Indonesia
NovelToon NovelToon
Memendam Perasaanku Padanya

Memendam Perasaanku Padanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Tiba-tiba

Klek.

Gino perlahan menutup pintu kamar Reyhan dari luar dengan gerakan yang sangat pelan. Langkah kakinya sempat tertahan di atas lantai kayu koridor. Napasnya berembus panjang, mencoba mencerna seluruh untaian kalimat dewasa dan samudera keikhlasan yang baru saja ia dengar dari mulut sahabat karibnya itu. Wajahnya yang biasanya dipenuhi cengiran jenaka, malam ini tampak luar biasa serius dan linglung.

Namun, baru dua langkah Gino bergerak menjauh dari pintu, sebuah bayangan tegap bertubuh kekar mendadak muncul dari belokan koridor kiri, langsung memotong jalurnya.

"Ehem! Ngapain lo keluar dari kamar sepupu pacar gue malam-malam, hah? Mukanya tegang bener kayak habis kena tilang intel sayur."

Gino refleks tersentak kaget, hampir saja menjatuhkan handuk putih di lehernya. Begitu mendongak, sosok Bang Edward sudah berdiri tegap di hadapannya dengan kaus hitam santainya, melipat kedua tangan di dada dengan sepasang mata elang yang langsung memicing tajam penuh selidik. Mode radar siaga satu sang kating keamanan dinasti keluarga seketika aktif penuh di tempat.

Mendapat sergapan mendadak dari abang asuh Aurel—orang yang baru saja dibahas dalam draf rahasia cinta sepihak di dalam kamar—jantung Gino sempat melompat kaku. Otak buaya premiumnya langsung berputar supercepat demi melindungi rahasia besar Reyhan yang baru saja ia kunci aman. Gino buru-buru mengubah ekspresi seriusnya menjadi raut wajah yang mendadak panik bercampur misterius. Ia celingukan ke kanan dan ke kiri koridor yang remang, lalu menarik lengan jaket Bang Edward agar mendekat.

"Ssst! Pelanin suara lo, Bang! Sumpah, ini darurat berskala vila!" bisik Gino dengan nada suara yang teramat serius dan dibuat-buat, sengaja memanaskan situasi demi mengalihkan fokus sang kating.

Bang Edward mengernyitkan dahi dalam-dalam, terpancing oleh pembawaan misterius maba di depannya. "Darurat apaan? Jangan bikin gue panik ya, Gin."

Gino menelan ludah, lalu memasang wajah super meyakinkan seolah-olah ia baru saja melihat penampakan gaib. "Gini, Bang... tadi waktu gue mau balik ke kamar dari kamar Reyhan, gue beneran melihat sesuatu yang aneh di ujung lorong koridor kanan dekat balkon kamarnya Shirin dan Aurel."

"Aneh gimana? Ada maling pantai masuk?!" todong Bang Edward langsung menaikkan volume suaranya, bersiap memasang badan protektif.

"Bukan maling, Bang! Tapi... tapi tadi gue sempat lihat ada bayangan hitam jangkung, rambutnya agak acak-acakan, melintas senyap banget di area pembatas balkon luar dekat kamar nomor 205!" kebohong instan Gino meluncur dengan sangat lancar dan taktis tanpa dosa demi membelokkan perhatian Bang Edward dari area kamar Reyhan. "Gue takut itu penyusup atau turis nyasar yang mau intip anak-anak gadis lo! Makanya muka gue tegang bener pas keluar tadi, murni karena syok memikirkan keselamatan dinasti maba kita, Bang!"

Mendengar laporan palsu berbasis "penjagaan anak gadis" dari Gino, Bang Edward langsung melotot sempurna dengan gurat wajah posesif yang seketika meroket ke level maksimal. "Hah?! Berani bener itu bayangan hitam mau macam-macam di wilayah kekuasaan gue! Wah, fiks, keamanan balkon luar harus gue sidak mandiri sekarang juga!"

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Bang Edward langsung berputar balik dengan langkah kaki yang tergesa-gesa, melesat cepat menuju koridor kanan demi melakukan operasi pengamanan balkon jilid satu.

