Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.
Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.
Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.
Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33_Pertama kali aku melihatnya
Semua orang berkumpul di rumah Roth. Ruangan itu sunyi. Mereka menatap ke arahku yang terkapar di atas ranjang, tidak sadarkan diri.
Stella duduk di sampingku. Tangannya menggenggam tanganku dengan erat sampai buku-buku jarinya memutih.
"Apa yang telah dia lawan sampai jadi begini?" bisiknya lirih, suaranya bergetar.
Syia melangkah maju dan mengeluarkan sesuatu dari kantongnya dengan ragu.
"Hei! Semuanya, lihat ini. Aku menemukan batu dan salib ini di dekat Sora. Kira-kira benda apa ini?"
Mira langsung menyambar batu itu dan melihatnya dengan dahi mengerut.
"Ini alat pemindah jiwa! Lalu untuk batu satunya... aku tidak tahu persis namanya, tapi yang jelas batu ini dipakai untuk membuat alat itu."
Dio langsung melirik batu merah itu dari jauh.
"Ah... kalau tidak salah—"
[Ingatan Masa Lalu]
"Ouh iya, aku menemukan batu ini di antara bebatuan sihir itu."
Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah batu berwarna merah cerah yang berdenyut pelan.
Wung... Wung...
Aku yang melihat batu itu langsung tersentak. Mataku membelalak.
"Tidak mungkin... Rune!?"
Aku langsung mengambil batu rune itu dan menatapnya lekat dengan dahi mengerut.
[Akhir Ingatan Masa Lalu]
Matanya langsung membelalak.
"Aku ingat, Rune namanya!"
Roth yang tadinya diam langsung menghentak berdiri dan berjalan cepat ke arah Dio, menggenggam erat bahunya.
"Kau yakin itu Rune?"
Dio menatap Roth dengan gugup.
"Aku yakin. Setidaknya itu yang Sora bilang."
Roth melepaskan genggamannya. Ia berjalan gontai ke salah satu kursi kamar dan duduk, mengepalkan tangannya sambil menaruhnya di dagu. Napasnya memburu.
"Bagaimana bisa dia mengetahui tentang Rune?"
Mira berjalan pelan ke arah Roth.
"Memangnya apa yang salah, Kakak?"
Roth memandangi adiknya sambil berkeringat dingin.
"Informasi tentang Batu Rune sangat bersifat rahasia. Bahkan mantan Guild Master sepertiku hanya tahu sedikit tentang informasinya, karena batu ini sangat berharga. Dan orang-orang yang mengetahuinya hanyalah petinggi-petinggi kerajaan saja."
Syia memandang yang lain sambil mengepalkan tangannya.
"Hei, semuanya, apa kalian tidak merasa aneh dengan Sora?"
Stella berdiri dan menatap Syia dengan waspada.
"Apa maksudmu?"
Syia mengambil batu itu dan menunjukkannya kepada mereka semua.
"Kekuatannya tidak masuk akal. Dia tahu banyak hal yang seharusnya jadi rahasia, seperti cara mengontrol sihir unik kita dan proses pembuatan senjata dan tongkat sihir."
Dio menoleh ke arah Roth dengan alis mengerut.
"Roth, apa kau yakin dengan ini? Anak ini memiliki asal-usul yang sangat misterius."
Roth hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil menatap ke bawah. Tangannya mengepal.
"Aku tidak tahu. Hanya saja... tekad dan ambisi yang ia miliki benar-benar membuat hatiku tergerak untuk maju."
Ia menghela napas sebentar.
"Maaf, karena aku tidak bisa memberi alasan yang lebih masuk akal."
Semua orang langsung menatap ke arah Stella yang hanya bisa mematung sendiri di samping ranjang. Syia menghampiri Stella dan langsung menepuk bahunya dengan lembut.
"Stella, lebih baik kau berbicara sekarang. Sebenarnya apa yang terjadi di balik hubungan kalian? Kenapa kau mau mengikuti orang yang memiliki latar belakang semisterius ini?"
Stella mengepalkan tangannya dan menarik napas dalam sambil bahunya meninggi menahan sesuatu.
"Sepertinya tidak bisa disembunyikan lebih lama lagi. Baiklah, akan aku ceritakan... tapi kalian harus berjanji untuk tidak memberi tahu Sora tentang apa pun yang terjadi."
Semua orang mengangguk pelan. Roth melirik ke arahku yang terbaring.
"Tolong jelaskan secara rinci, Stella."
Stella mengangguk dan menoleh ke arahku, menatap wajahku yang pucat.
"Sepertinya aku dan Sora pernah bertemu, dan kejadian itu sudah hampir lama sekali..."
[Kilas Balik]
Kerajaan Salfaria
Ibu Kota Luminas
Tahun Suci 1555
Salju turun dengan cukup lebat. Semua orang menyalakan perapian dan berkumpul di rumah masing-masing.
