kisah tentang sepasang suami-isteri dari latar belakang yang berbeda namun saling mencintai. Fitri adalah wanita mandiri yang berasal dari keluarga sederhana. Ia sangat mencintai cinta pertamanya, Rio. Seorang lelaki baik hati yang mau menerima semua tentang dirinya termasuk masalah mentalnya.
Bukannya merasa tenang, justru Fitri malah sering merasa bersalah dan ketakutan akan ditinggal. bagaimana sepasang suami-isteri ini menjalani kehidupan mereka?
Akankah Rio bisa berhasil menyembuhkan mental istrinya yang terluka?
(Update satu atau dua chapter dalam seminggu)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FUNtasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta FitRi 34
Malam hari tiba... Rio tertidur pulas di sofa sambil memegang foto istrinya yang ia cetak beberapa hari yang lalu. Pria menyedihkan itu sangat sabar menunggu istrinya sampai bangun dari tidur panjangnya. Beruntung, ia masih bisa mengontrol diri jika sedang mengurusi anaknya. Rio bisa tertawa dan tersenyum di depan anaknya.
Whoosh Whoosh!
Angin malam berhembus agak kencang disertai rintik hujan. Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Jari Fitri bergerak sedikit demi sedikit tanpa suaminya sadari. Yap! Keadaan Fitri sudah membaik, hanya menunggu ia bangun dari koma. Ela sengaja menyembunyikannya karena ingin memberi kejutan untuk Tuannya.
Oeek! Oeek!
Si bayi tampan terbangun dari tidur nyenyak nya karena popoknya basah. Ela terbangun dari tidurnya dan langsung berjalan menghampiri box bayi. Ia melirik ke arah tuannya yang masih tertidur pulas dengan wajah yang menunjukkan ekspresi kelelahan.
Ela segera mengganti popoknya yang basah sambil mengajakk bayi itu bicara. "Sudah ya, tampan. Ayahmu sedang kelelahan. Setelah ini, kita minum susu lalu tidur lagi." Kata Ela sambil tersenyum.
Beberapa menit kemudian, bayi itu sudah wangi dengan pakaian barunya. Ela membuatkannya susu sambil menggendongnya. Setelah itu, memberikannya sambil mengayun-ayunkan badannya. Ela berjalan perlahan menuju ranjang Fitri lalu meletakkan bayi itu disamping sang ibu.
"Lihatlah! Mamamu sangat cantik, bukan? Mata kalian mirip banget lho!" Ela mengajak bayi itu bicara meskipun ia tidak mengerti. Dalam waktu singkat, bayi tampan itu sudah menghabiskan susunya namun anehnya ia tidak mau tidur. Bayi itu membuka mata indahnya. Ela tersenyum dan merasa gemas melihat wajah imutnya. Wajah tampan dan manisnya menurun dari sang ayah.
Pagi hari tiba...
Rio duduk di samping ranjang pasien, menatap wajah ayu istrinya. Senyuman yang tulus menghiasi wajah lelahnya. Ia tak sabar ingin melihat istrinya bangun. Ia ingin sekali menjadi orang pertama yang Fitri lihat.
Ketika sedang memandang wajah istrinya, Rio merasakan gerakan tangan Fitri. Kedua matanya juga bergerak pelan, mencoba untuk membuka.
"Sayang.... Syukurlah! Kamu akhirnya bangun juga." Kata Rio sambil menautkan jari-jemarinya. Dengan sabar, Rio menunggu Fitri bangun dan sadar seratus persen. Saking fokusnya pada sang istri, ia sampai tidak sadar kalau dokter sudah berdiri dibelakangnya.
"Pagi, Pak. Istrinya mau saya periksa dulu ya."
Rio mempersilahkan dokter untuk memeriksa keadaannya dan hasilnya benar-benar memuaskan. Kondisi Fitri baik-baik saja. Hanya saja harus dilatih otot-otot dan sarafnya setelah berhari-hari berbaring di atas ranjang.
"Sayang, ini anak kita. Liat deh, mukanya lucu banget. Sesuai keinginan kamu, mukanya mirip kita berdua."
Rio mengajak istrinya bicara sambil memperlihatkan anak pertama mereka. Kebetulan sekali, bayi itu tidak sedang tidur. Fitri tersenyum bahagia melihat dua laki-laki kesayangannya dalam keadaan sehat. Ia bersyukur bisa bangun dan bertemu dengan keluarga kecilnya lagi.
"Namanya siapa, Mas?" Tanya Fitri dengan suara lirih.
"Belum ku kasih nama karena nungguin kamu." Jawab Rio. Fitri mengulurkan tangannya untuk mengelus wajah putranya yang tampan.
"Si ganteng..."
Fitri lalu meminta Rio untuk menyerahkan si bayi imut itu. Ia ingin mendekap tubuh mungilnya. Rio menyuruh Ela untuk membantu istrinya duduk. Setelah merasa nyaman dengan posisinya, Rio memberikannya pada sang ibu. Bayi itu langsung bereaksi, ia terlihat nyaman dalam pelukan hangat sang ibu. Mulutnya bergerak mencari sumber makanan dan minumannya. Fitri gemas melihatnya, ia mencium lembut pipi bulat anaknya.
"Mama papa atau Ayah ibu?" Tanya Fitri.
"Mama papa deh." Jawab Rio cepat.
"Maaf ya sayang. Mama belum bisa kasih kamu ASI. Nanti kalau udah boleh, kamu bisa minum sepuasnya." Ujar Fitri sambil memandang wajah anaknya. Air matanya tergenang karena merasa bersalah, tidak bisa mengurus anaknya.
"Jangan merasa bersalah, istriku. Ini kan musibah. Yang penting, sekarang kamu sudah bangun dan kita bisa berkumpul lagi."
Fitri mengangguk pelan sambil memaksa dirinya untuk tersenyum.
"Aku harus lebih kuat! Aku bukan hanya menjadi seorang istri. Sekarang, aku sudah menjadi seorang ibu. Anakku butuh seorang ibu yang kuat! Suamiku juga, selama ini sudah lelah mengurus anak dan pekerjaannya. Ini saatnya aku membuktikan bahwa aku sudah berubah!"
gunakan font italic sbg penanda bahasa asing/ daerah.
tanda baca itu satu saja sesuai dg fungsi dan kegunaannya. jangan dobel2.
menurutku kata itu kurang pas sih, coba buat dramatis.
dan tulisannya king size-nya.