Semua orang memiliki kisah masa lalu, pahit dan getir. Apa kita siap menerima dia apa adanya?
Kisah ini mengangkat kisah seorang gadis pekerja paruh waktu di toko kecil.
Seorang pelanggan bernama Guskov Adhitama memesan belanjaan via online. Seiring waktu Guskov terus berlangganan, mereka pun mulai dekat dan timbul ketertarikan hingga akhirnya mereka memutuskan pacaran.
Suatu ketika Nadia akan tinggal di tempat sang tante karena perintah sang ibu. Kejutan tak disangka-sangkanya mengetahui fakta pahit bahwa suami dari tantenya adalah sang pacar!
Berhari-hari Nadia menghindari Guskov, begitu juga pria itu, sampai sesuatu membuat mereka nyaris khilaf, tetapi lalu Guskov ingat pada sang istri dan menghentikan semuanya.
Akankah Nadia mampu mengikis cinta pertama yang adalah Pamannya sendiri?
Ataukah dia terpuruk pada cinta sang Paman?
Apakah Guskov begitu tega terus menyakiti Nadia?
Jadi kemana arah hubungan mereka pada akhirnya?
Cari tahu kelanjutannya 🥰 Jangan lupa LIK
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon As Cempreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PILY 33 : KEDATANGAN BIBI MILAN
Nadia menyeka keringat di leher dengan punggung tangan. Dia ingin mandi lagi karena semua badan begitu lengket, ini jam 11 tetapi rasanya sudah seperti dipanggang di dalam oven.
"Paman, terimakasih. Paman yang memasak bubur semuanya, ya? aku kira Shelin yang membuatnya."
"Sama-sama, Nadia. Senang bisa membantumu." Guskov makin berdebar melihat Nadia yang berkeringat hingga harum keringat Nadia dapat tercium sampai ke arahnya padahal jaraknya tiga meter.
"Paman, besok jadwal fisioterapi."
Guskov menghela nafas berat dan menatap pujaan hatinya. "Aku libur terapi, Nad."
"Kenapa? apa karena biaya? maaf paman tanpa bermaksud lancang, tetapi Nadia memiliki tabungan." Nadia memperhatikan Guskov yang bergeser duduk mendekatinya dan duduk setengah meter di samping kanannya. Pria itu tersenyum sangat menawan.
"Tabung saja uangmu ya? saya memang sedang tidak ingin ke mana-mana." Guskov menghembuskan nafas, rumah ini sangat panas minim tumbuhan dan tanahnya gersang, rumput di depan sampai menguning hendak mati.
Nadia mengerucutkan bibir menatap kaos putih Guskov yang sudah mencetak keringat, "tetapi kan terapi itu penting."
"Itu bisa lain waktu." Guskov tertawa pelan dan aroma keringat Nadia memabukkannya, hingga dia merasa begitu tersiksa ingin memeluk Nadia.
Nadia langsung tertunduk karena tatapan lebih gelap dan berkilau dari pamannya yang penuh minat hingga Nadia dibuat canggung dan gemetar memetiki gagang cabai.
Nadia ingin menceritakan bahwa malam menggemparkan itu hanya jebakan yang dibuat Nyonya Bramansyah.
Namun, diurungkannya karena tidak mau Guskov menjadi khawatir karena dia membersihkan rumah bibi malam-malam.
Lagipula ada rasa cemburu bila Guskov menyebut nama Bibi Milan.
Lalu dari kejauhan terdengar gerungan motor sport di gang, dan makin mendekat hingga terdengar berhenti di depan.
Nadia mengangkat wajah dengan hati berdebar karena melirik tatapan keingintahuan Guskov dan mengikuti arah tatapannya yang mengarah ke Reno.
Terlebih saat Reno baru mematikan Motor Ducati merah dan melempar senyuman ke Nadia, pria itu turun dari motor dengan membawa kantong plastik. Reno langsung duduk disebelah Nadia sambil menyerahkan plastik yang langsung dibuka Nadia.
Guskov was-was karena pemuda itu memasang tampang kecakepan dan mulai bercengkrama dengan Nadia.
"Kamu bukan muhrimnya, kan, menjauhlah," geram Guskov setelah menoleh ke kiri.
"Suka-suka aku dong, kami hanya teman. Ya, wajar dekat. Memang apa masalahnya buat kamu? lagian apa matamu sudah rabun- lihat," kata Reno tertawa geli sambil menunjuk jarak duduk yang setengah meter. "Kamu juga bukan muhrim, kau jauh lebih dekat, kan? paman menjauhlah?!"
