Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Setelah Cerai Menjadi Or Terkaya

Istri Setelah Cerai Menjadi Or Terkaya

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Berubah manjadi cantik / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:246.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

"Setelah tiga tahun pernikahan, Dewi akhirnya sadar kalau dirinya tak lebih dari sekedar bank darah berjalan untuk Lina, wanita yang dijaga Rizky. Apapun keluhannya, semua Rizky tutup dengan uang. Hingga Dewi berpikir, 'Kalau begitu apa bedanya diriku dengan seorang pelacur? Sama-sama dibayar hanya berbeda pada apa yang ditawarkan.'

Akhirnya kata cerai keluar dari mulut Dewi dan saat itu juga, ia pergi tanpa menoleh. Namun, keduanya ditakdirkan untuk bertemu lagi, tapi kali ini dengan situasi yang berbeda.

Dewi sebagai pewaris Keluarga Konglomerat Wijaya yang jauh lebih berkuasa dari keluarga Rizky, menuntut balas Lina dan Rizky yang dulu menekannya!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Dewi tidak menunggu jawaban dari Rizky.

Setelah kata-kata dingin itu terucap, ia tidak lagi menoleh ke arah pria itu. Tangannya bergerak cepat mengambil ponsel dan tasnya dari meja, gerakannya rapi dan tanpa ragu. Sepatu hak tinggi yang dikenakannya mengetuk lantai marmer dengan ritme tegas saat ia melangkah menuju pintu.

Setiap langkahnya lurus, tidak goyah.

Seolah semua yang tertinggal di belakangnya tidak lagi memiliki arti.

Rendy mengangkat alis, melihat punggung Dewi yang menjauh. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung mengikuti dari belakang, langkahnya santai namun tetap menjaga jarak.

Pintu ruang privat tertutup.

Rizky tertinggal sendirian.

Ruangan yang tadi penuh suara kini menjadi sunyi. Ia masih berdiri di tempat yang sama, tangannya menggantung di samping tubuh, seolah belum sepenuhnya kembali dari apa yang baru saja terjadi.

Kata-kata Dewi terus terngiang.

Menjadi pembantu yang rendah hati di keluarga Rizky.

Kalimat itu sederhana, namun terasa seperti pukulan yang jauh lebih keras daripada apa pun yang terjadi barusan.

Rizky perlahan mengangkat kepala. Tatapannya kosong sesaat, lalu berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Selama ini, ia tidak pernah benar-benar memikirkan bagaimana Dewi hidup di rumahnya.

Ia hanya menganggap semuanya berjalan seperti biasa.

Tugas rumah, interaksi dengan keluarganya, sikap Dewi yang selalu tenang dan tidak banyak bicara—semua itu dianggapnya wajar.

Namun sekarang, untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang selama ini diabaikan.

Ia tidak tahu apa-apa.

Tidak tahu bagaimana Dewi diperlakukan.

Tidak tahu apa yang ia rasakan.

Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik sikap diamnya.

Rizky menghembuskan napas perlahan, rahangnya menegang.

Ia melangkah keluar dari ruang privat.

Lorong di luar masih terang, namun suasananya tidak lagi sama.

Beberapa langkah dari pintu, ia melihat pemandangan yang membuatnya berhenti.

Pak Tono.

Pria itu terlihat tidak stabil, tubuhnya limbung, wajahnya memerah. Tangannya mencengkeram seseorang dengan gerakan kacau.

Rina.

Wanita itu mencoba melepaskan diri, wajahnya panik. Namun Pak Tono yang sudah terpengaruh obat justru semakin agresif, menariknya tanpa kendali.

Rizky menyipitkan mata.

Dalam sekejap, semuanya menjadi jelas.

Anggur itu.

Obat itu.

Dan tindakan Dewi.

Ia tidak pernah benar-benar berada dalam bahaya.

Sejak awal, Dewi sudah siap.

Apa yang ia lakukan barusan—menerobos masuk, marah, hampir kehilangan kendali—semuanya terasa… sia-sia.

Rizky berdiri diam beberapa saat, lalu berbalik tanpa ikut campur.

Langkahnya berat, namun tetap mantap.

Di dalam mobil, suasana berbeda.

Dewi duduk di kursi penumpang, tubuhnya bersandar ringan, tatapannya mengarah ke luar jendela. Lampu kota bergerak cepat, memantul di matanya.

