Indonesia
NovelToon NovelToon
Respect

Respect

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Hamil di luar nikah
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.

Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.

Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34. Respect

Keesokan paginya, suasana di ruang makan keluarga Acha terasa jauh lebih berat dari biasanya. Aroma kopi hitam dan roti panggang yang biasanya menghangatkan pagi mendadak terasa hambar.

Yanto dan Ranti sedang duduk berdampingan di seberang meja, memasang raut wajah serius yang langsung membuat detak jantung Acha berdegup lebih cepat dari biasanya.

Tanpa basa-basi, Yanto meletakkan cangkir kopinya ke atas pisin meja dengan bunyi dentingan pelan yang mencengangkan. Dia menatap putrinya lekat-lekat.

"Cha, mulai hari ini, Papah sama Mamah minta kamu buat resign dari tempat kerja kamu," ucap Yanto tegas, tidak menyisakan ruang untuk perdebatan.

Acha yang baru saja hendak menyuapkan sarapannya langsung tertegun kaku. Sendok di tangannya hampir terlepas. Matanya mengerjap lebar, menatap kedua orang tuanya bergantian dengan rasa tidak percaya.

"Risen Pah? Kenapa mendadak banget?" tanya Acha dengan suara tercekat, mencoba mencari penjelasan yang masuk akal.

"Pekerjaan aku di sana kan baik-baik saja, tidak ada masalah..."

Ranti menghela napas panjang, mencoba menampilkan ekspresi iba namun tetap pada pendiriannya.

"Bukannya ada masalah di tempat kerja kamu, Cha. Tapi Mamah sama Papah sudah memikirkan ini matang-matang. Ada hal lain yang jauh lebih penting untuk masa depan kamu, dan keputusan kami sudah bulat."

Acha terdiam seribu bahasa. Dia tahu betul karakter kedua orang tuanya ketika Yanto dan Ranti sudah mengeluarkan titah seperti itu, mustahil bagi Acha untuk membantah atau mencari celah protes.

Perasaan tidak berdaya langsung menghantam dadanya. Di tengah kekalutan pikirannya tentang Nathan dan masalah rumit yang sedang disembunyikan kekasihnya itu, kini dia harus menghadapi beban baru di rumahnya sendiri.

Dengan kepala tertunduk lesu dan tenggorokan yang mendadak keluh, Acha hanya bisa menelan ludahnya pahit.

Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk lemah, menyerah pada keputusan yang telah merenggut kebebasannya hari itu.

Mendengar keterkejutan dan kebingungan di wajah sang putri, Ranti akhirnya melunak namun tetap tegas menjelaskan alasan di balik keputusan mendadak tersebut. Dia menatap Acha dengan sorot mata penuh kecemasan seorang ibu.

"Bukannya Papah sama Mamah mau mengekang kamu, Cha," ujar Ranti lembut sambil meraih tangan Acha di atas meja.

"Tapi kami berdua benar-benar khawatir melihat kondisi kamu belakangan ini. Hampir setiap hari kamu selalu disuruh lembur di minimarket itu sampai larut malam."

Yanto mengangguk mengiyakan, raut wajahnya menyiratkan kekesalan bercampur rasa bersalah karena membiarkan putrinya kelelahan selama ini.

"Betul, Cha. Badan kamu itu sudah menjerit minta istirahat. Puncaknya waktu kamu beberapa kali pingsan tak sadarkan diri setelah pulang kerja. Kalau diterus-teruskan, kesehatan kamu yang taruhannya. Nyawa dan kesehatan kamu jauh lebih berharga dari pada pekerjaan itu."

Mendengar penjelasan tersebut, Acha perlahan bisa memahami dari sudut pandang orang tuanya. Selama ini dia memang sering memaksakan diri demi tanggung jawab pekerjaannya, hingga mengabaikan fisik yang sudah kelelahan.

Meskipun merasa berat harus meninggalkan tempat kerja yang sudah akrab baginya, Acha sadar bahwa kekhawatiran Yanto dan Ranti murni didasari oleh rasa sayang yang besar terhadap dirinya.

Meskipun akal sehatnya bisa menerima setiap argumen yang dilontarkan oleh Yanto dan Ranti, beban emosional yang menumpuk di pundak Acha rasanya terlalu berat untuk langsung dicerna.

Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, dia harus dihadapkan pada rahasia kelam Nathan, kebingungan sikap kekasihnya itu, dan kini keputusan sepihak yang memaksa dia kehilangan pekerjaannya.

Acha merasa dadanya sesak, seolah ruang tamu rumahnya mendadak kehilangan oksigen.

Dengan suara pelan dan pandangan yang tetap menunduk, Acha mengangguk lemah menanggapi penjelasan orang tuanya.

"Iya, Pah, Mah... Aku ngerti maksud kalian," ucapnya lirih.

Sebelum Yanto atau Ranti sempat menambahkan kalimat lain, Acha segera beranjak dari kursi meja makan.

Dia menatap kedua orang tuanya dengan senyuman tipis yang menyembunyikan kerapuhan di balik tatapannya.

"Tapi... Aku lagi capek banget hari ini. Aku butuh waktu sendiri dulu untuk istirahat di kamar," lanjut Acha dengan nada suara yang hampir tak terdengar.

Tanpa menunggu persetujuan atau jawaban lebih lanjut, Acha melangkah pelan meninggalkan ruang makan. Langkah kakinya terasa begitu berat, menyeret sisa-sisa tenaga yang ia miliki menuju kamarnya sendiri.

Begitu dia tiba di dalam kamar, pintu langsung ditutup dan dikunci rapat. Sepeninggal dirinya dari pandangan orang tuanya, Acha membiarkan pertahanannya runtuh. Dia berjalan perlahan ke arah ranjang, lalu menjatuhkan diri di atas kasur empuknya.

Di dalam kesunyian kamar yang temaram, jauh dari tuntutan pekerjaan dan kecemasan tentang Nathan, Acha akhirnya membiarkan air matanya jatuh, meluapkan segala lelah, bingung, dan sesak yang berkecamuk di dalam dadanya.

Isakan tangis Acha tertahan di balik bantal, meredam suara sesenggukan yang kian menyesakkan dada.

Di dalam kamar yang sepi itu, pikirannya tidak hanya kalut oleh keputusan sepihak orang tuanya, tetapi juga dihantam rasa bersalah yang luar biasa terhadap orang-orang terdekatnya di tempat kerja.

