Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecupan candu
BRAK...!
Pintu terbuka paksa. Seorang gadis berpakaian modis melangkah masuk dengan wajah penuh amarah yang meluap-luap.
Vivian yang terkejut langsung melompat dari pangkuan Raynor, nyaris jatuh. Untungnya pria itu sigap menangkapnya, merangkul pinggangnya.
Wajah Vivian semakin pucat pasi. Ia menatap lengan kokoh yang melingkar di perutnya, lalu perlahan melirik ke arah Stela yang kini berdiri gemetar menahan murka.
"Bajingan... dasar jalang kampungan...!"
Tanpa peringatan, tangan Stela menarik kasar lengan Vivian, lalu membantingnya ke lantai, bahkan sebelum Raynor sempat mencegatnya.
Raynor menatapnya dengan tatapan nyalang, rahangnya mengeras kuat. Ia melirik tajam ke arah beberapa karyawan yang diam-diam mengintip dari celah pintu, memberi isyarat tegas agar kembali menutup pintu itu.
"Apa yang kamu lakukan, Stela...?" bentaknya menggelegar di ruangan. Tangannya menarik kasar lengan kekasihnya, persis seperti cara Stela menarik Vivian tadi.
Stela tak terima. Ia memukul dada bidang pria itu berkali-kali, disertai jeritan yang memecah keheningan.
"Harusnya aku yang bertanya! Kamu ngapain berduaan sama jalang kampungan itu, hah...!" Jari telunjuknya menuding tepat di wajah Raynor, matanya memancarkan kemarahan sekaligus kepedihan.
"Stela, jaga sikapmu. Vivian adikku," ucap Raynor datar, dingin namun tegas.
"Adik kamu bilang? Mana ada adik-kakak yang sedekat itu, Raynor... nggak ada..." suaranya meraung tajam. Air mata mengalir deras tanpa henti di pipinya, dadanya naik turun bergemuruh menahan emosi yang tak lagi bisa ia kendalikan.
Di lantai, Vivian hanya bisa menunduk dalam. Menahan rasa malu yang membakar kulit, sekaligus rasa bersalah yang menyergap hatinya.
Ia pasrah. Jika memang ke depannya pria itu harus menjauhinya demi menenangkan segalanya, ia siap menerima apa pun.
Tapi ucapan Raynor selanjutnya benar-benar membuat Vivian terkejut.
"Kenapa? Kamu nggak suka?" Ia melangkah pelan, tatapannya nyalang menembus manik mata Stela di depan.
"Iya, aku nggak suka! Aku cemburu! Entah siapapun itu, entah apapun statusnya, aku tetap cemburu jika dia terlalu dekat padamu, Raynor. Kumohon... jauhin dia, ya? Demi aku, sayang..." Suaranya melemah, tatapannya melembut.
Ia kira pria itu sudah luluh, lalu mendekat perlahan. Tapi ucapan Raynor selanjutnya benar-benar menamparnya.
"Kalau kamu nggak suka, kamu boleh pergi." Ucapnya dingin, wajahnya menatap ke samping.
Stela membulatkan matanya tak percaya. Ia hendak meraih tangan Raynor, tapi dengan cepat pria itu menepisnya, lalu berjalan meninggalkan Stela menuju Vivian yang masih terduduk di bawah.
"Raynor... maksud kamu apa?" Tanyanya menuntut, emosinya semakin meluap-luap saat melihat pria itu memeluk Vivian dengan sangat lembut.
Ia tersenyum kecil, miris sekali melihat pemandangan itu. Dirinya bahkan tak pernah diperlakukan selembut itu.
"Kamu boleh pergi, Stela. Dan jangan kembali lagi." Ucapnya datar. Ia menuntun Vivian berdiri, berjalan menuju sofa, tak mempedulikan Stela yang sakit hati di sana.
"Raynor... kenapa jadi begini? Aku kekasihmu!" Gadis itu bersimpuh sambil menangis pilu. Vivian memilih diam, tak bersuara, tak menatapnya.
"Dan sekarang tidak lagi..." Suaranya meninggi.
"Maksud kamu apa, sayang..."
"Masih nggak ngerti juga? Kita putus, Stela."
