Indonesia
NovelToon NovelToon
Eternal Love

Eternal Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Vampir / Cinta Terlarang
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Laylie

"Aku tidak tahu kenapa aku melihat bayang-bayang itu. Darah, tangisan, dan senyum yang hilang. Aku tidak tahu siapa Meira, tapi aku rasakan sakitnya... 🌑

Aku Olivia. Dan aku yakin, aku sedang menuju sesuatu yang tak bisa ku hindari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laylie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

keputusasaan Arthur

"Bella? Di mana Olive?" Suara Arthur bergetar hebat. Aura dominan yang biasanya ia pancarkan kini luntur sepenuhnya, berganti dengan ketakutan nyata yang menyesakkan dada.

Di seberang telepon, suara Bella terdengar pecah oleh tangis yang tertahan. "Rumah Sakit Umum Mistwood, Tuan Arthur... Kak Olive pingsan di depan tangga. Kami sedang di depan ruang darurat, dokter masih menanganinya."

Tanpa menunggu Bella menyelesaikan kalimatnya, Arthur mematikan ponsel. Dalam sekejap, ia sudah melompat keluar dari jendela kamar yang kosong itu, kembali ke mobilnya, dan memacu mesin dengan raungan liar yang memecah kesunyian malam. Pikirannya kalut. Ia tahu Olive belum makan, ia tahu gadis itu kelelahan, tapi ia juga sadar ada beban mental yang menghancurkan jiwanya sejak semalam. Arthur memukul kemudi dengan geram; ia merasa gagal melindungi satu-satunya cahaya yang ia miliki di dunia yang gelap ini.

Sesampainya di rumah sakit, Arthur berlari menyusuri lorong berbau antiseptik tajam itu. Di ujung koridor, ia melihat Bella duduk di kursi tunggu bersama Paman Eric dan istrinya.

"Bella!" panggil Arthur dengan napas memburu.

Bella mendongak dengan mata sembap. Paman Eric segera bangkit, wajahnya menunjukkan campuran antara terkejut dan sedikit kelegaan melihat kehadiran pria yang ia tahu memiliki posisi penting dalam hidup keponakannya itu.

"Tuan Arthur? Anda sudah di sini?" sapa Paman Eric dengan suara serak.

"Paman, Bibi... bagaimana keadaan Olive?" tanya Arthur parau, napasnya masih belum teratur.

Bibi Olive menyeka air mata dengan tisu yang sudah basah. "Dokter masih di dalam, tuan Arthur. Bella bilang Olive tiba-tiba ambruk di tangga. Wajahnya pucat sekali, kulitnya sedingin es. Kami benar-benar takut terjadi sesuatu yang buruk padanya."

Arthur terdiam. Ia tidak sanggup menatap mata mereka yang penuh harap. Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa suhu tubuh yang dingin itu adalah reaksi dari tekanan batin luar biasa setelah mengetahui sejarah berdarah dari masa lalunya?

Tiba-tiba, lampu di atas pintu ruang gawat darurat padam. Seorang dokter keluar dengan wajah lelah namun tenang, membuat mereka semua serentak berdiri menghampiri.

"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Paman Eric cepat.

"Jangan khawatir, pasien hanya mengalami kelelahan ekstrem dan dehidrasi berat. Pemicu utamanya adalah stres yang berkelanjutan," jelas sang dokter. Keluarga Paman Eric menghela napas lega secara bersamaan, sementara sang dokter pun berlalu setelah memberikan instruksi singkat pada perawat.

"Boleh saya masuk?" pinta Arthur, suaranya kini terdengar rendah dan penuh permohonan yang tulus.

Namun, Bibi Olive menggeleng perlahan tapi tegas. "Jangan sekarang, Tuan. Biarkan kami, keluarganya, yang masuk terlebih dahulu. Sebaiknya Anda pulang dan beristirahat. Olive butuh ketenangan total saat ini, bukan urusan pekerjaan atau apa pun itu." Keluarga paman Eric tentu mengerti tentang kekhawatiran Arthur pada ponakannya, mereka juga mengerti arti tatapan kesedihan yang jelas terpancar di mata pria misterius di depannya ini. Sedangkan Bella yang memang mengetahui tentang hubungan kakaknya dengan sang atasan hanya terdiam, dia mengerti pasti ada sesuatu yang sedang terjadi di antara mereka.