Vika, Tasya, dan Amina. Tiga nama itu terus berkelebat di benaknya.

Mereka bukan sekadar rekan kerja sesama kasir atau staf minimarket; mereka adalah tempat Acha berbagi lelah, tawa, hingga sebungkus roti saat jam istirahat malam.

Vika yang selalu ceria, Tasya yang sabar, dan Amina yang selalu bisa diandalkan ketika Acha kewalahan lembur.

"Bagaimana aku harus bilang kepada mereka...?" gumam Acha parau di tengah air matanya yang terus menetes.

Bayangan saat dia harus berdiri di depan mereka dan mengatakan bahwa dia harus resign seketika membuat hatinya semakin mencelos.

Keputusan ini datang begitu mendadak, tanpa aba-aba, tanpa pesta kecil perpisahan, atau sekadar pelukan hangat di hari terakhir kerja.

Vika, Tasya, dan Amina pasti akan sangat terkejut, bahkan mungkin panik dan khawatir setengah mati memikirkan bagaimana nasib Acha selanjutnya.

"Apakah mereka akan mengira Aku dipecat? Atau berpikir ada masalah besar yang disembunyikan Aku dari mereka?"

Acha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, merasa terjepit di antara rasa sayangnya pada keluarga dan rasa bersalahnya pada sahabat-sahabat seperjuangan. Di satu sisi, dia tahu tubuhnya memang butuh istirahat dan orang tuanya benar.

Namun di sisi lain, meninggalkan minimarket itu berarti memutus ikatan hangat yang selama ini menjadi salah satu sumber kekuatannya bertahan di tengah hari-hari yang melelahkan.

Di tengah isak tangis yang masih menyisakan sesak di dadanya, pandangan Acha tertuju pada ponsel yang tergeletak di atas nakas sebelah tempat tidur.

Layar benda pipih itu menyala remang, menampilkan nama kekasih yang saat ini paling dia butuhkan untuk sekadar mendengar suaranya.

Acha tahu, jam segini Nathan seharusnya sedang sibuk bekerja. Namun, rasa lelah dan beban mental yang teramat berat membuatnya mengabaikan akal sehat itu.

Dia hanya ingin seseorang mendengarkannya, seseorang yang bisa menjadi tempatnya bersandar tanpa harus takut dihakimi.

Dengan jemari yang sedikit bergetar, Acha meraih ponselnya dan menekan tombol panggil kontak Nathan.

Dia menarik napas panjang, bersiap jika panggilannya tidak dijawab atau dialihkan karena kesibukan Nathan.

Namun, dugaan Acha meleset. Belum sampai deringan ketiga berbunyi, sambungan telepon itu tiba-tiba terhubung.

"Halo, Cha..." suara Nathan terdengar di ujung sana.

Nada bicaranya terdengar berat dan lelah, persis seperti bayangan Acha, namun kehadiran suara itu seketika memberikan kelegaan tersendiri bagi hati Acha yang sedang luluh lantak.

Mendengar suara Nathan, pertahanan Acha yang sejak tadi coba dia tahan kembali runtuh. Isak tangis kecil yang sempat mereda kini lolos begitu saja dari bibirnya, membuat napasnya terdengar tersenggal-senggal di lubang mikrofon ponsel.

Di seberang sana, suasana mendadak senyap. Nathan yang tadinya mungkin bersiap dengan urusan pekerjaannya langsung tertegun mendengar suara tangisan kekasihnya.

"Cha? Kamu kenapa? Kenapa menangis?" tanya Nathan, nadanya yang tadinya datar kini berubah drastis menjadi panik dan penuh kecemasan.

Isak tangis Acha perlahan mereda, digantikan oleh suara helaan napas berat dan isapan hidung yang tertahan.

Di ujung sambungan telepon, Nathan mendengarkan dengan seksama, membiarkan kekasihnya itu menumpahkan segala uneg-uneg yang sejak tadi menghimpit dadanya.

Dengan suara bergetar dan terbata-bata, Acha mulai menceritakan semuanya kepada Nathan.

Dia bercerita bagaimana Yanto dan Ranti tiba-tiba memintanya resign saat sarapan tadi, lengkap dengan alasan kedua orang tuanya yang ketakutan melihat Acha sering lembur hingga jatuh pingsan.

"Aa... aku sebenarnya nggak mau keluar dari tempat kerja aku," keluh Acha parau, menyuarakan isi hatinya yang paling dalam.

"Aku sudah terbiasa kerja di sana, aku juga berat banget harus ninggalin Vika, Tasya, dan Amina yang sudah seperti keluarga sendiri..."

Acha menjeda kalimatnya sejenak, menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya.

"Tapi... aku harus bagaimana, aa?" Lirihan Acha terdengar begitu putus asa.

"Kalau itu kemauan Papah sama Mamah, aku nggak bisa nolak atau membantah perkataan mereka. Rasanya serba salah. Aku capek, tapi di satu sisi aku ngerasa nggak berdaya..."

Di seberang sana, Nathan terdiam cukup lama. Suasana hening mendominasi sambungan telepon tersebut, seolah pemuda itu sedang mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Acha sambil meresapi beban berat yang kini tengah dipikul oleh kekasihnya itu.

Di seberang sambungan telepon, helaan napas panjang terdengar dari Nathan sebelum dia akhirnya membuka suara.

Nada bicaranya yang tadinya diliputi kepanikan kini berubah menjadi jauh lebih tenang dan menenangkan, berusaha menjadi sandaran yang kokoh bagi Acha yang sedang runtuh.

"Cha... dengarin perkataan aku, ya," ucap Nathan lembut, memotong keheningan.

Acha terdiam di balik layarnya, berusaha meredakan isak tangisnya dan mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari mulut kekasihnya.

"Menurut aku... apa yang dibilang sama Om Yanto dan Tante Ranti itu benar, Cha," lanjut Nathan dengan nada penuh pengertian.

"Aku paham banget kenapa kamu sedih dan berat buat ninggalin tempat kerja kamu, apalagi ada Vika, Tasya, dan Amina di sana. Tapi, coba pikirkan dari sudut pandang mereka."

Nathan menjeda kalimatnya sejenak, memilih kata-kata yang tepat agar tidak melukai perasaan Acha namun tetap bisa menyadarkannya.

