Indonesia
NovelToon NovelToon
Lamaran Yang Bukan Untukku

Lamaran Yang Bukan Untukku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Konglomerat berpura-pura miskin / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefin Eka Ramana Putri

Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Antara Pekerjaan dan Luka Hati

Hari-hari berlalu dengan penuh kepahitan yang tak terlukiskan bagi Cynthia. Kebohongan besar yang disusun oleh Karen dan Ibu kandung Karen belum sepenuhnya terbongkar di hadapan semua orang, namun keraguan yang mulai tumbuh di hati Nyonya Hutapea perlahan namun pasti mulai menyebar dan menumbuhkan tanda tanya besar yang tak lagi bisa diabaikan begitu saja. Namun seakan tak cukup sekadar itu menguji ketabahan hati Cynthia, takdir seakan masih memiliki cobaan berat yang sengaja disiapkan khusus untuknya. Suatu hari di tempat kerjanya yang sederhana namun penuh kenangan, nama yang paling tak ingin ia dengar dan temui seumur hidupnya tiba-tiba disebut dengan jelas oleh atasannya dengan nada yang tegas dan tak bisa dibantah.

"Cynthia, ada klien baru yang akan kau tangani mulai hari ini," ujar Bosnya sambil menyerahkan selembar berkas kerja yang masih rapi dan tertulis dengan jelas segala permintaannya. "Namanya Karen. Dia secara khusus memintalah yang mengurusi segala persiapan, mulai dari acara pertunangan sederhana hingga hari pernikahan mereka nanti. Segala urusan mulai dari susunan acara, pilihan hiasan bunga, undangan, hidangan, hingga penyesuaian gaun pengantin, semuanya harus kau yang mengurus dan menyesuaikan dengan keinginan klien tersebut."

Tangan Cynthia yang menerima berkas itu gemetar hebat seketika hingga kertas itu hampir terlepas dari genggamannya. Darahnya seakan mendidih dan berdesir panas di seluruh tubuhnya, sementara hatinya terasa diremas kuat hingga menimbulkan rasa nyeri yang luar biasa seakan hendak berhenti berdetak. Karen... wanita yang merampas masa depannya... wanita yang berdiri di antara dirinya dan kebahagiaannya... calon tunangan YB... kini justru datang secara khusus dan memintanya sendiri untuk melayani serta menyiapkan segala hal demi pernikahan wanita itu dengan pria yang dulu pernah berjanji sehidup semati kepadanya.

Cynthia segera melangkah dengan napas yang memburu dan dada yang bergemuruh hebat menuju ruangan atasannya. Ia memberanikan diri untuk menyampaikan penolakan dengan harapan agar atasannya mengerti dan berbaik hati memindahkan tugas berat ini kepada rekan kerjanya yang lain.

"Pak, saya mohon dengan sangat... tolong berikan klien itu kepada rekan saya yang lain. Siapa pun boleh, asal jangan saya yang mengurusnya. Saya tak sanggup melayani dan menyiapkan segala hal demi pernikahan wanita itu..." suaranya terdengar penuh permohonan namun tetap berusaha tegas dan menjaga sikap profesionalitasnya.

Namun jawaban atasannya justru terasa seperti pukulan telak yang menghantam pertahanan hati Cynthia hingga hancur berkeping-keping. Wajah tegas pria itu tampak tak mempan oleh permohonan Cynthia yang penuh kesungguhan. Atasannya bahkan menatap Cynthia dengan pandangan yang seakan sudah mengetahui segala hal yang terjadi di masa lalu antara dirinya, YB, dan Karen.

"Cynthia, aku tahu betul apa yang sedang kau rasakan saat ini. Aku pun tahu kisah perjalanan cintamu dengan pria yang akan menikahi wanita itu. Aku tahu betapa beratnya bagimu. Tapi sebagai pekerja profesional, kau harus bisa memisahkan antara perasaan pribadi dan tugas pekerjaan yang telah dipercayakan kepadamu. Bersikaplah dewasa dan bijaksana. Pisahkan urusan pekerjaan dengan perasaan hatimu. Jika kau merasa benar-benar tak sanggup menanggung beban tugas ini... maka lebih baik kau mengundurkan diri dari pekerjaan ini saat ini juga."

