Indonesia
NovelToon NovelToon
Obsesi

Obsesi

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Komedi / Mata Batin / Tamat
Popularitas:35.9k
Nilai: 5
Nama Author: Roikhatul Jannah

Namaku Kinara Malik Khan.

Terlahir berbeda dari kebanyakan orang membuat hidupku tertekan. Mereka kerap memandangku aneh bila kemampuanku melihat mahluk astral berkerja. Ya, aku seorang gadis indigo. Karena alasan itulah aku menyembunyikan kemampuanku. Aku tahu, tak semua orang akan memandangku biasa saja saat tahu kemampuanku. Karena itulah hanya keluargaku dan Aldan--temanku sejak kecil--yang tahu.

Kalian pikir hidup bertahun-tahun dengan bayangan mahluk astral tak membuatku takut? Kalian salah. Aku takut. Aku selalu berharap kemampuan sialan ini hilang. Tapi aku bisa apa? Aku tak bisa menyingkirkannya.

Suatu ketika ketakutan itu muncul ke permukaan. Ketakutan yang sangat besar selama hidupku. Berawal dari munculnya anak baru dikelasku yang mulai bisa membaur dengan sekitar dan selalu menampilkan senyum manis. Tak ada yang tahu, bahaya apa yang ada di baliknya. Tapi, aku tahu kalau dia awal ketakutan warga sekolah.

Dia.....monster yang haus darah.

Cover by Pinterest

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roikhatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misteri Teror Jin

Satu minggu sudah sejak kemunculan Intan di kelasku. Maksudku, sejak Intan masuk ke kelasku. Apa yang dikatakan hantu cowok berkepala bolong waktu itu, masih terus kupikirkan hingga saat ini. Enggak! Bukan dipikirkan. Tapi, aku mulai memperhatikan Intan si anak baru. Kalau-kalau kata hantu itu benar, kan aku bisa antisipasi.

Hari ini tepat hari jum'at. Hari kesukaanku. Karena apa? Karena hari ini sekolah pulang lebih awal. Yeyyy!!!

"Intan! Tugas kelompok kita mau dikerjain kapan?"

Suara yang hampir seumur hidup kudengar itu mengalun merdu di telinga, bagai diiringi alunan musik biola. Itu suara Al.

Aku memperhatikan Al yang berbincang akrab dengan si anak baru. Entahlah, apa yang mereka bicarakan? Tapi, tawa renyah Al benar-benar mengusikku. Seakan seperti pusaran air yang menyeret pandanganku untuk sampai padanya.

"Indigo suka sama sahabat sendiri...hihihi..."

"Bisa diam gak sih?"

"Sayangnya gak bisa. Kan sudah tugas bangsa kami untuk menggoda bangsa manusia...hihihi..."

Aku menyembunyikan wajah dalam lipatan tangan. Malas meladeni makhluk di sampingku. Tak ada yang lebih baik kah, dari si kunti kaparat ini? Kenapa selalu dia yang sering muncul di depan mataku?

Kenapa bukan hantu tampan berkepala bolong itu?

Eh? Omong-omong soal hantu berkepala bolong, kenapa dia tak pernah muncul lagi, ya? Aku kan belum faham maksud perkataannya waktu itu.

👻👻👻👻👻

"Kin, ke kantin yuk!" Al menepuk pundakku pelan.

"Eh, a--" Intan muncul dari samping, Al. Entah mengapa aku merasa tak suka dengan kedekatan mereka, "a--aku ada urusan!"

"Lho? Kamu gak lapar?"

"Urusanku lebih penting dari pada lapar yang masih bisa ditunda!"

Aku membereskan semua alat tulisku dan segera keluar meninggalkan Al dan Intan. Aku sebenarnya tak memiliki urusan. Hanya saja, aku pengen marah. Tapi, entah marah karena apa?

Aduh, aku ini kenapa sih??

