Qin Yue, agen elit paling mematikan dari dunia modern, mati dalam misi. Ia terbangun di tubuh Putri Feng Xiuying—gadis cantik, lemah lembut, dan terkenal bodoh seantero istana.
Tapi dunia akan segera tahu bahwa kelinci mungil ini kini bertaring.
Pedangnya lebih cepat dari lidah bangsawan istana, dan kelicikannya bahkan bisa mempermainkan para pejabat tua.
Hanya satu orang yang tak bisa ia taklukkan. Jenderal Han Ziyu, pria dingin berjulukan "Serigala Salju."
“Ayo bertarung!”
“Maaf, aku tak melawan kelinci,” katanya dingin.
Tapi ketika kelinci itu mulai menggoda pangeran lain, serigala itu menggeram pelan.
“Kelinci milikku... tak boleh bermain di kandang rubah lain.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seojinni_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Racun Gu (3)
Aula Timur
Han Ziyu melesat menembus lorong-lorong istana yang berkelok, langkahnya nyaris tak terdengar selain desisan kain jubahnya. Setiap hembusan napas terasa seperti bara di dada.
Asap mulai terlihat dari kejauhan.
Sayap timur.
Ia berlari lebih cepat. Dua penjaga mencoba menghadang di tikungan, tapi tatapan Han Ziyu membuat keduanya menyingkir tanpa sempat berkata.
Begitu mencapai halaman kecil di depan ruang istirahat, panas dari api langsung menerpa wajahnya. Asap putih keluar dari jendela, dan aroma obat terbakar menyengat udara.
“Cepat bawa air!” teriak salah satu pelayan panik.
Namun Han Ziyu tak menunggu. Ia langsung menendang pintu.
BRAK!
Pintu terhempas terbuka. Asap tebal menyeruak keluar. Ia menutup hidung dengan lengan bajunya dan menerobos masuk.
“Xiuying!”
Suara itu serak, namun tegas. Ia memanggil lagi, lebih keras.
“Xiuying!”
Dari balik tirai, suara gemerisik terdengar. Han Ziyu segera menghampiri. Bayangan samar terlihat—siluet tubuh perempuan yang setengah duduk, rambutnya terurai, wajahnya setengah tertutup keringat dan asap.
Xiuying menatapnya dengan mata setengah kabur.
“Han… Ziyu…?” suaranya lemah, tapi matanya masih tajam seperti biasa.
Ia berlutut di hadapannya, memeriksa denyut nadi, lalu menggenggam tangan Xiuying yang dingin di ujung jari tapi panas di telapak.
“Tubuhmu terbakar,” gumamnya. “Kau diracun?”
Xiuying tersenyum tipis, hampir seperti ejekan. “Kau datang? Padahal seharusnya aku bisa menanganinya sendiri.”
Ziyu menatapnya dalam, wajahnya tegang.
“Diam. Jangan bicara.”
Tangannya bergerak cepat, merobek sebagian lengan bajunya sendiri untuk membungkus luka kecil di paha Xiuying yang mengucurkan darah — bekas tusukan belatinya tadi.
Xiuying mengerjap, napasnya berat. “Aku tidak akan mati semudah itu, Han Ziyu.”
“Tapi kau akan mati karena terus menahan racun itu,” balas Ziyu dingin.
Tangannya bergerak ke pergelangan Xiuying, menekan titik-titik nadi dengan presisi.
Aliran darahnya sedikit melambat, tapi tubuh Xiuying masih bergetar hebat.
“Racun Gu…” desisnya pelan, hampir tak terdengar. “Bahkan aku tidak menyangka seseorang akan berani menggunakannya lagi di istana.”
Ziyu berhenti sejenak, rahangnya mengeras. “Racun Gu!”
Xiuying menatapnya lemah tapi tetap menggoda. “Jenderal Han! Pergilah sekarang. Bagaimana jika orang-orang melihat, dan berpikir kita melakukan hal yang mesum?”
