Indonesia
NovelToon NovelToon
CINTA YANG DULU KAU TOLAK

CINTA YANG DULU KAU TOLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kayla Rane

Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.

Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.

Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.

Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.

Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 : RUMAH TANGGA YANG MULAI RETAK

...BAB 5...

...RUMAH TANGGA YANG MULAI RETAK...

Malam semakin larut. Rumah besar itu perlahan mulai sunyi.

Delon dan Astrid sudah tertidur pulas setelah seharian beraktivitas. Delon tidur dengan memeluk gulingnya, sementara Astrid memeluk boneka kesayangannya.

Wulan baru saja selesai merapikan beberapa pakaian ketika akhirnya memutuskan untuk tidur.

Hari itu terasa cukup melelahkan. Hari pertama Delon bersekolah di tempat barunya.

Dan hari pertama Wulan benar-benar bekerja di rumah Rian.

Dan yang paling membuat pikirannya tidak tenang adalah pertemuan kembali dengan seseorang yang sebenarnya sudah berusaha ia lupakan bertahun-tahun.

Wulan berbaring di kasur. Ia menarik selimut sampai sebatas dada. Matanya terpejam. Namun pikirannya tidak ikut beristirahat.

Ia teringat kejadian pagi tadi. Tatapan Rian. Percakapan mereka. Kemudian kenangan masa kuliah yang kembali muncul tanpa diundang.

Wulan membalikkan badan. “Sudahlah.”

Ia berusaha mengusir semuanya. Masa lalu tetaplah masa lalu. Sekarang ia memiliki kehidupan sendiri. Ia memiliki Delon dan Astrid.

Dan ia datang ke rumah ini hanya untuk bekerja. Tidak ada alasan untuk memikirkan hal lain. Wulan kembali memejamkan mata.

Namun beberapa menit kemudian, suara pintu utama terdengar.

Krek.

Wulan membuka mata.

Suara langkah kaki terdengar dari ruang depan.

Disusul suara Nita. “Aku capek, Mas.”

Wulan mengerutkan kening.

Sepertinya Nita baru saja keluar dari kamar.

“Baru pulang sudah mengeluh,” terdengar suara Rian. Nada suaranya terdengar dingin.

Wulan terdiam. Ia sebenarnya tidak bermaksud mendengarkan. Tetapi kamar belakang tempatnya tidur tidak terlalu jauh dari ruang keluarga.

Suara mereka terdengar samar. “Karena memang aku lagi capek!”

“Aku tahu kamu capek. Tapi kamu bahkan belum sempat menemani Rana sebentar.”

“Aku baru saja pulang tadi sore, Mas.”

“Dan setelah itu kamu langsung masuk kamar.”

“Karena aku butuh istirahat.”

Rian tertawa kecil. Tetapi tidak terdengar seperti tawa bahagia. “Begitu saja terus.”

“Apa maksudmu?”

“Tidak ada.”

“Jangan mulai lagi deh Mas.”

Wulan menarik selimut lebih tinggi. Ia mencoba memejamkan matanya.

Namun suara pertengkaran kecil itu terus terdengar. Di ruang keluarga, Rian berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.

Nita baru saja keluar dari kamar setelah berganti pakaian. Wajahnya masih terlihat lelah.

“Aku baru pulang dari luar negeri,” kata Nita. “Bisa nggak malam ini jangan cari masalah?”

“Aku tidak mencari masalah.”

“Lalu?”

“Aku cuma bertanya kenapa setiap kali pulang, kamu selalu merasa rumah ini seperti tempat persinggahan.”

Nita menatap suaminya. “Aku bekerja, Mas...”

“Aku tahu.”

“Pekerjaanku memang seperti ini.”

“Aku juga tahu.”

“Lalu kenapa selalu saja dipermasalahkan?”

Rian menghela napas. “Aku tidak pernah melarangmu bekerja.”

“Terus?”

“Aku hanya ingin kamu punya waktu untuk keluarga.”

Nita tertawa kecil. “Mas, kita sudah membicarakan ini berkali-kali.”

“Aku tahu.”

“Sejak awal kamu tahu aku seorang model.”

“Ya aku tahu.”

“Jadi kenapa sekarang kamu mempermasalahkannya?”

Rian terdiam. Karena dulu ia memang tahu. Nita memiliki karier. Nita terbiasa bepergian. Nita memiliki banyak jadwal pemotretan dan syuting.