"Apa? Putus? Nggak mau! Aku nggak mau! Oke, aku ngaku salah, aku yang terlalu berlebihan ke kamu. Tapi aku mohon jangan gini... aku nggak mau putus sama kamu, Raynor..."
"Silakan pergi. Pintu keluar ada di sebelah sana." Tangannya menunjuk pintu tanpa melihatnya.
"Raynor..."
"Semakin lama kamu tinggal, akan semakin sakit." Ucapan Raynor penuh arti, suaranya rendah.
Lalu tanpa aba-aba, tangannya memeluk Vivian dari samping, begitu erat, sangat intim. Tangannya melingkar di perut gadis itu, lalu membawa tubuh kecilnya ke pangkuannya.
Mata Vivian terbelalak, tapi ia hanya diam dan pasrah.
Sementara Stela semakin dikuasai amarah. Ia pergi menghentakkan kakinya, disertai lelehan air mata yang semakin deras.
BRAK...!
Suara pintu ditutup kasar, bagai melodi penutup masalah.
Raynor bernapas lega, lantas menatap Vivian yang juga menatapnya dengan mata polosnya.
"Kak Raynor... Stela udah pergi." Ucapnya lugu, sambil mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.
"Lalu...?" Pria itu tersenyum menggoda.
"Turunin aku..."
Pria itu tak menjawab, malah semakin erat mendekap Vivian. Gadis itu menyandarkan kepala di dada bidang pria itu, merasakan debaran hebat yang kian menyatu.
Vivian meraba denyutan yang terdengar bergemuruh di sana. Getaran samar tercipta, ia kembali membenamkan wajahnya, merasakan sensasi hangat yang kian menerpa, lalu menghirup dalam-dalam aroma parfum Raynor yang sangat ia kenali, begitu nyaman, sampai enggan dilepaskan.
"Kak Raynor..." cicit Vivian di sela-sela dekapan.
"Hmm..."
"Aku pengen..."
Ting...
Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, notifikasi di ponsel seketika mengalihkan fokusnya. Vivian menatap layar ponselnya yang berkedip-kedip. Namun Raynor justru mengalihkan dagunya agar kembali menatapnya balik.
"Apaan sih, Kak? Aku mau ambil ponselku..."
"Nanti aja." Kedua telapak tangan besar itu membingkai pipi Vivian, sampai bibir gadis itu terlihat monyong ke depan.
Raynor tersenyum tipis, terlihat begitu lucu dan menggemaskan.
Cup...
Satu kecupan singkat mendarat di bibir yang menggoda. Vivian makin cemberut, bibirnya semakin maju ke depan, membuat pria itu semakin tak tahan.
Cup...
Cup...
Cup...
Tiga kecupan sekaligus mendarat sempurna.
"Kakak ih... mmmpppp...."
Belum sempat protes, ia kembali dibungkam. Kali ini bukan sekadar kecupan singkat, melainkan lumatan lembut namun menuntut.
Vivian terdiam, menerima sapuan hangat di bibirnya. Pelan-pelan ia membalas, gerakannya lembut namun teratur, membuat pria itu semakin kelabakan.
Napasnya memburu, tubuhnya semakin menegang. Usapan lembut di punggungnya terasa semakin membakar. Gejolak asing kian membara, Raynor hampir kehilangan akal sehatnya.
Ia melepaskan penyatuan itu setelah hampir satu menit berlalu. Benang saliva terputus di udara.
Raynor menatap wajah Vivian yang masih terengah. Pipi gadis itu memerah, dengan jejak-jejak yang membasahi ujung bibirnya.
Pria itu mengusapnya lembut menggunakan ibu jarinya, tanpa rasa jijik sedikit pun. Wajahnya kembali mendekat, hendak mengecup lagi, namun buru-buru tangan Vivian menolaknya, mendorongnya pelan.
"Kak Raynor, ih... udah ah."
Wajahnya sedikit cemberut, ia melompat turun dari pangkuan pria itu, memposisikan diri duduk agak berjarak. Lantas meraih ponselnya yang masih berkedip-kedip di atas meja.
Raynor tersenyum tipis, dengan sengaja kembali mendekat ke arah gadis itu. Kepalanya ikut mengintip layar ponsel yang menyala. Dan seketika senyum itu sirna.