Perjalanan cinta tak semudah yang dibayangkan, sama seperti perjalanan cinta seseorang Niko.
Karena sebuah keegoisan, cinta yang berawal saling mencintai dan menjaga, harus pupus begitu saja.
Tapi tanpa disangka, rupanya pasangan tersebut dipertemukan kembali lewat perjodohan orang tuanya sendiri.
Mampukah seorang Niko mengembalikan rasa cintanya?
Penasaran? yuk, kita ikutin jalan ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan
Selesai berkemas kemas, Devin memakai jam tangannya dan tidak lupa mengenakan jaketnya. Niko masih duduk disisi tempat tidur, seakan tidak rela jika Devin mendadak pergi begitu saja tanpa memberitahu sebelumnya.
Niko hanya diam, tetap saja memperhatikan Devin yang sudah berkemas kemas dan siap untuk berangkat.
"Bro, aku mau berangkat." Ucap Devin berpamitan, Niko masih diam dan tidak menjawabnya.
"Bro, aku pamit. Jaga diri kamu baik baik, ok. Aku doakan kamu, semoga kamu bahagia dengan pernikahan mu." Ucap Devin tidak peduli pada Niko antara merespon atau mengabaikan, pikirnya. Niko pun segera bangkit dari posisi duduknya.
"Pergi lah, jaga diri kamu baik baik. Terima kasih banyak sudah menemani keluargaku, semoga diluaran sana kamu akan menemukan kebahagiaan." Sahut Niko, Devin pun langsung menoleh kebelakang dan memutar posisinya menghadap Niko yang tengah berdiri tegak dihadapannya.
Devin berjalan mendekat, kemudian memeluk Niko dengan erat dan menepuk punggungnya berulang ulang. "Semangat untuk kamu, Bro. Sampai berjumpa dalam kesuksesan, kita pasti bisa." Ucap Devin menyemangati.
"Terima kasih banyak, Vin. Aku doakan, semoga kamu segera temukan bahagia diluaran sana. Semangat untuk kamu, kita akan berjumpa lagi ketika kita sama suksesnya." Jawab Niko yang sama halnya menberikan semangat untuk Devin.
Setelah itu, keduanya sama sama melepaskan pelukannya. Keduanya pun akhirnya adu siku satu sama lain, bak kakak beradik yang kompak.
Disaat itu juga, Tuan Zicko dan Bunda
Lunika tersenyum bahagia ketika melihat Niko dan Devin kembali akrab dan sama sama memberi suport satu sama lain.
"Nah, gini kan adem dilihatnya. Devin, kamu sudah ditunggu mobil didepan rumah. Dan kamu Niko, biarkan Devin pergi untuk menggapai cita citanya. Kita hanya bisa doakan Devin menemukan bahagia." Ucap Bunda Lunika, kemudian mendekati Devin.
"Jaga diri kamu baik baik ya, Nsk. Maafkan Tante yang tiba berbuat apa apa, Tante hanya bisa mendoakan mu semoga berhasil." Ucap Bunda Lunika menyemangati serta memberinya doa untuk Devin yang sudah dianggap bagian keluarganya.
Begitu juga dengan Tuan Zicko, Beliau ikut mendekati Devin yang sudah siap untuk segera berangkat.
"Hati hati diperjalanan ya, Vin. Maafkan Paman yang sudah merepotkan kamu selama tinggal bersama Paman. Paman hanya bisa memberimu doa, semoga kamu berhasil." Ucap Tuan Zicko, kemudian Beliau memeluknya. Setelah itu, pelukannya langsung merenggang.
"Yang seharusnya meminta maaf itu Devin, Paman. Dari kecil hingga tumbuh dewasa seperti ini juga nafkah dan perhatian dari Paman dan Tante. Maafkan Devin ya, Tante dan Paman. Devin janji akan melakukan yang terbaik untuk Paman dan Tante. Terima kasih banyak sudah membesarkan Devin hingga sampai sebesar ini, Paman, Tante." Ucap Devin setengah menunduk.
"Jangan menunduk, kamu dan Niko sama sama anak Paman. Meski tidak satu ibu dan ayah sekalipun, Paman dan Tante Lunika sudah menganggapmu bagian dari keluarga. Kalian berdua kecil bersama hingga sampai dewasa seperti yang sekarang ini, tumbuh menjadi kebanggaan tersendiri." Ucap Tuan Zicko.
"Ya, Paman. Terima kasih atas semua kebaikan dari Paman dan Tante, juga dari Niko." Jawab Devin, Tuan Zicko pun mengangguk. Setelah itu, Devin mencium punggung tangan milik kedua orang tua Niko secara bergantian.