Hatinya sempat bergetar.

Bukan karena kejadian dengan Pak Tono.

Melainkan karena Rizky.

Kesalahpahaman itu.

Nada suaranya.

Pertanyaan yang ia lontarkan.

Namun perasaan itu hanya muncul sebentar.

Dewi menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Dalam hitungan detik, ekspresinya kembali tenang.

Ia sudah memutuskan.

Masa lalu adalah masa lalu.

Tidak ada lagi hubungan antara dirinya dan Rizky.

Tidak perlu dijelaskan.

Tidak perlu diperbaiki.

Di kursi pengemudi, Rendy bersenandung pelan, jari-jarinya mengetuk setir mengikuti irama yang tidak jelas.

Ia melirik Dewi sekilas, lalu tersenyum.

“Hari ini aku menyelamatkanmu,” katanya santai. “Bagaimana kamu akan berterima kasih padaku?”

Dewi tidak menoleh.

“Apa yang kamu mau?” jawabnya singkat. “Hadiah? Atau transfer uang saja?”

Rendy langsung tertawa kecil.

“Ini pertama kalinya ada wanita yang ingin memberiku uang.”

Ia memiringkan kepala, menatap Dewi dengan senyum setengah bercanda.

“Tapi aku punya ide yang lebih menarik. Bagaimana kalau kamu menikah denganku sebagai balas budi?”

Dewi akhirnya menoleh.

Tatapannya datar.

“Bermimpi.”

Jawaban itu keluar tanpa ragu.

Rendy mendengus, namun tidak menyerah.

“Kenapa? Apa salahnya? Setidaknya beri aku kesempatan.”

Dewi menatapnya beberapa detik, lalu berkata dengan nada yang sangat tenang,

“Aku selalu menganggapmu sebagai saudara perempuan.”

Mobil itu seakan hening sesaat.

Rendy terdiam.

Ekspresinya membeku sebelum akhirnya berubah menjadi campuran antara tidak percaya dan kesal.

“Saudara perempuan?” ulangnya. “Serius?”

Dewi mengangguk ringan, tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Rendy menghela napas panjang, lalu tertawa kering.

“Baiklah,” katanya. “Aku akan membuktikan bahwa aku bukan itu.”

Tatapannya kembali fokus ke jalan.

“Aku akan membuatmu sadar bahwa aku yang paling cocok untukmu.”

Dewi tidak menjawab.

Ia hanya tersenyum tipis.

Dalam pikirannya, antusiasme seperti itu tidak akan bertahan lama.

Paling lama satu bulan.

Setelah itu, semuanya akan kembali seperti biasa.

Sesampainya di rumah, Dewi baru saja meletakkan tasnya ketika ponselnya berdering.

Nama Maya muncul di layar.

Ia langsung mengangkatnya.

“Bagaimana?” suara Maya terdengar cepat. “Apa yang terjadi di sana?”

Dewi berjalan ke sofa, duduk dengan santai.

Ia menceritakan semuanya.

Tentang Pak Tono.

Tentang Rina.

Tentang makan malam itu.

Ia menjelaskan dengan jujur, tanpa menambahkan emosi yang tidak perlu.

Hanya satu hal yang ia sebutkan secara singkat.

Rizky.

Maya mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu langsung menghela napas kesal.

“Rina benar-benar tidak tahu diri,” katanya. “Berani sekali dia melakukan hal seperti itu.”

Dewi tersenyum tipis.

“Dia punya niat buruk,” katanya. “Tapi dia juga punya kemampuan.”

Maya terdiam sejenak.

“Kamu masih ingin mempekerjakannya?”

“Untuk sementara,” jawab Dewi tenang. “Selama dia tidak membuat masalah lagi.”

Keputusan itu sudah dipikirkan.

Rina mungkin berbahaya.

Namun ia juga berguna.

Dan Dewi tahu bagaimana mengendalikannya.

Keesokan paginya, Dewi tiba di kantor seperti biasa.

Begitu masuk ke ruangannya, ia langsung menyadari sesuatu yang berbeda.

Kursi kerjanya telah diganti.

Yang lama sudah tidak ada, digantikan kursi baru yang terlihat lebih nyaman dan kokoh.

Dewi hanya melirik sebentar, lalu berjalan ke meja.

Ia tidak bertanya.

Tidak perlu.