Tetapi saat itu, Rian mengira setelah menikah semuanya akan berubah. Ia mengira Nita akan tetap mengejar karier, tetapi juga menyediakan waktu untuk keluarga.

Ternyata tidak. “Nita.”

“Apa?”

“Terakhir kali kamu bermain bersama Rana kapan?”

Nita terdiam. “Itu bukan berarti aku tidak menyayanginya.” jawabnya.

“Aku tidak bilang kamu tidak menyayanginya.”

“Lalu?”

“Aku cuma bilang anak kita membutuhkan ibunya.”

Nita menghela napas. “Rana kan sudah punya pengasuh.”

Rian langsung menatapnya. “Iya. Tapi pengasuh bukan ibunya.”

Nita terdiam. Kalimat itu membuat suasana menjadi lebih tegang. “Bukankah memang itu pekerjaannya pengasuh. Kau tahu sejak dulu aku tidak selalu ada buat Rana.”

Rian berkata lagi. “Iya aku tahu. Tapi sampai kapan? Aku cuma ingin kamu juga meluangkan waktu untuk Rana.”

Nita berhenti. “Aku bekerja untuk keluarga ini juga.”

“Aku tidak pernah bilang sebaliknya.”

“Kalau begitu jangan membuatku merasa bersalah.”

“Aku tidak membuatmu merasa bersalah.”

“Sudah!” Suara Nita meninggi. “Aku capek, Mas.”

Rian terdiam.

“Aku benar-benar capek.” Nada suara Nita mulai menurun. “Aku bekerja dari pagi sampai malam. Harus berpindah-pindah kota. Kadang keluar negeri. Pemotretan, fitting, syuting, acara. Semua itu bukan sesuatu yang bisa aku tinggalkan begitu saja.”

“Aku mengerti Nita.”

“Tidak. Kamu tidak pernah mengerti.”

Rian menatapnya.

“Karena kalau kamu mengerti, kamu tidak akan terus memintaku memilih antara pekerjaan dan keluarga.”

“Aku tidak pernah meminta kamu memilih.”

“Tapi setiap kali aku pulang, kamu selalu saja mengeluh.”

Rian terdiam. Ia tidak bisa membantah. Karena memang itulah yang sering terjadi.

Dulu ketika Nita pulang. Rian selalu merasa senang. Namun kebahagiaan itu tidak pernah bertahan lama.

Nita sering sibuk dengan ponselnya. Jika lelah dia langsung tidur. Kemudian beberapa hari berikutnya kembali pergi. Pola itu terus berulang.

Rumah tangga mereka berjalan. Tetapi rasanya seperti dua orang yang hidup berdampingan tanpa benar-benar bersama.

Di kamar belakang, Wulan masih terjaga. Ia memandang langit-langit. Suara mereka mulai mengecil.

Namun beberapa kalimat tadi masih terdengar jelas di kepalanya. Wulan tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga majikannya.

Ia bahkan merasa tidak seharusnya mendengar percakapan tersebut. Wulan membalikkan badan.

“Itu. Bukan urusanku.” Ia berbisik pada dirinya sendiri.

Namun kemudian terdengar suara kecil dari samping.

“Mama...”

Wulan langsung menoleh. Astrid menggeliat dalam tidurnya.

“Mama di sini.”

Wulan mengusap rambut putrinya. Astrid kembali tidur.

Wulan tersenyum kecil. Setidaknya anak-anaknya masih memiliki dirinya. Ia kemudian memejamkan mata.

Di ruang keluarga, pertengkaran Rian dan Nita akhirnya mereda.

Nita mengambil gelas air. “Aku besok harus pergi lagi.”

Rian menatapnya. “Ke mana?”

“Jakarta.”

“Berapa lama?”

“Belum tahu.”

Rian mengangguk.

Itulah yang paling membuatnya lelah. Tidak pernah ada kepastian.

“Mas.”

“Hm?”

“Aku harap kamu mengerti pekerjaanku.”

Rian diam beberapa saat. “Aku mengerti.”

Nita mengangguk. “Bagus.” Ia kemudian kembali ke kamar.

Rian masih berdiri sendirian di ruang keluarga. Ia menatap sofa kosong di hadapannya.

Rumah ini besar. Sangat besar. Tetapi malam itu terasa begitu sepi.