"Orang tua kamu sayang banget sama kamu, Cha. Mereka cemas luar biasa waktu lihat kamu sering dipaksa lembur sampai jatuh pingsan. Jujur, aku juga khawatir setiap kali dengar atau lihat kamu kelelahan begitu. Kalau sistem kerja di sana terus-terusan bikin kesehatan kamu taruhannya, cepat atau lambat tubuh kamu bakal benar-benar menyerah."

Acha tertegun mendengarkan penjelasan Nathan. Tidak disangka, di tengah masalah berat yang sedang dipikul oleh Nathan sendiri, pemuda itu masih bisa berpikir jernih dan memberikan sudut pandang yang logis serta penuh perhatian.

"Jadi... turutin kata-kata Papah sama Mamah kamu ya, Cha," bujuk Nathan dengan suara lembutnya.

"Soal teman-teman kamu, kalian masih bisa tetap komunikasi dan ketemu di luar kok. Tapi kesehatan dan keselamatan kamu jauh lebih penting dari segalanya. Jangan diporsir lagi ya, sayang."

Mendengar nasihat yang begitu tulus dari Nathan, ketegangan di dada Acha perlahan-lahan mencair.

Rasa marahnya pada keadaan dan rasa bersalahnya mulai terobati oleh kehangatan yang diberikan oleh kekasihnya itu.

Dengan isakan yang akhirnya benar-benar reda, Acha mengangguk pelan meskipun Nathan tidak bisa melihatnya.

Meskipun hatinya mulai bisa menerima alasan kesehatan yang diutarakan orang tuanya, bayangan hari-hari kosong tanpa aktivitas tetap saja membuat Acha merasa gelisah.

Pikiran tentang kamar yang sunyi dan rutinitas tanpa tujuan membuatnya kembali mengeluh kepada Nathan.

"Tapi, a... kalau aku resign, nanti aku bosan banget di rumah," keluh Acha dengan nada manja yang masih menyisakan sedikit nada sedih.

"Mana bisa aku cuma diam saja seharian nggak melakukan apa-apa..."

Mendengar keluhan kekasihnya, tawa kecil yang terdengar hangat akhirnya lolos dari bibir Nathan di ujung sambungan telepon. Suara itu seketika mencairkan suasana berat yang sejak tadi menyelimuti Acha.

"Siapa bilang kamu bakal bosan di rumah sendirian?" ucap Nathan dengan nada menggoda, mencoba membujuk Acha agar kembali tersenyum.

"Kan ada aku yang bakal nemenin kamu terus. Nanti kita video callan ya, kalau perlu dari pagi sampai malam bakal aku temenin terus deh, biar kamu nggak kesepian!"

Acha mengerjap kaget mendengar janji manis kekasihnya itu, lalu kontan terkekeh pelan. Rayuan sederhana namun tulus dari Nathan berhasil meruntuhkan sisa-sisa kesedihannya.

Perlahan, bibir Acha membentuk seulas senyuman lebar, melupakan sejenak beban berat tentang pekerjaan dan masalah keluarga yang baru saja menghantamnya.

Senyuman yang tadinya sempat menghiasi bibir Acha perlahan memudar, berganti dengan rona manja yang kembali merayap di suaranya.

Setelah ditenangkan dan dihibur oleh rayuan Nathan, rasa rindunya pada sang kekasih justru semakin membuncah.

Apalagi, setelah melewati pagi yang begitu melelahkan dan penuh tekanan batin, Acha sangat ingin berada di dekat pemuda itu.

"Aa..." panggil Acha dengan nada merajuk pelan.

"Kalau begitu... nanti ketemuan, ya? Aku kangen banget sama aa. Bisa nggak habis ini kita jalan sebentar?"

Di ujung sambungan telepon, Nathan menghela napas pelan. Ada nada serba salah yang terdengar jelas dari tarikan napas tersebut, membuat Acha langsung bersiap kecewa bahkan sebelum Nathan membuka suara.

"Aduh, Cha... Aku pengen banget nyusul kamu atau jemput kamu sekarang," jawab Nathan dengan nada menyesal.

"Tapi hari ini aku bener-bener nggak bisa keluar atau ninggalin tempat kerja."

Acha mengerjap, sedikit heran sekaligus penasaran. "Kenapa? Aa sibuk banget emangnya?"

"Iya, sayang. Ini lagi jam sibuknya, dan aku harus stay di sini buat mengawasi anak buah aku yang lagi ngefris tatak sandal," jelas Nathan, menyebutkan salah satu aktivitas produksi di tempat kerjanya.

"Kalau aku tinggal, nanti hasilnya nggak sesuai standar atau malah berantakan. Jadi, hari ini benar-benar nggak bisa ke mana-mana."

Mendengar penjelasan itu, Acha hanya bisa menghembuskan napasnya pasrah. Dia tahu betul bagaimana tanggung jawab Nathan di tempat kerjanya, terlebih sebagai seseorang yang harus mengawasi jalannya produksi.

Keinginan Acha untuk berada di dekat Nathan rasanya sudah tidak bisa ditahan lagi. Rasa penat akibat keputusannya yang harus resign, ditambah rasa rindu yang mendadak membuncah, membuat Acha memutar otak mencari cara agar mereka bisa tetap bertemu tanpa harus menunggu Nathan selesai bekerja.

"Aa..." panggil Acha dengan nada memohon yang manis.

"Kalau aa nggak bisa keluar karena harus mengawasi anak buah aa buat ngefris tatak sandal, gimana kalau aku saja yang ke rumah aa? Seperti waktu kemarin-kemarin."

Di ujung telepon, Nathan tertegun sejenak. Dia sebenarnya sangat merindukan kehadiran Acha, dan keberadaan gadis itu tentu bisa menjadi penawar lelah di tengah hari kerjanya yang padat.

Namun, Nathan juga tahu betul situasi di rumahnya sedang tidak ideal, terlebih dengan beban pikiran dan rahasia keluarga yang sedang dia simpan rapat-rapat.

Meskipun demikian, melihat betapa besarnya keinginan Acha untuk bertemu, Nathan akhirnya melunak.

"Hm... ya sudah, kalau kamu benar-benar kangen dan mau ke rumah aku, boleh kok, Cha," jawab Nathan dengan suara lembut.

Namun, dia langsung memberikan satu syarat penting. "Tapi ada syaratnya, ya. Kamu harus minta izin dulu sama Tante Ranti. Jangan langsung pergi tanpa bilang-bilang, nanti beliau khawatir karena kamu kemarin baru saja bertemu kan."

Mendengar persetujuan Nathan, binar ceria seketika terpancar di wajah Acha. Rasa bosan dan lelahnya seolah terbang begitu saja.

