Reina desila liona nama seorang gadis cantik yang bekerja sebagai mata-mata, usia nya yang masih 18 tahun sudah menjadi pemimpin untuk kelompok nya, pekerjaan Reina sangat dirahasiakan hal ini didukung karena negara yang mengutus informan seperti Reina sebagai pembunuh bagi para pejabat yang suka bermain curang atas hak milik masyarakat dan negara, jika ada pembunuhan yang terjadi tidak ada yang bisa menuntut dan menyalahkan atas pekerjaan mereka ini. tetapi siapa sangka Reina akan bertemu dengan pria yang akan mengubah seluruh kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dela Dela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35 Terpesona.
Lima menit pun berlalu diikuti Reina yang sudah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan dres biru pendek sepaha dengan bagian lengan pendek sebahu.
Reina yang saat itu hanya memperhatikan pakaiannya tidak menyadari keterkejutan pelayan yang masih berada dikamar.
' Sungguh cantik' ujar sang pelayan dalam hati saat dapat melihat jelas keseluruhan tubuh Reina yang begitu ramping dengan kulit putih bersih yang mengkilap.
" Apa tidak ada pakaian lain?" tanya Reina merasa pakaian yang diberikan terlalu mewah dan elegan.
" Apa anda tidak puas dengan pakaiannya nona. Jika memang begitu saya akan mengambil pakaian yang lebih indah dari pada ini."
" Ah tidak tidak. Ambil kan aku pakaian sederhana saja, jika ada sebuah jaket berikan saja kepada ku" bantah Reina dengan cepat.
Reina tidak merasa risih jika ingin mengenalkan pakaian indah seperti ini, bahkan pakaian ini sangat pantas jika berada di kediaman Rafael bak sebuah istana ini, namun kondisinya sangat tidak tepat untuk memakai pakaian indah seperti itu. belum saat nya ia menunjukkan tubuh nya yang porsinya ideal seperti ini.
" Tapi nona, itu terlalu sederhana" ujar pelayan merasa pakaian yang dimintai Reina terlalu sederhana dan sangat tidak elegan.
" Ambil kan saja" titah Reina lagi mulai merasa kesal jika permintaannya terus dibantah oleh pelayan.
Pelayan menunduk saat mendapati bentakan Reina yang terdengar menekan. Dengan takut-takut pelayan tersebut mengangguk kemudian mengambil satu langkah mundur untuk berjalan menuju pintu.
" Tu_nggu sebentar nona" ucap pelayan kembali lalu keluar dengan Napan di tangannya.
Reina yang masih berada ditempat, hanya menatap kepergian pelayan dari arah pintu. Dengan perlahan Reina berjalan menuju kasur dan duduk ditepi kasur.
Tidak butuh waktu lama untuk menunggu pelayan kembali masuk kedalam kamar dengan sebuah napan yang diatasnya terdapat pakaian yang Reina inginkan.
Pelayan tersebut meletakkan Napan diatas kasur menunduk lalu keluar dari ruangan.
Reina hanya memasang wajah datar seraya mengambil kembali pakaian yang dibawakan oleh sang pelayan. Membuka dres biru yang dikenakan lalu meletakkannya pada kasur lalu berganti dengan baju kaos berwarna merah muda dengan jaket putih menutupi kaos merah muda didalamnya.
Reina mengambil rok yang dibawakan oleh pelayan tepat saat membuka rok tersebut betapa terkejutnya Reina melihat rok pendek sepaha yang benar-benar sangat pendek.
' Sialan! mereka pikir sopan jika aku memakai rok sependek ini saat berada di kediaman tuan mudanya.'
' Ini tidak ada bedanya aku memakai rok ataupun dres! sama-sama pendek dan sangat terbuka' gurutu Reina dalam hati merasa frustasi dengan apa yang tejadi.
Reina melirik kearah pintu yang tentu nya tidak terdapat siapapun dibaliknya. Reina berpikir jika seandainya ia terlebih dahulu melihat pakaian yang dibawakan oleh pelayan terlebih dahulu ia pasti bisa menyuruh mereka untuk kembali mengambil pakaian yang lebih baik.
' CK mau bagaimana lagi' decak kesal Reina saat tidak tau harus berbuat apa lagi untuk bisa keluar dengan pakaian seadanya.
......................
tok.tok.tok
Ckleek
Pintu terbuka menampakkan seorang pria tua dengan baju khas seorang pelayan masuk kedalam ruangan yang terdapat seorang pria sedang duduk di kursi kebersamaannya.
" Tuan muda, makan malam telah siap" ujar lelaki tersebut yang adalah seorang ketua pelayan dikediaman Rafael.
" Hem. Panggil kan tamu ku untuk makan malam bersama" kata Rafael dengan datar seraya berjalan menuju pintu.
" Baik tuan" ujar pelayan dengan menunduk lalu keluar dari ruangan mengikuti Rafael yang sudah lebih dulu berjalan melewatinya.
Rafael berjalan menuruni tangga lalu berbelok menuju meja makan yang sudah tersaji begitu banyak jenis makanan lezat. arkes yang baru saja datang ikut duduk pada kursi yang berada di tiap sisi meja makan begitu pun dengan Rafael.
Tidak berselang lama terdengar bunyi langkah kaki dari arah belakang, tepat saat itu juga arkes tersentak ditempatnya mendapati Reina dengan dres berwarna biru muda dengan jaket putih polos yang terbuka diikuti rambut Reina yang tergerai sangat terlihat mempesona dan anggun.