Gino yang ditinggal sendirian di lorong langsung membekap mulutnya sendiri, menahan ledakan tawa puas yang hampir saja pecah berhamburan. Cengiran buayanya yang super jahil akhirnya kembali ke permukaan sempurna. Kebohongan taktisnya malam ini terbukti sukses seratus persen menyelamatkan rahasia perasaan Reyhan, sekaligus mengalihkan radar posesif Bang Edward untuk berputar-putar tidak jelas di area balkon luar. Sembari menyampirkan kembali handuknya dengan santai, Gino melangkah menuju kamar nomor 206 dengan hati yang menghangat, siap mengawal jalannya petualangan liburan keluarga besar mereka yang dipastikan akan semakin riuh oleh warna komedi malam ini.

Sementara Bang Edward sedang sibuk melakukan operasi pengamanan mandiri mencari "bayangan hitam" fiktif di sepanjang koridor luar akibat kebohongan Gino, suasana di dalam kamar nomor 204 milik Aurel justru terasa sangat hangat dan sunyi.

Aurel baru saja selesai mengeringkan rambut panjangnya. Ia duduk bersandar di kepala tempat tidur dengan piama satin merah mudanya, menatap langit-langit kamar sembari memeluk guling erat-erat. Pikirannya masih berputar hebat, dipenuhi oleh sisa debaran gila-gilaan akibat aksi manis Reyhan yang mengusap lembut sisa air laut di wajahnya dengan handuk di tepi Pantai Pandawa sore tadi. Setiap kali sentuhan tangan hangat cowok denim itu melintas di memorinya, jantung Aurel langsung melompat dari ritme normalnya, memicu sensasi deg-degan parah yang bertalu-talu di dalam dadanya.

Sreeet...

Suara geseran pelan dari arah pintu kaca balkon mendadak memecah keheningan kamar. Aurel refleks menoleh kaku dengan mata membelalak tegang, mengira intel siaga satu abangnya yang muncul. Namun, begitu gorden tersingkap sedikit, sosok Shirin menyembul masuk dengan gerakan senyap menyerupai ninja malam, lengkap dengan setelan piama katunnya.

"Shirin! Astaga, lo hobi banget sih muncul lewat jalur udara, bikin jantung gue mau copot tahu nggak!" gerutu Aurel dengan suara berbisik yang teramat lirih agar tidak memicu kegaduhan.

Shirin langsung mengunci kembali pintu kaca balkon, lalu dengan cepat merangkak naik ke atas kasur empuk Aurel, duduk bersila tepat di hadapan sahabat karibnya itu dengan tatapan mata penuh selidik yang sarat akan godaan terbesar.

"Nggak usah ngalihin pembicaraan ya, Aurel Sayang," pancing Shirin sembari menopang dagu, menatap lekat-lekat pada pipi Aurel yang dalam hitungan detik langsung kembali merona merah padam sempurna. "Gue sengaja menyelinap lewat pembatas balkon kamar Gino murni karena rasa penasaran gue udah di ujung tanduk dari sore tadi!"

Shirin mencondongkan tubuhnya lebih dekat, menyenggol pelan lutut Aurel. "Jujur nggak lo sama gue sekarang. Tadi pas di pasir pantai, waktu Reyhan dengan dewasanya ngelapin muka lo pake handuk di depan nyokap kita... rona merah di wajah lo itu murni karena salah tingkah diledek Daddy Wira, atau karena lo beneran dapet dosis deg-degan baru akibat perhatian manis dari Pangeran Denim kita, hm?"

Mendengar todongan pertanyaan yang teramat peka dari satu-satunya orang yang paling tahu rahasia cinta sepihaknya kepada Bang Edward, pertahanan topeng tenang Aurel runtuh total. Ia langsung menarik bantal besar dan menenggelamkan wajah panasnya di sana, memekik tertahan demi menutupi salah tingkah gila-gilaan yang merajai dirinya di dalam kamar sunyi itu.

"Shiriiin! Ih, sumpah ya lo peka bener jadi orang!" seru Aurel lirih dari balik bantal, suaranya terdengar meredam kocak.

Aurel perlahan menurunkan bantalnya sebatas hidung, menatap Shirin dengan sepasang mata yang berkilat bimbang namun dipenuhi letupan kehangatan yang jujur. "Gue... gue nggak tahu, Rin. Sumpah, semalam waktu denger Bang Edward teleponan mesra sama Kak Anita, dada gue rasanya sesak dan cemburu banget sampai nangis di depan Mommy. Pas di atas kano tadi pun, pas lihat mereka pelukan, labirin buntu gue rasanya perih lagi."

