Indonesia
NovelToon NovelToon
Rose Of The Underworld

Rose Of The Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:499
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.

Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

Dua puluh empat jam menjelang upacara pernikahan, atmosfer di lantai tiga Blackwood Manor tidak menyerupai persiapan pesta pada umumnya. Udara terasa berat, penuh penjagaan ketat yang diselimuti oleh pengawal bersenjata api di setiap sudut koridor.

Evangeline berdiri di tengah ruang ganti pribadi yang terhubung dengan kamar utama. Di sekelilingnya, tiga penjahit senior yang didatangkan khusus dari Paris bekerja dalam hening yang cermat.

Jemari mereka yang terlatih menyematkan jarum pentul, menyesuaikan pinggang gaun pengantin antik berbahan sutra berwarna gading.

Gaun itu adalah karya seni klasik bertakdir kelam.

Model potongannya meliuk sempurna mengikuti siluet tubuh Eva yang ramping. Bagian dada berlapis renda Prancis kuno yang ditenun halus, sementara bagian punggungnya terbuka sedikit dengan deretan kancing mutiara asli yang berjajar dari atas hingga ke pinggang.

Eva menatap pantulan dirinya di cermin besar. Gaun itu teramat indah, namun terasa seberat zirah besi.

"Luar biasa..." bisik salah satu penjahit wanita dengan nada kagum yang tertahan. "Gaun ini seperti diciptakan khusus untuk Anda Nyonya Muda. Kami hampir tidak perlu merombak bagian pinggangnya."

"Gaun ini adalah milik almarhumah Lady Vivienne Blackwood, ibu dari Tuan Dominic. Beliau mengenakannya tiga puluh tahun lalu."

Lady Vivienne.

Mengapa Lady Eleanor begitu gigih ingin Eva mengenakan gaun milik Lady Vivienne. Apakah ini sekadar nostalgia seorang mertua yang rindu pada menantunya, atau ada pesan terselubung yang sedang coba disampaikan oleh wanita tua itu.

Klek.

Pintu ruang ganti terbuka. Penjahit tua dan para asistennya langsung menunduk rapat saat Lady Eleanor melangkah masuk, ditopang oleh tongkat kayu jati berujung perak yang legendaris.

"Tinggalkan kami," perintah Lady Eleanor lembut namun tak terbantahkan.

para penjahit memotong pekerjaannya dengan cepat, merapikan peralatan, lalu berbaris keluar dan menutup pintu dengan rapat.

Lady Eleanor melangkah perlahan mengelilingi Eva. Mata biru jernih milik Lady Eleanor berkaca-kaca saat mengamati Eva dari ujung kepala hingga gaun sutra yang menjuntai di lantai.

"Vivienne..." bisik Lady Eleanor dengan nada suara yang dipenuhi keharuan masa lalu. "Kau membawa kembali bayangan wanita itu ke dalam rumah yang dingin ini, Evie."

Eva memutar tubuhnya perlahan. "Apakah beliau wanita yang baik, Nyonya Besar?"

"Dia wanita yang terlalu baik untuk dunia ini, Anakku," jawab Lady Eleanor seraya menyandarkan kedua tangannya di atas gagang tongkat. "Vivienne tidak lahir dari keluarga dunia bawah. Dia adalah putri seorang sejawat akademisi. Ayah Dominic, Arthur jatuh cinta padanya dan membawanya ke dalam kegelapan keluarga kami."

Lady Eleanor menatap lurus ke dalam mata hazel Eva. "Vivienne berani menentang cara-cara berdarah yang dijalankan anggota Blackwood. Dia mencoba mengubah Arthur, mencoba melindungi orang-orang yang tak berdaya di luar sana. Dan karena keberaniannya itulah, ada pihak-pihak di dalam kelompok yang membencinya."

Mata Eva menyempit pelan. Pihak-pihak di dalam konsorsium.

"Bagaimana beliau meninggal?" tanya Eva berani, menjaga suaranya tetap berada di nada rasa ingin tahu yang wajar.