Langit malam membentang di seluruh dunia, dihiasi dengan bintang-bintang. Air danau yang membeku bahkan masih bisa memancarkan sinar bulan dengan indah. Di sebuah istana megah berwarna putih, tengah diadakan sebuah pesta yang meriah.
Lampu-lampu berkilauan, gelas-gelas berisi wine berkualitas tinggi sedang dihidangkan, makanan berjejer di atas meja.
Semua orang berkumpul dan saling berbincang satu sama lain, tapi ada seorang gadis yang sedang berdiri di pojokan sambil menatap para tamu dengan gelisah.
*Benar-benar banyak sekali orangnya. Apa aku sudah bersikap dengan baik? Apa aku sudah terlihat cantik? Apa gaunku benar-benar lucu? Aku tidak tahu, aku tidak mengerti. Kenapa semua orang terus memandangku seakan-akan aku hanya sebuah boneka?*
Raja Eiden berjalan ke arah gadis itu sambil membawa putranya.
"Selamat malam, Putri Laura," sapanya.
Laura langsung mengangkat roknya dan menundukkan kepalanya.
"Senang bertemu denganmu, Raja Margus Eiden," jawabnya.
Dia mengelus dagunya dan tersenyum.
"Kau memiliki adab yang sangat baik, ya. Ouh iya, perkenalkan, ini adalah putra mahkotaku, William Eiden."
William langsung tersenyum tipis lalu meraih tangan Laura dan bersimpuh.
"Anda cantik seperti yang dirumorkan," katanya sambil memandang wajahnya. "Maukah kau menjadi tunanganku? Jika kau mau, kau akan menjadi tunanganku yang kesepuluh."
Laura langsung tersentak dan menarik tangannya.
"Maaf, tapi aku menolak direndahkan seperti itu."
Wajah William tiba-tiba berubah, dahinya mengerut. Dia langsung berdiri.
"Dasar gadis jalang! Beraninya kau menolak lamaranku seperti itu!" Tangannya melayang di udara mengarah ke Laura.
Seorang pemuda berjalan ke arahnya dengan mengenakan jubah. Matanya menatap tajam ke arah William.
"Hei, jangan kira dengan mendapatkan sihir unik, kau bisa seenaknya!"
"Granite Tusk!"
Saat itu juga tanah di sekitar mulai bergetar. Batu-batu runcing langsung muncul tepat ke arah William.
Namun Raja Eiden langsung melebarkan tangannya.
"Holy Shield!"
Sebuah perisai raksasa berwarna emas murni terbentuk di udara, cahayanya begitu pekat.
Saat batu-batu itu ingin menabrak perisai itu, seorang wanita melompat ke tengah arena. Gaun biru mudanya terumbai di udara. Semua orang langsung memusatkan pandangan ke arah wanita itu.
"Aqua Regalia."
Udara berderak pelan. Kelembapan tiba-tiba menebal.
Tetesan-tetesan air muncul dari kehampaan, mengalir tanpa sumber, berputar di sekelilingnya seperti sungai kecil yang kehilangan arah. Lalu, seolah dipanggil, semua aliran itu bergerak serentak menuju tubuhnya.
Air itu tidak membasahi. Ia memeluk tubuhnya.
Ia memadat menjadi zirah bening yang membalut lekuk tubuhnya, memanjang menjadi selendang panjang yang melayang di belakang punggungnya meski tanpa angin, dan mengerucut di atas kepalanya, membentuk mahkota embun yang berdenyut pelan.
Wanita itu tersenyum tipis.
"Teknik Pedang Bulan: Full Moon!"
Dia menciptakan pedang dari air dan mengendalikan alirannya dengan sangat cepat.
Pedang itu menciptakan tekanan air lalu melemparkannya dan bercampur dengan hempasan angin tersebut. Sihir tanah itu hancur, sementara perisai emas milik raja hanya mengalami retak.
Semua orang terpikat melihat itu. Pemuda itu terpana dan terus menatap ke arah wanita itu.
*Hebat! Dia bisa membuat sihir orisinal sekuat itu hanya dengan sihir biasa!? Sebenarnya siapa dia?*
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berat dari arah belakang.
"Kau masih sama anggun seperti biasanya, ya, Flora," kata seorang pria mengenakan jubah lebar dan sebuah mahkota.
Semua orang langsung menundukkan kepala dan memberi jalan. Suara bisik-bisik mulai terdengar.
"Raja Noa sudah datang. Gawat, apa yang akan terjadi? Apa akan ada konflik besar antara dua kerajaan?"
Wanita itu menoleh ke arah suara itu dan tersenyum lebar.
"Ahh... sudah lama tidak bertemu, Paman Noa." Wanita itu langsung menghilangkan sihirnya dan berlari ke arah pria itu sambil tersenyum.