"Siap, Bos! Nanti aku izin dulu sama Mamah," balas Acha dengan nada yang jauh lebih bersemangat, membuat tawa kecil kembali terdengar dari seberang telepon sebelum sambungan itu akhirnya mereka akhiri.

Dengan langkah yang jauh lebih ringan dibanding sebelumnya, Acha keluar dari kamar tidur. Dia berjalan menuju ruang tengah, tempat Ranti sedang membereskan meja makan.

Keputusan mendadak untuk menemui Nathan sudah bulat di kepalanya, namun dia tahu dia harus melewati satu rintangan lagi mendapatkan izin Ranti.

Melihat Acha yang sudah berganti pakaian rapi dan tidak lagi menunjukkan wajah sembab, Ranti menoleh dengan pandangan heran bercampur penasaran.

"Lho, Cha? Katanya tadi capek mau istirahat di kamar, kok sekarang sudah rapi mau ke mana?" tanya Ranti lembut sambil mengelap tangannya dengan serbet.

Acha mendekati ibunya, lalu meraih tangan Ranti dan memasang wajah semanis mungkin. Dia tahu dia harus merayu ibunya dengan hati-hati.

"Mah... Aku sebenarnya bosan banget di kamar sendirian. Boleh nggak, hari ini aku main ke rumahnya A Nathan sebentar?" pinta Acha memohon.

"A Nathan lagi sibuk kerja di sana, jadi aku mau ke sana sekalian nemenin dia biar nggak suntuk."

Mendengar permintaan itu, dahi Ranti langsung mengernyit ragu. Dia menggelengkan kepala pelan, merasa khawatir.

"Duh, Cha... Mamah agak ngeri kalau kamu main ke rumah Nathan sekarang. Nanti kalau Papah tahu bagaimana? Kamu kan baru aja bilang mau istirahat karena capek, nanti Papah kira kamu malah ngeyel keluyuran lho. Papah bisa marah lho."

Tidak mau menyerah begitu saja, Acha mulai melancarkan berbagai bujukan dan rayuan mautnya. Dia memeluk lengan Ranti, bersandar manja sambil mengerjap-ngerjapkan matanya memohon belas kasihan.

"Ayolah, Mah... Please... Sebentar saja kok. Aku janji nggak bakal kecapekan. Kangen banget sama A Nathan, Mah, dia lagi banyak pikiran juga di sana," bujuk Acha dengan suara paling melas yang ia miliki.

"Nanti aku janji deh, pulangnya cepat sebelum Papah pulang!"

Mendengar rayuan bertubi-tubi dan melihat wajah memelas putrinya, pertahanan Ranti akhirnya runtuh juga.

Dia menghela napas panjang sambil tersenyum pasrah, mengalah pada kesayangan satu-satunya itu.

"Ya sudah, kalau kamu maksa. Tapi ingat syaratnya, ya!" pesan Ranti tegas sambil mencolek hidung Acha pelan.

"Kamu harus sudah pulang ke rumah sebelum Papah pulang jualan. Awas kalau sampai ketahuan Papah kamu keluyuran pas lagi capek-capeknya!"

Mendengar lampu hijau dari sang ibu, mata Acha langsung berbinar ceria. Dia tersenyum lebar penuh kemenangan, lalu mencium tangan Ranti dengan penuh rasa terima kasih.

"Siap, Mah! Aku bakal pulang sebelum Papah datang kok! Makasih ya, Mamah tersayang!" seru Acha gembira.

Tanpa membuang waktu lagi, Acha langsung menyambar tas kecilnya dan bergegas melangkah keluar rumah, bersiap menemui Nathan untuk mengisi kembali energinya yang sempat terkuras habis hari itu.

Langkah Acha yang tadinya sudah begitu bersemangat menuju pintu depan seketika terhenti saat sebuah suara usil memecah keheningan ruang tengah.

"Ehem! Mau ke mana loh, teteh kesayangan gue? Rapi amat, tumben nggak lepek kayak tadi pagi?"

Fitri, adik kandung Acha, muncul dari arah dapur sambil menenteng gelas berisi air dingin.

Gadis remaja itu menyandarkan bahunya ke kusen pintu dengan senyum penuh selidik, menatap Acha dari atas sampai bawah. Matanya menyipit penuh arti saat mendengar percakapan Acha dan Ranti barusan.

Acha mendengus pelan, melirik adiknya dengan tatapan memperingatkan. "Apaan sih, loh? Jangan ngerecokin deh. Gue mau pergi sebentar."

Melihat kesempatan emas untuk menggoda kakaknya, Fitri langsung menyeringai lebar.

"Oh... mau ke rumah A Nathan, ya? Berduaan di sana, mumpung sepi, cieee..." Fitri sengaja memperpanjang nada bicaranya.

Dia lalu mengangkat ponselnya tinggi-tinggi di udara. "Kira-kira kalau sampai loh ketahuan Papah pas lagi asyik berduaan di rumah pacar loh, padahal bilangnya mau istirahat di rumah... seru juga ya kalau gue laporin sama Papah sekarang?" ancamnya setengah bercanda.

Seketika mata Acha membelalak kaget. Panik karena takut adiknya benar-benar membocorkan rencana ini kepada Yanto, Acha langsung melompat menerjang Fitri dengan gerakan cepat, memberikan serangan geli di pinggang adiknya sambil membekap mulut Fitri.

"Eh, jangan sembarangan ya loh, Fit! Awas kalau berani ngadu sama Papah!" seru Acha gemas sekaligus panik, sementara Fitri tertawa-tawa kegelian berusaha melepaskan diri.

"Udah, ngaku aja! Loh mau apa dari gue heh? Jangan macam-macam!"

Mendengar pertanyaan itu, Fitri langsung melepaskan tawa kecilnya dan melepaskan diri dari dekapan Acha. Gadis itu mengetuk-ngetuk dagunya sendiri dengan jari telunjuk, pura-pura berpikir keras menimbang-nimbang keuntungan.

"Hmm... apa ya?" gumam Fitri, sengaja membuat Acha penasaran. Setelah berpikir sejenak, matanya berbinar cerah.

"Oke! Kalau loh mau aman dan rahasia ini selamat sampai di tangan Papah, syaratnya gampang. Traktir gue Kebab Turki yang besar, sama... es krim Walls satu ember yang ukurannya satu liter itu!" pinta Fitri tanpa dosa.

