jari, karena sang ayah pun tak membelanya, dia justru dimarahi habis-habisan dan dilarang untuk bertemu Anjas lagi. Dia sangat yakin, pemuda itu sudah tak tinggal di kosannya, sang ayah pasti mengusirnya.
"Aku puas banget deh akhirnya sepasang kekasih dakjal itu kena tulah," ucap Talita sambil mengunyah, karena saat ini mereka sedang berada di cafe tak jauh dari kampus.
"Bener tuh, lagian ngeselin banget, udah yang satu nggak modal dan suka ngarang cerita, yang satunya oon lagi," timpal Zoe sepakat dengan ucapan sahabatnya. Sementara Nino hanya memperhatikan, hingga dia tertuju pada Emeery yang sepertinya tak tertarik dengan obrolan maupun makanan di depannya.
"Kamu lagi mikirin apalagi, Mer? Kok kayaknya lesu gitu," ujar Nino perhatian, dia sampai menjulurkan tangan untuk memeriksa kening Emeery, tapi gadis itu segera menepisnya pelan.
"Nggak apa-apa, No, aku cuma lagi bingung aja," jawab Emeery sambil mendesahkan napas.
"Bingung kenapa?" tanya Talita dan Zoe berbarengan, sekaligus menatap Emeery dengan seksama.
Emeery menggigit bibir bawahnya, melirik ke meja sebelah untuk memastikan bahwa tidak ada orang di sana, karena dia cukup malu untuk mengatakan yang satu ini, padahal biasanya dia yang malu-maluin.
"Aku belum datang bulan sejak menikah," ujar Emeery yang langsung mendapat respon tatapan serius dari para sahabatnya.
"Se—serius?" tanya Zoe tergagap.
"Berarti kamu sama Om-om itu udah—" Ucapan Talita menggantung, mulutnya yang asal jeplak langsung ditutup oleh Zoe.
Lagi, Emeery menghela napas panjang. Bagaimana kalau dirinya benar-benar hamil? Padahal tidak ada di dalam wish list-nya untuk tambah anak. Rasanya Ethan dan Sansan saja sudah cukup.
"Coba tes dulu aja, atau mau kita temenin ke dokter?" sambar Nino memberikan saran untuk tahu yang lebih pastinya, dari pada menebak-nebak.
"Bener tuh, Mer, aku beliin tespek ya," timpal Talita menawarkan diri.
"It's oke, semuanya bakal baik-baik aja, Mer," ucap Zoe seraya menggenggam tangan Emeery yang ada di atas meja. Dia tahu kebingungan itu, bukan karena tak menerima, tapi pengalaman pertama memang selalu mendebarkan.
Akhirnya Emeery mengangguk, Talita langsung bangkit dan menepuk bahu Nino untuk menemaninya ke apotek. Sedangkan Emeery dan Zoe tetap di cafe tersebut.
***
Jarum jam terus berputar ke arah kanan, menunjuk pukul tiga sore lewat beberapa menit. Gerry yang kala itu masih duduk di depan laptop, akhirnya teralihkan oleh suara ponsel yang bergetar. Senyum tipisnya tercetak jelas saat membaca nama si penelpon.
"Kenapa, Sayang?" tanya Gerry.
"Kak, kalo nanti malem kita makan di luar gimana?" Suara Emeery menguasai telinga pria itu, Gerry sedikit mengangkat alis. "Bosen kan di rumah terus, pengen sekali-kali makannya sambil cari angin."
"Nanti meriang dong," kelakar Gerry sambil terkekeh.
"Ihh, kita ajak Ethan sama Sansan sekalian, mau yah," balas Emeery supaya keinginannya disetujui.
Ya, apa yang tidak untuk istri kecilnya yang kini mulai menguasai hati dan pikirannya?
"Oke, restorannya mau aku atau kamu yang pesen?"
"Aku aja, aku mau cari yang enak dan mahal!" sambar Emeery dengan cepat.
Terdengar helaan napas di ujung sana, tapi bukan berarti keberatan, Gerry hanya merasa gemas saja dengan tingkah Emeery.
"Ya udah siapin aja, nanti aku transfer," balas Gerry.
"Siap, dilebihin yaaa. Tadi aku abis traktir temen-temen soalnya."
Gerry tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Oke, Ibu Bendahara."
Di ujung telepon Emeery tertawa keras. Dia benar-benar beruntung mendapatkan duda satu ini. Selain tampan, duitnya juga lancar.
Gimana Ethan, SanSan kalian seneng ga mau punya adek.
Makanya kalau cinta jangan jangan bodoh² banget lah Sil... Emeery cuma korban Anjas dan karna cinta kamu buta segalanya ga bisa apa pake logika juga jangan maen serap semua ucapan si Anjas... mamam tuh kebegoan Lo.😁
Jangan terus kabur2an, tar gimana mau RT berjalan lancar dan Kalian saling nerima kalau kamu saja ga bisa posisikan diri sebagai suami Ger.
Anak²nya saja ga setuju kamu jadi ibu sambung mereka MonMon.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