Kematian orang tuanya membuat Alice mengalami trauma yang sangat berat. Mereka di bunuh di depan matanya. Beatrice sang kakak mencoba menyembuhkan trauma adiknya itu. Ia membawa Alice menuju kehidupan barunya di Melbourne, Australia. Seiring dengan berjalannya waktu, keadaan Alice semakin membaik. Saat itulah kakak adik itu berniat untuk membalas dendam atas kematian orang tuanya.
Yuk, mampir di karya baru author! Semoga kalian suka yah...
Jangan lupa dukungannya. Like, komen, jika pun mau ngasih saran boleh kok, tapi dengan kata-kata yang sopan dan bisa diterima author yah...
Terima kasih 🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Yais, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBUAH FIRASAT
Malam itu, Alice menanyakan tentang keberadaan berlian itu pada Kanaya. Tapi sayangnya, dia sama sekali tidak mengetahuinya. Alice merasa jika usahanya itu sudah sia-sia. Dia pikir Kanaya tahu akan banyak hal, tapi sudahlah.
"Apa besok kau akan hadir di acara pelelangan itu?" tanya Alice.
"Awalnya aku tidak mau, tapi ayah terus memaksaku. Jadi mau tidak mau aku harus datang." jawab Kanaya.
Alice memberitahu Kanaya jika besok siang dia akan mengikuti lomba melukis. Kanaya ikut senang mendengarnya. Jika saja ia bisa melihat pasti ia juga akan ikut dalam lomba itu.
"Apa ayah dan ibumu tidak ikut kemari?" tanya Kanaya.
"Mereka sudah tidak ada lagi di dunia ini."
"Benarkah? Maaf jika aku sudah membuatmu sedih."
"Tidak apa-apa."
Alice menceritakan tentang kehidupannya pada Kanaya sampai jam 03.00 pagi. Saat dilihat, ternyata Kanaya sudah tertidur. Alice menatapnya dengan senyum kecil. "Tidak lama lagi, kau akan melihat keindahan dunia ini." ucap Alice sambil memegang tangan Kanaya.
****
"Alice!!!!" teriak Aksan memecahkan keheningan malam. Aksan sangat berkeringat. Dia menuang air ke gelas dan meminumnya. Syukurlah jika itu hanya mimpi. Saat menyalakan ponsel, ternyata masih pukul 03.15 malam. Walau hanya mimpi, tapi kenapa rasanya seperti nyata? Aksan tidak bisa tidur lagi. Dia menunggu pagi datang untuk bicara dengan Alice.
Cahaya mentari di pagi hari kembali menyapa. Saat Kanaya terbangun, sudah ada pelayan di kamarnya.
"Dimana Alice?"
"Dia sudah pergi tadi pagi, non."
"Dia baik-baik saja bukan?" tanya Kanaya.
"Dia baik. Kenapa nona bertanya seperti itu?"
Malam tadi, Kanaya bermimpi buruk. Dia dan Alice mengalami sebuah kecelakaan mobil. Seseorang membawa kami ke rumah sakit. Mimpi itu terlihat sangat jelas. Tidak lama aku sadarkan diri. Dan anehnya lagi aku sudah bisa melihat. Saat menanyakan keberadaan Alice, dokter bilang jika dia tidak bisa diselamatkan.
"Nona," ucap pelayan menepuk pundaknya.
Kanaya tersadar dari lamunannya.
"Itu hanya mimpi buruk saja, non. Tidak perlu kau pikirkan." ucap pelayan itu.
"Jika memang itu sebuah mimpi, tapi kenapa rasanya itu bukan mimpi. Itu adalah sebuah firasat." batin Kanaya. "Tolong sambungkan ponselku pada Alice, Bi!"
Saat sedang menyambungkan teleponnya, Albellard datang menemui Kanaya di kamarnya. Pelayan itu langsung mematikan ponselnya. Albellard sudah memanggil seorang perias untuk Kanaya. Tidak lama lagi dia akan tiba.
"Tidak perlu memanggil perias, aku akan meminta pelayan untuk membantuku berdandan." ucap Kanaya.
"Ini acara penting ayahmu, dan kau harus terlihat sangat cantik. Akan banyak media yang datang untuk memotret." jawab Albellard.
****
Sebelum semua orang terbangun, Alice sudah kembali ke kamarnya. Dia menyembunyikan tas hitam itu di dalam lemarinya. Alice kembali membuka kotak pemberian Aksan. Dia tersenyum melihat foto dirinya saat masih duduk di bangku SMA. Tidak lama Beatrice datang menemuinya.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" tanya Beatrice.