Acha langsung mendengus kesal mendengar permintaan yang kelewat batas itu. Dengan geram, dia maju selangkah lalu mengacak-acak rambut Fitri sekilas hingga berantakan.

"Iya, gila ya loh! Giliran ada maunya aja gercep banget!" cerca Acha setengah sebal namun tetap tersenyum geli.

"Dasar adik laknat!"

Fitri hanya cengengesan sambil merapikan kembali rambutnya yang berantakan, puas karena berhasil memeras kakaknya sendiri.

"Hehehe, intinya deal ya, teh? Jangan lupa oleh-oleh kebab sama es krimnya, atau laporan meluncur kepada Papah!" teriak Fitri menggoda saat Acha akhirnya benar-benar melangkah keluar rumah dengan perasaan campur aduk antara sebal dan lega.

Tidak butuh waktu lama bagi Nathan untuk melajukan kendaraannya dan tiba di depan rumah Acha.

Begitu motornya terparkir rapi di halaman, Nathan langsung turun dan menghampiri teras, tempat Acha sudah menunggu dengan senyuman cerah yang menghapus sisa-sisa kesedihannya tadi pagi.

Sebelum beranjak pergi, Nathan tidak lupa menghampiri Ranti dan Fitri yang berdiri di dekat pintu untuk berpamitan secara baik-baik.

"Tante, Fitri, saya izin jemput Acha sebentar ya main ke rumah saya," pamit Nathan dengan sopan sambil menyalami tangan Ranti.

Ranti tersenyum hangat dan mengangguk. "Iya, Nak Nathan. Hati-hati di jalan ya, jangan pulang terlalu sore. Ingat pesan mamah tadi, ya, Cha," pesannya melirik sang putri.

Sebelum Nathan sempat membalas, Fitri tiba-tiba nyerobot maju dengan senyum penuh kemenangan. Gadis itu menepuk pelan lengan Nathan sambil berpesan dengan suara lantang tanpa dosa,

"Oh iya, Kakak Ipar! Jangan lupa ya, titipan aku Kebab Turki yang ukuran jumbo sama es krim Walls satu ember penuh! Itu buat 'tutup mulut' supaya rahasia teh Acha aman sentosa!"

Nathan yang sama sekali tidak tahu apa-apa langsung mengerjap bingung. Alisnya terangkat sebelah, menatap Fitri lalu beralih menatap Acha dengan pandangan penuh tanda tanya.

"Hah? Tutup mulut apa maksudnya, Fit? Kebab sama es krim buat apa?" tanya Nathan heran.

Acha yang merasa malu sekaligus gemas langsung mencubit pelan lengan Fitri. "Iya loh, bawel banget!" sergah Acha salah tingkah sambil buru-buru menarik tangan Nathan agar segera menjauh dari teras.

"Udah, yuk berangkat, A! Aa Jangan didengerin omongannya si Fitri, dia mah suka ngawur kalau ngomong."

Nathan hanya bisa terkekeh pelan, mengikuti tarikan tangan Acha sambil melambaikan tangan kepada Ranti dan Fitri.

Sementara itu, dari ambang pintu, Ranti hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala pelan sambil tersenyum geli menyaksikan interaksi kedua putrinya.

Meskipun sering kali terlihat saling mengejek, usil, dan bicara dengan nada ketus, Ranti sangat tahu persis bagaimana kedekatan mereka.

Jauh di lubuk hati yang paling dalam, dia yakin Acha dan Fitri saling peduli dan amat menyayangi satu sama lain.

Perjalanan singkat menuju rumah Nathan ditempuh dalam keheningan yang nyaman. Sisa-sisa ketegangan dan rasa lelah Acha pagi tadi seolah lenyap tersapu oleh kehadiran kekasihnya di sampingnya.

Tidak butuh waktu lama hingga motornya Nathan masuk ke halaman rumahnya yang ternyata juga berfungsi sebagai tempat usaha produksi sandal rumahan milik keluarganya.

Begitu mesin motor dimatikan, suara bising mesin pres dan deru alat sablon langsung menyambut indra pendengaran Acha.

Beberapa pekerja tampak sibuk mondar-mandir di area teras samping dan garasi yang disulap menjadi tempat produksi.

Nathan tidak langsung mengajak Acha masuk ke dalam bangunan rumahnya. Dia tahu betul tanggung jawabnya sebagai pengawas.

Sebelum menemani kekasihnya beristirahat di dalam, Nathan melangkah mendekati area kerja anak buahnya terlebih dahulu.

"Eh, Mas, Bli, gimana progresnya?" sapa Nathan ramah namun tegas kepada para pekerjanya.

Para pekerja langsung menoleh dan menghentikan aktivitas sejenak untuk mendengarkan arahan dari bos muda mereka.

Nathan kemudian memberikan instruksi detail, mulai dari aba-aba dan pengaturan tekanan saat proses ngefris (pencetakan merek sandal) agar hasilnya tidak miring, hingga pengecekan posisi cetakan sablon pada tali sandal agar warnanya tidak meluber.

"Ingat ya, untuk bagian ngefris yang sebelah kanan pastikan ukurannya pas dulu sebelum ditekan, jangan sampai bablas. Terus buat sablon tali sandalnya, habis ini tolong pastikan benar-benar kering sebelum ditumpuk supaya nggak comot," instruksi Nathan dengan nada profesional dan cekatan.

Setelah memastikan semuanya berjalan lancar dan para pekerjanya mengerti apa yang harus dikerjakan, Nathan menghembuskan napas lega.

Dia lantas berbalik badan, menghampiri Acha yang sejak tadi berdiri manis menunggunya di dekat motor dengan senyuman hangat.

Nathan merangkul pelan pundak Acha, membawa gadis itu menjauhi kebisingan mesin produksi menuju pintu utama rumahnya yang lebih tenang.

"Maaf ya, Cha, harus ngecek sebentar tadi. Biar kerjaan anak-anak beres dulu," ucap Nathan lembut saat mereka melangkah masuk melewati pintu depan rumahnya.

Langkah kaki Nathan dan Acha akhirnya menembus pintu utama, meninggalkan keriuhan para pekerja yang sibuk dengan mesin pres dan cetakan sandal di area luar. Suasana di dalam rumah terasa jauh lebih sepi dan menenangkan.

Tanpa membuang waktu, Nathan menggandeng tangan Acha menuju kamarnya yang berada di bagian dalam rumah.

