Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Permintaan Tak Terbatas

Sistem Permintaan Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:18.4k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Alex hanyalah karyawan biasa—bekerja keras, sering diinjak, dan tidak pernah dianggap. Sampai suatu malam, hidupnya hancur dalam sekejap oleh orang-orang yang seharusnya dia percaya.

Di titik paling rendah dalam hidupnya, Alex menemukan sesuatu yang mengubah segalanya: sebuah sistem misterius yang bisa mengabulkan permintaan apa pun.

Tidak ada batas kekayaan. Tidak ada batas kekuatan. Hanya satu syarat—dia harus terus menyelesaikan misi untuk mendapatkannya.

Namun kekuatan tanpa batas punya harga yang tidak terlihat. Perlahan, pria yang dulu selalu menunduk itu mulai berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak dia kenali sendiri.

Dan orang-orang yang pernah menghancurkan hidupnya akan segera tahu, bahwa yang mereka injak dulu... tidak akan pernah lagi bisa mereka injak sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Dua puluh hari sejak rapat pertama, produk yang diberi nama "Renata", kata "renata" berarti yang terlahir kembali. Renata akhirnya memasuki tahap uji coba terakhir sebelum produksi massal dimulai. Kemasan sudah dicetak, formula sudah difinalisasi, notifikasi BPOM lewat jalur maklon sudah disetujui, dan tim pemasaran sudah menyiapkan rencana peluncuran di media sosial.

Alex berdiri di depan cermin ruang kerjanya, memperhatikan sampel botol serum pertama yang baru saja diserahkan Reina pagi itu, ketika ponselnya berdering.

Nomor tak dikenal.

Dia mengangkatnya dengan alis terangkat.

"Halo?"

"Alex," suara di seberang telepon terdengar dingin, sedikit menghina. Suara Daniel. "Sudah lama gak dengar kabarmu. Katanya kau buka perusahaan kosmetik?"

Alex diam sejenak, lalu tersenyum tipis meski Daniel tidak bisa melihatnya. "Kabar cepat sekali sampai ke telingamu."

"Kau pikir kau bisa saingi perusahaan yang sudah belasan tahun berdiri, cuma modal perusahaan abal-abal yang baru seumur jagung?" Daniel tertawa pelan di seberang sana. "Aku dengar kau bahkan gak punya pengalaman sama sekali di industri ini."

"Kalau kau seyakin itu," Alex menjawab tenang, "kenapa repot-repot menelepon?"

Hening sejenak di seberang telepon, sebelum suara Daniel kembali terdengar, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tajam. "Jangan macam-macam, Alex. Kalau kau coba mengganggu bisnis keluarga, kau akan menyesal."

"Bisnis keluarga?" Alex mengulang kata itu pelan, matanya menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. "Sejak kapan aku masih dianggap bagian dari keluarga itu?"

Sambungan telepon terputus tanpa jawaban.

Alex menatap layar ponselnya sejenak, lalu meletakkannya di meja, menghela napas panjang. 'Mereka sudah dengar. Lebih cepat dari yang kuduga.'

Dia duduk di kursinya, mengingat lagi wajah Daniel yang tertawa meremehkan di halaman kediaman Hartono waktu itu, juga wajah Sarah yang berkata bahwa dirinya tidak akan pernah pantas untuk apa pun. Sekarang, hanya dalam hitungan minggu, salah satu dari mereka repot-repot menelepon hanya untuk memastikan Alex tahu bahwa mereka mulai gelisah.

'Kalau mereka benar-benar tidak peduli, mereka gak akan bersusah payah menelepon.'

Reina masuk ke ruangannya beberapa menit kemudian, membawa laporan hasil uji stabilitas terakhir.

"Pak, hasil ujinya bagus. Kita bisa mulai produksi massal besok."

"Bagus," Alex menjawab, meski pikirannya masih melayang pada percakapan barusan.

Reina memperhatikan raut wajah Alex yang sedikit berubah. "Ada masalah, Pak?"

"Tidak ada," Alex menjawab cepat, tersenyum tipis untuk meyakinkan. "Cuma telepon dari orang yang gak penting."