Nadia tersenyum tipis pada mereka berdua, "Kamu bawa apaan, Ren?"
"Ini dari tetanggaku tapi aku bingung mau diapain. Jadi aku membawanya kemari."
"Terima kasih Reno ini bisa buat kita rujakan." Nadia mengikat kembali kantong plastik berisi mangga, kedondong, nanas, dan bengkoang di dekat pintu dan mendengar suara langkah kaki, dia lantas memberikan pada Shelin.
"Apa ini?" Shelin menerima kantong yang diberikan Nadia. "Eh aku cuci dulu, tau aja aku butuh yang seger-seger." Shelin masuk ke dalam dan diikuti Reno yang ingin bertanya soal Guskov.
Nadia mengantuk karena angin sepoi, dan Guskov mendekati Nadia saat perempuan itu kembali tertidur. Dan tanpa sadar tangannya sudah menyingkirkan rambut Nadia yang menutupi wajah ke belakang telinganya dan tersenyum penuh arti, jarang-jarang memiliki kesempatan seperti ini.
"Bahkan saat kamu tidur, kamu begitu anggun. Dan tidak peduli apapun, saat melihatmu, aku begitu bersyukur karena aku selalu memiliki kamu? Bukankah aku harus mulai mencari pekerjaan baru, untuk hidup kita berdua, ya?" batin Guskov kembali semangat dan menahan tawa saat Nadia terangguk nyaris jatuh ke depan dan Guskov menahannya. Gadis itu seperti bayi saja, lucunya.
Milan yang baru akan menepikan mobil, matanya berkedut melihat Guskov di kejauhan. Dia langsung menepikan mobil di tepi jalan.
Dengan kebencian Milan menapaki tanah gersang di halaman, tidak terima karena mereka bersenang-senang di sini.
Milan kira Guskov menyesal dan nyatanya mereka malah makin mesra. Niat awal yang mau memaafkan Nadia kini berubah menjadi dendam.
"Rupanya seperti ini kelakuan kalian, ya?!" Milan sambil mendorong Guskov yang baru berbalik, dan menatap tajam mata zamrud keponakannya.
Nadia yang baru membuka mata dan masih mengantuk, kebingungan karena bibi Milan sudah di depannya.
"Milan." Guskov merangkak ke dekat kaki istrinya tetapi Milan menjauh seakan jijik padanya dengan menghalangi diri menggunakan tas Hermes, hingga pria itu tak dapat menyentuh.
"Sudah disekolahkan mahal-mahal tetapu balasanmu ini? benar kata Kak Vaya, kamu memang memiliki niat tidak baik, Nad! Bahkan kalian tidak malu, ini di luar rumah, loh?"
Nadia mangap-mangap menatap wajah merah padam bibinya. "Bibi, kami dijebak. Nadia dan paman tidak melakukannya." Nadia bersemangat akan menjelaskan apa yang didengarnya dari Nyonya Bram. "Nyonya Bram dan Pak Heru yang mengaturnya kami di kamar-"
"Diam!" Milan bergidik pada Nadia yang baru berdiri di depannya. "Berani sekali kau membawa nama mamah ke dalam perbuatan busuk kalian." Milan tertawa dengan dada naik-turun menahan amarah. Dia menepis tangan Guskov yang sudah duduk di kursi roda.
"Milan, aku ingin kita berbicara," pinta Guskov, yangmana Nadia menatap Guskov dan bibi dengan senyuman getir.
Nadia menganggukkan kepala pada lirikan Guskov, entah mengapa hatinya sakit. Nadia terdiam menatap kosong akan kepergian dua orang itu ke dalam.
Kembali memetiki tangkai cabai, Nadia manahan sedih karena tatapan kebencian bibi Milan padanya. Bagaimana cara menjelaskan ke Bibi soal jebakan Nyonya Bram, kalau bibi melihatnya saja sudah jijik.
Reno bersandar di dapur mendengar penjelasan Shelin, dan saat menoleh ke kanan, matanya menyipit pada Guskov yang masuk kamar dengan diikuti wanita sangat cantik plus seksi lalu pintu kamar tertutup. Dia langsung bersitatap dengan Shelin yang juga melihatnya, dan seketika berlari ke depan.
"Nadia!!" pekik Reno dan Shelin bersamaan.