Begitu mereka berdua masuk, Nathan langsung menutup pintu kamarnya rapat-rapat dan memutar kunci pengaman hingga terdengar bunyi klik.

Di dalam kamar yang privat itu, benteng pertahanan yang selama ini mereka jaga perlahan-lahan runtuh. Suasana berubah menjadi intim begitu keduanya menikmati waktu berdua untuk melepas penat dan rindu. Acha, yang biasanya lebih pemalu, kini menunjukkan sisi beraninya.

Didorong oleh rasa cinta dan kerinduan yang mendalam setelah melewati hari yang begitu melelahkan, Acha secara proaktif mendekati Nathan, menebar godaan, hingga melayangkan ciuman hangat di bibir pemuda itu.

Sentuhan dan keberanian Acha membuat pertahanan diri Nathan langsung buyar seketika. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan terbawa oleh gelora emosi yang memuncak, Nathan langsung membalas perlakuan Acha dengan penuh gairah.

Dia menarik tubuh Acha lebih dekat, mendaratkan ciuman yang semakin menuntut, hingga melancarkan aksinya menyentuh dan melumat bagian sensitif tubuh Acha dengan penuh intensitas.

Suasana kamar itu semakin panas, diiringi napas yang memburu, saat keduanya tenggelam dalam keintiman yang mendalam, melupakan sejenak segala kerumitan dan masalah dunia luar yang menanti di balik pintu kamar.

Suara desahan lembut yang lolos dari bibir Acha seketika memicu gairah Nathan hingga mencapai puncaknya.

Kendali atas diri mereka seolah menguap, terhanyut dalam gelombang emosi dan kebutuhan untuk saling melengkapi di tengah hari yang begitu melelahkan.

Nathan semakin kehilangan akal sehatnya. Dengan gerakan yang menuntut namun penuh kebutuhan, dia menuntun Acha hingga mereka terbaring di atas ranjang.

Tanpa ragu, Nathan langsung menyingkap pakaian Acha dan membenamkan wajahnya, melumat buah melon Acha secara kasar dan bergairah.

Sentuhan intens itu membuat tubuh Acha melengkung ke atas, membiarkan desahan kenikmatan semakin deras mengalir dari bibirnya, menghapus segala beban dan rasa penat yang sempat menghimpit dada mereka sejak pagi tadi.

Di dalam kamar yang terkunci rapat itu, dunia luar seolah berhenti berputar, menyisakan mereka berdua yang saling terikat dalam pelukan hangat di tengah badai rahasia yang belum usai.

Suasana di dalam kamar semakin panas dan dipenuhi oleh napas yang memburu. Di tengah puncak gairah yang melanda, Nathan menarik diri sejenak untuk membuka celananya, menampakkan alat kelaminnya yang sudah menegang akibat rangsangan hebat sejak tadi.

Dengan tatapan sayu penuh tuntutan hasrat, Nathan menatap Acha lekat-lekat dan meminta gadis itu untuk memuaskannya. "Cha... tolongin aku, emut ya," bisik Nathan dengan suara serak.

Mendengar permintaan itu, Acha sempat tertegun kaget. Dia menggelengkan kepala pelan, menarik tubuhnya mundur sejenak karena diliputi rasa takut dan kebingungan.

"Nggak... A, aku nggak tahu caranya. Aku takut..." ucap Acha terbata-bata, merasa asing dan ragu dengan hal tersebut.

Namun, gairah yang sudah membakar diri Nathan membuatnya tidak mau menunggu. Karena sudah berada di ambang batas kesabaran, Nathan dengan sigap menangkup kepala Acha dengan kedua tangannya.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Acha untuk menolak lebih jauh, dia mengarahkan kepala sang kekasih tepat ke hadapannya.

Merasa tidak memiliki pilihan dan terbawa oleh suasana yang kian mendesak, Acha akhirnya menyerah.

Dengan ragu-ragu di awal, dia mulai menjilat dan menyedot milik Nathan sesuai dengan arahan gerakan yang diberikan pemuda itu.

Sentuhan bibir dan lidah Acha langsung memicu gelombang kenikmatan yang luar biasa bagi Nathan.

Kepala Nathan mendongak ke belakang, mendesah tertahan menikmati setiap sentuhan yang diberikan Acha.

Rasa canggung Acha perlahan melebur seiring dengan desahan kepuasan yang terus keluar dari bibir Nathan, membuat pemuda itu semakin terbuai dalam pelukan sang kekasih di balik pintu kamar yang terkunci rapat.

Di tengah keintiman yang tengah memuncak di dalam kamar yang terkunci rapat, suasana tiba-tiba dikejutkan oleh suara ketukan pintu yang keras dari luar.

Tok! Tok! Tok!

Suara itu langsung memecah keheningan dan menghentikan gerakan mereka berdua seketika. Nathan dan Acha langsung tertegun, napas keduanya masih memburu dengan dada yang naik-turun akibat gairah yang belum sepenuhnya mereda.

Wajah Acha memerah padam, diselimuti rasa kaget dan panik yang luar biasa. Mengingat kondisinya saat itu yang setengah telanjang, Acha buru-buru menyambar selimut tebal dan merayap naik ke atas ranjang, menutupi seluruh tubuhnya hingga rapat tanpa celah.

"Aa..." bisik Acha ketakutan dari balik selimut, suaranya bergetar membayangkan siapa pun yang ada di luar.

Di sisi lain, Nathan mendengkus pasrah, berusaha menetralkan napasnya yang masih berat. Dengan gerakan cepat, dia merapikan kembali pakaiannya yang sempat berantakan dan mengancingkan celananya.

Setelah merasa penampilannya cukup aman, Nathan melangkah dengan langkah cepat namun tenang menuju pintu kamar.

Sebelum membuka pintu, dia melirik sekilas ke arah ranjang tempat Acha bersembunyi di balik selimut, lalu memutar kunci dan membuka daun pintu sedikit untuk melihat siapa yang datang di jam-jam rawan seperti ini.

Nathan melirik sekilas ke arah pintu yang baru saja dia buka setengah, lalu menoleh kembali ke dalam kamar.

Matanya menangkap sosok Acha yang terbungkus rapat oleh selimut di atas ranjang, menyisakan sepasang mata sayu yang menatapnya dengan penuh kelelahan sekaligus sisa-sisa gairah.

"Cha, aku keluar sebentar ya. Ada urusan di luar, sebentar doang," pamit Nathan dengan suara rendah, berusaha menyembunyikan ketergesa-gesaan di balik nada bicaranya.