Ekspresi Lady Eleanor mendadak mengeras. Garis-garis keriput di wajahnya menegang oleh rasa sakit yang telah terpendam selama belasan tahun.

"Empat belas tahun lalu sebuah kecelakaan mobil tragis terjadi di pinggir kota," jawab Lady Eleanor pelan, suaranya bergetar tipis. "Mobil yang dikendarai Vivienne terbakar di jurang. Namun hingga hari ini, aku dan Dominic tahu itu bukan kecelakaan biasa. Itu adalah pembunuhan yang disamarkan."

Sensasi dingin menjalar di sepanjang tulang belakang Eva.

Empat belas tahun lalu, Ibu Eva (Clara Cross) dibantai di St. Jude menggunakan belati lambang mawar dan ular lima duri. Ibu Dominic (Lady Vivienne) tewas dalam pembunuhan misterius yang disamarkan sebagai kecelakaan mobil.

Dua tragedi dari dua strata sosial yang bertolak belakang, tetapi terjadi di garis waktu yang persis sama. Eva semakin merasa ada benang merah yang menghubungkan kematian ibunya dan Lady Vivienne.

Sebelum Eva sempat menggali lebih dalam, Lady Eleanor melangkah mendekat. Dari balik syal kasmirnya, ia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan beludru berwarna merah tua.

Ia membuka kotak tersebut, memperlihatkan sebuah kalung liontin perak berbentuk bunga mawar yang diapit oleh ukiran mahkota daun.

"Ini adalah perhiasan kesayangan Vivienne," kata Lady Eleanor seraya mengangkat kalung tersebut. "Aku ingin kau mengenakannya besok saat mengucap janji di kapel."

Eva menatap liontin mawar itu. Tangannya terulur ragu, membiarkan logam dingin tersebut menyentuh jemarinya. Di balik liontin mawar itu, ada ukiran sandi kecil yang sangat halus, sebuah detail yang hanya bisa ditangkap oleh mata terlatih seperti milik Eva.

Bukan lima duri. Bukan pula tiga duri. Liontin ini sama sekali tidak memiliki simbol ular.

"Terima kasih, Nyonya Besar," kata Eva pelan, menundukkan kepalanya.

Lady Eleanor tersenyum hangat, mengusap pipi Eva dengan lembut. "Ingatlah ini, Evie... Dominic mungkin terlihat seperti pria tanpa hati yang hanya memikirkan kekuasaan. Tapi di dalam dadanya, dia menyimpan luka yang dalam. Pernikahan ini bukan sekadar alat politikku. Ini adalah caraku agar bisa meredam lukanya."

...****************...

Malam harinya, kapel pribadi Blackwood Manor dipenuhi oleh pencahayaan temaram dari ribuan lilin putih yang berjejer di sepanjang lorong marmer.

Upacara pernikahan diadakan secara tertutup dan amat ketat sesuai kesepakatan. Tidak ada wartawan, tidak ada bunga-bunga romantis yang berlebihan.

Yang hadir hanyalah sepuluh petinggi kelompok berpakaian serba hitam, jajaran komandan eksekutor bersenjata lengkap yang berdiri di dinding samping, serta Lady Eleanor yang duduk di barisan paling depan.

Dominic Blackwood berdiri di depan altar.

Pria itu tampak sangat luar biasa mengintimidasi dalam balutan kemeja putih dan setelan tuxedo hitam berbahan wol murni. Rambut hitamnya tertata rapi, sementara garis rahangnya yang tegas tampak mengeras di bawah pendar cahaya lilin. Sepasang mata kelamnya menatap lurus ke arah pintu utama kapel yang perlahan terbuka.

Musik yang lembut mulai mengalun.

Evangeline melangkah masuk.

Gaun pengantin gading milik almarhum Lady Vivienne membalut tubuhnya dengan sempurna, menjuntai indah di atas marmer hitam.