Aurel menjeda kalimatnya, menarik napas panjang saat rona merah di pipinya kian matang hingga ke hulu telinga. "Tapi... pas kano gue kebalik dan gue ditopang sama Reyhan di air, terus pas dia ngelapin muka gue sedekat itu sambil natap pake mata teduhnya... jantung gue beneran berdegup keras banget, Rin! Lebih keras dari biasanya. Rasa sesak akibat Bang Edward tadi mendadak larut begitu aja, hilang nggak berbekas digantikan sama rasa hangat yang asing dari sikap dewasanya Reyhan."

Shirin yang mendengarkan pengakuan jujur dari sahabatnya langsung mengulas sebuah senyuman tipis yang teramat lega dan tulus. Ia mengulurkan tangannya, mengelus lembut rambut panjang Aurel dengan penuh rasa empati seorang sahabat sejati.

"Itu artinya, pelindung sunyi lo selama ini bener-bener udah mulai bekerja mengikis batu kokoh di hati lo, Rel," bisik Shirin hangat, menenangkan jiwa Aurel yang dipeluk bimbang. "Reyhan itu cowok dengan samudera kesabaran yang luar biasa luas. Dia selalu milih bersabar jagain lo tanpa pernah maksa lo buat buru-buru lupain Bang Edward. Perlindungan taktis dia sore tadi terbukti sukses jadi oase buat lara hati lo. Jadi, nggak apa-apa kalau draf hati lo mulai bergeser ritme buat dia."

Aurel tertegun kaku meresapi untaian kalimat bijak Shirin, sebelum akhirnya mengangguk pelan dengan senyum manis terbaik yang merekah tulus di bibirnya. Di balik keheningan kamar malam itu, di tengah deburan ombak pantai Seminyak yang terdengar lamat-lamat dari balik balkon luar, pusaran getir cinta sepihak Aurel masa lalu perlahan mulai melunak dengan damai. Didampingi oleh kesetiaan Shirin yang selalu paham isi hatinya, dan dikawal oleh luasnya samudera kesabaran yang dimiliki oleh Reyhan di koridor seberang, Aurel sadar draf lembaran hidup barunya selama di Bali ini telah resmi berjalan dengan penuh kehangatan yang teramat mendalam.

Setelah Shirin menyelinap kembali ke kamarnya lewat pintu balkon, keheningan total kembali merajai kamar Aurel. Gadis itu menarik selimut tebalnya sampai sebatas dada, bersiap untuk memejamkan mata demi mengistirahatkan tubuhnya yang lelah setelah seharian beraktivitas di Pantai Pandawa.

Namun, begitu lampu kamar dimatikan dan kegelapan menyergap, pertahanan batin Aurel mendadak runtuh tanpa peringatan.

Di dalam kesunyian malam, memori di otaknya mendadak memutar kembali rekaman visual sore tadi di atas laut. Bayangan ketika kano merah melaju konstan, di mana Bang Edward dengan begitu sigap merangkul erat pinggang Kak Anita dari belakang, mencondongkan wajahnya penuh binar cinta yang luar biasa eksklusif, dan tawa renyah Kak Anita yang teramat bahagia—semua itu kembali berputar kejam dalam benak Aurel.

Deg.

Dada Aurel seketika terasa seperti dihantam benda tumpul yang teramat dingin. Rasa perih yang teramat tajam menusuk langsung ke hulu hatinya. Air mata yang sejak di pantai tadi ia tahan dengan topeng cerianya, kini mengalir deras tanpa bisa dibendung lagi, membasahi bantal satinnya. Aurel membekap mulutnya sendiri erat-erat dengan lilitan selimut, meredam isak tangisnya yang menyayat hati agar tidak terdengar ke kamar sebelah.

Kenapa... kenapa rasanya tetep sesakit ini, Bang? batin Aurel pilu di tengah tangisnya yang terisak.

Segala perhatian manis Bang Edward saat BBQ-an semalam seolah langsung menguap, terbentur fakta kejam bahwa di hidup senior itu, dirinya selamanya hanya terkunci di dalam kotak berlabel "Adik Kecil yang Paling Disayang". Cinta sepihak ini benar-benar menyiksanya hingga ke hulu hati. Ditambah lagi, kelelahan fisik setelah tubuhnya basah kuyup akibat tercebur dari kano dan angin malam pantai yang menusuk, membuat daya tahan tubuh Aurel drop sepenuhnya malam itu. Ia menangis sejadi-jadinya sampai akhirnya tertidur karena kelelahan emosional yang teramat sangat.