Acha hanya bisa mengangguk pelan dari balik selimut. Kepalanya terasa pusing dan tubuhnya lemas luar biasa setelah gelombang intensitas yang mereka lewati barusan.

Dia tidak memiliki tenaga lagi untuk sekadar menjawab dengan suara yang jelas, sehingga dia hanya membalasnya lewat tatapan mata sayunya yang sarat akan kantuk dan rasa lelah.

Melihat kondisi Acha yang begitu rapuh dan menggoda di atas tempat tidur, gejolak di dalam diri Nathan kembali berontak hebat.

Keinginan untuk benar-benar merenggut keperawanan gadis itu melintas begitu saja di benaknya, membayangkan bagaimana rasanya menyatukan diri sepenuhnya tanpa ada batasan lagi.

Namun, akal sehat dan situasi di luar kamar memaksanya untuk segera menarik rem. Urusan mendesak dengan para pekerja dan situasi rumah yang tidak memungkinkan membuat Nathan harus menahan hasrat tersebut.

Dengan helaan napas berat demi meredam gejolak nafsunya, Nathan mengangguk pelan meyakinkan Acha, lalu melangkah keluar dan menutup kembali pintu kamarnya rapat-rapat.

Di saat Acha sedang berbaring terlelap dalam balutan selimut untuk memulihkan tenaganya yang terkuras habis di kamar Nathan, ponselnya yang tergeletak di atas nakas tiba-tiba bergetar pelan.

Bzzzt... bzzzt...

Sebuah pesan masuk tertera di layar ponsel yang menyala remang. Acha, yang matanya masih terasa berat akibat kelelahan, meraih benda pipih itu dengan malas dan membuka notifikasi pesan tersebut.

Alisnya langsung mengernyit bingung begitu melihat nama pengirimnya Alfian.

Tanpa menaruh curiga, Acha membaca isi pesan dari Alfian. Namun, seketika itu juga rasa mengantuknya menguap, digantikan oleh rasa terkejut dan darah yang mendesir naik ke kepala.

"Cha, aa peringati kamu ya. Jauhi Nathan sekarang juga. Jangan pernah dekat-dekat sama dia lagi!" isi pesan pertama dari Alfian.

Belum sempat Acha mencerna maksud dari pesan tersebut, Alfian kembali mengirimkan pesan susulan yang membuat napas Acha seketika sesak.

"Anak-anak dan para tetangga di sekitar rumah Nathan lagi pada bergosip nggak bener tentang kamu. Mereka ngeliat kamu sering ke rumahnya dan bilang kalau kamu itu cewek nggak bener yang murahan gampang dibawa masuk ke kamar sama cowok!"

Mata Acha membelalak lebar, menatap nanar deretan kalimat tajam dan menghina di layar ponselnya. Tubuhnya yang tadinya terasa lemas mendadak kaku, sementara dadanya terasa dihantam batu besar.

Tuduhan keji itu mendarat begitu telak, mencoreng harga dirinya di saat dia baru saja menyerahkan segenap rasa dan kepercayaannya kepada Nathan di balik pintu kamar yang terkunci rapat.

Jemari Acha terasa kaku di atas layar ponsel. Untuk beberapa detik lamanya, dia hanya menatap nanar pesan-pesan bernada tuduhan dari Alfian tanpa berniat untuk membela diri atau melontarkan kemarahan.

Di lubuk hatinya yang paling dalam, dia tahu persis apa yang baru saja dia lakukan di balik pintu kamar yang terkunci rapat bersama Nathan.

Gosip atau bisikan miring para tetangga yang menyebutnya sebagai perempuan tidak benar mungkin terdengar kejam bagi orang lain, tetapi bagi Acha saat ini, kenyataan itu terasa begitu abu-abu.

Dia memang bukan lagi Acha yang dulu, gadis polos yang selalu menjaga batas dan takut melangkah terlalu jauh. Hari ini, dia telah membiarkan dirinya dikuasai oleh gelombang gairah, menyerahkan sentuhan-sentuhan intim, bahkan menuruti hasrat liar bersama Nathan tanpa secuil pun rasa keterpaksaan.

Dia menikmatinya. Setiap desahan, setiap sentuhan kasar penuh tuntutan, hingga rasa panas yang membakar tubuhnya, semuanya terasa nyata dan memberikan kepuasan tersendiri yang tidak bisa ia pungkiri.

Dengan jari yang sedikit gemetar, Acha akhirnya mengetikkan sebuah balasan singkat yang dingin dan pasrah kepada Alfian.

"Iya."

Hanya itu satu kata yang dia kirimkan. Tidak ada bantahan, tidak ada bantahan soal harga diri, atau amarah atas fitnah yang dilemparkan. Acha meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas, lalu menarik selimutnya lebih erat.

Jantungnya masih berdegup kencang, bukan karena takut dicap buruk oleh orang lain, melainkan karena dia sadar bahwa dirinya memang telah berubah, dan dia sama sekali tidak merasakan penyesalan sedikit pun atas apa yang dia lakukan bersama Nathan.

Sore menjelang senja di dalam kamar Nathan yang terkunci rapat. Acha masih berbaring di atas ranjang dengan tubuh polosnya yang hanya terbalut selimut tebal.

Berusaha memulihkan napas dan sisa-sisa kesadaran setelah gelombang gairah yang intens baru saja mereda. Tubuhnya terasa lemas, dan matanya sudah sayup-sayup hendak terpejam.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu kembali terdengar, disusul suara Nathan dari luar yang memanggil namanya pelan. Tak lama kemudian, daun pintu terbuka sedikit dan Nathan melangkah masuk ke dalam kamar.

Pria itu sudah tampak rapi mengenakan kemeja lengan panjang dan celana bahan, bersiap untuk sebuah acara.

Melihat Acha yang masih meringkuk di balik selimut dengan kondisi setengah telanjang, mata Nathan sempat menggelap sejenak, menyimpan bara sisa gairah yang belum sepenuhnya padam. Namun, dia segera mengingat waktu.

"Cha..." panggil Nathan dengan suara beratnya, mendekati tepi ranjang lalu duduk di sisi tempat tidur.

Dia mengelus pelan puncak kepala Acha yang terbungkus selimut. "Maaf ganggu istirahat kamu, tapi kita harus siap-siap sekarang. Nanti malam ada resepsi pernikahan rekan kerja kantor aku yang wajib aku datengin. Undangan dadakan, tapi kita nggak bisa nolak."