Ia mengambil cangkir, menuangkan kopi, lalu duduk dengan tenang.

Baru saja ia mengangkat cangkir itu—

“Duar!”

Pintu terbuka dengan keras.

Rina masuk.

Langkahnya cepat, wajahnya penuh amarah yang tidak disembunyikan. Rambutnya sedikit berantakan, dan di lehernya terlihat jelas bekas yang tidak bisa ditutupi.

Tatapannya langsung tertuju pada Dewi.

“Kamu sengaja, kan?” katanya tajam. “Aku menyuruhmu menemui Pak Tono, tapi kamu malah meninggalkanku sendirian!”

Ia melemparkan sebuah dokumen ke atas meja Dewi.

Kontrak.

“Tandatangani ini,” lanjutnya. “Dan anggap semua ini tidak pernah terjadi.”

Dewi tidak langsung menjawab.

Ia meletakkan cangkirnya dengan tenang.

Tatapannya terangkat, menatap Rina tanpa emosi.

Kemudian tangannya bergerak pelan, menekan sesuatu di ponselnya.

Suara rekaman terdengar.

Jelas.

Percakapan di makan malam kemarin.

Suara Rina.

Nada provokasi.

Kata-kata yang membujuk Dewi untuk meninggalkan Grup Wijaya dan bergabung dengan Pak Tono.

Setiap kalimat terdengar utuh.

Tidak terpotong.

Tidak bisa dibantah.

Wajah Rina berubah.

Dari marah menjadi kaku.

Dari kaku menjadi pucat.

Aura agresif yang tadi memenuhi tubuhnya lenyap dalam sekejap.

Ia menatap Dewi dengan mata yang mulai panik.

Sementara Dewi tetap duduk dengan tenang, ponsel di tangannya masih memutar rekaman itu tanpa tergesa-gesa untuk menghentikannya.

Suasana ruangan berubah total.

Dan kali ini, kendali sepenuhnya berada di tangan Dewi.

1
yasmin
bingung am alur cerita ny udah gitu Dewi ny gak tegas..
Punkpunk 234
kerreenn.. guyur aja Deekk.. se kali² mandi red wine tuu c sarijem 😆😆
syska
ᴄᴇʀɪᴛᴀ ʏᴀɴɢ ʙᴇɴᴀʀ ʙᴇɴᴀʀ ʙᴇᴅᴀ ᴅʀ sᴇᴍᴜᴀ ᴄᴇʀɪᴛᴀ ʏɢ ᴀᴋᴜ ʙᴀᴄᴀ....
ᴋᴇʀᴇɴ ᴀʙɪs ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ....
syska
ᴄᴏᴏʟ ᴅᴇᴡɪ.... 😍😍😍
Jetva
Dracin sih biasaaaa...byk omong...
Jetva
🤣🤣🤣..kamu cari mati Siti..🤣🤣🤣
Fitrian
gue bilang lo rina 🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🤮🤮
Fitrian
ciiiiiiiiihhhhhhhh itu kan gara-gara lo bego maya, dasar teman sinting 🖕
Ds Phone
darah dibayar darah lah hutang mesti dilunas kan
Ds Phone
dia jadi terlalu tegas
Ds Phone
ada muslihat muking
Ds Phone
kuasa dia lagi kuat rupa nya
Ds Phone
apa yang meraka rebut kan
Fitrian
cuuuuhhhhhhh dasar otak kodok 🤮🤮🤮🤮🖕
Fitrian
ba biiiii🐽🐽🐽🐽🐽🐽🔪🔪🖕🖕
Heriyani Lawi
sdh bercerai dari Arif? maksudnya apa?!!
Kirana Mahestri
ni tu cerita apa sih, tes nya panjang cuman kata katanya itu itu terus kaya diulang, alurnya mandek bikin jenuh
Fitrian
ciiiiiiiiihhhhhhhh bego, lo di bilang naik sebagai wakil karena naik ranjang kaka kandung lo💦💦💦💦💦💦💦🖕
Partini Minok Nur Maesa
pdhl rizky jg sering merendahkan dewi🤭
Partini Minok Nur Maesa
aku bingung arif itu sebenarnya siapanya dewi klp kkak kok panggilnya arif gx pake kak ato bang
Punkpunk 234: kirain cuma aku doang yg bingung.. ternyata ada temen yg sama bingung nya..🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!