Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan
Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.
Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Analepsis ^ 04
Perut yang sendari tadi minta diisi kini telah tersampaikan dengan sang pemilik raga, terus menyumpal mulutnya untuk menghilangkan rasa lapar yang melanda. Tanpa peduli orang-orang di sekitarnya. Karena mereka pun juga akan mengabaikannya.
"Perusahaan itu hanya punya satu artis. Tapi kenapa ini sangat melelahkan sekali? Jika dia tidak bersalah, kenapa banyak sekali yang mengirimnya komentar buruk padanya? Bukankah itu sudah keterlaluan?" Gerutu Vallen kembali mengisi mulutnya, dengan kepala yang mangut-mangut. Karena merasa energinya telah hidup, setelah berusaha memperbaiki citra nama baik sang artis. Jika pun tidak sepenuhnya, tapi Vallen bangga pada dirinya sendiri, dihari pertama bekerja.
"Turunkan nada bicara mu. Banyak pasang telinga disini." Pinta Yumna, sesekali melihat sekitar. Untuk memastikan jika tidak ada satupun orang yang fokus hanya pada dirinya maupun Vallen.
"Benar tidaknya, belum ada yang tahu. Artis itu juga masih diam tidak membuka suaranya. Jika dia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, mungkin masalahnya akan cepat selesai. Dan penggemarnya juga tidak akan salah paham." Tambah Yumna, kini melipat kedua tangannya diatas meja. Karena Yumna telah menyelesaikan makan siangnya.
Diam, mengerutkan keningnya Vallen terlihat tengah memikirkan suatu hal yang masih abu-abu. "Mungkin, ada beberapa alasan yang membuatnya menutup rapat mulutnya."
"Dan kita hanya bisa menunggu." Sambung Yumna, dengan kepala mengangguk kecil.
"Tapi, jika kita terus menunggu, masalah kecil itu akan semakin menjadi-jadi. Karena opini orang itu sangat mengerikan. Apalagi para pembenci akan memanfaatkan hal seperti ini sebaik mungkin." Seketika Vallen menatap Yumna, sedikit mencondongkan tubuhnya. "Bagaimana jika itu benar?"
"Foto yang tersebar tidak begitu jelas. Jika kita juga tidak bisa menghakiminya. Dan jika pun dia salah, mau tidak mau kita harus membelanya bukan. Karena mau bagaimanapun itu pekerjaan kita. Orang baik pun akan menyuarakan kepalsuan demi sesuap nasi. Inilah yang namanya bisnis." Gundah Yumna, sembari menyandarkan punggungnya. Membuang napas dengan pandangan melihat meliar.
"Tapi tidak selamanya juga kita bisa membohongi publik. Karena mereka jauh lebih pintar dari kita. Mereka menyuarakan kebenaran, sedangkan pihak kita hanya bisa sembunyi dibalik kebohongan." Tanggap Vallen yang memiliki jalan pemikiran sedikit berbeda. Tapi bukan berarti Vallen tidak berada di pihak perusahaannya. Hanya saja Vallen belum terbiasa untuk hal seperti itu.
"Kau tahu Vallen, di jaman sekarang orang yang tidak punya apa-apa itu akan sulit meraih kemenangan. Apalagi, jika dia tidak memiliki pelindung dikehidupannya." Diam sejenak, Yumna menelan ludah getirnya. Kepala Yumna mengangguk sadar, kenapa ibunya mendesaknya untuk menerima tawaran dari Tirtha.
"Kita bisa menjadikan diri kita sebagai contoh. Kita tidak akan bisa mendapat pekerjaan tanpa bantuan orang dalam." Tambah Yumna, yang mendapat anggukkan kecil dari Vallen.
"Perusahaan besar sangat minim membuka lowongan pekerjaan. Jika pun ada, itu mungkin hanya formalitas. Karena mereka akan lebih mendahulukan orang yang mereka kenal." Timpal Yumna yang sangat nyata di kehidupannya saat ini.
"Jika kita mampu menelusuri silsilah perusahaan, semua karyawan yang ada di sana pasti sudah saling kenal sebelum bergabung di perusahaan." Kepala Yumna mengangguk, sekilas menyisir surai panjangnya ke belakang. "Lebih dari rekan kerja biasa."
"Jadi intinya, kita hanya bisa mengikuti keputusan mereka yang jauh lebih berkuasa dari kita."