Sambil memukul pelan keningku, aku tak tahu kalau sedari tadi aku berjalan ke arah perpustakaan. Ah, setidaknya ini lebih baik dari pada aku ke lapangan atau gudang sekolah, kan?

Sambil berjalan menyusuri rak buku, mataku dengan cermat memindai semua judul buku. Mencari judul buku yang ingin aku baca, setidaknya untuk saat ini.

Setelah menemukan buku yang akan kubaca, aku mendudukkan diri di bangku paling pojok perpustakaan. Bangku yang terlihat sepi pengunjung. Tak heran sih, bangku pojok tak banyak mendapat sinar matahari dari luar karena terhalang rak buku. Lagi pula, tempat paling pojok itu jauh dari meja penjaga perpus sekaligus jauh dari pintu masuk. Makanya, tak heran kalau bangku pojok tak banyak diminati pengunjung perpus.

"Tak lama lagi, Indigo..."

Eh? Sebentar-sebentar!

Sepertinya, aku kenal dengan suara ini. Suara yang pernah sekali aku dengar. Suara hantu tampan berkepala bolong. Hantu yang memberitahu kalau akan terjadi teror jin di sekolah.

Tunggu!

Apa aku baru saja mengingat hantu berkepala bolong itu?

Aku mengalihkan pandangan ke samping. Tepat ke arah seseorang yang memang sangat ingin kutemui.

"Baru kali ini lho aku merasa merindukan hantu," aku menatap sosok di sampingku lekat, "eh? Omong-omong....maksudnya teror jin yang kamu bilang waktu itu apa? Aku nggak ngerti, deh."

Si cowok berkepala bolong menatap lurus ke depan, "Hentikan teror itu, Indigo....setidaknya....jangan biarkan banyak korban berjatuhan...."

Aku mengerutkan kening, berusaha mencerna maksud perkataan sosok di hadapanku ini, "Bentar...bentar. Aku beneran gak ngerti sama teror yang kamu maksud itu!"

"Kamu harus berusaha, Indigo...kami berharap kamu mampu menghentikan teror itu...."

"Mana bisa begitu? Memang apa hubungannya denganku? Itu kan masalah kalian! Lagian aku juga gak ngerti sama teror-teror atau apalah itu, yang kamu maksud," kataku ketus. Entahlah, bicara dengan makhluk beginian memang selalu bikin tensi naik.

"Tentu saja ada!" sosok di hadapanku tiba-tiba berbalik memandangku dan membuatku tercekat. Mendadak, suasana perpus yang memang selalu sepi--karena setiap pengunjung dilarang berisik dan juga lokasi dudukku yang berada di tempat terpencil--mendadak menjadi hening dan mencekam. Bahkan tak terdengar suara apapun dari luar. Tak ada angin dari luar yang masuk ke dalam, pun ruangan ini tak memiliki fasilitas penyejuk udara, tapi udara mendadak menjadi dingin dan sedikit lembab bila bersentuhan dengan kulit telanjang. Dalam sekejap, tubuhku meremang dan bulu kudukku berdiri semua, "kalau kamu membiarkan itu terjadi...aku sendiri yang akan... membunuhmu!"

Terjadi keheningan antara kami beberapa saat, sebelum angin berhembus kencang meniup gorden dan menutup buku yang terbuka di atas meja. Bahkan saking kencangnya, beberapa rak buku yang berhadapan langsung dengan jendela memuntahkan muatannya.

Beberapa pengunjung berteriak disertai gumaman-gumaman yang masih terdengar jelas di telinga, membuatku mengalihkan pandangan ke semua penjuru yang bisa dicapai pandangan mataku. Saat, aku mengembalikan fokusku ke satu titik, sosok hantu berkepala bolong itu telah lenyap.

Beberapa kepala menyembul dari rak-rak buku, sebagian lagi keluar dari dinding dan plafon ruangan dengan wajah khas bangsa mereka, pucat dan sebagian besar berdarah-darah. Sejenak, aku hampir lupa, sedari tadi saat aku berinteraksi dengan si sosok berkepala bolong, tak ada satupun sosok lain yang menampakkan diri.