Raja itu langsung melebarkan tangannya dan memeluk wanita itu dengan erat.
"Ahh... keponakanku yang paling cantik, bagaimana kabarmu?"
Mendengar kata-kata itu, wanita itu sedikit tersentak lalu tersenyum kembali.
"Hmm... tentu saja aku baik."
Melihat hal itu, wajah raja langsung mengerut. Dia menatap tajam ke arah Raja Margus, lalu berjalan ke arahnya sambil tersenyum tipis.
"Laura, bisakah kau pergi ke luar sebentar? Papah ada sedikit urusan dengan paman ini."
Laura yang mematung karena melihat hal itu langsung tersadar kembali dan mengangguk.
"Hmm... baiklah."
Laura berlari keluar ruangan dan berlari di lorong istana yang sepi.
*Wanita itu... sangat anggun. Aku tidak percaya, bahkan ketika dia menggunakan pedang seperti itu dia masih terlihat sangat cantik. Tapi... kenapa dia terlihat dekat dengan Papah?*
Saat sedang berlari, tiba-tiba ujung gaunnya tersangkut dan membuatnya tersandung, jatuh keras ke lantai.
Dia mengangkat kepalanya lalu duduk sambil menepuk-nepuk gaunnya. Saat melihat robekan di gaunnya, bibir bawahnya bergetar. Ia buru-buru menunduk agar air matanya tidak jatuh ke gaun itu.
"Padahal ini gaun kesukaanku..."
Saat dia sedang fokus membersihkan gaunnya, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menjulur ke arahnya.
"Kau baik-baik saja?"
Saat Laura melihat tangan itu, dia langsung mengangkat wajahnya. Seorang anak laki-laki berambut hitam sedang tersenyum di hadapannya. Anak berambut hitam itu — yang nantinya akan kukenal sebagai Sora.
"Apa kau bisa berdiri?" tanya anak itu dengan lembut.
Laura langsung mengangguk dan meraih tangan anak laki-laki itu.
"Hmm... terima kasih." Menyadari hal itu, dia langsung menundukkan kepalanya. "Ahh... maafkan aku karena tidak sopan?"
Anak laki-laki itu memiringkan kepalanya.
"Untuk apa kau meminta maaf?"
Laura langsung tersentak, matanya membelalak.
"Maaf jika membuatmu jengkel, kau boleh menamparku jika kau mau." Dia memejamkan mata sambil menggigit bibirnya.
Anak laki-laki itu langsung menegakkan tubuhnya dan tersenyum lebar di hadapannya.
"Hei, tolong dengarkan aku dulu, ya." Dia melepaskan tangannya dengan halus. "Aku tidak mengerti kenapa kau minta maaf, tapi aku harus berterus terang kepadamu."
Dia menarik napas lalu menatap ke arah gadis itu dengan mata yang jujur.
"Kau terlalu rendah hati, dan itu membuatmu terlihat lemah. Percaya dirilah dan tegakkan tubuhmu."
Dia mulai menegakkan tubuhnya dan menarik napas.
"Se-seperti ini?" tanya Laura dengan gugup.
Anak laki-laki itu mengangguk pelan.
"Benar, dengan begitu kau akan bisa lebih percaya diri lagi. Dan ingatlah hal ini, pantang menyerah adalah sumber dari kekuatan."
Anak laki-laki itu langsung berlari meninggalkan gadis itu.
"Kalau begitu, sampai jumpa lagi!"
[Akhir Kilas Balik]
Stella duduk kembali dan tersenyum dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
"Pada saat itu, aku tidak sempat menanyakan namanya. Tapi aku yakin bahwa dia adalah anak dari seorang bangsawan yang datang ke pesta hari itu. Anak berambut hitam itu, Sora, adalah orang yang sama yang sekarang terbaring di hadapan kalian. Aku mengenalinya dari sorot matanya."
"Dan pada akhirnya aku berhasil menemukan orang yang memiliki karakteristik dan sifat yang sangat mirip dengan dirinya." Dia menatap ke arah Syia.
"Syia, menurutmu apa itu pahlawan?"
Syia langsung tersentak dan mulai bertingkah aneh sambil berkeringat.
"A-anu... kalau tidak salah, seseorang yang memiliki kekuatan besar untuk melindungi orang-orang."
Stella hanya tertawa kecil sambil menoleh ke arahku yang masih terbaring.
"Haha! Jadi kau berpikir begitu, memang tidak salah. Akan tetapi... Menurutku pahlawan adalah orang yang mampu menggerakkan hati seseorang dan membuat setiap orang bersatu dengan kekuatannya."
Semua orang terdiam. Tidak ada yang berani menatap Sora yang terbaring. Karena untuk pertama kalinya, mereka sadar... orang yang mereka curigai adalah orang yang pernah menyelamatkan putri kerajaan mereka.