Melihat raut wajah terkejut arkes Rafael tanpa sadar melirik tepat kearah dimana datangnya Reina. Saat itu juga jantung Rafael berdegup kencang saat benar-benar melihat keseluruhan penampilan Reina dari bawa hingga atas.
Penampilan Reina membuat setiap orang yang berada diruang itu terpesona bahkan pelayan pun melongo saat melihat penampilan Reina yang tidak begitu mewah namun terlihat mempesona dengan kecantikan dan keanggunan dibaliknya.
" Selamat malam Tuan muda Rafael dan tuan arkes maaf jika saya terlambat datang" ujar Reina dengan datar seraya menunduk kecil.
Rafael tersadar dari lamunannya saat mendengar suara datar Reina yang berdiri tepat disebrang nya. Sedang kan arkes ia masih terpesona dengan kecantikan Reina bahkan pandangannya pun tidak teralihkan dari wajah cantik Reina.
' Mengapa Dia sangat terlihat berbeda' tutur arkes dalam hati yang masih mengingat dengan jelas pakaian serba hitam yang dikenakan Reina tidak jauh berbeda dengan pakaian sederhana yang dikenakan saat ini oleh Reina.
Arkes bisa melihat tidak ada sedikitpun riasan diwajah Reina bahkan tidak ada perhiasan pun yang melekat ditubuhnya. Tapi Reina sungguh membuatnya terpesona dengan aura kecantikan yang sakan telah tenggelam begitu lama.
" Tidak masalah. silakan duduk nona Reina" ujar Rafael dengan datar seraya mengarahkan tangannya pada kursi kosong yang berada tepat disebelahnya.
" Terimakasih tuan Rafael."
Reina berjalan mendekati kursi kosong yang berada disebelah Rafael lalu duduk dengan sesekali menatap kearah pelayan yang berada disebrang meja.
' Ada apa dengan mereka semua' tutur Reina dalam hati saat mendapati para pelayan yang menatapnya penuh kagum.
" Ehem"
Suara batuk mengalihkan semua pandangan kearah Rafael termasuk arkes yang juga langsung menatap Rafael penuh tanya.
Tampa mengatakan apapun Rafael mengambil beberapa lauk lalu meletakkan pada piring. begitu pun Reina serta arkes yang juga sudah mengambil lauk dan meletakkan pada piring masing masing.
Waktu makan malam berjalan dengan lancar, tidak ada seorang pun yang berbicara saat kegiatan makan malam berlangsung. hanya terdapat suara dentingan piring serta sendok yang terdengar diantara mereka.
Rafael, Reina serta arkes yang telah selesai makan langsung saja memberikan kode pada para pelayan untuk membersihkan meja tersebut.
Reina yang sejak tadi diam hanya memperhatikan kegiatan para pelayan yang sedang mengangkat semua makanan yang tersaji di meja.
" Tuan Rafael saya akan undur diri terlebih dahulu". ujar Reina dengan pelan lalu berniat untuk bangun namun langkah nya tertahan saat melihat pergelangan tangannya dicekak Rafael.
" Tunggu" ujar Rafael cepat dengan suara yang terdengar datar.
Seorang pelayan datang membawa Napan yang diatasnya terdapat segelas air serta obat. Pelayan tersebut menempatkan air serta obat diatas Meja tepat didepan Reina.
" Minum obat mu" titah Rafael dengan memusatkan pandangannya kearah Reina.
Reina yang semula berdiri kembali duduk diikuti tangan Rafael yang semula menggenggam Reina kini terlepas begitu saja.
"ya " sahut Reina dengan singkat lalu Tampa ragu meminum obat yang sudah tersaji didepannya dengan cepat.
Saat sudah melihat Reina meminum obatnya Rafael menggeser kursinya kebelakang lalu bangun dari tempatnya duduk. Melirik kearah Reina sekilas untuk memastikan jika semua obat yang tersaji sudah ia minum semuanya.
" Mau berjalan-jalan sebentar nona Reina" ujar Rafael dengan pelan namun bisa terdengar oleh Reina serta arkes yang berada disebrang meja bersamaan.
Uhuk.
Arkes tersedak saat meminum air nya dan itu disadari oleh Rafael yang langsung menghunuskan tatapan tajam kearahnya. entah mengapa tatapan tersebut sangat membuatnya bergidik ngeri padahal ia sudah bersama dengan Rafael sejak lama namun rasa takutnya tidak pernah kendur jika Rafael sudah menatapnya seperti itu.
' Pergi saja deh' ucap arkes dalam hati berlalu pergi meninggalkan Rafael serta Reina yang masih berada disekitaran meja makan.
Reina yang masih meminum obat tadi tidak sadar atas perilaku arkes yang terbilang aneh, ia hanya mendengar perkataan Rafael yang mengajaknya untuk berjalan-jalan sebentar.
Rafael yang sempat menatap arkes kembali memusatkan pandangannya pada Reina dan disaat itu juga Reina sedang menatapnya Reina berdiri dengan perlahan lalu mengangguk sebagai balasan atas ajakan Rafael sebelumnya.
Merasa ajakan sederhananya diterima keduanya pun berlalu pergi bersama-sama meninggalkan ruangan tersebut.