"Hihihi.....gak sabar deh nunggu Indigo jadi salah satu dari kita....hihihi...."

Perempuan bermata ciplong yang sering menampakkan diri, terbang mengitari tempatku duduk. Kali ini, bola matanya yang tinggal satu tak keluar.

"Apa maksudmu!" aku menggeram kesal.

"Tentu saja perkataan si cowok tampan itu....hihihi...." si kunti duduk di atas meja tepat di depanku. Wajahnya sejajar dengan wajahku dengan jarak satu jengkal. Dengan jarak sedekat ini, aku bisa melihat di dalam lubang matanya yang bolong ada banyak hewan kecil berwarna putih kekuningan menggeliat, "kalau kamu membiarkan itu terjadi...aku sendiri yang akan... membunuhmu! Hihihi...." katanya lagi menirukan intonasi si sosok berkepala bolong.

Sial! Sosok ini meledekku.

"Kamu nguping?!" kudekatkan wajahku dengan wajah si kunti. Saking dekatnya, wajahku bahkan bisa menembus ke dalam isi kepalanya yang tak memiliki setetes darah pun. Heran deh, di luar mukanya darah terus merembes. Tapi, dalam tubuhnya tak ada stok darah barang sedikitpun. Apa jangan-jangan, dia nyuri kantong darah dari PMI terus disimpan di dalam tubuhnya???

"Indigo mesum ih, intip-intip...hihihi..." si kunti sedikit menjauhkan wajahnya dari hadapanku.

Aku memutar bola mata jengah dengan perkataan makhluk satu ini. Dikira aku perempuan apaan doyan ngintipin hantu? Eh! Eh! Jangan salah paham dulu! Ya kali, yang bukan hantu aku intipin!! Bukan gayaku banget itu.

"Kamu nguping, kan? Ngaku!"

"Hihihi.....Indigo pernah dengar kalimat kalau tembok juga punya telinga, gak?"

"KAMU KAN BUKAN TEMBOK??!!!" teriakku kelewat histeris. Serius ya, hilang sudah kesabaranku meladeni makhluk satu ini, "kubunuh sekali lagi, mau?" desisku.

"Kabur, ah...mentang-mentang habis diancam mau dibunuh, Indigo mau bunuh aku....hihihi..." kata si kunti, berlalu terbang ke atas dan hilang menembus plafon.

Huft.

PRAAK!!

"Eh, kuntilanak!"

"Kamu ngatain saya kuntilanak, Kinar?!"

Mampus!

Suara siapa tuh?

Aku memejamkan mata rapat dan berbalik, menghadap sumber suara. Perlahan, kubuka satu mata dan mengintip sosok yang baru saja membenturkan gagang kemoceng dengan permukaan meja. Aku berkedip sekali dan memasang cengiran tak berdosa.

"Kamu ngapain masih di sini?! Bel masuk sudah berbunyi sejak sepuluh menit lalu! Atau, kamu mau bantuin saya beresin buku-buku yang berserakan ini?!" kata ibu penjaga perpus sambil menunjuk lantai dengan gagang kemoceng.

Aku menatap obyek yang ditunjuk ibu penjaga perpus dan wajahnya bergantian, "Ya enggak lah, Bu. Saya sekolah mah bayar bukan dibayar."

"Kinar!!"

Aku berlari meninggalkan ibu penjaga perpus sampil tertawa. Sesekali aku berlari sambil menengok ke belakang, waspada kalau-kalau mendadak kemoceng bisa terbang dan membentur kepala.

Dugh!

Aku mengusap kening yang baru saja membentur dagu Al. Sama halnya denganku, Al juga mengusap dagunya, mungkin giginya terbentur. Salahkan Al yang menghalangi jalan. Lagian ini juga sudah bel masuk masih aja berkeliaran.