****

Keesokan paginya, atmosfer cerah Pulau Dewata seketika berubah menjadi ketegangan tingkat tinggi di dalam vila mewah

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, namun Aurel belum juga turun ke lobi untuk sarapan bersama rombongan dinasti keluarga besar. Karena cemas, Mommy Zeline dan Bang Edward langsung melangkah cepat menuju kamar nomor 204.

Begitu Bang Edward membuka pintu kamar setelah ketukan berulang kali tidak direspons, sosok senior siaga satu itu langsung terpaku kaku di ambang pintu.

Aurel masih terbaring lemah di balik selimut tebalnya. Wajahnya yang biasa berseri-seri kini tampak sangat pucat, dengan kedua kelopak mata yang sembap dan merah akibat tangisan semalam. Bibirnya kering, dan napasnya terdengar pendek-pendek serta berat.

Bang Edward langsung melesat cepat tanpa memedulikan apa pun, berlutut di samping tempat tidur dan menempelkan punggung tangan kekarnya ke kening Aurel.

"Astaga, Aurel! Badan lo panas banget, Rel! Ini mah demam tinggi!" pekik Bang Edward lantang dengan suara yang seketika bergetar hebat penuh kepanikan yang teramat sangat. Senior siaga satu itu langsung panik setengah mati di tempat. Wajah tampannya mendadak berubah pucat pasi, seluruh urat protektif dan kecemasannya meroket ke level maksimal melebihi dinasti pengawasan mana pun.

"Mom! Dad! Sini cepat! Aurel sakit, badannya panas parah!" teriak Bang Edward heboh memanggil orang tua mereka ke lantai atas, tangannya dengan gemetar menarik selimut Aurel agar lebih merapat ke tubuh adiknya. Pria itu mencondongkan tubuhnya sedekat mungkin, menatap wajah pucat Aurel dengan sepasang mata elang yang kini dipenuhi rasa bersalah dan kepanikan yang luar biasa. "Rel, lo denger gue, kan? Mana yang sakit, hah? Kepala lo pusing banget? Kenapa bisa mendadak drop begini sih, Cil?!"

Aurel perlahan membuka matanya yang berat, menatap sayu ke arah wajah panik Bang Edward yang berada sangat dekat di depannya. Jantungnya sempat bergeser ritme menjadi sedikit lebih cepat, membawa sensasi deg-degan lemah di tengah rasa lemas tubuhnya.

Di balik pintu kamar yang mulai riuh oleh kedatangan Mommy Zeline, Kak Anita, dan Shirin yang panik, sosok Reyhan tampak berdiri tenang di koridor luar dengan kemeja kasualnya. Sepasang mata teduh milik cowok denim itu menatap ke dalam kamar melalui celah pintu. Melihat bagaimana Bang Edward begitu panik luar biasa menjaga Aurel, dada Reyhan sempat berdesir halus merasakan denyut perih yang hampa. Namun, samudera kesabaran dan keikhlasan di dalam dirinya membuat Reyhan tetap stabil. Ia hanya mengulas senyuman tipis yang sangat teduh dari kejauhan, memilih untuk bersabar menjadi benteng pelindung sunyi yang siap pasang badan menjaga agar dinasti liburan mereka di Bali tidak berantakan akibat badai emosi pagi ini.

Melihat sang adik terbaring lemah dengan tubuh yang menggigil di balik selimut, seluruh kepanikan Bang Edward langsung bertransformasi menjadi tindakan penuh perhatian yang teramat manis dan sigap. Jiwa abang siaga satunya seketika mengunci fokus hanya untuk memulihkan kondisi "Adik Kecil" kesayangannya itu.

Tanpa memedulikan agenda jalan-jalan keluarga yang seharusnya dimulai pagi itu, Bang Edward langsung mengambil kendali penuh untuk merawat Aurel.

"Mom, biar Edward aja yang jagain Aurel di kamar. Mommy sama Papa Mama mending sarapan dulu di bawah," ujar Bang Edward dengan nada suara baritonnya yang mendadak melembut drastis, penuh tanggung jawab.

Pria itu dengan telaten memeras handuk kecil yang sudah direndam air hangat, lalu menempelkannya ke atas kening Aurel dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak mengganggu tidur adiknya. Tidak sampai di situ, setelah Mommy Zeline membawakan semangkuk bubur ayam hangat dan obat penurun panas ke kamar, Bang Edward langsung duduk di tepi kasur.