Reina tidak bertanya lebih jauh, meski matanya sempat menatap Alex sedikit lebih lama sebelum akhirnya mengangguk dan berjalan keluar ruangan, membawa laporan itu untuk diarsipkan bersama dokumen produksi lainnya.

Alex duduk sendirian sesaat, memutar-mutar ponselnya di atas meja. Dia tahu telepon dari Daniel bukan sekadar basa-basi keluarga yang kebetulan lewat. Orang seperti Daniel tidak pernah repot-repot menghubungi siapa pun kecuali ada kepentingan yang mengganggunya secara langsung.

'Kalau dia sampai menelepon sendiri, berarti orang-orang di sekitar dia mulai bertanya-tanya soal perusahaan baru yang tiba-tiba muncul.'

Dia meletakkan ponselnya, membuka laptop di mejanya, memeriksa sekali lagi jadwal produksi dan distribusi yang sudah disusun timnya. Setiap detail terlihat sudah rapi—tanggal pengiriman ke gerai pertama, jadwal wawancara dengan dua media daring, hingga daftar nama tamu undangan untuk hari peluncuran nanti.

...-------...

Sore harinya, tim pemasaran mengadakan rapat singkat untuk membahas jadwal peluncuran. Salah satu staf muda mengusulkan agar peluncuran dilakukan secara sederhana lewat media sosial saja, mengingat waktu yang tersisa semakin sempit. Alex mendengarkan usulan itu dengan saksama, sesekali mencatat beberapa poin di buku kecilnya sendiri, kebiasaan yang mulai dia lakukan lagi sejak beberapa hari terakhir.

"Aku setuju soal media sosial," Alex akhirnya berkata, "tapi kita juga perlu acara kecil di depan gedung. Undang media, biar orang-orang tahu perusahaan ini benar-benar ada, bukan cuma akun anonim di internet."

Beberapa staf saling pandang, sebagian mengangguk setuju, sebagian lagi mulai mencatat rencana teknis pelaksanaannya.

Rapat itu ditutup dengan pembagian tugas—satu tim mengurus dekorasi panggung sederhana di halaman gedung, tim lain menyiapkan daftar undangan media, sementara Bima kebagian tugas mengoordinasikan jadwal dengan pihak maklon agar stok cukup untuk hari peluncuran. Alex memperhatikan bagaimana timnya sendiri sudah mulai bergerak tanpa perlu banyak arahan darinya, masing-masing paham posisi dan tanggung jawabnya sendiri.

'Sepuluh hari lalu mereka masih orang asing satu sama lain. Sekarang mereka bergerak seperti sudah kerja bareng bertahun-tahun.'

...-----...

Malam harinya, Alex duduk sendirian di ruangannya, menatap keluar jendela ke arah menara Hartono Group yang lampunya masih menyala terang di kejauhan.

'Mereka takut. Kalau tidak, Daniel gak akan repot-repot menelepon.'

Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya, bukan senyum ramah, melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan celah dalam pertahanan lawannya.

'Terus takutlah. Karena ini baru permulaan.'

Panel sistem tiba-tiba muncul di hadapannya, seolah ikut menyaksikan momen itu.

[Misi "Langkah Pertama Menuju Puncak" sedang berjalan.]

[Waktu tersisa: 10 hari.]

Alex menatap angka itu, lalu bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela dan menatap kota yang mulai gelap.

'Sepuluh hari lagi. Dan mereka akan tahu, siapa yang sebenarnya harus takut.'

1
Israel
alah bct kwontol. tinggal minta semua kebohongan daniel terungksp di public apasusah nya sih. author alay bau kencur pmo otak isekai. halu 100%
Israel
tlol bet kenapa ga minta regenerasi tanpa batas?
Israel
Tlol
Leonardo Akob
Saya suka baca Novelton
Anonim
bodoh mc nya buat aja permintaan uang tidak terbatas unlimited
Israel: Bullshit
total 5 replies
Ria Gazali Dapson
kasian alex , bertubi² cobaan nya
Syahraman [Hiatus]
pergi ke isekai
Israel: bct lu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!