"Kamu ngapain lari-larian di sini sih, Kin?! Sekedar mengingatkan, ini koridor bukan lapangan!"

"Yeee.....lha situ ngapain halangin jalan?"

"Terserahku, dong!"

"Ya, sama. Aku lari-larian juga terserahku, dong!" kataku sewot. Ini, Al kenapa jadi ngeselin sih sekarang? Atau....aku masih kesel gara-gara mau istirahat tadi, ya?

Di tengah gerutuanku, aku merasakan tanganku ditarik seseorang. Aku menatap Al bingung.

"Udah masuk."

Entah sejak kapan, tarikan di tanganku berubah menjadi genggaman. Melihat tanganku yang berpegangan erat dengan tangan Al membuat sesuatu dalam diriku berdesir. Suara biola yang pernah aku dengar kini kembali terdengar. Rasanya seperti yang dirasakan Mayor Raam Sharma ketika berpapasan  dengan dosen yang ia taksir dalam film Main Hoon Na.

Ah, sial!!!

Wajahku memanas.

👻👻👻👻👻

1
Ayu Wulandari
apa hubungan Ilham sama Bagas ya 🤔
mocha217: siap😂
total 3 replies
tintakering
kunti nyebelin😊
tintakering
biarin aja kin. mungkin dia mo belajar😁
mocha217: hahaha...
total 1 replies
tintakering
teror jin... serem amat. dah aku vote thor.
mocha217: makasih....
total 1 replies
tintakering
kalo ada waktu mampir juga di ceritaku thor. siapa tau suka 👍
tintakering: makasih ya...
total 2 replies
tintakering
bocilnya anteng😊
mocha217: 😂iya, eh
total 1 replies
tintakering
cerita yang menarik thor
mocha217: Terima kasih...
total 1 replies
HARTINA SYAM
baca juga karyaku " Stempel Tanda Cinta" makasi😁😁😁
HARTINA SYAM
singgah di karya pertamaku ya " pernikahan dua cincin'
HARTINA SYAM
author,lanjutannya lagi donk,lagi seru serunya nihhh...
sksnsjdndn
kapan lanjut Thor ?
mocha217: wkwk... nanti cicil ngetik lagi ya
total 1 replies
Charalin
halllo kakak,mampir yuk ke novel saya
mocha217: siap kakak
total 1 replies
Oh Dewi
mampir ah, mana tau seru.
Demi apa, sesusah itu nyari novel yang seru. Btw, mau sekalian rekomendasiin novel yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, wajib search pakek tanda kurung.
Bagus banget novelnya, tapi ya gitu minim pembaca😈
HARTINA SYAM
ya ampun, kirain Al pelakunya, jadi gak enak hati, maafkan kita ya Al... hihihi... ketawa kuntilanak
mocha217: wkwk 😂
total 1 replies
Ayu Wulandari
hah si Bagas duh Gusti kaga nyangka kirain di Al, maap Al 😁✌️
mocha217: wkwkwk😂
total 1 replies
Ayu Wulandari
tuh kan aku curiga sana si Al, setiap Kinara d deketin cowo tu cowo mati, aduh jgn mati ya Bagas
Ayu Wulandari
yg d bunuh cowo semua sbl meninggal mereka ngobrol sama Kinara, apa si Alfan ya yg bunuh kak aduh clue dong kak 😁
mocha217: 😂😂😂tebak aja kak
total 3 replies
💎hart👑
👣👣👣
Ilham Risa: Hai kak, mampir juga yuk kak ke novel aku "bangkitnya pria terhina" makasih kak😃
total 2 replies
Ayu Wulandari
lanjut Kaka
mocha217: Terima kasih sudah mampir, Kak☺🙏
total 1 replies
Cheonma
itu daripada ribet mending pake "ekstrakulikuler" biar enak.

btw.. up thorrr...
mocha217: makasih kak sarannya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!