Acha mengerjap-ngerjapkan matanya, melongokkan sedikit kepalanya dari balik selimut dengan raut wajah protes dan malas.

"Hah? Resepsi pernikahan? Aa, badan aku masih lemas banget... Rasanya mau copot gara-gara ulah aa tadi," protes Acha dengan suara serak, pipinya merona merah saat mengingat apa yang baru saja mereka lakukan di atas ranjang ini.

Nathan terkekeh kecil, merasa gemas melihat kekasihnya yang ngambek manja. Dia mendekatkan wajahnya, mengecup sekilas kening Acha penuh kasih.

"Iya, sayang, aku tahu. Tapi ini sebentar doang, cuma mampir sebentar buat salaman sama kasih selamat, abis itu kita langsung pulang. Temenin aku ya? Mau ya, cantik?" bujuk Nathan dengan nada lembut dan mengalun memohon, jemarinya merapikan helaian rambut Acha yang berantakan di bantal.

Acha mendengkus pelan, menarik napas panjang sebelum akhirnya menyerah pada tatapan memohon kekasihnya itu.

Dengan helaan napas berat dan rasa lemas yang masih mendera sekujur tubuhnya, Acha akhirnya bergerak menyingkap selimut, membiarkan Nathan membantunya bangkit untuk bersiap menghadiri kondangan secara mendadak tersebut.

Terik matahari siang itu perlahan bergeser ke sore ketika mobil Nathan melaju pelan memasuki area parkir sebuah gedung serbaguna yang cukup mewah.

Keduanya baru saja menghadiri undangan resepsi pernikahan salah satu rekan kerja penting Nathan di kantor.

Bagi Acha, acara formal semacam ini selalu melelahkan, tetapi keberadaan Nathan di sisinya membuat dia tetap berusaha tersenyum ramah menyalami para tamu undangan.

Namun, ketenangan itu mendadak berubah seratus delapan puluh derajat begitu mereka melangkah keluar dari gedung menuju mobil.

Sebuah insiden kecil di meja buku tamu sesaat sebelum kepulangan mereka baru saja membuka sebuah rahasia yang selama ini rapat-rapat disembunyikan Nathan dari Acha.

Di atas meja resepsi, terpampang jelas papan nama kedua mempelai "Devina & Arga".

Nama depan sang pengantin wanita seketika membuat dahi Acha mengernyit tajam. Devina, perempuan cantik bergaun ornamen emas yang sempat menyapa mereka di pelaminan tadi, perempuan yang menatap Nathan dengan senyuman teramat manis dan binar mata penuh1 kenangan.

Sepanjang perjalanan pulang, suasana di atas motor mendadak terasa pengap. Acha yang biasanya duduk santai kini melipat kedua tangannya di dada, membuang muka menatap lurus ke luar jendela dengan raut wajah yang ditekuk sedemikian rupa.

Napasnya terdengar sedikit memburu, menahan gemuruh cemburu yang tiba-tiba membakar dadanya.

Nathan, yang fokus mengendarai, melirik sekilas ke arah sang kekasih. Dia sangat paham gelagat itu, tanda bahwa Acha sedang merajuk hebat.

"Kenapa diam terus, hm? Masih cape?" tanya Nathan lembut, mencoba mencairkan suasana sambil sebelah tangannya berniat mengelus puncak kepala Acha.

Acha langsung menepis tangan Nathan dengan cepat, menolehkan kepalanya dengan mata menyalang tajam penuh protes.

"Nggak usah pegang-pegang!" sergah Acha sengit, suaranya sarat akan kekesalan yang sudah di ubun-ubun.

"Aa sengaja kan nggak pernah cerita kalau pengantin cewek tadi itu mantan aa? Yang katanya mantan customer aa yang mati-matian pernah nembak aa dulu sampai bikin heboh satu pabrik?!"

Nathan menghela napas pelan, sedikit terkejut karena Acha akhirnya tahu masa lalu itu. Dia lantas menepikan motornya di sebuah area yang aman sebelum menjawab.

"Kamu cemburu, Cha?" tanya Nathan dengan nada menggoda, mencoba meredam emosi kekasihnya.

"Aku gak cemburu?!" seru Acha, matanya mulai berkaca-kaca karena kesal sekaligus gengsi.

"Cuma aku gak suka aja tadi dia peluk aa lama banget pas di pelaminan! Terus senyumnya sama aa kayak ngisyaratin sesuatu! Kenapa baru sekarang aku tahu kalau yang nikah itu perempuan yang pernah tergila-gila sama aa, jadi ini resepsi pernikahan yang wajib dihadiahi itu?!"

Melihat Acha yang merajuk lucu namun benar-benar tersulut cemburu, tawa kecil justru lolos dari bibir Nathan. Dia gemas luar biasa.

Tanpa memedulikan protesan Acha, Nathan langsung mendekatkan tubuhnya, mengabaikan jarak, lalu mendaratkan kecupan sekilas yang penuh kasih di pipi kiri gadis itu.

"Dengerin aku, sayang," bisik Nathan lembut tepat di depan telinga Acha, meredupkan amarah gadis itu dalam sekejap.

"Dia memang pernah ada di masa lalu aku, dan dia memang pernah nyatain perasaan sama aku. Tapi, buat apa aku ungkit atau cerita orang yang nggak penting? Toh, dari dulu sampai detik ini, hati aku cuma sepenuhnya buat kamu seorang. Lagian... lihat sekarang, dia sudah bahagia sama suaminya, dan aku... sudah jauh lebih bahagia karena punya kamu."

Acha tertegun. Rona merah langsung menjalar di pipinya, mengalahkan rasa kesal yang sempat menguasainya sedari tadi.

Bibirnya mengerucut kecil, salah tingkah namun hatinya menghangat seketika mendengar kejujuran tulus dari sang kekasih.

Momen tersebut menjadi titik balik yang sangat emosional dalam hubungan mereka.

Di satu sisi, ada rasa cemburu dan sisa-sisa ketegangan akibat kejadian sebelumnya, namun di sisi lain, gelombang gairah dan kerapuhan hati membuat pertahanan mereka runtuh sepenuhnya.

Be to continued

1
falea sezi
dua dua nya 🤣 goblok
falea sezi
g suka karakter aca yg menye lemah semua di fikir🤣🤣🤣 oon apalagi karakter nathan beeehhh lemah bgt jd cowok. pake rok aja lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!