Kalimat terakhir itu meluluhlantakkan segenap harapan dan kekuatan yang tersisa di dada Cynthia. Mengundurkan diri? Pekerjaan ini adalah satu-satunya sandaran hidup yang ia miliki. Ia tak memiliki keluarga yang menyayanginya dengan tulus, tak memiliki harta warisan yang bisa diandalkan, tak memiliki siapa pun yang bisa ia tuju saat kesulitan datang. Jika ia kehilangan pekerjaan ini, bagaimana ia bertahan hidup? Bagaimana ia terus mencari kebenaran tentang jati dirinya yang sebenarnya? Bagaimana ia bisa membuktikan kepada semua orang siapa dirinya sesungguhnya kelak? Dengan berat hati dan air mata yang ditahan sekuat tenaga agar tak jatuh di hadapan atasannya, akhirnya Cynthia menunduk pasrah menerima keputusan yang menyakitkan itu.

"Baik, Pak..." suaranya terdengar lirih dan bergetar hebat menahan kepedihan yang mendalam. "Saya terima pekerjaan ini. Saya akan mengurusi semuanya dengan sebaik-baiknya hingga tuntas sesuai dengan segala permintaan dan keinginan klien tersebut."

Maka mulailah masa-masa paling menyakitkan dan menyisakan luka perih di dalam hati Cynthia setiap harinya. Setiap hari ia harus berhadapan langsung dengan Karen, mendengarkan segala permintaan dan kemauan wanita itu yang kerap berubah-ubah sesuka hati tanpa mempedulikan perasaan orang lain. Cynthia harus menyiapkan segala hal terkait acara pertunangan hingga hari pernikahan itu — mulai dari memilih desain undangan yang paling indah, menentukan susunan bunga hiasan ruangan, memesan hidangan yang paling lezat, hingga menyesuaikan ukuran gaun pengantin yang akan dikenakan Karen. Semua hal itu dikerjakan oleh tangannya sendiri, untuk pernikahan wanita yang telah merampas kebahagiaannya.

Dan mau tidak mau, di setiap pertemuan yang diadakan untuk membicarakan persiapan acara, Cynthia pasti berpapasan dan berhadapan langsung dengan YB. Pria itu selalu hadir menemani Karen seakan menunjukkan kepada semua orang betapa bahagianya mereka berdua. Namun setiap kali pandangan mata YB jatuh kepada Cynthia, mata pria itu tampak tak tenang dan tak bisa berpaling begitu saja. Rasa bersalah, penyesalan, dan kerinduan yang masih tersimpan rapat di lubuk hatinya kembali menghantui setiap tatapan matanya yang tertuju kepada Cynthia. Di hadapan Karen, mereka berdua terpaksa bersikap seakan tak saling kenal dan tak memiliki hubungan apa pun, padahal di dalam dada masing-masing terasa begitu sesak dan perih menahan segala perasaan yang tak tersampaikan.

Suatu siang yang terik, saat mereka sedang memeriksa susunan acara pertunangan di dalam ruangan yang sepi dan sepi orang lain, tiba-tiba angin kencang menerpa jendela yang terbuka lebar. Kertas-kertas berisi berkas kerja berhamburan berantakan ke mana-mana. Secara bersamaan, Cynthia dan YB bergerak cepat untuk menangkap kertas-kertas yang melayang tinggi tertiup angin. Tanpa sengaja, tangan mereka beradu dan saling bertaut erat seakan tak ingin terpisah begitu saja. Keduanya tertegun diam di tempat. Wajah mereka berdiri begitu dekat satu sama lain, napas mereka beradu lembut membelai wajah yang dulu begitu mereka kenal. Mata mereka saling menatap lekat-lekat seakan waktu berhenti berputar sepenuhnya di saat itu juga. Jantung mereka berpacu kencang bukan karena takut atau kaget, melainkan karena getaran perasaan cinta yang tak pernah benar-benar hilang dan pudar selama ini.

Di momen yang begitu mendebarkan dan penuh perasaan itulah... tanpa mereka sadari sepenuhnya, sesosok pria berdiri diam di ambang pintu ruangan itu. Itu adalah Aloy. Matanya membelalak tak percaya melihat pemandangan yang terlihat jelas dari tempatnya berdiri. Tangan mereka yang saling menggenggam erat, wajah mereka yang berdiri begitu dekat... seketika hati Aloy terasa diremas perih dan kecewa. Tanpa bersuara sedikit pun, ia berbalik perlahan dan pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah yang terasa berat dan penuh kepahitan.