Ia perlahan menyusupkan lengan kekarnya di bawah tengkuk Aurel, membantu gadis itu untuk duduk bersandar pada tumpukan bantal empuk. "Nih, makan dulu dikit, Cil. Jangan bantah gue kali ini. Lo harus diisi perutnya biar bisa minum obat," ucap Bang Edward manis sembari meniup sesendok bubur hangat dengan penuh kesabaran sebelum menyodorkannya ke depan bibir Aurel.

Mendapatkan perlakuan sedekat dan semanis itu dari cowok yang dicintainya dalam diam, jantung Aurel yang awalnya melemas akibat demam seketika melompat dari ritme normalnya. Rasa deg-degan parah kembali bergemuruh hebat di dalam rongga dadanya. Di balik tubuhnya yang lemas dan wajahnya yang pucat, pipi Aurel dalam hitungan detik langsung merona merah padam samar akibat salah tingkah gila-gilaan. Perhatian eksklusif Bang Edward yang selalu menempatkannya sebagai prioritas utama selalu memiliki sihir yang sanggup mengikis rasa sakit fisiknya.

Kak Anita yang berdiri di ambang pintu bersama Shirin hanya bisa tersenyum penuh kehangatan, terbiasa melihat betapa Edward selalu menomorutamakan keselamatan Aurel sejak kecil. Kak Anita melangkah masuk, mengelus lembut rambut panjang Aurel yang tampak acak-acakan. "Dimakan ya, Aurel Sayang. Abang kamu ini tadi pas tahu kamu demam langsung pucat, lebih panik daripada saat ngerjain skripsi."

Di luar koridor kamar yang remang, Reyhan tetap berdiri kokoh dengan kaus kasualnya. Sepasang mata teduh milik cowok berjaket denim itu menangkap basah seluruh adegan penuh perhatian di dalam kamar melalui celah pintu yang terbuka sedikit.

Dada Reyhan sempat berdesir halus merasakan denyut perih yang hampa akibat kenyataan bahwa ia tidak memiliki hak untuk berada di posisi Bang Edward saat ini. Namun, samudera kesabaran dan keikhlasan di dalam dada Reyhan membuatnya tetap stabil. Cowok denim itu menarik napas panjang secara perlahan dan menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang teramat hangat dan tulus dari kejauhan. Kesabarannya untuk tetap tinggal menjadi partner terbaik yang suportif terbukti menjadi pelindung sunyi yang menenangkan jiwanya, siap menjaga agar senyum ceria Aurel bisa segera kembali di lembaran hidup mereka di Bali.

Aurel baru saja menelan obat penurun demamnya saat Bang Edward meletakkan cangkir air putih ke meja nakas dengan tergesa-gesa. Senior siaga satu itu baru saja mendapat instruksi dari Mommy Zeline untuk membeli obat tambahan khusus lambung dan vitamin di apotek luar kompleks vila.

"Bocil, lo merem sekarang. Jangan berani-berani buka ponsel," perintah Bang Edward tegas sembari merapikan selimut Aurel sampai sebatas dagu. "Gue keluar bentar ke apotek depan kompleks sama Anita buat nyari obat tambahan. Awas ya kalau gue balik lo malah kelayapan di WhatsApp. Merem!"

Aurel hanya bisa mengangguk lemas dengan senyum tipis yang dipaksakan. Setelah Bang Edward dan Kak Anita melangkah keluar dan menutup pintu dengan pelan, keheningan total kembali merajai kamar nomor 204 tersebut. Aurel memejamkan matanya, menikmati sisa debaran gila-gilaan yang masih bertalu-talu di dadanya akibat perhatian manis abangnya tadi.

Klek.

Suara engsel pintu yang bergerak teramat pelan mendadak memecah kesunyian. Aurel mengernyitkan dahi, perlahan membuka kelopak matanya yang terasa berat karena mengira Bang Edward ada barang yang tertinggal.

Namun, begitu siluet di ambang pintu tersingkap, jantung Aurel seketika melompat dari ritme normalnya. Dada gadis itu berdegup begitu keras dengan kecepatan gila-gilaan yang sangat nyata.

Reyhan melangkah masuk dengan gerakan yang teramat senyap dan tenang. Cowok itu sudah melepaskan jaket denimnya, hanya mengenakan kaus kasual putih polos yang mencetak jelas bahu tegapnya. Di tangannya, ia membawa sebuah mangkuk kecil baru berisi air hangat segar beserta handuk kompres cadangan. Pembawaannya yang luar biasa dewasa, lempeng, dan teduh seketika mengubah atmosfer kamar yang tadinya pengap menjadi begitu menenangkan.

