Karena memiliki masalah keluarga yang cukup rumit, membuat Ranaya melampiaskan hidupnya di lantai disko. Motonya: Boleh nakal, asal tahu batas. Sayangnya, malam itu, batasnya benar-benar terlewati. Sebuah kecelakaan brutal membuat tubuhnya koma, sementara rohnya malah asyik gentayangan!
Sialnya, jadi arwah itu enggak segampang di film-film. Niat hati melompat elegan masuk kembali ke tubuhnya, Ranaya malah nyungsep di kolong ranjang. Masalah bertambah pelik ketika ia tau apa penyebab kecelakaan yang menimpanya. Ternyata ada udang di balik bakwan.
Berbekal status hantu amatiran dan bantuan seorang cowok indigo yang super cuek bebek, Ranaya harus menyelamatkan nyawanya sendiri. Kalau gagal? Ya wassalam, siap-siap saja jadi Kuntilanak Gen-Z selamanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha Annisa Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ego
Jantung Ranaya berdegup kencang ketika melihat sesosok Suster Ngesot dan Pocong dengan wajah yang gosong berdiri tak jauh dari ranjangnya. Kedua makhluk astral itu menatapnya, sembari terus mendekat.
"Princess," panggil si Suster Ngesot. Ia tersenyum, namun senyumannya justru membuat bulu kuduk Ranaya meremang dan jantungnya semakin berdegup kencang.
"Pergi!" teriak Ranaya. Namun dua sosok itu terus mendekat.
"Kita kangen sama Princess," ucap si Suster Ngesot.
"Iya, Princess kok enggak pamit sama kita," sahut si Pocong Gosong.
Keduanya semakin dekat. "Pergi kalian setan jelek!!!" teriak Ranaya sekuat tenaga.
Mata Ranaya terbuka lebar. Napasnya menggebu-gebu, jantungnya masih berdebar kencang. Ia menatap sekitar, kosong. Tidak ada lagi dua setan yang tadi ia lihat.
"Sayang, kamu kenapa?" Cassandra mendekat, ia mencoba menenangkan Ranaya yang terlihat seperti sudah mengalami mimpi buruk. Cassandra membantu Ranaya untuk bangun dan bersandar lalu menyodorkan segelas air putih pada gadis itu. "Minum dulu, Nak."
Ranaya meraih gelas yang mamanya berikan, sembari terus memperhatikan sekitar. Ternyata apa yang ia lihat tadi hanyalah mimpi. Padahal masih siang bolong seperti ini.
"Kamu mimpi buruk, ya?" tanya Cassandra, ia mengusap pundak Ranaya pelan, berusaha untuk menenangkan.
Ranaya tak menjawab. Karena sekarang perhatiannya teralihkan oleh kedatangan sang ayah. Terakhir pria itu menangis sembari menggenggam erat tangan Ranaya, meminta maaf dengan tatapan penuh harap. Tapi belum sempat Ranaya mengatakan apa pun selain menyatakan kebenciannya, Tuan Brama keluar setelah mendapatkan telepon dari seseorang.
"Loh kamu udah bangun, Sayang." Brama meletakkan bingkisan buah yang ia bawa di atas meja. Dengan wajah yang tersenyum tulus dan matanya yang terlihat sangat lelah, ia kembali mendekati Ranaya.
"Maaf, tadi ayah harus pergi karena ada urusan penting," ucap Brama menjelaskan. Namun Ranaya membuang muka, seolah tak peduli pada penjelasan pria itu.
"Kenapa minta maaf, bukannya selama ini selalu gitu, ya?" sindir Ranaya. Matanya menatap ke arah luar jendela rumah sakit dengan hati yang juga terasa sakit saat melontarkan kalimat itu.
"Maaf, Sayang. Ayah benar-benar minta maaf."
Brama tertunduk. Ia tahu, mungkin tidak mudah bagi Ranaya untuk memaafkannya setelah semua yang terjadi selama ini, tapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri dan Cassandra, istrinya. Apa pun dan bagaimanapun sikap Ranaya, ia akan terima. Sampai anak perempuannya itu benar-benar memaafkannya.
Kalau boleh jujur. Sebenarnya hati Ranaya sudah goyah sejak awal mendengar permintaan maaf terlontar dari bibir ayahnya. Namun ego masih menguasai dirinya. Ia masih mau melihat, sejauh mana ketulusan dan keteguhan sang ayah untuk memperbaiki semua kesalahannya selama ini.
****
Beberapa jam yang lalu. Di Rumah Utama Keluarga Atmaja.
Teriakan Tania menggema ke setiap sudut rumah. Membuat beberapa asisten rumah tangga berlarian menghampirinya.
"Saudari Tania, kami mohon kerja samanya," ucap salah seorang polisi. Ia masih berusaha untuk menenangkan Tania yang tiba-tiba histeris saat diminta untuk ikut ke kantor polisi.
"Enggak! Saya enggak mau ikut!" teriak Tania. Kali ini teriakannya berhasil membuat sang nenek keluar kamar.
"Kenapa teriak-teriak, Tania. Kamu bikin nenek—" ucapan Nyonya Rosalina terhenti saat melihat dua orang polisi berdiri di depan pintu masuk utama.
"Loh, ada apa ini, Pak?" Langkah pelannya mendekat ke arah Tania yang terlihat ketakutan. Ia mengusap punggung cucu kesayangannya yang kini memeluknya erat.
Salah seorang polisi mengeluarkan surat perintah penangkapan Tania terkait keterlibatan Tania pada kecelakaan yang menimpa Ranaya dan Agatha. "Berdasarkan surat perintah ini, kami harus membawa Saudari Tania ke kantor polisi untuk proses pemeriksaan lebih lanjut. Kami sudah mengantongi bukti dan keterangan saksi yang cukup terkait keterlibatan cucu Anda."
"Nek, mereka pasti bohong. Aku enggak mau ikut, Nek!" Tania mengeratkan pelukannya pada sang nenek.
"Saudari Tania, tolong bersikap kooperatif. Jika Anda terus melawan, kami terpaksa harus melakukan upaya paksa."
Nyonya Rosalina mengusap pelan bahu Tania. "Sayang, kalau emang kamu enggak salah, kamu enggak perlu takut, Nak. Nenek akan menghubungi papa dan mamamu, tenang saja, mereka pasti akan mengurus semuanya," ucap Nyonya Rosalina berusaha untuk terlihat tetap tenang.
Ia melepaskan tubuh Tania dari pelukannya. Namun Tania menggeleng, ia tetap tidak mau ikut dan terpaksa kedua polisi itu sedikit menyeret tubuhnya. "Nenek! Aku enggak mau, Nek! Aku enggak salah!" teriak Tania histeris.
Nyonya Rosalina tentu sangat syok dengan apa yang baru saja terjadi, ia segera menghubungi anaknya, Brama dan mantan menantunya, Angelina. Mengabarkan apa yang baru saja terjadi pada Tania.
Hal itulah yang membuat Brama harus meninggalkan rumah sakit pagi tadi.
lnjut kk, aku makin penasaran, ditunggu bab selanjutnya nnti malem
🏃♀️