Usai berpamitan, Devin kembali mendekati Niko. "Aku berangkat ya, Bro. Jaga diri kamu baik baik, sampai bertemu lagi dikemudian hari nanti." Ucap Devin dan kembali memeluk Niko.
Selesai berpamitan, Devin segera keluar dari rumah dan diikuti oleh kedua orang tua Niko dan juga Niko sendiri. Devin yang terasa berat untuk meninggalkan keluarga kecil Tuan Zicko, Devin hanya bisa tersenyum ramah.
"Hati hati, Vin. Sampai jumpa lagi, semangat untuk kamu." Ucap Niko ketika Devin hendak membuka Pintu mobil, dan Devin pun tersenyum mengarahkan pandangannya pada Niko.
Setelah bayangan Devin sudah tidak lagi terlihat, kini tinggal lah Niko bersama kedua orang tuanya.
Ketika tidak ada lagi sosok Devin, kini Niko yang serasa kehilangan senda gurauannya. Bahkan seakan kehilangan separo napasnya, benar benar terasa sesak didadanya.
Sepi, hening, kini yang sedang dirasakan oleh seorang Niko tanpa adanya sosok Devin yang ceria. Niko benar benar merasa kehilangan, badannya pun terasa lemas dan tidak berdaya.
Ingin berteriak, itu tidak akan mungkin. Ingin memberontak, itu juga tidak akan mungkin. Niko hanya bisa menarik napasnya panjang dan kini membuangnya dengan kasar.
Niko yang tidak tahu untuk beraktivitas, ia langsung menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan posisi menatap langit langit kamarnya sebagai tempat untuk meluapkan emosinya.
Saat hendak ingin memejamkan kedua matanya, tiba tiba pendengarannya Niko pun terganggu. Mau tidak mau meski dengan malas, Niko akhirnya bangkit dari posisinya dan segera membukakan pintu kamarnya.
"Mama, ada apa?" tanya Niko dengan malas.
"Hari ini apa kamu tidak ingin ngojek?" tanya Bunda Lunika yang dengan sengaja bertanya.
"Niko lagi tidak bersemangat, Ma." Jawab Niko dengan lesu, kemudian ia menjatuhkan lagi ketempat tidurnya.
"Dari pada di rumah terasa suntuk loh Nak, kan mending ikutan mangkal bareng di pangkalan ojek motor." Kata Bunda Lunika.
"Ya Ma, nanti nunggu benar benar terang cuaca diluar sana. Takutnya nanti hujan lagi, Ma." Jawab Niko sambil tengkurap, Bunda Lunika sengaja duduk didekat putranya.
"Kamu kesepian ya, tidak ada Devin? hem." tanya Bunga Lunika membuka suara, Niko langsung membenarkan posisinya untuk duduk disebalah ibundanya.
"Kesepian sih, tidak. Niko hanya sendirian sekarang, tidak ada teman untuk segalanya." Jawab Niko sambil memeluk bantal tidurnya.
"Itu namanya kesepian, Niko. Ada ada saja, kamu ini. Mulai hari ini Mama Minta sama kamu, ubahlah tentang hidupmu seperti yang Mama dan Papa kenal. Penuh semangat, pekerja keras, dan tentunya menjadi kebanggaan tersendiri. Satu lagi, jangan mudah untuk menuruti emosi." Ucap Bunda Lunika sedikit memberi nasehat pada putranya.
"Ma, kita mau mulai dari mana? kita saja tidak mempunyai apa apa. Berat, Ma. Niko sudah bilang sama Papa, apa salahnya minta tolong sama keluarga Wilyam, atau keluarga Danuarta. Kita kan berasa dari keluarga itu, apa ya tidak mau membantu kita? kejam sekali kalau sampai tidak mau membantu kita." Ucap Niko dengan protes.
"Papa kamu Malu, Nak. Papa kamu bukannya tidak mau menerima bantuan dari keluarga Wilyam dan keluarga Danuarta, Papa kamu yang menolaknya sendiri. Kita bisa apa, Niko? kita hanya bisa nurut." Jawab Bunda Lunika.
"Mama juga ada keluarga, Guntara." Lagi lagi Niko memberi protes.
"Tidak semudah itu memberi bujukan sama Papa kamu, Niko."
"Terus ... kita mau mulai dari mana, Ma?" tanya Niko protes.
"Kamu akan mulai dari keluarga Gantara, Nak." Jawab Bunda Lunika.
happy ending..
semangat trooos ya thor,sehat sehat💪😉
lanjutkan bakatmu💪❤