Han Ziyu membeku sesaat—kata-kata itu dingin tapi familiar, gaya Xiuying yang tetap menggoda di tengah bahaya. Namun kali ini, tak ada garis tawa di matanya. Hanya sisa kesadaran yang nyaris padam.
“Diamlah,” ucapnya lagi, lebih pelan. “Jangan bicara apa pun sebelum tabib datang.”
Dari luar, derap pasukan istanamulai terdengar, diikuti suara Kaisar dan Feng Tianshu yang semakin dekat.
Asap mulai berkurang, tapi hawa panas masih menekan.
Han Ziyu menatap wajah Xiuying yang pucat, keringat menetes dari pelipisnya.
Ia memegang erat tangannya. “Bertahan, Xiuying. Kali ini aku tidak akan biarkan siapa pun menyentuhmu lagi.”
Suara pintu terhempas dari luar.
“Yang Mulia Kaisar tiba!”
Di belakangnya, Feng Tianshu, Putra Mahkota Wu Zeyan, Permaisuri, dan para bangsawan bergegas masuk.
Asap tebal mulai menipis, menyisakan aroma obat terbakar dan bara merah yang masih menyala di sudut ruangan.
Han Ziyu berlutut di lantai, Xiuying bersandar lemah di lengannya. Rambutnya terurai berantakan, ujung bajunya terbakar sebagian, namun matanya masih hidup — berkilat seperti bara di tengah gelap.
Rong Yi segera menunduk.
“Yang Mulia… racun Gu...”
Keheningan turun. Hanya suara api yang berdesis lirih. Semua orang saling berpandangan, antara terkejut dan takut.
Permaisuri melangkah maju satu langkah, suaranya lembut tapi setajam pisau.
“Benarkah Racun Gu… bukankah istana telah melarangnya. Mengapa racun seperti itu bisa mengenai Putri Bai?”
Wu Yao menambahkan dengan senyum samar.
“Benar. Bukankah racun Gu hanya bereaksi jika seseorang… kehilangan kendali atas dirinya?”
Matanya menelusuri Xiuying dengan pandangan bermakna.
Shen Lanyue menutup mulut pura-pura terkejut, tapi suaranya dibuat cukup keras agar semua mendengar.
“Bukankah… Pangeran Keempat bersamanya tadi? Mungkinkah mereka telah—”
Wu Yao menimpali dengan nada pura-pura sopan.
“Ah, semoga saja tidak. Karena jika benar… sungguh memalukan bagi keluarga Bai dan istana.”
Bisik-bisik langsung menyebar cepat seperti racun itu sendiri. Terutama karena kondisi Xiuying yang terlihat berantakan.
Permaisuri menatap Kaisar sekilas lalu berucap lembut seolah berduka,
“Yang Mulia, ini bukan pertama kalinya Putri Bai menimbulkan kekacauan. Di mana pun dia berada… selalu membuat masalah.”
Kaisar hendak bicara—tapi tawa pelan memotong udara.
Tawa yang lirih, namun menusuk dan membuat bulu kuduk meremang. Semua kepala menoleh.
Di tengah bara dan kepulan asap, Xiuying tertawa.
Tubuhnya diselimuti cahaya merah dari api, darah mengalir di ujung jarinya, senyum di bibirnya bergetar di antara kelelahan dan kegilaan.
“Jadi… begitu pandangan kalian padaku?”
Suaranya rendah, namun jelas di antara retakan api.
“Wanita yang akan menyalakan api hanya untuk menutupi dosa di ranjang?”
Ia melangkah maju perlahan. Kain merahnya bergetar di hembusan angin, matanya menatap tajam ke arah Wu Yao dan Shen Lanyue.
“Lucu sekali,” katanya dengan senyum dingin.
“Haruskah aku kagum pada imajinasi kalian… atau kasihan, karena otak kalian hanya bisa memikirkan hal kotor semacam itu.”
Tatapannya beralih pada Permaisuri — sekilas saja, tapi cukup untuk membuat udara di aula menegang.
“Jika aku ingin berbuat tak senonoh… Haruskah aku memilih istana yang ramai? Dengan mata-mata di setiap bayangan?”