Vallen yang mendengar hanya bisa menutup rapat mulutnya. Karena perkataan Yumna memang ada benarnya. Dan Vallen pun juga tidak bisa menyangkalnya begitu saja. Apalagi ingat akan posisinya yang hanya karyawan dari kenalan atasannya.
Mungkin Vallen akan menutup matanya demi sesuap nasi itu. Vallen harus mempertahankan pekerjaannya saat ini. Walaupun beban keluarga Vallen tidak dirinya miliki, tapi biaya hidupnya Vallen yang menanggungnya sendiri.
Yumna yang melihat raut lesu diwajah Vallen, membuat benaknya merasa tidak enak sendiri. Tapi Yumna juga tidak bisa menarik perkataannya kembali. Karena bagi Yumna, itu memang benar, walau tidak sepenuhnya benar.
"Kau tidak bisa melamun untuk saat ini. Karena kita harus kembali ke perusahaan untuk bekerja." Celetuk Yumna, kini menyeruput minumannya hingga tandas. Karena sejak kecil Yumna diajarkan untuk tidak menyisakan makanan ataupun minuman yang dirinya beli dengan uang.
Vallen kembali mengisi mulutnya dengan makananya yang masih setengah, dan tanpa sengaja pandangan Vallen menoleh ke sisi kanan. Melihat keluar tepat di mana dua insan terlihat tengah beradu argumen.
Dan hal itu membuat Yumna mengerutkan samar keningnya, sebelum mengikuti arah pandang Vallen. Mendapati Yudha dengan artis di perusahaannya. "Apa yang mereka debatkan di luar sana?"
"Mungkin manager itu mendesak artisnya untuk mengatakan alasan dari kejadian yang dia lakukan." Balas Vallen, sedikit tidak begitu penasaran. "Jika kau ingin tahu, kau bisa menghampiri mereka."
"Jika aku datang kesana, semuanya akan jauh lebih kacau." Yumna melontarkan perkataannya, dengan sorot mata yang sungguh tidak bisa berbohong. Jika Yumna menang ingin tahu apa yang tengah mereka bicarakan. Tapi Yumna juga harus sadar dengan statusnya yang masih sebagai karyawan baru.
"Tapi bukankah kita harus menghentikan mereka?" Saran dari Vallen, menatap Yumna. "Jika pun artis itu menggunakan topi, tidak menutup kemungkinan orang-orang disekitar tidak mengenalinya."
Yumna mengedarkan pandangannya. Melihat beberapa orang di dalam tempat makan itu, sebelum beralih pada para insan di luar ruangan yang mulai mengabadikan moment itu menggunakan handphone masing-masing.
Yumna hanya bisa membuang napas gusarnya. Yumna ingin sekali membantu dua insan itu, tapi keberanian Yumna hanya 0,00001%. Tapi tidak berseling lama, seseorang familiar datang untuk merelaikan adu mulut itu. Membawa Yudha dan artisnya itu pergi dari tempat yang mulai ramai akan kejadian kecil yang seharusnya tidak terjadi.
Karena itu akan membuat nama sang artis semakin buruk atas opini publik yang tidak benar sama sekali. Apalagi jika mereka senang mengadu domba antara penggemar dengan bukan penggemar.
"Untung ada pak Tama, jadi mereka tidak bisa bertengkar lagi." Rendah Yumna yang benar-benar merasa lega.
"Kau mengenalnya??" Tidak begitu cepat Vallen melontarkannya.
"Tidak!! Aku hanya tahu siapa namanya. Dan wajahnya juga tidak asing, karena aku sering melihatnya keluar masuk rumah pak Tirtha." Jujur Yumna yang tidak menyembunyikan apapun.
"Selesai." Suara Vallen membuyarkan lamunan Yumna. "Aku sudah menghabiskan makananku."
Kepala Yumna mengangguk. "Baiklah, kita harus kembali ke perusahaan. Mungkin ada artikel baru yang akan langsung kita hilangkan."
Paham akan perkataan Yumna. Vallen hanya mangut-mangut, beranjak dari duduknya. Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari tempat makan, yang hanya berjarak sekitar 5-6 menit dari perusahaan.
Jika pun Yumna dengan Vallen baru mengenal satu sama lain. Tapi entah kenapa mereka merasa jika sudah kenal bertahun-tahun. Apa ini yang dinamakan dejavu?
Entahlah, mereka juga tidak mau memusingkan hal seperti itu.