Indonesia
NovelToon NovelToon
Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: HaLiAs

Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepingan Kebenaran x K3 3

"Lu denger info terbaru dari group chat anak-anak jurusan nggak?" suara Aldo memecah keheningan yang mencekam. Nadanya bergetar hebat. "Siska bilang... Siska bilang Dini udah bisa ngomong, Kev."

Kevin berhenti menggigit kukunya. Ia menoleh perlahan ke arah Aldo. "Terus? Dia ngomong apa?"

"Dia bilang Reza nggak bersalah! Dia bilang Reza cuma nolongin dia!" teriak Aldo histeris, melemparkan ponselnya ke atas sofa. "Siska sama Maya lagi nangis-nangis minta maaf ke pihak dekanat buat bersihin nama Reza! Polisi udah dapet kesaksian resmi dari Dini, Kev! Kita mampus!"

Bukannya panik, Kevin justru tersenyum miring. Senyum yang membuat Aldo semakin yakin temannya ini sudah kehilangan akal sehatnya.

"Bagus dong kalau dia cuma bilang Reza nggak bersalah," ucap Kevin dengan nada santai yang dipaksakan. "Itu artinya, Dini nggak tahu siapa dalangnya. Dia di dalam gelap, Al. Preman-preman itu nggak bodoh buat sebutin nama gue. Selama si Botak belum ketangkep, gue ini cuma teman Dini yang paling peduli yang kebetulan lewat. Dan dengan bersihnya nama Reza, dekanat cuma bakal ngerasa bersalah ke si tukang mi itu, bukan fokus nyari pelakunya ke mahasiswa lain."

"Tapi polisi lagi ngejar si Botak, Kev! Info dari kenalan gue di polsek, sinyal mereka udah kelacak di Tegal! Begitu mereka ketangkep, tamat riwayat kita!" bantah Aldo, menarik rambutnya sendiri.

Rasa bersalah dan ketakutan yang terus-menerus menumpuk di pundak Aldo mulai mencapai batas kritis. Setiap kali ia menutup mata, ia membayangkan wajah Dini yang hancur. Ia teringat tatapan Reza yang pasrah saat diseret satpam. Ia hanyalah pengecut yang ikut-ikutan gengsi Kevin, tapi ia tidak pernah mau menjadi kaki tangan seorang pemerkosa.

Di dalam dadanya, sebuah pikiran nekat mulai tumbuh. *Kalau gue diem aja, gue bakal ikut tenggelam sama bajingan ini. Tapi kalau gue yang datang duluan ke polisi... kalau gue jadi justice collaborator dan laporin Kevin... mungkin hukuman gue bakal diringanin.*

Aldo melirik ke arah Kevin yang kembali asyik menggigit kukunya. Keraguan masih menyelimuti hati Aldo. Ia takut pada kekuasaan keluarga Kevin, tapi ia lebih takut pada jeruji besi. Pertarungan batin itu terus berkecamuk di dalam kepalanya, menunggunya meledak di saat yang tepat.

...

   Jauh dari drama rumah sakit dan kepanikan para pengecut di apartemen mewah, kehidupan Reza terus berjalan di atas rel yang keras dan disiplin.

Siang itu, di ruang kelas Balai Latihan Kerja (BLK) Disnaker, AC ruangan menyemburkan udara dingin yang membuat beberapa calon TKI mengantuk. Di depan kelas, seorang instruktur berwajah galak bernama Pak Bambang sedang menayangkan slide proyektor tentang K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja).

"Ingat! Di pabrik manufaktur luar negeri, nyawa kalian bergantung pada kepatuhan kalian pada SOP! Helm, kacamata pelindung, sepatu safety... itu bukan pajangan!" suara Pak Bambang menggelegar, sambil memukul meja kayu dengan tongkat pointer-nya.

Di barisan kursi tengah, Reza duduk dengan posisi yang sangat kaku, mirip seperti manekin kayu. Ia memegang bolpennya erat-erat, mencatat setiap detail yang dijelaskan instruktur di buku tulisnya. Namun, setiap kali ia menunduk atau menggeser bahunya, wajahnya otomatis meringis menahan sakit.

Ampun dah si Poltak, rutuk Reza dalam hati, membayangkan wajah tersenyum sahabat Bataknya itu. Sialan bener tuh beruang. Push-up 50 kali pagi tadi sukses bikin lengan gue rasanya kayak abis digilas ban tronton. Ini gimana caranya gue nulis huruf Mandarin kalau megang bolpen aja tangan gue tremor begini?

Melihat postur aneh Reza, Pak Bambang menghentikan penjelasannya dan menunjuk ke arahnya. "Hei, kamu! Yang pakai kemeja putih lungsuran! Kenapa kamu duduknya tegak kaku begitu? Kamu nantang saya atau kamu lagi nahan buang air?!"

Sontak seluruh peserta di kelas itu menoleh ke arah Reza dan tertawa tertahan.

Reza buru-buru berdiri, yang sayangnya membuat otot pahanya kembali menjerit akibat squad jump yang ia lakukan malam sebelumnya. "Siap, tidak, Pak! Maaf, Pak! Otot saya lagi kaget, Pak. Sedang program bulking persiapan angkat mesin di pabrik!" jawab Reza dengan polos namun lantang.

Pak Bambang mengerutkan kening, sebelum akhirnya tertawa kecil. "Bagus! TKI ke Tiongkok memang butuh fisik kuat. Tapi ingat, otot besar nggak ada gunanya kalau otakmu kosong soal K3. Duduk kembali, perhatikan slide selanjutnya!"

Reza menghela napas lega dan kembali duduk perlahan-lahan. Badannya mungkin hancur lebur, tapi semangatnya sedang berada di titik didih tertinggi. Ia mencatat setiap aturan keselamatan kerja, menghafal prosedur emergency, dan pada jam istirahat, ia duduk di sudut kantin BLK, membuka kamus saku Mandarin-Indonesia untuk menghafal kosakata teknik.

Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di kampus UI saat ini. Ia tidak tahu bahwa nama baiknya telah dibersihkan oleh air mata kejujuran Dini. Ia tidak tahu bahwa Siska dan Maya sedang berlutut memohon ampun pada pihak dekanat atas kesaksian palsu mereka. Dan ia juga tidak tahu bahwa polisi sedang mengepung sebuah warung tegal di pesisir Utara Jawa, bersiap meringkus dua preman yang memegang tiket kejatuhan Kevin.

Yang Reza tahu saat ini hanyalah rasa pegal di bicep-nya, hafalan Pinyin-nya, dan janjinya pada kelereng baret di sakunya.

Ia memutar-mutar kelereng itu di bawah meja kelas BLK, tersenyum tipis. Gue bakal datang, Chin. Bukan sebagai anak kecil ingusan, bukan sebagai mahasiswa buangan, tapi sebagai laki-laki yang pantas nepatin janjinya.

Dan di saat semua benang merah mulai terurai menuju titik terangnya, badai keadilan bersiap menghantam mereka yang bersalah, sementara cahaya masa depan bersiap menyinari mereka yang tak pernah menyerah.

(Bersambung...)

1
Siti Musyarofah
ee bersambung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!