"Apa kamu tidak keberatan berbagi suami denganku?"
Anyelir menipiskan bibir. "Pertama, pelajari lagi tata bahasa. Pertanyaanmu bikin salah paham. Kedua, hanya saya Istri satu-satunya. Ketiga, saya tidak pernah peduli dengan urusan pribadinya."
"Oh, My Darling love you too. Thanks untuk pujian manisnya," balas Axton dengan nada mencibir.
Axton dan Anyelir adalah korban perjodohan dari ketamakan orang tua masing-masing. Keduanya tidak saling mencintai, tidak saling menginginkan, tidak juga ingin terikat terlalu lama. Akan tetapi, suatu hari, baik Axton maupun Anyelir justru sepakat menjalani 'open marriage'.
Di mana, masing-masing dari mereka bebas menjalin hubungan dengan orang lain di luar pernikahan itu. Terkecuali di depan media dan keluarga, Axton dan Anyelir akan tetap menunjukan hubungan yang manis, berlagak sebagai pasangan ideal dan serasi.
Benar, seharusnya mereka hanya perlu berpura-pura tanpa harus saling menyakiti akan perasaan terlarang itu.
Cover by Canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilwa Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Boleh Bekerja?
Dahi Axton berkerut kasar ketika merasakan gerakan ringan di sekitar dadanya. Berdecak pelan dan berusaha mengubah tidurnya dari yang semula terlentang menjadi miring, keinginan Axton terpaksa tidak direalisasikan begitu menyadari ada kepala Anyelir yang masih menggunakan lengannya sebagai bantalan. Hingga terasa kesemutan dan pegal karena sudah dipakai dari beberapa jam lalu.
Gerakan di dadanya kembali terasa, seperti kepala Anyelir yang sedang mendusel. Entah mau apa, tidak mungkin kalau hanya mau jahil. Kelewat tega membangunkan Axton yang besok harus bangun pagi untuk meeting. Memangkas waktu juga dari rumah mama mertuanya menuju kantor yang bisa menghabiskan waktu kisaran satu jam-an.
"Axton."
Dengan keadaan mata masih terpejam—kelopak matanya terasa berat untuk terbuka, Axton menyahut dengan gumaman. Sudah sadar dari pertama kali Anyelir mengusik tidurnya.
"Hm."
"Bangun."
"Buat apa?"
"Aku lapar." Seperti tidak punya dosa sudah mengacaukan jam tidur Axton, Anyelir memaksanya membuka mata. Membantu menarik terbuka kelopak mata Axton. "Ayo, bangun. Katanya kamu bakal selalu ada buat nemenin aku melewati kehamilan ini."
"Jam berapa sih?"
Axton menyingkirkan tangan Anyelir yang kuku panjangnya hampir saja menusuk retinanya. Membuka mata berat, menguap lebar tanpa susah payah ditutup menggunakan telapak tangan.
Melirik jam digital di atas nakas, Axton mendapati masih jam dua dini hari. Refleks mendesah gusar, setelahnya memaksakan diri terbangun yang segera diikuti Anyelir dengan wajah berseri-seri. Kiranya senang sekali lagi-lagi Axton dapat menemani istrinya itu melewati fase ngidam yang kali ini ingin menikmati makanan seperti apa.
"Mau makan apa?" tanya Axton beranjak duluan turun dari ranjang. Memakai sandal rumahnya asal, tidak peduli antara kaki kiri dan kanan ketukar.
"Kakiku lemes."
Axton yang semula bersiap melangkah, segera mengurungkannya mendengar ungkapan Anyelir. Yang tidak ada nyambungnya dari pertanyaan yang dilontarkan.
Malas bertanya, Axton lekas membawa tubuh Anyelir untuk digendongnya. Mengajaknya berjalan lamban, takut oleng dan berakhir Anyelir yang kini sudah mengalunkan kedua tangan di leher Axton, terlepas dari gendongannya.
"Aku berat?" tanya Anyelir seraya memandangi wajah terkantuk-kantuk Axton. Matanya tak sepenuhnya terbuka, kadang-kadang memejam dan terbuka segar dengan ekspresi kaget. Setelahnya mulut Axton bakal menguap lebar dan kembali lagi seperti semula.
"Nggak."
"Masa?" Anyelir menyipitkan mata. "Berat badanku naik ada lima kilogram. Masa nggak tambah berat? Kamu nyoba bohongi aku, ya?"
Ingin Axton mengiyakan, tapi masih takut bakal kena semprot dan marahan lagi. Axton sedang malas diajak musuhan, energinya sudah terkuras habis mengurus kantor seorang diri.