Rambutnya sanggul modern dengan liontin mawar perak melingkar di lehernya yang jenjang. Di balik veil tipis yang menutupi wajahnya, mata hazel Eva memancarkan keberanian dingin dari seorang Ghost Rose.

Dominic menahan napasnya selama sepersekian detik.

Melihat Eva mengenakan gaun ibunya membawa sensasi aneh yang menghantam dadanya. Penampilan wanita ini malam ini tidak menunjukkan sedikit pun bekas siksaan air garam atau kabel listrik beberapa hari lalu.

Ia berjalan dengan ketenangan seolah-olah sedang melangkah menuju medan pertempuran, bukan menuju altar pernikahan.

Eva berhenti tepat di samping Dominic.

Keduanya saling berhadapan. Hawa dingin dari keangkuhan Dominic beradu langsung dengan aura mematikan yang tersembunyi di balik keanggunan Eva.

Seorang pendeta tua kepercayaan keluarga Blackwood membuka kitab di tangannya, membaca ayat-ayat janji suci dengan suara berat yang bergaung di plafon kapel yang tinggi.

"...Apakah Anda, Dominic Arthur Blackwood, bersedia menerima Evie Thorne sebagai istri sah Anda, untuk saling menjaga di dalam kegelapan maupun cahaya, hingga maut memisahkan?"

Dominic menatap dalam-dalam ke dalam mata hazel di balik veil yang Eva gunakan.

"Aku bersedia," sahut Dominic, suaranya mantap, bergaung berat tanpa ada setitik pun keraguan, sebuah pengakuan yang menyegel tawanan perang ini ke dalam lingkaran intim kekuasaannya.

Pendeta beralih ke arah Eva. "...Dan apakah Anda, Evie Thorne, bersedia menerima Dominic Arthur Blackwood sebagai suami sah Anda, untuk tunduk dan mendampinginya dalam setiap langkah hukum dan takdir, hingga maut memisahkan?"

Eva mereset detak jantungnya. Di dalam hatinya, kata-kata janji ini adalah deklarasi pertempuran resmi.

"Aku bersedia," jawab Eva pelan namun tegas.

"Dengan wewenang yang diberikan kepada saya, saya menyatukan kalian sebagai suami dan istri," kata pendeta tua itu. "Anda boleh membuka penutup dan mencium pengantin wanita."

Dominic melangkah satu tingkat lebih dekat. Tangannya yang terbalut sarung tangan kulit tipis terulur perlahan, menyibakkan cadar transparan yang menutupi wajah Eva ke belakang.

Wajah pucat dan cantik Eva kini terpampang jelas di bawah cahaya lilin.

Dominic mendekatkan wajahnya. Hawa hangat dari napasnya bercampur dengan aroma parfum mahal yang memabukkan. Tangannya meraih tengkuk Eva dengan gerakan yang terlihat penuh kehangatan bagi para saksi di ruangan itu, namun cengkeraman jarinya di rambut Eva mengirimkan pesan terselubung, kau berada di bawah cengkeramanku sekarang.

Eva tidak mundur. Ia mendongakkan kepalanya, membiarkan bibir Dominic menyentuh bibirnya.

Ciuman itu dingin dan sarat akan ketegangan diantara keduanya. Tak ada gairah romantis di sana, hanya perebutan dominasi antara dua predator yang saling mengunci.

Kontak fisik itu berlangsung selama tiga detik yang terasa sangat panjang, memicu getaran listrik aneh yang merayapi sistem saraf mereka berdua.

Saat Dominic menarik bibirnya kembali, ia berbisik sangat pelan tepat di telinga Eva, begitu tipis hingga tidak ada saksi yang bisa mendengarnya.

"Selamat datang di nerakaku, Nyonya Blackwood."

Eva menyunggingkan senyum tipis yang mematikan di balik sapuan lipstik merahnya, membalas bisikan itu dengan nada yang tak kalah dingin.

"Terima kasih atas aksesnya, Tuan Blackwood."