Tanpa suara agar tidak membuat Aurel tertekan, Reyhan berjalan mendekati tepi tempat tidur. Ia meletakkan mangkuk itu di meja nakas, lalu dengan gerakan yang sangat hati-hati, jemari tangannya yang panjang terulur untuk mengambil handuk kompres lama di kening Aurel yang sudah mulai mendingin.

"Reyhan... lo kok di sini?" bisik Aurel terbata-bata dengan nada suara berat khas orang demam, mencoba menetralkan pasokan rasa salah tingkah gila-gilaan yang mendadak menyerang seluruh pertahanan batinnya.

Reyhan tidak langsung menjawab. Cowok denim itu memeras handuk baru di dalam air hangat dengan telaten, lalu mencondongkan tubuhnya yang tegap ke depan, mengikis jarak di antara kedua wajah mereka hingga menyisakan jarak yang teramat dekat. Sepasang mata teduh milik Reyhan menatap lekat-lekat langsung ke dalam manik mata sayu Aurel dengan samudera kesabaran dan keikhlasan yang begitu luas.

Dengan sentuhan tangan yang teramat lembut dan luar biasa dewasa, Reyhan menempelkan kompres hangat baru itu ke atas kening Aurel, lalu perlahan mengusap sisa uap air yang mengalir ke pelipis adiknya menggunakan ibu jarinya.

"Intel sayur lo lagi keluar, Partner. Jadi bagian pengamanan draf kesehatan lo biar gue yang ambil alih bentar," ucap Reyhan dengan nada suara beratnya yang teramat stabil, tenang, dan sarat akan perhatian suportif yang murni. Ia menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat hangat di bibirnya. "Nggak usah kaku begitu natap gues. Konsep korelasi linear bab empat kemarin kan udah fiks kita kunci, sekarang tugas lo cuma perlu tutup mata dan istirahat biar draf fisik lo nggak beneran meledak di Bali."

Ditatap sedekat itu dalam kondisi kamar yang sunyi, ditambah wangi parfum maskulin kasual khas Reyhan yang langsung mengepung indra penciumannya, seketika membuat Aurel salah tingkah setengah mati di tempat. Wajah pucatnya dalam hitungan detik langsung merona merah padam sempurna hingga ke hulu telinga karena tidak kuat menahan gempuran debaran gila di dadanya. Rasa sesak dan perih akibat cinta sepihak kepada Bang Edward semalam bener-bener larut sepenuhnya tanpa sisa, tergantikan oleh kehangatan nyata dan getaran baru yang teramat asing namun menyejukkan jiwanya.

Aurel refleks menarik selimut tebalnya sedikit ke atas sebatas hidung demi menyembunyikan pipinya yang sudah panas membara dari pandangan cowok di depannya. Di bawah pendar lampu kamar yang remang siang itu, dikawal oleh luasnya samudera kesabaran dari Reyhan yang memilih untuk tetap tinggal menjadi benteng pelindung sunyinya, Aurel perlahan memejamkan matanya dengan damai, membiarkan hatinya terlelap dalam dekapan kehangatan baru yang teramat indah di lembaran hidup barunya.

1
falea sezi
😒 heran liat Edward ini serakah
falea sezi
kenapa aurel di buat murahan sih😒 buat. move on donk🤣
falea sezi
aurel. move on pergi jauh lagh kuliah pindahan ja bodoh bgt km ini🤣
falea sezi
cewek gatel aurel🤣 kayak gka ada cwek. lain aja
falea sezi
aurel g tau malu🤣 di tolak lu ngarep move on neng maaf g suka cwek menye ngemis ngemis cinta😒
falea sezi
🤣🤣 Reyhan maju reyy q dukung jangan hiraukan Edward di vampir sok ngatur
falea sezi
🤣 Edward saudara bukan kok ngatur uda urus aja pcr tercinta lu ngapain. ngurus aurel😒 biar aurel pergi jauh aja minimal. keluar negri gt cwek. kok menye
falea sezi
kenapa malah bahas figuran peran utama siapa aneh author nya🤣
falea sezi
mending pindah tempat kuliah aja aurel yg jauh 😒 biar gk sakit hati
my queen 👸: makasih sarannya kk ❤️🙏
total 1 replies
falea sezi
move on donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!