"Menurutku nggak sih, tapi entah nanti setelah perutmu bertambah besar," gumam Axton menurunkan Anyelir di kursi stol. Belum sampai melepas sisipan lengannya di tungkai dan pundak Anyelir, istrinya itu menggeleng menolak. Makin mengeratkan lengannya di leher Axton.
"Jangan di sini, di kursi biasa aja."
Tak membantah, Axton kembali mengangkat Anyelir dan dibawa ke kursi biasa di meja makan. Menarik kursinya menggunakan kaki, kelepasan mengumpat pelan ketika sandalnya pakai nyangkut dan terlepas dari kaki Axton.
"Kurang-kurangin bicara jeleknya. Aku nggak mau mereka nurunin kamu."
"Ya masa semuanya harus nurun dari kamu?" Axton menunduk mengambil sandalnya setelah mendudukkan Anyelir di kursi. Kembali memakainya dan segera berlalu ke depan kitchen set. "Benihnya, 'kan dari aku. Otomatis, separuhnya atau malah seperdelapan bagiannya dari aku," ujarnya memanas-manasi Anyelir. Terkekeh dan langsung mengangkat kedua tangan ketika Anyelir bersiap melempar sandal ke arah Axton.
"Percuma punya benih, tapi nggak punya wadah penyemaian," sinis Anyelir menurunkan sandalnya dan kembali memakai. "Iya, benihnya emang dari kamu. Tapi, 'kan mereka numpang hidupnya di rahimku. Otomatis, lebih berhak aku yang dapat banyak. Tanpa ada tempat, yang merawat, benih itu nggak bakalan berkembang." Ekspresinya yang semula tertekuk masam, kontan berubah penuh kemenangan kala mendapati kepasrahan Axton.
"Ya ya ya, sebahagia kamu." Axton mengibaskan tangan, lekas berbalik memunggungi Anyelir. "Ini mau dimasakin atau makan masakan tadi sore aja? Dipanaskan lagi?"
"Kamu masak. Aku mau dibuatkan sup matahari," kata Anyelir tanpa dosa. Menyengir lebar menyambut raut kebingungan Axton.
"Apa? Sup ... matahari?"
Lipatan dahi Axton terlipat jelas, dia baru pertama kali mendengar ada makanan ada kombinasinya matahari.
"Kamu kalau mau iseng doang jangan segininya dong, Darling." Kaki jenjang Axton melangkah mendekati Anyelir, berhenti menjulang di hadapan sang istri dengan satu tangan ditumpukkan di atas meja. "Makanan apaan yang pakai matahari. Aneh-aneh aja kamu. Udah, yang lain aja. Mau apa? Mie, telur mata sapi? Sosis goreng?" tawar Axton menyebutkan menu masakan instan yang bisa dibuatnya. Sampai tersenyum lebar, berharap kali ini Anyelir mau mendengarkannya.
Sayangnya, istrinya itu kelewat kepala batu. Sembari menggeleng-gelengkan kepala dan tidak peduli dengan wajah muak Axton, Anyelir berkata, "Beneran ada kok. Itu makanan khas Solo. Dulunya dibikin waktu ada hajatan aja. Sekarang udah ada yang jual. Di beberapa resto pun udah ada."
"Yaudah pesan aja kalau gitu."
Tolong, ya. Axton sedang malas sekali membuat eksperimen. Apalagi nanti kalau gagal, alih-alih bakal tetap mendapat pujian atas usahanya; pasti yang akan dilakukan Anyelir pertama kali, mengomentari masakan Axton; yang kurang garamlah, terlalu gosonglah, bentuknya anehlah, banyak lagi yang nggak mengenakan hati. Dan Axton yang sudah lelah semuanya, takut sendiri bakal balik kesal. Mereka bertengkar lagi, begitu terus setiap hari sampai Axton muak dan memilih tinggal sendiri di rumah mereka.
"Di sini belum tentu ada. Dan lagian, jam segini resto mana yang buka." Anyelir cemberut, seperkian detik selanjutnya berubah menatap Axton dengan binar pengharapan. "Buatin, ya. Mereka pengennya kamu yang bikinin. Mudah kok, ada tutorialnya juga. Janji aku makan mau bagaimanapun hasilnya."
Cih, omong kosong apa itu. Axton sudah kenyang dikasih harapan palsu oleh Anyelir. Kali ini tidak akan termakan lagi.
Namun, ketika masih melihat binar mata penuh permohonan Anyelir, pendirian Axton tetap goyah. Mendesah gusar, mengangguk pasrah.
"Yeay!"
Saking senangnya atau memang mood swing-nya sedang bagus sekali, Anyelir sampai bersorak heboh. Setelahnya menghambur memeluk pinggang Axton erat.