Tiga jam kemudian.

Upacara penyambutan singkat bersama para tetua konsorsium di aula utama telah usai. Eva dan Dominic kini kembali ke kamar utama lantai tiga.

Pintu kayu jati tebal tertutup dan terkunci rapat dari dalam.

Pesta telah berakhir, dan penyamaran resmi kini memasuki babak paling berbahaya.

Dominic melepaskan jas tuxedo-nya, melemparnya sembarangan ke atas kursi di dekat perapian. Pria itu memutar tubuhnya, menuangkan dua sloki whisky ke dalam gelas kristal seperti biasa.

Sementara itu, Eva berjalan menuju cermin tinggi. Jemarinya yang ramping melepas liontin mawar perak milik Lady Vivienne dan meletakkannya di atas meja rias dengan ketukan pelan.

"Peran kita di depan publik sudah selesai untuk hari ini," kata Eva datar, membalikkan tubuhnya menghadap Dominic. "Di mana aku tidur malam ini?"

Dominic meletakkan gelas kristalnya. Pria itu berjalan mendekati Eva dengan langkah yang lambat dan diperhitungkan. Tatapan mata kelamnya tertuju pada leher jenjang Eva yang kini tak tertutup liontin, memperlihatkan bekas garis tipis merah akibat penyiksaan beberapa hari lalu.

"Aturan di kamar ini tidak berubah, Nyonya Blackwood," sahut Dominic, suaranya rendah dan penuh dominasi. "Tempat tidur utama di tengah ruangan. Sisi kiri milikmu, sisi kanan milikku."

"Aku bisa tidur di sofa," potong Eva dingin.

"Tidak," jawab Dominic tegas, berdiri tepat di depan Eva. "Para pengawal pribadi di luar pintu dan sensor termal di langit-langit mencatat setiap pergerakan di dalam ruangan ini. Jika kau tidur di sofa, rumor tentang pernikahan palsu kita akan sampai ke telinga tetua konsorsium besok pagi."

Dominic meraih pergelangan tangan Eva, sentuhan kulit ke kulit yang terasa hangat dan mengejutkan. Ia menarik Eva perlahan menuju sisi kiri tempat tidur berukuran king-size tersebut.

"Tidur," perintah Dominic singkat. "Besok pagi kau harus menemui para pimpinan faksi luar dalam jamuan makan siang."

Eva melepaskan cengkeraman tangan Dominic dari pergelangan tangannya secara halus namun bertenaga. Ia tidak membantah lagi. Menunjukkan penolakan berlebihan hanya akan memperlihatkan kelemahannya.

Eva melangkah naik ke atas tempat tidur berseprai sutra hitam itu, berbaring di sisi kiri dengan gaun malam sederhana yang telah ia ganti sebelumnya. Ia memunggungi posisi Dominic, membiarkan mata hazelnya tetap terbuka lebar menatap rintik hujan di balik dinding kaca antipeluru.

Dominic mematikan lampu utama ruangan, menyisakan pendar redup dari kayu bakar di dalam perapian. Pria itu melangkah naik dan berbaring di sisi kanan tempat tidur, menjaga jarak setengah meter dari tubuh Eva.

Hening malam merayap tebal di dalam kamar berdinding kaca itu.

Di dalam kegelapan yang temaram, dua musuh bebuyutan itu berbaring berdampingan. Napas mereka beradu pelan dalam irama yang konstan. Dominic memejamkan matanya dengan pistol otomatis di bawah bantalnya, sementara Eva berbaring telentang dengan menyembunyikan kejar tajam di balik pikirannya:

"Lady Vivienne, Clara Cross, lambang lima duri dan pria di sampingku ini," ucap Eva membatin.

Puzzle dendam empat belas tahun lalu mulai menampakkan serpihan barunya. Dan di balik status barunya sebagai Nyonya Muda Blackwood, Evangeline siap merajut jaring-jaring jebakan di jantung kediaman musuhnya.

...Bersambung... ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!