Ia berhenti di depan Wu Yao, jarak hanya beberapa langkah. Suaranya menurun, hampir seperti bisikan yang menampar.
“Benar! Racun Gu membakar tubuh dari dalam. Dan kalian, para terhormat di sini, lebih sibuk menebak siapa yang tidur denganku… daripada mencari siapa yang menaruh racun itu di istana Kaisar.”
Senyumnya melengkung miring, darah menetes dari jarinya ke lantai.
“Jika aku ingin menyembunyikan aib, aku tak akan berdiri di sini. Aku akan membakar diriku bersama semua tuduhan yang kalian buat.”
Wu Yao tampak pucat. Tapi sebelum sempat ada yang bicara, Shen Lanyue masih berani membuka mulut.
“Kalau begitu… di mana Wu Huang sekarang? Bukankah dia—”
Xiuying menoleh perlahan. Senyumnya melebar — senyum seorang yang sudah melewati batas waras.
“Wu Huang?” bisiknya pelan.
Ia mengangkat tangannya yang berlumuran darah, lalu menunjuk ke sudut ruangan — tepat di sisi tempat tidur yang separuh hangus.
Semua mata mengikuti arah jarinya.
Tubuh lelaki itu tergeletak di sana — tak bergerak, kulitnya menghitam di beberapa bagian, bahkan luka sayatan di lehernya terlihat mengerikan, darahnya mengalir di lantai kayu.
Ruangan membeku.
Xiuying menatap mereka, lalu tertawa. Tawa itu meninggi, menggema seperti jeritan di neraka.
“Aku menyayatnya sendiri, memukulinya… sampai mati,” katanya sambil tersenyum lebar, matanya bersinar liar.
“Tapi itu juga salahnya. Beraninya dia ingin menyentuhku! Apa dia pikir aku bodoh! Aku dia ahu dia yang meracuniku!”
Langkahnya maju setapak, darah menetes di setiap injakan.
“Jadi, aku membuatnya berhenti bernapas! Hahahahahaha!”
Semua orang bergidik. Beberapa bangsawan menjerit pelan, sementara Permaisuri menutup mulutnya, wajahnya memucat.
Xiuying berhenti, tubuhnya gemetar, tapi matanya tetap tajam.
“Jadi, Tuan Putri… apakah kau ingin mencoba rasanya terbakar oleh racun Gu? Agar kau tahu perbedaan nafsu dan kematian? Aku akan membantumu~”
Wu Yao mundur, nyaris jatuh. Tak ada yang berani menatapnya.
Kaisar akhirnya bersuara, suaranya berat dan penuh tekanan.
“Cukup. Dimana tabib istana. Aku ingin laporan lengkap sebelum fajar — tentang siapa yang membawa racun Gu ke dalam istana.”
Semua orang menunduk dalam. Tak ada yang berani bersuara lagi.
Xiuying berdiri di tengah bara, baju merahnya robek dan berlumur darah, tapi senyum di wajahnya tidak pudar sedikit pun.
Matanya berkilat seperti iblis yang baru saja keluar dari neraka.
Tiba-tiba kakinya goyah. Napasnya tersengal, tubuhnya yang terbakar oleh racun Gu tak mampu menahan efeknya.
Han Ziyu menunduk, menangkapnya dengan sigap.
Matanya tajam, dingin, tapi kata yang keluar dari mulut nya penuh kelembutan.
“Tenanglah. Aku disini,”
Xiuying tersenyum singkat, lalu perlahan terlelap di pelukannya.
Suara tawa barusan lenyap, hanya tersisa bara dan keheningan yang mencekam.
Han Ziyu menatap sekeliling, dingin, tak bergerak—genggamannya kuat, melindungi gadis yang baru saja menebar kengerian di istana.
seharusnya kan TUAN PUTRI
ITU BIKI KITA JADI BINGUN
jadi kukira rong yi itu putru nya adal fengxiuu
gituuu
baru ini nemu MC yang pemalas🤣