Axton yang diperlakukan begitu, tentu saja senang sekali. Melting habis, baru kali ini merasakan kasih sayang Anyelir yang tak sungkan lagi diperlihatkan.
"Untung sayang," gumam Axton membalas merangkul bahu Anyelir, ditarik kian dibenamkan di perut kerasnya. Turut mengusap-usap juga kepala belakang Anyelir.
"Yaudah, buruan buatkan." Seakan sudah balik ke mode normal, Anyelir mendadak menarik pelukannya. Mendongak, menatap Axton dengan senyuman manis. "Aku udah nggak sabar menikmatinya. Ayo, tunggu apa lagi. Silahkan masak," katanya mengulurkan telapak tangan menghadap kitchen set.
Axton mendengkus kasar. Tak segan menekan gemas puncak kepala Anyelir hingga si empunya mengaduh. Mau membalas memukul Axton, tapi sayang Axton keburu kabur duluan. Tidak akan membiarkan tangan ringan Anyelir main meninggalkan jejak merah dan memar di tubuhnya.
Karena baru kali ini mendengar ada jenis makanan bernama sup matahari, Axton yang tak mau salah membuatnya dan memang tidak tahu bagaimana bentukannya, mencari aman dengan browsing di internet. Melihat-lihat fotonya yang memang menyerupai bunga matahari makanya diberi nama sup matahari. Setelahnya melihat resep beserta tutorial memasaknya. Axton terus mengamati dan menajamkan pendengarannya sembari mempraktekkan langsung.
Kurang lebih menghabiskan waktu hingga hampir satu jam untuk Axton membuatnya. Bukan karena susah, malah bisa dibilang gampang. Namun, untuk Axton yang tidak terlalu suka masak apalagi ini baru pertama kali membuatnya, kesulitan sekali. Waktu bagian mau membelah kulit telur yang di dalamnya sudah berisi daging giling campur toping aneka macam seperti; biji jagung manis, kacang polong, wortel, jamur kulit yang Axton ganti dengan jamur tiram, tangan Axton sampai gemetar. Takut salah membelahnya dan gagal membuat menyerupai bunga matahari.
Mengembuskan napas panjang dan sudah yakin lumayan baguslah untuk pemula, Axton membawanya ke hadapan Anyelir yang sampai terkantuk-kantuk menunggunya. Meletakkan pelan-pelan di hadapan Anyelir, mengusap lembut kepala sang istri untuk menyadarkannya.
"Darling, bangun. Udah siap sup matahari-nya."
Anyelir mengerjap kaget. Spontan mendongak menatap Axton lekat. Dibalas dengan anggukan pelan dan senyum mengembang lebar dari Axton.
"Ayo dimakan. Keburu dingin."
Anyelir mengalihkan pandangan ke meja. Lebih tepatnya pada sup matahari buatan Axton yang sudah terhidang sedap di hadapannya. Ujung-ujung bibirnya tertarik ke atas, hormon dopamin kembali memenuhi relung hatinya.
https://id.tastemade.com/videos/sup-matahari-solo/
Sudah tak sabar dan semakin tergoda dengan aroma sedap dari kuah sup serta taburan bawang goreng di atasnya, Anyelir segera menikmatinya. Mangut-mangut keenakan ketika baru menyeruput kuah sup-nya.
"Enak. Bumbunya pas." Anyelir berganti mencicipi bunga matahari-nya. "Dagingnya pas, juicy. kulit telurnya juga nggak amis." Mendongak seraya masih mengunyah makanannya, Anyelir melempar tatapan berbinar pada Axton. "Makasih, ya. Enak kok, udah lulus tes kalau mau buka resto," guraunya dibalas tawa lepas dari Axton.
"Bisa aja kamu. Kalau aku buka resto, siapa yang bakal ngurusin kantor?"
Axton menarik kursi di sebelah Anyelir. Menyerong, menopang pipi dengan tumpuan meja. Mengamati dengan saksama Anyelir yang kian lahap menikmati sup matahari buatannya.
"Aku," sahut Anyelir terlampaui tenang. Seperti tidak ada beban sewaktu mengatakannya.
"Nggak." Kepala Axton menggeleng-geleng. Jemari tangannya bergerak sigap menyingkap helai rambut Anyelir ke belakang telinga. Membuat Axton lebih jelas memandang istrinya dari samping. "Kamu cukup di rumah aja. Temani anak-anak. Urusan kantor biar aku yang handle sendiri, aku sudah terbiasa. Tenang aja."
Anyelir yang mau menyuapkan makanannya, langsung tak jadi dan kembali meletakkan di atas piring. Menoleh dengan ekspresi datar, sorot mata kelabunya langsung menghujam manik mata cokelat terang milik Axton, menatap terlampaui serius. "Aku ... jadi ibu rumah tangga gitu?"