"Aku tahu siapa pemilik kotak ini, kak."
"Benarkah? Siapa orangnya? Apa kita mengenalnya?"
"Dia seorang pria yang selalu ada di sampingku. Pemilik kotak ini adalah Aksan."
Mendengar nama itu, Beatrice sangat terkejut. Itu berarti, Aksan lah yang dulu pernah menemui orang tuanya untuk melamar Alice.
"Apa kau yakin?"
"Tentu saja, aku menanyakannya langsung pada Aksan. Dia langsung mengakuinya."
Alice memegang tangan kakaknya erat. Dia menatap kakaknya dengan tatapan yang sangat dalam. "Kak, setelah kita kembali ke Melbourne, tolong jangan melarang hubunganku dengan Aksan. Dia sangat mencintaiku, begitupun aku yang juga mencintainya. Hanya kau yang aku miliki. Aku berjanji akan menuruti semua keinginanmu, tapi izinkan aku dan Aksan untuk bersatu."
"Kau ini kenapa? Nanti saja kita bicarakan setelah sampai di Melbourne."
"Bagaimana jika aku tidak kembali?" tanya Alice.
"Sudahlah, jangan bicara melantur. Memang kau akan pergi kemana? Apa kau tega meninggalkan kakakmu sendirian?"
Alice melepas kalung miliknya dan memberikannya pada Beatrice.
"Kenapa kau melepas kalungnya? Bukankah itu pemberian dari ayah dan ibu saat ulang tahunmu?" ucap Beatrice.
"Kak, jika terjadi sesuatu padaku nanti, tolong berikan kalung ini pada Aksan. Bilang padanya jika aku sangat mencintainya." ucap Alice sambil meneteskan air matanya.
Tangis Beatrice pecah. "Kau ini sebenarnya akan pergi kemana? Kenapa kau menakut-nakuti aku? Seakan kau akan pergi jauh saja."
"Tidak ada yang tahu perjalanan kita ke depannya akan seperti apa, kak."
"Sudahlah, jangan bicara lagi!"
Tidak lama bibi Helga datang dan menyuruh mereka turun untuk sarapan. Di bawah juga sudah ada Ranna dan komandan. Alice dan Beatrice menghapus air matanya. Mereka turun bersama. Selama di meja makan, Alice terlihat diam saja. Saat komandan mengajaknya bicara, dia hanya menjawabnya singkat. Melihat sikap Alice, Ranna yakin jika dia akan datang ke acara nanti malam. Selesai sarapan, Beatrice harus pergi ke kantor bersama komandan. Saat akan melangkah, entah kenapa rasanya sangat berat. Dia menjadi tidak fokus karena kata-kata Alice tadi.
Saat sedang menyiapkan semua keperluan untuk melukis, ponsel Alice berdering.
"Halo," ucap Alice.
"Kau sedang apa?" tanya Aksan.
"Aku sedang bersiap untuk lomba melukis siang nanti." jawab Alice.
Aksan merasa lega saat tahu keadaan Alice baik-baik saja.
"Jika saja kau ada disini, aku akan berkeliling kota bersamamu. Menikmati pemandangan indah saat pagi, sore, dan malam hari."
"Suatu hari nanti, aku akan membawamu berkeliling dunia ini," ucap Aksan.
"Ya, saat itulah aku satu-satunya perempuan yang paling bahagia di dunia ini karena memiliki seseorang sepertimu." ucap Alice sambil menahan tangisnya.
"Cepatlah kembali! Aku rindu ingin memelukmu. Ingin mendengar semua ceritamu." ucap Aksan.
"Bagaimana jika aku tidak kembali? Apa kau akan terus menungguku?" tanya Alice.
Perkataan Alice membuat dia mengingat kembali tentang mimpi buruk semalam. Dia takut jika Alice benar-benar pergi meninggalkannya. "Aku akan terus menunggumu sampai kau kembali, atau jika perlu aku akan menunggumu untuk selamanya."
Lucas menemui Aksan. Dia bilang jika Axel ingin bicara dengannya. Aksan masih ingin bicara dengan Alice lebih lama lagi, tapi dia harus menutup teleponnya.
"Aku harus pergi sekarang," ucap Aksan. "Nanti setelah selesai, aku akan menghubungimu kembali."
"Baiklah, jaga dirimu dengan baik. Aku sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu." ucap Alice.