Rian kemudian berjalan menuju kamar Rana. Pintu dibuka perlahan. Putrinya tidur dengan tenang.

Rian tersenyum. Ia membetulkan selimut anaknya. “Maafkan Papa Nak.” Ia mencium kening Rana.

“Papa akan berusaha supaya kamu tetap bahagia.”

Rian lalu keluar dari kamar putrinya. Ketika melewati koridor menuju ruang kerjanya, langkahnya terhenti.

Ia teringat Wulan. Perempuan itu juga memiliki dua anak.

Namun meskipun hidupnya jauh dari mudah, Wulan selalu berusaha berada di dekat mereka.

Bahkan ketika bekerja, perhatian Wulan tetap tertuju kepada Delon dan Astrid.

Rian tidak tahu kenapa perbandingan itu muncul di kepalanya.

Ia segera menggeleng. “Nggak seharusnya aku membandingkan mereka.” Rian pun masuk ke ruang kerjanya. Dia memilih tidur di sana daripada tidur satu kamar dengan istrinya. Entahlah, Rian merasa pernikahan yang ia jalani bersama Nita terasa hambar.

Sementara di kamar belakang, Wulan akhirnya mulai mengantuk.

Malam semakin sunyi. Tidak ada lagi suara pertengkaran. Tidak ada suara langkah.

Hanya suara pendingin ruangan dan napas anak-anak yang tertidur.

Wulan memejamkan mata. Ia tidak tahu bahwa malam ini hanyalah awal dari banyak masalah yang akan terjadi di rumah tersebut.

Ia juga tidak tahu bahwa semakin lama ia berada di sana, semakin banyak hal yang akan ia lihat.

Tentang keluarga Rian. Tentang Nita.

Dan tentang lelaki yang dulu pernah ia cintai.

Namun untuk saat ini, Wulan hanya ingin tidur. Besok pagi, ia harus kembali bekerja.

Karena bagaimanapun juga, hidupnya tidak boleh berhenti hanya karena masa lalu kembali muncul di hadapannya...

Bersambung...

1
Lisa
Rian harus tegas..milih Wulan atau Clarisa..
falea sezi
laki g punya pendirian klo.mau ma. Clarisa jauhin wulan😒 serakah jd. laki. jangan php
falea sezi
cari krja di tempat lain aja rian aja plin plan🤣
araaself
lanjutt
Lisa
Clarisa ini ganggu suasana rumah aj..tiap hari dtg ke rmhnya Rian..moga aj Rian g tertarik pd Clarisa 🤭
Lisa
Aduh Bu Ranti dtg lg..ganggu aj nih
Lisa
Pasti Rian g mau menerima perjodohan itu
Lisa
Bu Ranti ini cerewet banget..
falea sezi
cari krja di tempat lain wulan😒
falea sezi
pergi aja wulan cari krja lain 😒 ngapain di injak2 gt meski cm. pembokat 😒
Lisa
Bu Ranti aj yg pergi dr rumahnya Rian..benar Rian kmu harus tegas terhadap ibumu..Wulan ga salah..
falea sezi
klo ikut ngatur krja g nyaman keluar aja cari krja lain😒 bawel amat lampir
Lisa
Ranti ini ikut campur aj dlm RT nya Rian..udh mending balik ke rmhmu sana Bu 🤭😊
Lisa: 😊😊 ya Kak
total 2 replies
Lisa
Ibunya Rian ini mengganggu ketenangan aja..udh biarkan Rian mengatur hidupnya sendiri.
Lisa
Ngapain juga Handi peduli sama Wulan..toh mrk udh bercerai dan dari dulu Handi terpaksa nikah dgn Wulan
Lisa
Rian mulai jatuh cinta lg nih 😊
falea sezi
🤣🤣mampus sok cari yg modern makan itu cwek. modern😒😒😒 sukurin dapet istri spek jalang
✨Kayla Rane✨: hahaaa😂 bener k
total 1 replies
Lisa
Handi emg kejam bgt..cpt sembuh y Wulan dr luka fisik & luka batinnya..skrg kmu punya Rian yg selalu ada utkmu..
Lisa
Udh Handi g usah ngawasi Wulan terus..urus aj hidupmu sendiri.
✨Kayla Rane✨
Terimakasih atas dukungannya ♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!