Sedangkan Arthur berdiri kaku di sana, lidahnya kelu untuk membantah. Ia hanya bisa menatap pintu kaca yang tertutup rapat, menyadari ironi pahit bahwa di balik pintu itu, wanita yang ia cintai sedang berjuang pulih dari luka yang justru ia bawa sendiri dari masa lalu.

Arthur tetap bergeming di kursinya, mengabaikan saran Bibi Sonya untuk pulang. Ia duduk mematung di lorong rumah sakit yang sepi, matanya terpaku pada pintu kamar tempat Olive dirawat, seolah tatapannya sanggup menembus dinding tebal itu. Paman Eric, yang baru saja kembali membawa kopi di tengah malam yang dingin, tertegun melihat pria berkuasa itu masih di sana. Kemejanya yang mahal kini kusut, dan gurat kecemasan di wajahnya tampak begitu nyata di bawah pendar lampu neon yang pucat.

"Kenapa dia masih belum pulang?" bisik Paman Eric saat menghampiri anak dan istrinya.

Ketiganya serempak menoleh ke arah Arthur. Pria itu tampak tidak memedulikan sekitarnya, jiwanya seolah tertinggal di dalam kamar bersama Olive.

"Sebenarnya ada apa antara Olive dan Tuan Arthur? Kenapa pria itu begitu gigih menunggu di sini?" Bibi Sonya balik bertanya, suaranya penuh selidik.

Bella menghela napas lelah, matanya yang sembap menatap sosok Arthur dengan bimbang. "Aku tidak tahu pasti sedalam apa hubungan mereka, tapi aku beberapa kali melihat Tuan Arthur mengantar dan menjemput Kak Olive." Ia berhenti sejenak, lalu merendahkan suaranya. "Bahkan tadi pagi, saat subuh masih buta, aku melihat mobil mewahnya terparkir di seberang rumah kita. Dia ada di sana sepanjang malam."

"Apa hubungan mereka sudah sejauh itu? Dan apakah kondisi Olive sekarang ada hubungannya dengan pria itu?" tanya Bibi Sonya lagi, namun kali ini pertanyaannya hanya menggantung di udara tanpa jawaban.

Mereka bertiga terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing sembari memperhatikan punggung kaku Arthur. Hingga akhirnya, rasa iba mulai meluluhkan hati Paman Eric. Ia berniat melangkah maju untuk menyapa atau sekadar menawarkan kopi hangat. Namun, baru saja ia hendak membuka mulut, sebuah gelombang kantuk yang tidak wajar tiba-tiba menyerang mereka bertiga.

Pandangan Paman Eric mengabur, sementara Bella dan Bibi Sonya mulai terkantuk kantuk dengan kepala yang terasa berat. Arthur berdiri perlahan. Dengan satu gerakan tangan yang halus dan tatapan mata yang berkilat tajam, ia mengirimkan gelombang sugesti penenang kepada keluarga Bella. Satu per satu, mereka jatuh tertidur lelap di kursi di dalam kamar rawat Olive tanpa menyadari apa yang terjadi.

Pintu kamar terbuka tanpa suara saat Arthur melangkah masuk. Di dalam, ruangan itu hanya diterangi cahaya rembulan yang menembus jendela. Olive tampak kecil dan rapuh di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus di tangannya.

Tepat saat Arthur mendekat, kelopak mata Olive bergerak. Ia siuman dengan napas yang memburu. Hal pertama yang ia lihat adalah siluet pria yang paling ingin ia hindari sekaligus paling ia rindukan.

"Arthur..." bisik Olive parau. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya, namun rasa sakit di hatinya kembali berdenyut saat bayangan lukisan Meira melintas di benaknya. "Kenapa kau di sini? Pergi..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!