"Aku juga sangat mencintaimu," jawab Aksan.
Waktu terus berjalan. Siang itu, Alice pergi ke tempat lomba. Di sana sudah hadir beberapa peserta dari berbagai negara. Alice menempati tempat duduk yang sudah disediakan. Dia mengeluarkan semua alat dan bahan yang diperlukan. Terdengar suara bel berbunyi. Seorang panitia lomba menyampaikan setiap aturan yang harus dipatuhi semua peserta. Lomba melukis itu bertemakan bebas. Waktu yang di berikan untuk melukis hanya dua jam.
Tenggg!!! Tanda lomba sudah di mulai.
Setiap juri berkeliling untuk melihat lukisan para peserta. Kebanyakan dari mereka melukis dengan membawa tema lingkungan dan alam. Sementara Alice, dia terlihat sedang menggambar wajah seseorang. Sementara itu, saat jam makan siang Beatrice meminta izin pada komandan untuk pergi sebentar. Ia ingin sekali menyaksikan adiknya itu melukis. Setelah mendapat izin, Beatrice pergi bersama Ranna ke tempat lomba. Waktu tersisa tiga puluh menit lagi. Alice sudah menyelesaikan lukisannya. Memang atau tidak karyanya itu, tapi Alice merasa sangat puas dengan hasil lukisannya. Tiba di sana, Beatrice mencari keberadaan Alice. Dia melihat sebuah lukisan milik Alice.
"Lihatlah! Adikmu melukis wajah Aksan. Dia benar-benar mencintainya. Kau tidak bisa lagi melarang hubungan di antara mereka."
ucap Ranna.
"Diamlah! Kau tidak berhak untuk memutuskan hal apa yang pantas dan tidak. Aku kakaknya, aku tahu apa yang terbaik untuknya."
"Benarkah? Jadi maksudmu Aksan tidak baik untuk Alice?"
"Sudahlah, kenapa harus membicarakan hal ini disini?"
Beatrice pergi mencari keberadaan adiknya. Dia ternyata sedang ada di luar. Alice senang kakaknya datang. "Terima kasih sudah menyempatkan waktumu untuk datang kemari, kak."
"Tentu saja, karena kau segalanya bagiku."
"Oh iya,, apa kau sudah melihat lukisan milikku?"
"Aku sudah melihatnya tadi di dalam."
"Bagaimana menurutmu?"
"Sangat bagus, orang tidak perlu lagi meragukan hasil karyamu."
"Apa kau menyukai lukisannya?"
"Jika adikku yang melukisnya, tentu saja aku menyukainya." ucap Beatrice.
Sebentar lagi, hasil pengumumannya akan keluar. Alice merasa sedikit deg-degan. Terlihat seorang panitia naik ke atas panggung. Dia mulai mengumumkan juaranya. Dari banyak peserta hanya dipilih tiga seniman terbaik. Dari urutan tiga, dimenangkan oleh seniman dari Italia. Untuk urutan kedua, ada seniman dari Paris.
"Kita sebentar lagi akan tahu siapa seniman yang ada di posisi pertama." ucap panitia itu.
"Selamat untuk seniman yang berasal dari Australia, Alice Kanaya...."
Mendengar namanya disebut, Alice terlihat sangat senang. Dia naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan dan medali. Semua bertepuk tangan dengan sangat gemuruh. Beatrice memotret kemenangan adiknya itu. Dia langsung memposting kemenangan Alice di akun Instagram miliknya. Sebagai apresiasi untuk semua peserta, hasil karya lukisan itu akan di simpan di museum Paris. Termasuk hasil karya ketiga juara itu.
"Selamat untukmu," ucap Beatrice sambil memeluknya. "Jika ayah dan ibu masih ada, mereka pasti akan bangga padamu."
"Kau sudah menggapai mimpimu sebagai seorang seniman, aku benar-benar bangga padamu." ucap Beatrice.
"Ini hari kebahagiaanku, tidak boleh ada tangis ataupun air mata." ucap Alice sambil menghapus air mata kakaknya.
"Apa kau memiliki waktu nanti malam?"
"Tentu saja. Aku akan menemuimu di apartemen." jawab Beatrice.
"Baiklah."
Beatrice harus kembali ke kantor. Dalam perjalanan, Ranna tidak mengerti kenapa Beatrice tidak memberitahu Alice yang sebenarnya tentang pelelangan berlian itu. Alasan Beatrice hanya satu. Sebagai kakak, dia tidak ingin adiknya itu dalam bahaya.
***