Saat Cynthia menyadari kehadiran seseorang di pintu, ia buru-buru melepaskan tangan YB dan menoleh dengan napas yang masih memburu. Namun di ambang pintu hanya terlihat punggung Aloy yang menjauh dengan langkah cepat dan tampak tergesa-gesa meninggalkan mereka berdua. Cynthia merasa ada sesuatu yang tak beres dan salah paham pasti terjadi. Dengan segera ia berpamitan dan menyusul kepergian Aloy keluar ruangan itu.

Ia menemukan Aloy berdiri sendirian di tempat yang sepi dan teduh, memunggunginya dengan bahu yang tampak tegang menahan amarah dan kecewa. Cynthia perlahan menghampiri pria itu dengan langkah pelan dan penuh kehati-hatian.

"Aloy... kau melihat apa yang terjadi tadi..." ucap Cynthia pelan dengan nada penuh penyesalan dan kecemasan.

Aloy perlahan menoleh ke arahnya. Wajahnya tampak datar dan dingin tanpa senyum sedikit pun, namun di dalam matanya terpancar kekecewaan yang begitu dalam dan menyakitkan. Ia tak segera menjawab ucapan Cynthia, hanya menatap lekat-lekat mata wanita itu dengan pandangan yang membuat hati Cynthia bergetar tak menentu. Keheningan yang panjang dan menyelimuti mereka berdua terasa begitu berat dan menyesakkan dada.

"Aloy... percayalah, hal itu tidak seperti yang kau kira..." Cynthia mencoba menjelaskan dengan tulus dan lembut. "Itu hanyalah kecelakaan yang tak disengaja sama sekali..."

Aloy tetap diam sejenak membiarkan keheningan itu berbicara, namun perlahan tangannya terulur lembut menyentuh pipi Cynthia dengan penuh kasih sayang meski matanya masih menyimpan rasa cemburu yang mendalam. Tanpa banyak bicara lagi, Aloy perlahan menarik tubuh Cynthia mendekat ke arahnya hingga jarak wajah mereka terasa begitu dekat dan nyaris bersentuhan. Jantung Cynthia berdegup kencang tak karuan di dalam dadanya. Di bawah pancaran cahaya matahari siang yang hangat, Aloy menatap mata Cynthia lekat-lekat penuh perasaan, lalu perlahan menyandarkan keningnya ke kening Cynthia sambil memejamkan mata seakan tak ingin melepaskan wanita itu pergi.

"Jangan pernah membuat hatiku cemburu dan tak tenang, Cynthia..." bisiknya lirih dengan suara berat yang terdengar begitu menyentuh dan memadukan segala perasaan cinta serta kecewa menjadi satu. "Karena aku takut... aku tak akan sanggup lagi melepaskanmu pergi dari sisiku selamanya."

Cynthia tertegun diam mematung di tempatnya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa usahanya membujuk dan menjelaskan kesalahpahaman itu justru berakhir dengan momen yang begitu hangat, romantis, dan menyentuh hati persis seperti adegan cinta yang penuh perasaan dalam sebuah drama. Di dalam pelukan lembut dan hangat milik Aloy, segala kebingungan, rasa takut, dan kekhawatiran yang selama ini menyelimuti hatinya perlahan luruh berganti rasa aman yang begitu mendalam dan menenangkan jiwanya.

1
Sefin Eka Ramana Putri
Luar biasa! Alur cerita yang terus berkembang dan penuh kejutan. Saya sangat terkesan dengan bagaimana penulis menggambarkan perasaan masing-masing karakter — rasa sakit, rindu, dendam, dan cinta tulus yang tak pernah padam. Cynthia adalah wanita yang sangat kuat, dan Aloy adalah bukti bahwa pria baik hati memang ada. Bagaimana dengan kalian? Bagian mana yang paling membuat kalian tak sabar menanti kelanjutan ceritanya? Yuk bagikan pendapatmu di kolom komentar! 👇✨
pineapple
semangat kak, kalo berkenan ku tunggu kunjungan nya hehe
Sefin Eka Ramana Putri: ok kak. siap. terima kasih sudah mampir. ntar saya balik berkunjung ke novel kak ya..😊🙏
total 1 replies
Dini
jangan lupa mampir dan komentar di karyaku #Tanah_Luka_dan_Persahabatan
Sefin Eka Ramana Putri: ok kak. siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!