"Iya. Kenapa, kamu nggak mau?" tanya Axton yang mulai sangsi dengan perubahan mood Anyelir. Jangan bilang setelah bayi kembarnya lahir, Anyelir masih mempunyai harapan setelah mereka agak besar, kembali bekerja lagi.
"Bukannya nggak mau—" Anyelir mengalihkan tatapannya terpaku pada sup matahari yang sudah habis setengah. "Tapi, aku masih mau bekerja. Pekerjaan udah jadi passion aku sejak lama, aku bakal kesulitan menyudahinya begitu aja."
"Lalu, maunya gimana?" Axton menarik kursi mendekat, tubuhnya dicondongkan menghadap Anyelir. Menarik lembut dahi Anyelir, mengajak istrinya saling bersitatap dan menyelami kedalaman mata masing-masing. "Mau tetap bekerja, mau juga mengurus bayi-bayi kita? Emang bisa, gimana caranya kamu bagi waktu? Kalaupun bisa, aku yang nggak tega lihat kamu kecapekan, Darling. Pilih salah satu aja. Ya ... meski aku bakal agak kecewa kalau kamu lebih milih pekerjaan, aku rasa lama-lama aku bakal maklumi. Nanti juga terbiasa sendiri. Mereka juga bakal ngertiin kita. Mungkin," gumam Axton ikutan bingung sendiri. Ketakutan sendiri kalau nanti keduanya sama-sama bekerja, bayi kembar mereka merasa asing dengan orang tuanya sendiri. Dan ketika semakin beranjak dewasa, mereka bertambah asing. Takutnya lagi, mencari perhatian dan bentuk kasih sayang dari hal-hal yang keliru.
Axton tidak bisa kalau nanti anak-anaknya sampai terjerumus ke lubang hitam. Axton ingin kebalikannya, anak-anaknya bakal hidup terarah dan dalam ruang lingkup yang positif saja seperti pengasuhan bundanya yang berhasil mendidik ketiga anaknya. Termasuk Axton yang kadang kala melanggar, tapi masih punya pengendalian diri untuk tetap berada di lingkungan positif.
"Kamu maunya aku di rumah aja? Mengurus kamu dan mereka? Beneran larang aku jadi working mom?" Raut Anyelir tampak pasrah, sementara matanya menyiratkan keberatan akan permintaan Axton.
Axton mengangguk mantap. Berusaha berani mengungkapkan keinginan terpendamnya yang sudah dibayangkan dari lama. "Iya. Ini bukannya aku mau egois, tapi selama anak-anak kita masih kecil, aku maunya kamu di rumah aja fokus mengurus mereka. Kalau pun mau kerja lagi, tunggu dulu sampai mereka agak besaran."
"Jadi, aku nanti masih bisa kembali bekerja? Kamu serius,' kan. Nggak sedang nyoba ngibulin aku?"
"Kalau kamu bisa bagi waktu dan janji kalau capek nggak bakal melampiaskan emosi ke anak-anak, aku oke-oke aja."
Anyelir mengulum bibir—menahan lengkungan senyum.
Axton terkekeh geli melihatnya. Merentangkan kedua tangan, menyambut Anyelir yang dalam hitungan detik saja segera berhambur memeluknya erat.
"Aku pegang ucapanmu. Awas kalau nanti beda cerita."
"Iya, Mami," sahut Axton setengah mengecek. Tawanya menguar lepas sewaktu Anyelir mulai melakukan pembalasan dengan mencubit-cubit kecil pinggang Axton.
Meski pun nanti kemungkinan besar bakal beda cerita karena Axton tidak sepenuhnya mengizinkan Anyelir kembali bekerja dan bakal keberatan sekali melihat anak-anaknya terlantar begitu saja, terpenting sekarang Axton dapat menghibur gundah gulana Anyelir. Axton tak mau perkataan faktanya akan semakin melukai istrinya yang bakal berdampak negatif pada bayi-bayinya.
Sungguh Axton tak bisa lagi menyaksikan Anyelir dan bayi-bayinya kembali kesakitan baik dari tekanan dari dalam maupun dari luar.
****
Halo, aku kembali.
Maaf beberapa hari nggak update. Dari kemarin jatuh sakit, tapi Alhamdulillah sudah lebih mendingan. Tinggal agak pusing sama encok (padahal belum tua-tua banget)
Ini hampir ada 2k, semoga menghibur. Dan terima kasih banyak atas boom like-nya. Lope-lope buat kalian semua 😘😘🤍🤍🤍🌻🌻